
Amara berbalik badan lalu dengan kasar mendorong tubuh tinggi Frans.
"Semakin kamu seperti ini, aku semakin membencimu Frans!",tuding Amara. Frans menaikkan salah satu sudut bibirnya.
"Owh, mereka sangat berharga ya? Bagaimana jika Alby saja? Bukankah pria itu saingan ku yang sebenarnya?"
Amara akan menampar Frans, tapi pergelangan tangan nya yang kecil itu sudah di tangkap oleh Frans.
"Kamu tahu aku sangat mencintai mu baby! Tidak bisa kah sedikit saja kamu membuka hatimu lagi untukku?", tanya Frans dengan suara lirih.
"Kamu hanya terobsesi pada ku Frans, bukan cinta!",Amara berhasil melepaskan pergelangan tangannya.
"Obsesi memiliki hati dan tubuh mu, may be!!", Frans mengedikkan bahunya.
Mungkin terlihat bodoh, tapi tangan Amara dengan cekatan melepaskan Bros yang ada di penutup kepalanya. Lalu setelah itu, ia melemparkan kain itu.
"Kamu hanya terobsesi pada tubuhku kan?",tanya Amara sambil berjalan mundur ke arah kamarnya. Frans sedikit terkejut tapi setelah itu ia menyeringai.
Dia pun maju mendekati sang tunangan yang berjalan mundur ke arah kamarnya.
"Kenapa? Kamu bermaksud menyerahkan tubuh mu padaku sekarang baby?"
Frans berjalan mendekat pada Amara yang terlihat sangat emosi.
"Iya, tapi setelah itu aku harap kamu tak lagi menganggu kehidupan ku!",kata Amara lantang.
Please, Amara tak sebodoh itu ya! Dia tak mungkin menyerahkan kehormatannya pada lelaki gila semacam Frans.
"Kamu sedang bernegosiasi dengan tunangan mu ini baby?",tanya Frans kian mendekat.
"Iya! Setelah puas menikmati ku, pergi lah sejauh apa pun yang kamu mau! Tapi jangan pernah muncul lagi di hadapan ku!",bentak Mara.
Gadis itu sudah terpentok di laci nakas yang ada di samping ranjangnya. Frans sudah berada tepat di hadapannya sekarang.
Tangan Amara meraih sesuatu di laci nakas nya, lalu dengan cepat ia meraih benda tersebut. Sayangnya, Frans lebih dulu membaca pergerakan Amara.
Pria tampan itu, pun segera mengunci pergerakan Amara yang sedang mengambil senpinya di dalam nakas.
Senpi itu pun terjatuh bersamaan dengan pekikan Amara karena kedua tangannya terkunci di balik badannya sendiri.
"Ahhhh...!",pekik Amara. Kedua tangannya terlipat ke belakang. Hingga tubuh bagian depannya berhimpitan dengan tubuh kekar Frans.
Dada bidang yang dihiasi bulu-bulu keemasan itu tampak terlihat karena kemeja Frans aduh terbuka kancing atasnya.
"Jangan mendesah seperti itu baby! Kamu sudah membangkitkan sesuatu di bawah sana!",kata Frans.
"Ban***!",Amara meludahi Frans. Hal itu cukup membuat Frans naik pitam. Bagaimana bisa gadis yang di cintai nya meludahi wajahnya.
Tanpa pikir panjang, Frans meraup bibir Amara dengan brutal. Amara tidak bisa memberikan perlawanan yang berarti. Gadis tinggi semampai itu berusaha melepaskan diri, tapi sulit!
Entah berapa lama dokter gila itu ******* dan menghabisi bibir seksi Amara. Setelah merasa sedikit meredakan emosinya, Frans pun menarik tengkuk Amara hingga gadis itu pun mendongakan kepalanya.
"Aku tidak ingin berbuat kasar padamu baby. Tapi kamu yang menginginkannya! Jangan harap aku mau bernegosiasi dengan mu! Aku memang akan menikmati tubuh mu, tidak hanya untuk sekarang. Tapi sampai nanti, sampai anak-anak kita ada lahir dari rahim kamu baby! Paham!",mata Frans menatap tajam pada Amara. Rambut nya yang di kucir kuda pun dengan mudah di tarik paksa oleh Frans.
Pria itu kembali berbuat kasar pada Amara. Frans bersikap lebih brutal. Ia tak segan untuk menggigit dan meninggalkan jejak kepemilikannya di leher Amara.
Amara tak tinggal diam, dia berusaha membela diri.
"Brengsek! Dari pada aku hanya jadi budak nafsu mu, lebih baik aku mati Frans!",pekik Amara.
Gadis itu menyikut tepat di jantung Frans dengan sekuat tenaganya. Ternyata hal itu cukup efektif. Sayangnya Frans masih terlalu tangguh untuk jadi lawan duel Amara.
Setelah terlepas dari cumbuan Frans, Amara pun memilih untuk melawan Frans dengan kemampuan bela dirinya meskipun dia sadar jika dia akan kalah karena tak sebanding dengannya.
Perkelahian antar tunangan itu tak terelakan. Dan ya...dalam hitungan menit, Amara pun tumbang. Gadis itu terkapar di lantai.
Frans mendekati Amara lalu dengan mudahnya ia menindih tubuh gadis itu.
"Kenapa kamu selalu memancing ku untuk berbuat kasar baby? Kenapa?",teriak Frans.
"Lebih baik aku mati di tangan mu dari pada aku harus melihat orang-orang di sekitarku karena ulah licik mu Frans!", teriakan Amara mulai melemah.
__ADS_1
Frans sudah mengunci kedua tangan Amara di atas kepalanya.
"Itu tidak akan terjadi. Aku mencintaimu baby, bagaimana bisa aku membiarkan mu mati?", bisik Frans. Lalu dengan santai nya ia kembali menyesap leher jenjang Amara.
"Argggghhhh!",Amara berusaha melawan lagi. Tanpa sengaja, tangan nya menyentuh senjatanya yang tadi jatuh.
Amara membiarkan Frans mencumbunya hingga Frans lengah. Amara terlihat pasrah saat Frans masih stay di posisi itu. Perlahan kuncian tangan Frans mengendur.
Amara mengambil kesempatan untuk meraih benda yang ada di dekat tangannya tadi. Saat Frans masih menunduk di cerukan lehernya, dengan sigap Amara meraih benda itu. Lalu ia todong kan di kepala Frans.
Frans langsung menoleh. Dia terkejut saat senjata itu sudah siap melepas isi pelurunya jika Amara menarik tuas itu.
Tapi keterkejutan itu tak berlangsung lama. Frans menyunggingkan senyumnya.
"Apa dengan menembakku, kamu bisa merasa puas sayang?",tanya Frans tanpa bangkit dari tubuh Amara.
"Bangun dari atas tubuh ku, sia***!",wajah Amara memerah karena sudah sangat emosi.
"Aku bahkan baru memulai sayang, kita belum sampai melakukan hal itu?", kata-kata yang keluar dari bibir Frans terdengar sangat menjijikkan bagi Mara. Mara sedikit lengah, dengan cepat Frans berusaha merebut senjata itu.
Amara tak mau melepas senjata nya, sedang Frans tak mau mengalah untuk mendapatkan benda itu. Aksi saling rebut itu pun terjadi. Hingga akhirnya....
Dorrr!!
Peluru itu terlepas ke arah tak tentu. Sepasang tunangan itu masih saling melawan. Mungkin karena lelah, akhirnya senjata itu kembali terlempar bersamaan pula dengan pintu yang terbuka.
"Amara!", teriak alby dan Frans bersama-sama. Dimas langsung menghampiri Frans lalu memukul nya membabi buta.
Frans yang sudah lelah dari tadi bertarung dengan Amara pun seolah sudah kehabisan tenaga.
"Mara!",Alby menghambur ke Amara yang sedang terlentang penuh luka di lantai.
"By!",Amara terisak di pelukan Alby.
"Maaf kan aku sayang, aku tidak bisa melindungi kamu!",Alby mengecup puncak kepala Amara berkali-kali.
Frans sudah berada di dalam kendali Dimas. Dengan alat seadanya, Dimas mengikat tangan Frans.
Selang beberapa detik, Seto dan Febri datang bersamaan dengan pihak berwajib. Frans yang sudah dilumpuhkan itu hanya menatap jengah pada tunangan nya yang berada di pelukan laki-laki lain.
"Kamu memilih untuk mengorbankan orang-orang yang tidak bersalah Baby!",teriak Frans.
Amara pun membulatkan matanya. Dia memang selamat dari Frans, tapi bagaimana dengan para bodyguard nya???
"Berikan obat itu!",kata Amara dengan suara yang masih tersisa. Frans terbahak saat kedua tangannya sudah berada dalam jangkauan pihak berwajib.
"Jangan harap!", kata Frans.
"Sudah Mara, kamu tenang saja. Mereka semua sudah mendapatkan pertolongan. Sakti sudah memberi obat untuk mereka. Prof Surya sudah menemukan obat itu!",kata Alby menenangkan kekasihnya.
"Benarkah?",tanya Amara masih berada dalam pelukan Alby. Alby pun mengangguk.
"Tidak mungkin!",teriak Frans. Dimas yang dari tadi sudah kesal dengan bule itu pun mendekati Frans.
"Heh! Lo pikir, Lo doang yang pinter hah?",tanya Dimas di depan wajah Frans. Pihak berwajib menyeret paksa dokter tampan yang korslet itu.
Tinggallah Amara dan Alby yang masih betah berpelukan. Serta squad gendeng, minus Sakti tentunya.
"Makasih Dim, Seto, mas Febri!",kata Mara dengan mata berkaca-kaca. Ketiganya hanya tersenyum.
"Gue harap semua sudah berakhir. Gue capek tahu!", celetuk Dimas. Ya, meskipun selengekan Dimas berkontribusi besar dalam masalah ini.
"Makasih banyak Dim!", sekarang Alby yang bersuara. Dimas hanya mengangguk saja.
"Ya udah, kita keluar. Biarin mereka bicara berdua. Kayanya Amara juga butuh istirahat!", Febri menepuk bahu Dimas.
"Ayuk Dim!",Seto menyahuti.
"Ngko sek. Amara sama Alby cuma berdua lho di dalam ruangan tertutup. Nanti kalo mereka...hmmmpp!",Seto membungkam mulut sahabatnya.
"Mereka ngapain? Ngga usah ngeres!",ujar Febri yang mewakili mereka bertiga berpamitan.
__ADS_1
"Eh, bukan ngeres. Amara masih gadis lho! Ngga baik berduaan sama Alby begitu!",Dimas masih kekeh.
"Wes toh Dim. Sakarepe de'e pan ngopo. Tugasm wes bar. Saiki Ndang muleh. Bia masak rawon ambek endok asin. Muleh omah ku wae!",ajak Febri.
(Udah lah Dim. Terserah mereka mau ngapain. Tugas kamu sudah selesai. Sekarang buruan pulang. Bia masak rawon sama telor asin. Pulang ke rumah ku aja)
"Owh...oke lah kalo begitu!",sahut Dimas. Ketiga nya pun keluar dari gedung itu.
Di unit Amara....
Amara duduk bersandar di ranjangnya. Alby mengambil es batu dan kotak p3k untuk mengobati luka Amara.
Banyak luka lebam di pipi dan pelipis Mara. Begitu pula di anggota tubuh nya lain.
Amara membiarkan saat Alby mulai mengusap luka di tubuhnya. Gadis itu hanya mengenakan tangtop sebagai penutup tubuh bagian atasnya.
Air mata Alby menggenang di pelupuk matanya saat mengusap bekas luka-luka itu. Apalagi...bekas kepemilikan yang Frans tinggalkan terlihat jelas dan begitu banyak.
Saat Alby mengoles luka-luka Amara dengan salep, Amara menghentikan pergerakan tangan Alby. Kedua pasang mata itu saling menatap.
Alby hanya menatap sang kekasih, meski tak berucap tapi Amara tahu kalau dalam hati Alby pasti bertanya kenapa.
"Kamu jijik sama aku?",tanya Amara dengan mata sendunya. Ya, wajahnya sudah banyak yang lebam, bibirnya berdarah karena gigitan brutal Frans sedang anggota tubuhnya yang lain seperti nya tak berbeda jauh.
Alby kembali mengoleskan salep di luka Amara.
"Jawab By? Kamu jijik sama aku? Apa aku sudah tak layak buat kamu?",tanya Amara lagi dengan mata berkaca-kaca.
Alby menarik tangan Amara dan menggenggamnya. Lalu di kecupnya dengan pelan punggung tangan itu.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu sayang?",tanya Alby. Dia menyelipkan rambut ke sela telinga Amara. Hati Mara menghangat saat di panggil sayang oleh Alby.
"Aku kotor By! Kamu lihat sekarang tubuh ku seperti apa?",tanya Amara.
"Aku tidak bisa menjaga tubuh ku By, tidak bisa!",suara Amara serak menahan tangis. Melihat sang kekasih menitikkan air matanya, Alby membawa tubuh itu kedalam pelukannya.
"Ngga Ra. Kamu sudah menjaga tubuh kamu semampu mu. Aku yang harusnya minta maaf, tidak bisa melindungi mu!", bisik Alby. Amara mengeratkan pelukannya pada sang pujaan hatinya.
"Kamu lihat jejak di tubuh ku By, bekas Frans. Kamu ngga jijik sama aku?",Mara terisak dalam pelukan Alby.
"Ngga sayang, ngga!",balas Alby yang membuat Amara tenang. Keduanya saling melepas pelukan.
Jika di pikir-pikir, sepertinya mereka berdua berada di situasi yang tak aman. Mara hanya memakai tangtop dan keduanya berada di ruang tertutup. Bisa saja kekhilafan terjadi ya???
"Makasih By, makasih!",Amara kembali menitikkan air matanya. Jari Alby menghapus air mata itu.
"Jangan menangis lagi sayang??!",Alby menakupkan kedua tangannya di pipi Amara. Amara pun mengangguk pelan. Entah siapa yang memulai, kedua bibir mereka kini menyatu. Pelan dan tak teburu nafsyyu!
Alby pun menghapus jejak yang sudah Frans tinggalkan di tubuh Mara. Sedang Amara sendiri tampak pasrah.
Wkwkwkw bod** ya??? Ajegile!🤣🤣🤣
"Jangan pernah beranggapan aku jijik Amara!",kata Alby setelah mengakhiri esksekusinya yang katanya menghilangkan jejak Frans.
Amara tampak mengangguk pelan.
"Aku tak ingin melanjutkan lagi, takut kebablasan!",bisik Alby. Wajah Amara merona di buatnya. Lalu dia pun kembali memeluk Alby. Jika memang Alby mau, bukan kah kesempatan itu ada? Mereka hanya berdua lh?? Tapi ya...meski mesum-mesum gitu, setidaknya ngga sampai kebablasan kan ya?? Padahal mah mungkin takaran dosanya sama 🤭
Selesai deh....
*******
Kumaha?? Tos beres ayeuna teh? Si Frans teu maot, tapi kan di penjara.... terkurung terhukum...hanya..... bertemakan sepi....
heheheh malah nyanyi...😁
Ternyata, nulis naninu lebih gampang dari nulis yang berbau2 action ya Mak. Salut sama othor2 yang pada bisa nulis begitu 👍👍👍👍👍
Betewe... makasih yang udah sedia nungguin & mampir tentunya hehehe
Maafkeun lamun mengecewakan ente2 pada 🤭😆
__ADS_1