Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 75


__ADS_3

Amara


Usai menandatangani surat pernyataan bahwa aku dan kak Daniel setuju jika dokter Sakti memeriksa papi lebih lanjut.


Yang kami heran, jika benar papi hanya serangan jantung dan di nyatakan baik , kenapa beliau belum juga siuman.


Beruntung dokter Sakti bersedia melakukan pemeriksaan tersebut. Aku berharap, Frans tidak tahu hal ini. Bisa saja kan dia mensabotase hasil pemeriksaan dokter Sakti? Atau bisa juga lebih parah, dia menggagalkan rencana kami di awal.


Naudzubilllahimindzalik!!!


Ya Allah, ampuni lah aku yang sudah berburuk sangka pada Frans. Tapi sepertinya dia memang mendukung kecurigaan ku dengan pernyataannya. Semoga saja dugaan ku salah! Papi akan baik-baik saja.


Aku berpamitan pada mami dan kakak-kakak ku untuk ke kantor. Tak lupa aku mengingatkan mereka untuk tidak meninggalkan papi sendirian. Jika ada yang ingin ke toilet, dan tidak ada orang lain ada baiknya pintu kamar di kunci lebih dulu.


Meski mami sempat menentang, tapi mba Mayang memberi pengertian jika apa yang ku katakan hanyalah bentuk kekhawatiran seorang anak pada orang tuanya. Benar saja, mami mendengar apa yang mba Mayang katakan.


Karena tak membawa mobil, akhirnya aku naik taksi konvensional yang standby di dekat rumah sakit.


Aku mencoba menghubungi Alby untuk mengatakan jika aku sudah menyetujui untuk menindaklanjuti pemeriksaan papi dengan dokter Sakti. Tapi sejak tadi dia tak bisa di hubungi. Sesibuk apa kah dia hari ini???


"Ke mana mba?",tanya sopir taksi.


"Gedung Hs.Group pak!"


Sopir taksi itu mengangguk lalu mengarahkan taksinya menuju ke tempat di mana Alby bekerja. Jarak rumah sakit dengan kantor Alby memang tak terlalu jauh. Hanya butuh sekitar setengah jam itu pun jika tak macet. Wajar bukan, namanya juga ibu kota!


Aku sudah berdiri di depan gedung megah ini. Setelah itu, aku menuju ke resepsionis.


"Siang mba!"


"Selamat siang?",sapa resepsionis ramah.


"Maaf mba, pak Alby nya ada?"


"Sepertinya ada Bu. Sebentar, saya hubungi beliau dulu. Dengan Bu Amara bukan?",tanyanya dengan tersenyum.


Aku mengangguk. Apa iya aku seterkenal itu di sini hehhehe....


Aku mendengar ia menghubungi seseorang.


"Maaf Bu, pak Alby tidak ada di tempat. Tapi dari informasi yang rekan saya sampaikan, pak Alby sedang di kantin dengan pak Azmi, Bu!", kata resepsionis.


"Oh, begitu ya? Eum...boleh tidak saya ijin ke sana? Ya...saya tahu, saya bukan pekerja ataupun penghuni gedung ini!"


"Tentu saja boleh Bu, silahkan!",katanya.


"Terimakasih ya mba!"


"Sama-sama, Bu Amara!"


Aku pun meninggalkan resepsionis.


"Heh, jadi benar nih Bu Amara yang sudah menaklukan pak bos yang jutek itu? Pakai ajian apa ya tuh orang?",tanya resepsionis satunya.


"Hussh! Sembarangan kalo ngomong! Kedengaran orang lain, terus nyampe ke mereka apa ngga takut di gorok tuh leher?"


"Yiiiuuuu....ngga segitu nya kali. Pak Alby mau biar jutek dan mulutnya pedes, dia ga bakal tega buat main fisik! Paling omongan nya yang nyelekit bikin sakit hati!"


"Udah ah, ngga usah urusin urusan orang atas."


Obrolan kedua resepsionis itu pun berhenti begitu saja. Keduanya kembali di fokus bekerja.


Aku sudah sampai di lantai dimana kantin berada. Di jam makan siang seperti sekarang, suasana cukup ramai.

__ADS_1


Tak sulit bagiku menemukan sosok tampan yang sedang aku cari. Sedikit senang saat ku lihat dia tengah fokus malam dengan Azmi. Tapi aku mengurungkan niat ku saat aku melihat seorang gadis yang duduk di hadapan Alby. Ya, gadis itu Bianca.


Ternyata benar rumor yang beredar selama ini. Seorang Alby memang terkenal jutek dan bermulut pedas. Tapi baru kali ini aku melihat dan mendengarnya langsung.


Karena selama ini, aku dan Alby mengobrol seperti biasa. Tak sampai sekasar sikap Alby pada Bianca.


"Mas Alby!", panggil Bianca. Bahkan Bianca menarik pergelangan tangan Alby. Dan Alby membiarkan hal itu. Melihat Alby hanya memperhatikan tangan nya yang di pegang Bianca, aku merasa sesak begini??


"Apa karena Amara sikap mu begini pada ku mas Alby?",tanya Bianca.


"Lepas!", bentak Alby. Aku baru tahu dia seperti itu!


"Tidak sebelum kamu jawab! Apa alasan mu selalu menolak ku karena Amara ?"


"Ya!"


Aku melebarkan mataku mendengar jawaban singkat Alby. Pantas ga sih jika aku geer saat ini???


"Aku yang lebih dulu mengenal mu mas Alby! Bahkan sebelum dia menjadi Dirut Rhd.co! Tapi kenapa kamu justru menganggap keberadaannya? Apa hebatnya Amara?Dia sudah tua. Bahkan aku jauh lebih cantik dan lebih muda darinya!"


Astaghfirullah! Aku memang lebih tua darinya, tapi tak perlu di pertegas juga kali Bianca....


"Berhenti mengganggu ku!", ucap Alby dingin sambil menghempaskan dengan kasar tangan Bianca dari pergelangan tangannya.


"Aku masih bersikap baik padamu karena menghargai mas Bram. Jadi mulai sekarang, stop ganggu aku!Bukan urusan kamu aku berhubungan dengan siapa!Kamu masih paham bahasa manusia kan?",tanya Alby menohok.


Aku masih menganga tak percaya jika laki-laki yang sudah menguasai hatiku bisa bersikap seperti itu pada seorang gadis muda.


Alby dan Azmi menjauh dari Bianca.


"Mas Alby, asal mas Alby tahu. Aku akan tetap berusaha menarik perhatian mas Alby sampai


mas Alby mau sama aku!",teriak Bianca.


Alby menghentikan langkahnya, lalu berbalik menoleh pada Bianca.


"Hargai diri kamu sendiri agar orang lain jug menghargai mu! Jangan mempermalukan diri mu yang masih keras kepala mengejar laki-laki yang tidak pernah bisa berdamai dengan mu!", setelah mengatakan kalimat itu, Alby dan Azmi melangkah menuju ke lift.


Aku masih terngiang-ngiang ucapan terakhir Alby barusan. Meski di tujukan untuk Bianca, tapi entah kenapa aku malah sedikit tersentil. Seolah apa yang Bianca lakukan tak berbeda jauh dengan ku. Mengejar-ngejar Alby.


Karena melamun memikirkan ucapan Alby pada Bianca, aku tak sadar jika lelaki yang sedang ku cari sudah berada di hadapan ku.


Alby mengibaskan tangannya di wajah ku. Tapi aku masih fokus dengan lamunanku.


"Mara?",panggil Alby pelan.


Aku masih dengan posisi yang sama. Masih melamun hal tadi.


"Amara?", Alby menepuk bahuku.


Aku yang reflek langsung memiting tangannya. Setelah sadar dengan suara Alby yang mengaduh kesakitan, aku baru menyadari jika aku sudah melukai nya tanpa sengaja


"Astaghfirullah! Maaf, By!", aku mengusap lengan nya yang tadi sudah ku pelintir.


Alby hanya meringis kesakitan. Aku tahu, bisa saja dia membalas ku. Tapi dia tak melakukannya.


Azmi hanya meringis ngilu melihat bos nya yang sudah kena piting olehku.


"Maaf, By!",ulangku sambil mengusap lengan nya yang pasti kesakitan itu.


Azmi berdehem nyaring mungkin sedang menegur ku yang mengusap lengan Alby.


"Ngga apa-apa Ra. Sejak kapan di sini?",tanya Alby sambil menarik tangan ku menuju ke lift yang sudah terbuka karena Azmi lebih dulu menekan tombol nya.

__ADS_1


"Ehem, itu tangan mu Bos!", sindir Azmi. Alby spontan melepaskan tangan ku dari genggamannya.


Aku melihat Azmi memutar bola matanya dengan malas. Mungkin muak atau tidak suka keberadaan ku. Tapi... seperti nya bukan begitu alasannya. Aku yakin, ini pasti tentang mahram dan bukan mahram. Azmi pasti hanya ingin mengingatkan Alby.


Jangan bilang, kalo Azmi juga tahu kejadian di apartemen dan di ruang meeting??? Jika sampai di tahu, sungguh aku tak punya wajah lagi di hadapan Azmi yang jebolan ponpes sekaligus sahabat Alby.


"Oh iya, gimana keadaan papi?",tanya Alby.


"Papi masih belum siuman. Tapi soal Dole Sakti, aku dan kak Daniel sudah menandatangani surat pernyataan itu."


"Alhamdulillah! Aku harap jika setelah di periksa lebih lanjut, papi kamu bisa secepatnya di tangani dengan lebih baik lagi."


Aku mengangguk tipis.


"Eum...kapan aku bisa jenguk papi kamu Ra?"


"Nanti sore saja, itu pun kalo kamu bisa. Tadi aku susah hubungi kamu, makanya aku langsung samperin ke sini."


Alby mengangguk.


"Aku baru tahu kalo kamu bersikap seperti itu pada perempuan, Bianca!"


Alby menoleh, tapi pintu lift terbuka. Sekarang kami bertiga berada di lantai ruangan Alby dan Azmi.


"Duluan bos!",ujar Azmi meninggalkan ku dan Alby.


Alby tak mengatakan apapun sampai kami berdua berada di ruangan Alby.


"Aku tidak suka jika ada gadis yang kegenitan mendekati ku!",kata Alby.


''Bukankah aku juga pernah seperti Bianca dulu? Getol deketin kamu?"


Alby melirik lalu menghela nafas. Entah apa yang akan keluar dari bibirnya saat ini.


"Tapi sekarang justru aku yang ngejar-ngejar kamu!",kata Alby menatap ku dengan pandangan yang tak bisa ku artikan.


"Aku tak ke mana-mana!", jawab ku.


"Benar! Tapi kamu bisa saja berpaling pada mantan kamu, dokter Frans."


Wajah Alby mendadak bersemu merah usai mengatakan hal itu. Itu... ekspresi cemburu nya atau memang dia....


"Kalo memang aku berniat kembali pada Frans, untuk apa aku setuju untuk mengecek kembali kondisi papi seperti ide kamu?"


Aku mendengar Alby kembali menghela nafasnya.


"Frans pernah menekan ku untuk tidak mendekati mu, dan dia bilang akan melakukan berbagai cara agar dia bisa mendapatkan mu lagi."


"Dan kamu berpikiran sama seperti ku saat melihat kondisi papi seperti sekarang?", tanyaku. Dia mengangguk.


"Ya sudah, kamu lanjutin aja kerjaan mu. Aku akan kembali ke kantor. Nanti sore, kita bertemu di ruangan papi."


"Aku akan menjemputmu pulang kantor nanti!"


Aku tersenyum lalu mengangguk pelan.


"Aku balik, assalamualaikum!",pamitku.


"Walaikumsalam!",sahut Alby yang awalnya ingin membukakan pintu tapi ku tolak.


Setelah keluar dari ruangan Alby, aku melihat sosok Azmi yang serius dengan pekerjaannya.


Dia menoleh padaku. Lalu tersenyum ramah. Aku pun meninggalkan lantai ruangan Alby untuk kembali ke kantor ku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2