
"Malam Mi, Pi, kak!",sapa Amara sedikit kaku lalu menggandeng tangan Alby. Tatapan mata papi masih tak berubah sejak keduanya mengucapkan salam.
"Malam sayang!",sambut Mami sambil cipika-cipiki sedang Alby menyalami calon ibu mertuanya yang terlihat ramah di banding papi Mara.
Dengan sedikit ragu, Alby mengulurkan tangannya untuk menyalami papi Amara. Tapi, papinya tak merespon apa pun bahkan tangan Alby masih menggantung. Di perlakukan demikian, Alby pun menurunkan tangannya. Dia menyimpan kekecewaannya di balik senyum manisnya. Amara mencoba menguatkan sang pujaan hatinya dengan menekan erat pergelangan tangan kirinya.
Usai di abaikan oleh papi Amara, Alby menyalami kedua kakaknya. Sedang pada kakak iparnya, ia menakupkan kedua tangannya.
"Silahkan duduk By!",pinta Nathan. Alby dan Amara pun menurut. Mata Alby mencari-cari keberadaan sang putra. Takut jika Nabil berulah dan dia tidak tahu di mana putranya.
"Nabil sama Dhea!",kata Daniel yang memahami kekhawatiran Alby. Alby bernafas lega setelah tahu jika Nabil bersama anak Daniel. Padahal mereka tak saling mengenal sebelumnya. Apalagi, baru beberapa menit berlalu ia tak fokus pada Nabil. Tahu-tahu sudah bersama Dhea.
"Jadi, apa yang akan kamu sampaikan Alby?",tanya papi tanpa basa basi. Lelaki sepuh itu duduk di sofanya dengan menekan tongkat yang ada di hadapannya.
Alby tampak mengirup nafas dalam-dalam. Dan Amara pun turut merasakan detak jantungnya tak baik-baik saja.
"Maaf om, jika kedatangan saya mengganggu istirahat anda."
Ekspresi papi masih datar seperti tadi. Dia hanya menggeser tongkatnya sedikit. Sejak memutuskan tidak memakai kursi roda, ia memilih memakai tongkat untuk membantu nya berjalan.
"Saya...saya sedang menjalani hubungan yang serius dengan Amara, om!"
"Kamu mau menikahi putri bungsu saya?",tanya Papi. Alby menganggukkan kepalanya sambil menatap calon papi mertuanya.
Papi tersenyum miring.
"Apa pekerjaan mu sebelum memegang kendali HS grup?",tanya Rahadi. Tak ada yang ikut bicara, sebelum papi nya selesai berbicara dengan Alby.
"Dulu saya pernah bekerja di pabrik otomotif perakitan mobil Om. Tapi setelah saya menikah dengan istri pertama saya, saya tinggal di kampung dan bekerja jadi...tukang bangunan Om."
Oh, jujur juga rupanya! Batin Rahadi. Rahadi ingin mengatakan sesuatu, tapi Dhea berlari menghampiri nya bersama Nabil. Sontak semua mata tertuju pada dua bocah itu.
"Opa...opa!", Dhea mengguncang bahu opa nya. Alby mengkode agar Nabil mendekat, tapi justru Nabil ikut-ikutan seperti Dhea yang meminta di pangkuan Opa nya.
Papi cukup terkejut, tapi dia memakluminya karena Nabil sama kecilnya dengan Dhea, cucu kandung nya.
"Dhe, opa sedang bicara serius. Dhea ke....!", peringatan Daniel terhenti saat Papi mengangkat tangannya.
"Ada apa Dhea?",tanya Papi menatap cucu perempuan nya lalu sekilas menengok Nabil juga.
Wajah kamu mirip sekali dengan papa mu! Gumam Papi dalam hati saat melihat wajah tampan Nabil. Apa karena ketampanan papa mu, putri ku sampai tergila-gila seperti ini padanya?
"Nabil kan teman baru Dhea, kata Nabil, Nabil ngga punya opa. Opanya meninggal terus abahnya di kampung juga sudah meninggal. Opa mau kan jadi opanya Nabil juga?", celetuk Dhea. Daniel menepuk kening sendiri mendengar celotehan putrinya.
Alby dan yang lain cukup deg-degan mendengar ocehan Dhea. Bagaimana tidak??? Asssshhhudahlahh....wes angel-angel!!!
__ADS_1
Semua menunggu jawaban papi yang mendengar permintaan cucu kesayangannya. Papi tak menjawabnya, hanya menyunggingkan senyumnya.
"Makasih Opa!",kata Dhea mengecup pipi kiri opanya. Dhea mencolek lengan Nabil, meminta Nabil untuk mengikuti jejaknya. Tak lama kemudian, Nabil pun turut mengecup pipi kanan papi Amara.
Alby membulatkan matanya. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Mau memarahi Nabil pun sepertinya tidak mungkin.
"Makasih Opa!",suara Nabil terdengar di telinga Alby meski ia masih menutupi wajahnya. Amara sendiri menenggelamkan wajahnya di balik punggung Alby.
"Ayo Bil, kita main lagi!",ajak Dhea menyeret Nabil dari pangkuan Opa nya.
Suara deheman Nathan, menyadarkan sepasang kekasih yang sedang merasa deg-degan tak karuan.
Saat Alby membuka wajahnya, Nabil dan Dhea sudah tidak ada di sana.
"Ehem, tukang bangunan?",tanya Papi mengawali sesi interogasi pada calon menantunya.
"I...iya Om. Cukup lama."
"Lalu?", tanya Papi sambil menaikkan kacamatanya. Mami yang duduk bersama Mayang tak bisa komentar apa-apa.
"Karena ibu saya sakit-sakitan dan harus sering kontrol ke rumah sakit kabupaten, ada sepupu saya yang menawarkan pekerjaan menjadi supir pribadi di keluarga tuan Hartama." Alby pun menjelaskan asal mula ia menjadi supir Silvy, operasi Mak Titin, pernikahan dengan Silvy hingga perceraian dengan Bia. Sebenarnya, Alby sangat sakit jika mengingat itu semua. Rasa bersalahnya menyelimuti hatinya karena memberi luka pada Bia.
Anak ini benar-benar mengatakan sesuatu dengan apa yang informan ku katakan! Syukurlah, jika memang dia laki-laki yang baik. Batin Papi.
"Kamu mau minta restu dari saya?",tanya Papi. Semua mata tertuju pada papi yang melontarkan pertanyaan tersebut.
"Kamu tahu orang di masa lalu kalian saling bersangkutan?",tanya Papi. Alby pun mengangguk.
"Apa jaminan nya jika kamu akan membahagiakan putri ku?"
"Saya tidak bisa menjamin sepenuhnya om, tapi saya akan berusaha semampu saya untuk membahagiakan Amara", jawab Alby lugas. Dia sudah mulai menerima setiap kalimat Papi Amara.
"Andai kata saya merestui kalian, setelah menikah kalian akan tinggal di mana? Kamu menumpang di apartemen Amara? Atau kamu masih tetap menumpang di rumah mantan mertua kamu?!", lanjut Papi.
"Papi...!",Amara mulai bersuara tapi papi mengangkat tangannya agar Amara terdiam.
"Saya paham kekhawatiran anda Om. Sebelum saya menjalin hubungan dengan Amara, saya dan asisten saya mengambil KPR. Insyaallah rumah kami berdampingan. Mungkin memang tidak di kawasan mewah seperti rumah om ini, dan juga mantan mertua saya. Insyaallah layak huni. Tapi, itu yang saya mampu dapatkan selama saya bekerja di HS grup. Saya memang memegang kendali atas HS grup. Tapi saya sadar diri, apa yang saya jalankan hanya lah amanah yang sewaktu-waktu harus saya serahkan pada putra saya sebagai pewaris utama. Maaf om, mungkin pendapatan saya tidak bisa memberikan kemewahan untuk Amara seperti yang selama ini om berikan."
Ibarat bisulan meletus, apa yang ada dalam hati dan pikiran Alby sudah ia sampaikan pada papi Amara. Lega!!! 😌Jijay banget yak mengibaratkan nya 🤣🤣🤣🤣🤣🤣bisul!
Urusan apakah nanti papi Amara akan merestui atau tidak...yang penting Alby sudah berusaha lebih dulu untuk mencobanya.
Jika kali ini gagal, mungkin lain kali lagi dia akan terus mencoba sampai papi Amara benar-benar luluh dan merestui hubungan keduanya.
Papi cukup puas mendengarkan perkataan Alby yang meyakinkan tapi tidak berlebihan. Dalam hatinya, papi sebenarnya sudah tahu jika kekasih putri bungsu nya adalah laki-laki yang tepat. Hanya saja, ia terlambat menyadari hingga putri bungsu dan dirinya harus mengalami hal buruk akibat ulah Frans.
__ADS_1
Semua menegang, menunggu respon papi yang dari tadi diam mendengar penjelasan Alby. Amara sendiri meremas kedua tangannya yang berkeringat.
Papi meletakkan tongkatnya ke samping sofa. Lalu ia menatap Amara.
"Kamu ngga mau peluk papi lagi Amara?",tanya papi. Semua mata tertuju pada Papi. Begitu pula Amara yang dari tadi sudah resah dan gelisah.
"Kamu ngga bakalan bisa sering peluk-peluk papi kalau kamu sudah menikah dengan nya kan?",tanya papi sambil menunjuk Alby dengan dagunya. Amara menoleh ke arah Alby. Setelah itu, Amara bangkit dan menghambur ke papinya.
"Papi!", Amara berjongkok di depan Papinya yang duduk di sofa. Ia memeluk papinya dengan begitu erat. Mami dan Mayang tersenyum, begitu pula dengan Nathan dan Daniel. Mereka sudah menduga papi nya akan memainkan drama seperti itu. Kenapa? Karena mereka tahu, sebenarnya papinya sudah merestui mereka sebelum mereka meminta. Tepatnya setelah tahu yang terjadi pada Amara dan dirinya karena ulah Frans. Dan Alby lah sosok yang tepat mendampingi putri nya. Hanya saja, Papi mengulur waktu hingga Alby sendiri yang meminta restu darinya. Resek dan meresahkan si papi ya??? 🤭🤭
"Papi!", Amara menangis sesenggukan di depan papinya.
"Kok malah nangis sih? Bukannya seneng, papi ngijinin kamu nikah sama duda dua kali itu?",tanya papi. Amara mengerucutkan bibirnya.
"Ngga usah di tegaskan duda dua kali juga Pi!", protes Amara. Papi hanya tersenyum tipis melihat putrinya yang menangis bahagia.
Alby sendiri masih salah tingkah. Dia belum begitu paham apakah papi Amara benar-benar akan merestui hubungan mereka?
"Jadi, papi restuin Mara sama Alby kan Pi?",tanya Amara seperti anak kecil. Papi mengedikan bahunya.
"Pi...?",rengek amara. Mungkin sudah tak pantas jika dilihat dari segi umurnya. Tapi Amara tetap lah anak bungsu yang ingin di manja oleh papi nya.
Papinya yang tak tahan pun mengusap kepala Amara dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan papi. Selama ini papi sudah selalu memaksa kamu dalam segala hal. Termasuk mematahkan cita-cita kamu sebagai abdi negara. Tapi karena bakti mu pada papi, kamu mengorbankan cita-cita kamu!"
Mata Amara berkaca-kaca mendengar penuturan papinya.
"Papi pernah berjanji sama kamu, entah di episode berapa lah. Reader's juga tahu! Papi akan memaksa kamu, untuk menjadi penerus perusahaan papi. Dan papi, tidak akan ikut campur dengan masa depan kamu meskipun nantinya berbeda keyakinan dengan kita sebelumnya. Huuum, akhirnya kamu memang memilih memeluk kepercayaan yang berbeda dengan papi mami bukan karena laki-laki itu, tapi karena memang dari hati kamu sudah meyakininya."
Amara terisak dan masih bersimpuh di hadapan papinya. Alby gelisah di sofanya. Ia hanya memandangi bapak dan anak itu yang sedang mencurahkan segala beban di hati mereka. Hening untuk beberapa saat, hingga satu kalimat yang mereka tunggu-tunggu pun tiba.
"Papi merestui kalian!", kata papi. Semua mata tertuju pada papi.
"Dan papi harap, secepatnya kalian menikah! Papi tidak mau jika kalian sering berduaan di apartemen!", lanjut papi.
Wajah Alby memerah mendengar kalimat terakhir yang calon mertua nya katakan. Itu artinya....???? wkwkwkw you know lah!!!
"Makasih Pi, Mara sayang papi!!!", Amara memeluk papinya lagi dengan berurai air mata. Air mata bahagia tapi ye ....heheheh
****
Dah lah....seneng kan??? 🤭🤭🤭
Mo nyicil nyiapin masak ah ....heheh ✌️✌️✌️
__ADS_1
Makasih 🙏