
Amara
"Kalo itu kamu, ngga apa sayang. Aku tidak akan marah!",kata Frans lagi sambil mendekatkan wajahnya di depan ku. Aku melengos, takut sampai dia kembali mencari kesempatan.
"Aku akan ke London untuk beberapa waktu baby, tapi aku pasti kembali. Jadi, tunggu aku!",bisiknya lirih di depan bibirku.
Kenapa auranya sekarang berubah? Dia berbeda di banding kemarin saat kami pergi ke lab ilegalnya itu. Disana, aku sempat luluh dengan curhatan nya yang memang tersakiti oleh ulah adik dan istrinya itu. Tapi sekarang, Frans kembali seperti sosok psikopat lagi.
"Dengarkan aku baby! Aku benci pengkhianatan!", katanya sambil memegang daguku.
Di saat-saat seperti ini, ponsel ku berdering. Ponsel yang berada di genggaman tangan ku pun langsung di ambil paksa oleh Frans.
Ada nama Dimas tertera di benda pipihku. Apa ada hal yang akan Dimas sampaikan, tapi bagaimana jika Frans mendengar nya dan paham obrolan kami.
"Who is Dimas? Hanya teman mu? Bukan seperti Alby?",tanya Frans padaku. Aku mengangguk lalu merebut ponsel ku dari tangan Frans.
Frans melepaskan tangannya dari pinggang ku, membiarkan ku meraih ponsel ku. Tapi belum sempat ku angkat, ponsel itu sudah mati. Tak berapa lama, ponsel itu kembali berdering. Dimas kembali menghubungi ku.
"Terima saja sayang, pasti penting!",kata Frans melipat kedua tangannya di dada.
Aku pun mengangkat panggilan telpon dari Dimas itu.
[Halo Dim!]
Aku yakin dimas mendengar suara ku yang bergetar.
[Ra...]
[Apa Dim, gue...gue...di rumah]
Aku sedikit terbata-bata menjawab telepon darinya. Dimas merasa ada yang janggal lalu ia pun melanjutkan obrolannya.
[Lo di mana? Kopdar yuk! Anak-anak kangen sama Lo! Ngopi kek apa kek! Lo kan udah jadi CEO!]
Aku mengernyitkan alis ku. Ini bukan Dimas banget, dia paling gengsi di traktir!
[Hah? Oh...boleh, kap...kapan?]
__ADS_1
[Sekarang aja. Gue jemput deh!]
Frans menatap tajam padaku. Aku tahu dia sedang cemburu pada sosok Dimas yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
[Ngga usah. Di kafe mana? Lo sama calon istri Lo kan?]
[Iya lah, sama anak-anak yang lain juga!]
[oke, gue usahain. Di mana?]
[Kafe pelangi, Deket kantor kita. Eh, kantor gue maksudnya. Ntar...]
Tapi sebelum aku mendengar Dimas melanjutkan obrolannya, Frans merebut ponsel ku.
[Jangan ganggu tunangan ku!!!]
Kata Frans dengan posesif. Setelah itu ia melempar ponsel ku sampai layarnya pecah. Aku menganga tak percaya.
"Apa-apaan kamu Frans!",aku mendorong tubuhnya.
"Baby, ingat! Aku tidak suka siapa pun mendekati kamu. Meski dia bilang teman kamu atau pun dia sudah menikah atau apa lah terserah. Kamu hanya milikku!",kata Frans sambil meremas pundak ku. Matanya menatap tajam.
"Really? Jadi kamu tak menganggap aku mencintaimu begitu?", dia kembali mencengkram daguku.
Dengan sekuat tenaga aku menepisnya. Sampai cengkeraman itu terlepas.
"Kalau kamu memang mencintai ku, tidak mungkin kamu menyakiti ku! Menyakiti orang-orang di sekitarku!",teriakku. Perlahan sorot matanya yang tadi sangat menyeramkan berubah menjadi teduh. Lalu setelah itu ia memelukku begitu erat.
"Maaf kan aku baby! Maaf!", katanya sambil mengusap kepala ku pelan.
Frans seperti dua sosok yang berbeda dalam satu tubuh. Untuk beberapa saat dia bisa bersikap hangat seperti ini, tapi beberapa saat kemudian dia bisa menjadi sosok yang menyeramkan.
"Tolong jangan tinggalkan aku baby! Aku mencintaimu! Jangan pernah khianati aku. Cukup mereka berdua yang mengkhianati dan menyakiti ku!",kata Frans lirih. Tangan ku reflek membalas pelukannya. Aku pun mengusap punggungnya yang lebar itu.
Perlahan pelukan kami mengendur. Dia menatap ku begitu lekat. Lalu mengusap pelipisku.
"Aku masih ingin bersama mu baby. Tapi perusahaan Daddy membutuhkan ku. Nanti saat urusan ku di sana selesai, aku akan pindah ke sini. Jadi warga negara ini! Oke?"
__ADS_1
Aku hanya mengangguk pelan. Frans melihat jam di tangannya. Dia mendesah pelan.
"Aku...harus kembali ke apartemen ku. Mungkin sebaiknya kamu memang tak perlu mengantarku ke bandara. Aku takut...tak bisa melepas mu!", katanya sambil menakupkan kedua tangannya di pipiku. Setelah itu, ia mengecup kening ku begitu lama.
Aku hanya berusaha untuk tetap menjaga kewarasan ku. Mengontrol diri agar tak reflek memberontak.
Akhirnya setelah drama panjang, Frans pun berpamitan dan pergi dari rumah ku.
Di lain sisi....
Dimas yang batal berkencan dengan Anika masih ngendon di rumah Febri. Yup, acara kencan nya dengan Anika gagal karena sang kekasih ada urusan keluarga.
"Gimana?",tanya Febri pada Dimas.
"Untung gue paham sikon. Kalo ngga, udah pasti si Frans tahu kalo gue sama Mara mau bahas dia."
"Maksudnya, sekarang Amara lagi sama Frans gitu?"
Dimas mengangguk.
"Terus gimana ini? Apa Amara bakal baik-baik aja?"
"Gue harap sih gitu. Tapi semoga aja. Ponselnya udah ngga bisa di hubungi. Gue yakin sih bule itu ngebanting tuh barang."
"Kasian ya Mara!",kata Febri.
"Kalo kasian, ngapa Lo ga nerima dia dari dulu?",ledek Dimas. Febri menoyor kepala Dimas.
"Ngga usah ngadi-ngadi. Bia denger ntar mikir macem-macem!"
"Pak kapten mah Cemen. Takut sama Bu kapten!", ledekan Dimas makin jadi.
"Wes... wes! Terus gimana itu, kalo Frans balik ke kampung halamannya. Semua aman?"
"Kayanya sih iya. Lab ilegalnya udah di grebek sama kalian. Dan ya...kita tunggu besok! Karena, semua bakal keliatan besok! Apa Frans bisa kembali ke negara ini atau...ya liat aja lah!"
Febri menatap Dimas curiga.
__ADS_1
"Lo ga bakal ngerusak sistem penerbangan kan?",tanya Febri penuh selidik pada sahabatnya itu.
"Hahaha ya ngga lah! Gila lu ndro! Udah, liat besok aja gimana!",sahut Dimas dengan santainya. Febri hanya menggeleng pelan menanggapi sahabat nya yang kadang-kadang absurb tapi kadang juga otak nya encer.