Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 82


__ADS_3

Alby


Jam dua pagi aku terbangun. Entah kapan terakhir aku mendirikan solat malam. Akhirnya aku memutuskan untuk melakukannya malam ini sambil menunggu subuh. Toh aku sudah tertidur dari sore.


Aku membersikan diri setelah itu berwisata dan bersiap untuk melakukan sunah dua raka'at. Selanjutnya aku memilih untuk tadarus.


Ada rasa tenang yang ku rasakan saat jiwa ku mengadu pada sang kuasa. Setelah menghabiskan beberapa lembar halaman ayat-ayat suci, aku melanjutkan dengan berzikir. Ku perbanyak istighfar tentunya. Karena aku merasa memang dosaku teramat sangat banyak.


Semoga sang kuasa berkenan memberikan ampunan padaku. Aku ingat betul saat aku dan Bia masih bersama dulu.


Kami sering solat sunah bersama. Jangankan solat, kami pun sering berpuasa sunah bersama meski pekerjaan ku saat itu tukang bangunan yang membutuhkan tenaga penuh. Alhamdulillah, selama itu aku baik-baik saja.


Mungkin... karena Bia yang mendampingi ku. Kebahagiaan itu kian sirna karena kesalahan terbesar yang mungkin sekarang Bia maafkan tapi tak akan pernah bisa ia lupakan.


Mungkin Bia akan lupa seperti apa rasanya mencintai ku, tapi dia tidak akan pernah lupa seperti apa aku menancapkan luka padanya.


Astaghfirullah! Rasa bersalah ku tak akan pernah pudar sekali pun aku melihat Bia kini bahagia bersama Febri.


Pantas kah aku iri????


Lalu....apa arti Amara dalam hidup ku? Kenapa aku cemas saat tak mendengar kabar darinya? Amara dan Bia sosok yang berbeda. Tapi benar kah aku sudah memiliki rasa pada Amara? Aku bisa menghapus rasa cinta ku pada Bia???


Aku masih ingat betul tiap detil apa yang ada pada Bia, kebiasaannya, kesukaannya dan banyak hal hanya aku dan Bia yang tahu.


Kuusap kasar wajah ku. Kenapa aku masih saja memikirkan perempuan yang sudah sah menjadi istri orang lain?


Aku sudah ikhlas ya Allah, ikhlas!!!! Bisik Ki dalam hati.


Ternyata ikhlas di mulut lebih mudah terucap di bandingkan di dalam hati yang meski orang lain tak mampu mendengar nya.


Tak terasa waktu subuh tiba. Aku pun melanjutkan solat wajib ku.


Nabil bangun saat aku sedang melipat sarung dan sajadah ku. Putra tampan ku turun dengan susah payah dari ranjang yang cukup tinggi.


"Papa!",kata Nabil lalu menggelayut manja di kaki ku. Aku mengangkat tubuh gemoy nya dalam gendongan.

__ADS_1


"Udah bangun sayang? Masih pagi lho?!"


"Nabil solat, kaya papa!", katanya.


Masya Allah, pantas kan jika aku bangga dan bahagia jika putra ku yang usianya dua tahun lebih mulai solat tanpa di minta dan di suruh???


"Ayo! Papa anterin wudhu yuk!",Nabil mengangguk riang.


Meski belum sempurna, tapi aku salut jika batita ku mulai belajar berwudhu. Meski pada akhirnya hampir semua bajunya basah.


"Ganti baju dulu baru solat ya?!", Nabil mengangguk lagi.


Nabil sudah berganti baju panjang yang tidak perlu memakai sarung. Dia mulai mengikuti gerakan solat seperti ku. Tapi ya...namanya anak dua tahun, wajar seperti itu.


"Udah pa!"


"Udah? Nabil udah doa buat bunda belum?",tanya ku pada Nabil. Dia nyengir imut. Lalu detik berikutnya ia menadahkan tangan nya seolah sedang berdoa. Menggemaskan sekali kamu Nabil!!!


"Selesai papa, aamiin!", kata Nabil, tak lupa dengan senyumnya yang imut-imut dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


"Ya Allah, Nabil sayang bunda sama kakak Nabila. Jaga mereka ya Allah. Aamiin!"


Aku menautkan alisku.


"Siapa kakak Nabila?",tanyaku bingung.


"Kakak Nabil pa, sama bunda!",jawab Nabil tersenyum riang.


Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi di mana? Aku mencoba mengingat-ingat.


Oh iya aku ingat, nama Nabila pernah almarhumah Silvy ucapkan sebelum dia meninggal. Dia bilang, Nabila menunggu nya.


Jadi, Nabila itu siapa??


"Nabil, kakak Nabila itu siapa? Nabil kenal di mana?",tanyaku dengan masih penasaran.

__ADS_1


"Kakak nya Nabil papa. Kata kakak, kakak Nabila itu anaknya papa juga."


Aku menggaruk rambut ku yang tak gatal.


"Anak papa, kan Nabil?"


Nabil menggeleng cepat.


"No papa. Kakak Nabila, kakak Nabil. Cantik kaya mamanya heheheh!"


Aku menelan ludah ku. Apa ini maksudnya???


"Emang kapan Nabil ketemu sama kakak Nabila?"


Nabil mengetuk-ngetuk dagunya seperti orang dewasa yang sedang berpikir. Terlihat sangat serius.


"Lupa pa! Tapi kadang-kadang ketemu kok!", jawabnya dengan mimik muka yang meyakinkan.


"Oh ya? Ketemu di mana?"


"Di sini lah,Pa!",jawab Nabil. Aku ternganga tak percaya. Masa anak sekecil Nabil sudah berhalusinasi begitu??


Aku menurunkan Nabil ke ranjang ku. Lalu aku pun duduk di sampingnya.


"Sayang, dengar kan papa. Nabil kan ngga ada teman di rumah, gimana kalo Nabil sekolah aja. Jadi punya temen deh!", kataku.


Nabil mengangguk cepat.


"Mau papa!", jawabnya riang.


Aku sedikit lega mendengar ia setuju ide ku. Tapi...aku masih tak habis pikir, kok bisa sih????


****


Maaf kalo part ini gaje 😆

__ADS_1


__ADS_2