Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 162


__ADS_3

Jam empat pagi, Salsa menghubungi kembali nomor Nur. Kali ini Azmi yang langsung mengangkatnya.


[Assalamualaikum ustadzah]


[Walaikumsalam, pak Azmi kami baru sampai di parkiran rumah sakit. Di mana ruang rawat Nur?]


Azmi pun memberikan informasi kamar Nur dirawat. Azmi sedikit merasa lega karena jika Salsa kemari, itu artinya dia bisa pulang sejenak untuk mengistirahatkan tubuhnya.


"Gimana keadaan kamu Nur?",tanya Salsa yang di dampingi suaminya.


"Udah mendingan teh!", jawab Nur.


"Makasih banyak pak Azmi!", kata Salsa.


"Sama-sama ustadzah, kalau begitu saya permisi pulang karena sudah ada yang menemani Nur."


"Sekali lagi terimakasih banyak!", kata Salsa. Azmi hanya mengangguk, kalau menjawab lagi yang ada bakalan ngga berhenti.


"Saya balik dulu Nur, cepat sembuh!", kata Azmi.


"Iya, A!", kata Nur lirih. Sepasang suami-isteri itu saling melirik. Azmi pun pamit keluar ruangan.


"Ehem, Aa nih?", tanya Kakak iparnya.


"Ishhh, apaan sih? Ya iyalah Aa, masa kakek!", sahut nur meski masih lemas tapi tetap bernada ketus.


"Jadi, ada hubungan apa nih sama pak duda?",tanya Salsa.


"Teteh apaan sih? Ngga ada apa-apa kok. Lagian A Azmi tuh tipe laki-laki yang ngga mau sentuhan sembarangan sama yang bukan mahram."


"Kamu di sentuh!", ledek kakak iparnya.


"Ya kan darurat A! Udah lah, mending kalian solat subuh gih."


Salsa dan suaminya tertawa pelan. Mereka berharap, Nur berjodoh dengan Azmi. Kenapa? Karena gara-gara akan di jodohkan, Nur kabur dari rumah orangtuanya dan memilih kerja jadi pelayan restoran. Salsa merasa kalau adiknya punya perasaan pada Azmi yang lebih dewasa darinya.


"Ya udah Umi, kita ke mushola aja. Dia ngga mau di temenin kita. Maunya di temani Aa Azmi!", ledek kakak iparnya lagi.


Sebelum adik iparnya menunjukkan tanduk, sepasang suami istri itu memilih keluar dari ruangan Nur.


.


.


Jam lima pagi, Azmi sampai ke kosan. Dia langsung membersihkan diri saat memasuki kamarnya.


Dia tak mandi sejak kemarin sore. Meskipun sedikit lama ia mandi tak seperti biasanya, dia masih sempat menjalani dua raka'atnya.


Masih ada waktu untuk memejamkan mata sebelum berangkat ke kantor. Azmi pun terbuai dalam mimpi.


Mimpi Azmi terusik sejak ponselnya berdering nyaring. Ia meraba sebelah bantalnya karena memang dia tidur di kasur lantai. Ngenes amat Aspri CEO perusahaan besar kost nya sampe tidur lesehan???


Dia sudah terlanjur nyaman di tempat itu karena tetangga nya yang tak banyak ikut campur tidak seperti saat ia mengontak bersama anak dan almarhumah istrinya dulu.


[Assalamualaikum]

__ADS_1


[Walaikumsalam, Lo dimana?]


Azmi paham, itu suara bosnya.


[Di kosan. Kenapa bos?]


Azmi masih menguap sesekali.


[Lo tanya kenapa? Ini sudah jam sebelas Azmi! Astaghfirullah! Lo lagi kenapa? Lo sakit?]


Serentetan pertanyaan dari bosnya pun terdengar nyaring. Mendengar bos nya mengatakan sekarang jam sebelas pun ia langsung terbangun.


[Astaghfirullah bos. Hampura bos, oke...otewe sekarang!!!]


[Tapi Lo lagi ga sakit kan?]


[Ga, sebentar lagi meluncur. Dah ya bos. Assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Alby menyahuti salam dari Azmi. Pria tampan itu bingung, tak pernah sekalipun asprinya terlambat sejak mereka berdua bekerja sama.


Alby memilih melanjutkan pekerjaannya. Hari ini pekerjaannya sudah cukup banyak, di tambah lagi Azmi yang telat. Ya, mau bagaimana lagi? Dia juga manusia, ada capeknya bukan.


Beruntung Amara menolak untuk di temani sidang kali ini. Kalau iya, bisa saja pekerjaan akan semakin terbengkalai karena Azmi juga terlambat datang.


[Gimana sidang nya neng?]


Alby mengirim pesan pada Amara. Masih centang abu dua, mungkin memang kegiatan itu masih berlangsung. Alby berusaha berpikir positif saja. Semoga semua berjalan lancar.


"Lo kenapa?", Alby menghampiri Aspri sekaligus sahabatnya.


"Maaf telat bos!", kata Azmi.


"Telat Lo parah, kelewatan!", kata Alby lalu duduk di sofa, berhadapan dengan Azmi.


"Iya, maaf! Lagian baru kali ini juga!", Azmi mencoba membela dirinya.


"Iya...iya...gue sering telat sering keluar juga. Terus Lo sebenarnya kenapa sih?"


''Hooam, maaf! Gue dari rumah sakit, semalaman jagain Nur. Dia pingsan di dapur kosan."


Azmi masih menguap dan menutupi mulutnya dengan telapak tangannya.


"Lo? Jagain Nur? Wah...wah....!", Alby geleng kepala sambil tepuk tangan. Azmi mengernyitkan alisnya.


"Ya...? Kenapa?", tanya Azmi bingung.


"Kok kenapa? Ya pasti aneh lah. Akhirnya Lo respect sama cewe kan? Ngga mungkin Lo ga nyentuh dia kan? Ngaku ngga Lo?", tuding Alby.


"Ya Allah, dalam keadaan darurat mah boleh atuh."


"Darurat ya? Tapi, penghuni kosan kan ngga cuma Lo, ada cewe selain Nur juga kan...?", tanya Alby lagi dengan nada meledek.


Azmi ternganga, dia tak tahu harus menanggapi seperti apa bosnya itu.

__ADS_1


"Udah, ngga usah takut gitu mukanya. Nur juga cantik kok, masih muda lagi."


"Maksud Lo apa nih?",Azmi memundurkan kepalanya.


"Ya elah, pura-pura kagak tahu. Mak othor mau jodohin Lo sama dia. Gitu aja kagak paham ente!"


"Astaghfirullahaladzim! Eh, hallo bos? Gue duda anak satu, udah gede lagi By. Masa iya gue nikahin anak kemarin sore. Masih gadis pula. Kasian dia lah By. Lagian...dia adiknya Ustadzah Salsabila."


"Maksud Lo apa nih? Nyindir gue? Amara juga masih gadis. Ngga pantes gitu dia dapet duda kaya gue?", Alby pasang tanduk.


"Hehe ga nyindir sih sebenernya, cuma kebenaran aja bener kan? Mungkin itu ngga berlaku buat situ sama Amara."


Alby mencebikkan bibirnya.


"Heum, jangan bilang Lo belum move on daru ustadzah Salsabila? Eh, Lo bilang apa? Nur adiknya ustadzah Salsabila?"


Azmi mengangguk pelan.


"Udah lah, ngga usah bahas. Kerjaan banyak kan? Ntar ngga kelar-kelar. Ngga mau lembur gue."


"Heum, mau nemenin dek Nur lagi ceritanya?", ledek Alby.


"Gak gitu bos. Eh....!!!?"


"Kenapa?",tanya Alby.


"Gue belum sarapan, belum makan siang juga!", kata Azmi.


"Kehed sia teh! Piraku teh kunaon!", kata Alby mendengus kesal. Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu.


"Masuk!", ujar Alby. Seorang laki-laki berseragam OB masuk dan membawa makanan ke meja Alby.


"Ini pesanan makan siangnya Pak Alby!", kata OB tersebut.


"Makasih mas, kembalinya buat kamu saja!", kata Alby.


"Alhamdulillah, terimakasih pak Alby. Permisi pak Azmi!",pamit si OB. Azmi hanya mengangguk.


Alby menenteng kotak makanannya di depan Azmi.


"Kurang baik apalagi gue coba? Nih, makan siang Lo. Gue udah duga, Lo pasti belum makan!", kata Alby menyodorkan makanannya.


"Alhamdulillah, subhanallah, masyaallah, tabarakallah , makasih banyak bos ku. Bos emang pengertian."


Azmi mengambil makanan yang ada di meja. Alby sampai heran kenapa asprinya begitu lahap.


"Udah bismillah Lo?", tanya Alby yang mendadak kenyang melihat Azmi makan begitu lahap.


"Udah", jawab nya singkat.


"Emang kapan terakhir Lo makan?", tanya Alby. Azmi berhenti sebentar lalu menatap bosnya.


"Kemarin, pas kita meeting di restoran."


Alby sampai takjub dengan cacing-cacing di perut Azmi. Asprinya memang beda!

__ADS_1


__ADS_2