
Amara
Aku merebahkan diri di ranjang king size yang ada di kamar ku, tepatnya di rumah orang tuaku. Ya, usai pertemuan ku dengan orang tua Frans tadi aku memutuskan untuk pulang ke rumah papi.
Sedang Mami menjaga papi di rumah sakit. Kakak-kakak ku pun sibuk dengan urusan mereka sendiri. Apalagi kak Daniel, dia tadi juga sempat di sibukkan dengan urusan ku yang tentu saja merepotkannya.
Tangan ku gatal ingin menghubungi Alby. Jika memang nomor ku sudah terlanjur di retas, bukan kah aku juga bisa menggunakan ponsel lain?
Aku bangkit dari ranjang menuju ke dapur. Sudah hampir jam sebelas malam. Aku harap, art ku belum tidur.
Alhamdulillah, bibik dan suaminya masih menonton tv.
"Bik!", panggil ku lirih.
"Lho, Non? Belum tidur? Ada yang bisa bibik bantu Non?",tanya nya.
"Eum, Bik. Boleh pinjam hp nya ngga?"
Bibik menautkan alisnya.
"Hp bibi butut non!",katanya.
"Nggak apa-apa. Aku pinjam ya Bik. Please!", kata ku memohon.
"Ya udah non, sebentar saya ambil dulu ya non!",kata bibik. Aku pun mengangguk cepat. Tak lama kemudian bibik memberikan ponselnya padaku.
"Aku bawa ke atas dulu ya Bik, nanti kalo udah selesai aku balikin. Makasih banyak ya bik!",kataku menepuk lengan bibik sambil tersenyum.
"Iya Non!",aku sedikit berlari menuju ke kamar ku.
"Orang kaya mah aneh ya pak. Dia punya hp bagus mahal lagi, malah pinjem hp ku yang butut begitu!",kata bibik pada suaminya.
"Mungkin ada alasannya kenapa ngga pake hp non Amara sendiri Bu. Biasa lah anak muda!",jawab suami Bibik. Lalu sepasang suami istri itu pun kembali menonton televisi.
__ADS_1
Aku sudah berada di kamar ku. Nomor ponsel Alby sudah berada di luar kepala ku. Jadi bukan hal sulit untuk ku menghubungi nya meskipun Frans menghapus nomor Alby dari ponsel ku.
Aku mendial nomor Alby. Berharap, dia mau mengangkat telpon ku meski ini hampir tengah malam.
Panggilan pertama dan kedua, Alby tak menjawabnya. Aku coba sekali lagi, dia pun tak menjawabnya. Ada rasa putus asa sebenarnya. Mungkin ini waktu yang tidak tepat. Tengah malam begini pasti Alby sudah tidur.
Dengan gontai aku mengembalikan ponsel ku pada bibik.
"Ini bik hp bibik. Makasih ya!"
"Lho, udah non?",tanya bibik sambil menerima ponselnya dari tangan ku.
"Heum! Iya bik. Makasih ya. Udah bibik istirahat. Udah malam!",kataku meninggalkan dapur.
Tanpa mendengarkan bibik yang mengiyakan, aku pun kembali ke kamar. Belum lama ponsel bibik di taruh meja, ada nomor asing yang menghubungi nomor bibik.
"Angkat aja Bu, barang teman non Amara yang tadi ga bisa di hubungi!", pinta suami Bibik.
"Iya pak."
Bibik mengangkat panggilan itu.
[Walaikumsalam. Maaf, ini siapa ya? Dari tadi telpon saya berkali-kali?]
[Heum? Maaf, kayanya ini temen Non Amara ya? Sebentar ya, saya anterin hp nya dulu ke kamar Non. Soalnya baru aja dia naik ke kamar]
[Amara? Terus ini siapa?]
[Saya bibik ,yang kerja di sini. Ngga tahu non Amara bilang tadi pinjem hp bibik aja gitu]
[Owh, makasih sebelumnya ya bik]
[Iya mas. Sebentar ya!]
__ADS_1
[Ya bik!]
Bibik mengetuk pintu kamar nonanya.
Tok...tok ...
"Non, belum tidur kan?",kata Bibik. Tak lama kemudian pintu terbuka.
"Heh? Kenapa Bik?",tanyaku setelah membuka pintu.
"Ada telpon buat Non!",kata Bibik.
"Mana, sini bik!",kataku riang. Bibik pun menyerahkan ponselnya pada ku. Setelah itu ia pamit turun lagi ke dapur.
[Halo by?]
[Ya Allah Ra, kamu kemana aja sih? Aku ngga bisa hubungi kamu sama sekali. Bikin aku cemas tahu ngga!]
[Iya maaf. Tadi Frans mengajak ku ....]
Aku menceritakan semua yang terjadi hari itu. Alby mendengarkan ku dengan baik. Sesekali ia menimpali, tapi juga lebih sering menjadi pendengar.
[Apa dia akan terus ngawasin kamu? Terus gimana?]
Aku belum menceritakan tentang niat Frans melamar ku besok. Ada perasaan cemas. Cemas kalau ternyata Alby kecewa dan bertindak semaunya yang berakibat buruk untuk nya dan juga orang lain.
Obrolan terus berlanjut lewat tengah malam. Aku merasa khawatir jika sampai Alby atau keluarga ku yang lain menjadi korban obsesi Frans. Tapi saat berbicara berdua seperti ini, aku merasa jauh lebih nyaman bersama Alby.
Alby juga menceritakan tentang rencana yang sudah Febri susun, tepatnya sih Dimas yang jadi eksekutornya.
Akhirnya obrolan berakhir setelah kami berdua sama-sama menguap berkali-kali. Alby juga sempat mengatakan bahwa dia akan pulang kampung karena Nabil yang memintanya.
****
__ADS_1
Dimas mau ngapain sih? Bingung?!! Sama, eyke juga masih bingung 😆🤣
Makasih ya....🙏🙏🙏