
Alby dan Billy sudah sampai di Bandung, dimana proyek kerjasamanya dengan perusahaan Amara dilaksanakan.
Tapi perusahaan Alby yang memegang penuh kendali atas pembangunan tersebut karena perusahaannya lah yang bertanggung jawab sebagai pelaksana.
"Kamu tunggu saja di mobil ya Bil!", pinta Alby.
"Siap pak!", jawab Billy. Ia dan beberapa pasukannya menunggu di mobil.
Para pekerja dan mandor yang bertanggung jawab di sana terlihat terkejut ada orang yang berpakaian rapi ke proyek pembangunan.
"Selamat siang Pak? Ada yang bisa saya bantu?", tanya salah seorang dari sekian pekerja. Dan sepertinya dia mandor di sini.
"Selamat siang! Pak Ujang nya ada?", tanya Alby masih dengan masker dan kacamata hitamnya.
"Maaf pak, selain yang berkepentingan di larang masuk. Apalagi anda tidak mengenakan perlengkapan safety", mandor itu melarang Alby.
Bagus juga! Mereka memenuhi standar keselamatan kerja! Batin Alby.
"Tolong sampaikan kepada pak Ujang, saya ingin bertemu."
"Sebentar! Tapi dengan siapa?", tanya mandor.
"Dari Jakarta, sampaikan saja seperti itu!", jawab Alby. Mandor itu pun masuk ke dalam kantor yang ada di area pembangunan. Kantor darurat sebenarnya karena setelah pembangunan selesai, kantor itu di bongkar. Tanpa mempersilahkan Alby masuk, Mandor tersebut memanggil atasannya.
Tak lama kemudian, mandor tadi datang dengan seseorang yang mengekor di belakangnya.
"Selamat siang?", sapa pak Ujang. Alby membuka maskernya.
"Selamat siang pak Ujang!", sapa Alby.
"Ya Allah, pak Alby! Mimpi apa semalam saya kedatangan pak Alby ke proyek?", tanya Pak Ujang terkejut.
"Maaf jika saya mengejutkan pak Ujang. Saya ada kepentingan dengan pak ujang sekaligus mau minta tolong dan kerjasamanya."
"Minta tolong??? Eh, kalau begitu...mari kita ke kantor saja pak Alby!", Ujang mempersilahkan Alby. Mandor tadi dan pekerja lain tampak bingung.
"Jon, tolong belikan air mineral untuk pak Alby!", pinta Ujang. Jona, si mandor itu pun mengangguk.
"Oh iya Jona, pak Alby ini CEO HS grup, bos tertinggi kita!", bisik Ujang pada Jona. Jona terkesiap beberapa saat.
Mandor yang tadi memanggil Ujang merasa tak enak sendiri. Dia merasa tadi sikapnya kurang baik pada bos besarnya.
"Maafkan saya pak Alby, saya tidak tahu!", kata Jona.
"Tidak apa-apa. Justru saya salut sama kamu. Kamu bertanggung jawab atas keselamatan anak buah kamu. Apalagi saya, orang asing yang datang tanpa perlengkapan safety yang baik."
Jona mengangguk pelan, lalu ia pun undur diri untuk membeli air mineral.
"Silahkan duduk pak Alby!", pinta Ujang.
"Terimakasih pak Ujang!", kata Alby lalu mendudukkan diri di sofa.
"Jadi, apa yang bisa saya bantu pak Alby?", tanya Ujang setelah keduanya duduk.
"Terimakasih atas loyalitas pak Ujang selama ini!", kata Alby. Alby sudah mengecek setiap pengeluaran dan data-data proyek yang Ujang tangani selama ini. Saat proyek homestay di kota Bia pun, Ujang yang menanganinya.
"Sama-sama pak Alby. Jadi apa yang bisa saya bantu?", tanya Ujang.
__ADS_1
"Maaf! Mungkin cara saya ini salah. Tapi....", Alby menggantung ceritanya saat Jona datang membawa air mineral dingin. Usai Jona berpamitan, barulah Alby melanjutkan kalimatnya.
"Saya tahu, ini salah dan tidak profesional. Tapi...saya ingin membantu sahabat saya saja pak Ujang. Pak Ujang tahu kan Aspri saya, Azmi?"
"Oh, tahu pak. Kenapa ya pak? Apa ada sangkut pautnya dengan proyek ini?"
"Eum...jadi gini.....", Alby menceritakan kisah yang Azmi alami. Dia percaya pada pak Ujang yang usianya memang sudah matang. Apalagi, terlihat jika dirinya cukup agamis.
"Heum? Harus seperti itu caranya ya pak?", Ujang bagai makan buah simalakama.
"Tolong ya pak. Saya berhutang Budi banyak sekali dengan Azmi. Mungkin dengan cara ini saya baru bisa sedikit membalas kebaikan Azmi meski harus berbuat seperti ini dan melibatkan pak Ujang!"
Pak Ujang garuk-garuk kepala. Serba salah!
"Jona itu...menantu pertama nya Pak Mirza lho pak Alby!"
"Hah? Benarkah? Berarti...dia nonis ya pak? Maksudnya...dia yang menikah dengan anak sulung pak Mirza?"
Pak Ujang mengangguk. Alby malah tersenyum miris.
"Tapi... tolong ya pak Ujang!", kata Alby. Dia sudah tak menunjukkan wibawanya sama sekali.
"Huffft...baiklah! Semoga Allah mengampuni saya!", kata Pak Ujang lesu. Dia tak menyangka akan di libatkan dalam hal seperti ini.
Pak Ujang mengambil ponselnya. Dia mendial nomor seseorang yang sedang menjadi target big bosnya saat ini.
[Assalamualaikum, pak Ujang]
Pak Mirza menyapa pak Ujang yang sebenarnya sedang dalam mode was-was karena percakapan antara dirinya dengan pak Mirza di dengar langsung oleh Alby.
[Bagaimana pak Ujang? Ada bahan yang perlu saya suplai lagi? Alhamdulillah, stok sudah saya tambah]
Pak Ujang menggaruk pelipisnya. Antara mengikuti permohonan sang bos, atau....
[Eum... tidak pak Haji. Justru...eum...itu, saya mau menyampaikan kalau...kalau dari atasan saya di Jakarta, kami mendapatkan suplaier bahan bangunan dengan harga yang lebih murah, pak Haji]
Pak Ujang memejamkan matanya, sungguh dia bukan tipe orang yang mudah berbohong.
[Astaghfirullah, maksud pak Ujang apa ya? Pak Ujang mau berhenti mengambil barang dari saya?]
Pak Mirza sudah bangkit dari duduknya.
[Gimana ya pak, tapi ... kebetulan, bos saya dari kantor pusat sedang sidak di sini pak Haji]
[Mana bisa begitu sih pak? Kerja sama kita sudah lama lho, masa iya di putuskan sepihak. Nggak fair dong?]
[Atuh gimana ya pak? Saya mah bingung. Bagaimana kalau pak Haji langsung berbicara dan bertemu dengan atasan saya langsung?]
Justru Alby yang membelalakkan matanya, ini di luar skenario yang ia bayangkan.
[Baiklah, saya mau bertemu dengan beliau. Apa perlu saya ke proyek pak Ujang?]
Ujang memberikan kode pada Alby, tapi Alby menggeleng. Dia menunjuk dadanya sendiri lalu ke arah lain dengan telunjuknya yang artinya Alby yang akan ke sana, mungkin bisa bertemu dengan Nur.
[Tidak usah pak haji, bos saya ke sana saja katanya]
[Benarkah? Apa beliau di situ?]
__ADS_1
[Iya pak Haji, kalau begitu mohon tunggu bos saya sampai di tempat pak haji. Assalamualaikum]
[Walaikumsalam]
Pak Ujang menarik nafas lega, tapi tidak lama. Karena Alby menatapnya tajam.
"Kenapa jadi saya lagi pak Ujang????", tanya Alby.
"Saya mah ga tegaan pak Alby! Maaf?!!", Pak Ujang memohon maaf.
"Baiklah... terimakasih sebelumnya. Tapi... setidaknya saya punya alasan untuk ke sana. Boleh saya ijin bawa Jona?", tanya Alby. Pak Ujang berpikir sebentar.
"Silahkan pak! Pekerjaan Jona biar saya pegang sementara."
"Terimakasih banyak pak Ujang!", kata Alby sambil menepuk lengan pak Ujang. Pak Ujang pun memanggil Jona untuk mengantarkan bos nya ke toko mertuanya yang satu arah dengan jalan ia pulang.
"Jona ,tolong antar pak Alby ke toko pak Haji. Ada hal yang harus di urus!", pinta Ujang pada Jona.
"Saya sekalian pulang pak?", tanya Jona.
"Iya, motor kamu bisa memimpin jalan mobil pak Alby!", pinta Ujang.
Jona pun mengangguk. Ia mengeluarkan sepeda motornya. Jona terkejut saat melihat ada beberapa mobil terparkir di depan proyeknya. Dan Alby masuk ke dalam salah satu mobil tersebut. Suara klakson dari mobil Alby pun berbunyi mengejutkan Jona. Dan ia pun mendahului mobil Alby. Mereka langsung menuju ke toko pak Mirza sekaligus kediamannya.
.
.
.
"Mama!", panggil Nabil setelah Amara turun dari mobilnya.
"Udah siapa anak mama yang ganteng?"
"Udah ma. Nenek juga udah!", jawab Nabil. Mak tersenyum di belakang Nabil.
"Langsung ke pemakaman atau ke mana dulu Mak?", tanya Amara.
"Langsung ke makam aja Nak. Tapi...emang nya Nak Amara ngga capek?"
"Ngga Mak. Dari tadi kan ada supir yang bawa mobilnya. Mara tinggal duduk anteng heheh!"
"Ya udah atuh, ayok! Takut baliknya keburu malem."
Amara pun membukakan pintu untuk mertuanya dan juga anaknya. Ia ikut duduk di belakang bersama mereka.
"Papa masih ngga bisa di hubungi ya ma?", tanya Nabil.
"Mungkin baterai ya habis Bil. Nanti malam papa juga pulang kok. Sabar ya?", Mara mengusap punggung Nabil. Dia bisa berkata demikian meski dalam hatinya juga sebenarnya dia merasa sangat khawatir karena suaminya sama sekali tak bisa di hubungi. Billy pun juga sepertinya sama, sama-sama tak bisa di hubungi. Mau bertanya pada Azmi, dia sedang tak bersama Alby.
Sebagai seorang istri, wajar kan kalau khawatir..? Tapi...Amara percaya jika suaminya akan baik-baik saja. Begitu harapannya!
*****
✌️✌️✌️🙏🙏 maafkan kehaluan mamak yang kelewat hqq 😌😌😌
Makasih
__ADS_1