Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 193


__ADS_3

Amara ikut ke kantor Alby lagi setelah makan siang karena mobilnya ada disana.


"Langsung balik sayang?", tanya Alby pada istrinya.


"Iya A. Berhubung nanti ngga jadi ke rumah papi, nanti kalo aku pulang duluan ke rumah Mak ngga apa-apa kan?"


"Iya. Tapi hati-hati ya!", kata Alby sambil mengusap pipi Amara. Amara mengangguk lalu meraih punggung tangan Alby untuk di cium.


"Assalamualaikum suamiku!", kata Amara. Why??? Amara ingin menunjukkan pada perempuan-perempuan yang ada di gedung HS grup bahwa dirinya lah yang sudah berhak atas Alby. Jadi...yang ada niat untuk tebar pesona pada suaminya harus mikir ulang.


"Walaikumsalam sayang!", kata Alby. Azmi hanya menghela nafas melihat adegan romantis minimalis di hadapannya.


"Saya duluan pak!", kata Azmi.


"Ngke heula atuh, barengan!", tahan Alby. Lelaki itu enggan berjalan sendiri karena loby sedang ramai pegawai yang baru selesai makan siang yang kebanyakan makan di luar.


Amara pun menuruni tangga loby. Tak lupa ia menelpon supirnya yang tak lain anak buah Billy. Jadi, Amara langsung menaiki mobilnya di depan loby pintu utama.


Azmi dan Alby berjalan beriringan menuju ke lift. Di saat yang sama, Febri keluar dari lift umum. Lelaki gagah itu kembali menyapa Alby dan Azmi.


"Udahan Feb?", tanya Alby basa basi.


"Heum, udah! Susah dibujukin makannya. Mungkin bawaan bayi!", kata Febri. Alby hanya mengangguk tipis. Ada rasa yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


"Mau makanan yang lain kali?", celetuk Azmi mengikuti obrolan suami dan mantan suaminya Shabia.


"Heum, udah di tawarin tapi ngga tahu mau makan apa!", jawab Febri.


"Si kembar sama siapa?", tanya Alby.


"Ada mbak yang jagain", jawab Febri. Lagi-lagi Alby hanya mengangguk tipis.


"Ya udah, gue...balik dinas ya! Eum... nitip istri gue. Bukan berharap yang ngga baik, maksudnya tolong kabarin kalo ada sesuatu!", kata Febri.


"Heum, iya. Insyaallah!", jawab Alby.

__ADS_1


Tanpa di beri amanah seperti itu pasti nya Alby juga akan memperhatikan kondisi Bia yang berada di kantornya.


"Gue balik. Assalamualaikum!", pamit Febri.


"Walaikumsalam!", jawab Azmi dan Alby bersamaan. Lalu keduanya pun masuk ke lift khusus mereka dan menuju ke mushola yang ada di lantai di mana ruang rapat dilaksanakan. Setelah selesai empat rakaat, dua pria tampan itu kembali ke ruang rapat.


Peserta rapat sudah mulai kembali ke kursi mereka masing-masing. Banyaknya yang harus di bahas membuat rapat kali ini berlangsung cukup lama.


Hingga jam setengah lima sore, akhirnya rapat itu pun selesai. Bia sedang mencoba menghubungi Febri, tapi sepertinya Febri sedang sibuk jadi tak mengangkat panggilan Bia.


"Kenapa neng?", tanya Alby pada Bia. Azmi sendiri sedang menghubungi Nur di belakang Alby yang agak jauh.


"Heum? Ini, mas Febri susah di hubungi", jawab Bia mendongak sekilas pada Alby.


"Oh!", hanya itu sahutan dari Alby tapi matanya tak teralihkan pada sosok mantan istrinya yang terlihat semakin cantik tanpa polesan make up.


Merasa di perhatikan, Bia pun mendongak tepat di saat Alby tengah menatapnya. Tapi seketika itu juga Bia memutuskan tatapannya.


"Kamu bahagia?", tanya Bia pada Alby tanpa menatap mantan suaminya itu. Azmi menyadari jika sepertinya mantan pasangan itu butuh bicara satu sama lain. Tanpa meninggalkan keduanya, Azmi memilih sedikit menjauh dari keduanya.


"Alhamdulillah, aku ikut bahagia juga!", kata Bia.


"Neng?", panggil Alby pada Bia.


"Aku tahu panggilan itu umum di pakai, tapi sepertinya sudah tidak cocok jika kamu pakai untuk memanggil ku sekarang!", kata Bia memberanikan diri menatap Alby.


"Maaf?!", kata Alby lirih.


"Aku harap, ini pernikahan terakhir kamu By! Jangan pernah sakiti Amara!"


"Iya, aku mencintai istri ku, Bia. Aku akan berusaha untuk tidak menyakitinya. Apalagi seperti yang sudah ku lakukan padamu!", kata Alby tenang. Bia tersenyum tipis.


"Jangan cuma bisa berjanji, tapi buktikan!", pinta Bia.


Sebaik apapun hubungan mereka saat ini, mereka pernah menyatu satu sama lain bahkan berpisah dengan perasaan yang masih sama-sama mencintai. Tapi keadaan sekarang sudah berubah, merasa sudah memiliki pasangan masing-masing yang harus dijaga juga perasaannya.

__ADS_1


"Febri tidak bisa di hubungi? Aku antar pulang?", tawar Alby. Bia menggeleng.


"Tidak, terimakasih. Aku bisa naik taksi kok!", tolak Bia.


"Tapi Febri tadi berpesan padaku, dia menitipkan mu!"


Bia mendongakkan kepalanya ke arah Alby. Sungguh...jika cinta bisa di ukur dengan prosentase, masih ada beberapa persen perasaan antara keduanya.


"Anggap saja kamu sudah memenuhi amanat suami ku. Aku bisa pulang sendiri. Banyak taksi online di luar!", Bia masih menolak.


"Tapi...kamu sedang hamil Bi, bahaya kalau bepergian sendirian!", kata Alby. Tapi Bia justru tersenyum kecut.


"Hanya dari gedung HS Grup ke rumah ku tak begitu jauh kok. Perjalanan jauh yang melewati beberapa kota dan tinggal sendirian pun aku pernah dalam posisi hamil juga. Bedanya apa?", pertanyaan itu begitu menohok Alby. Alby tidak tersinggung, karena itu memang kenyataannya.


Karena ulahnya pun, dia dan Bia terpaksa kehilangan buah hati mereka berdua.


"Saya permisi pak Alby!", pamit Bia.


"Kamu masih berat untuk memaafkan ku?", tanya Alby sambil meraih pergelangan tangan Bia. Bia pun terpaksa menahan langkahnya. Sedang Azmi cukup mengamati dari jauh mantan suami istri itu.


Jika diijinkan, dia ingin menjadi penengah di antara keduanya. Tak perlu kontak fisik kan bos????


"Aku sudah memaafkan mu. Semua kesalahan mu! Tapi... tidak untuk melupakannya. Rasa sakit itu masih ada, meski sekuat apa pun aku berusaha untuk terlihat biasa di depan mu."


Bia mengendurkan pergelangan tangannya dari cengkraman tangan Alby.


"Mungkin...aku terlalu berlebihan! Banyak di luar sana yang lebih sakit hati dibandingkan dengan apa yang ku rasakan. Tapi aku bukan Mereka, aku tetap lah aku! Dan... sekali lagi... berbahagialah dengan pasangan kamu saat ini. Jangan pernah sedikit pun kamu menyakitinya. Belajar dari masa lalu, terbuka lah dengan pasangan mu agar tidak terulang kejadian yang sama!", Bia langsung keluar begitu saja dari ruangan itu.


Setelah Bia keluar, Azmi menghampiri bosnya.


"Move on Bos, sudah punah Bu bos!", kata Azmi menepuk bahunya.


"Gue cinta sama Amara Mi, tapi...tiap gue liat Bia... perasaan gue....!"


"Pelan-pelan Lo pasti bisa lupain dia. Mungkin perasaan bersalah Lo yang bikin Lo sendiri susah move on. Padahal mah...Lo udah cinta sama Amara!", lanjut Azmi.

__ADS_1


"Solat dulu deh, baru pulang!", pinta Alby. Azmi pun hanya mengangguk setuju.


__ADS_2