
Amara
Aku duduk di bangku penumpang, sedang Nada duduk di samping supir kantor. Telinga ku masih terngiang-ngiang tentang ucapan Alby.
Aku yang akan menikah dengan mu!
Harusnya aku bahagia bukan? Tapi apa? Aku bahkan tak bisa mengartikan perasaan ku sendiri.
Aku meraba bibirku yang sedikit luka. Alby benar-benar goodkisser yang bahkan aku tak bisa menolak nya. Seandainya aku mau, aku bisa menolak nya bahkan mendorong nya dengan kemampuan bela diriku. Tapi apa? Aku membiarkan nya mengeksplorasi mulutku. Dan aku juga menikmati itu semua.
Semurah itu kah seorang Amara???
"Langsung ke kantor, atau makan siang dulu Nona?",tanya Nada.
"Eum, ada pekerjaan mendesak?",tanyaku memastikan sebelum aku memutuskan untuk melakukan hal lain.
"Tidak nona. Hanya ada beberapa berkas tapi tidak terlalu di perlukan karena masih akan di gunakan beberapa hari ke depan."
Aku mengangguk. "Sebentar!"
Aku meraih ponselku lalu ku lihat ada chat dari nomor asing.
[Mara, tolong buka blokiran nomor ku. Alby]
Aku mengusap ujung hidung ku. Apakah iya aku harus kembali sering berinteraksi dengan Alby lagi???
Jemari ku membuka kontak nomor Alby. Detik berikutnya, dia mengirimkan pesan lagi.
[Terimakasih, Amara]
Aku tak membalas pesannya lagi. Aku justru mencari nomor... Febri.
.
.
.
Seto makan siang di sebuah warung makan bersama Febri. Ya, pak kapten tak segan-segan tak pernah pilah pilih tempat untuk makan asal bersih dan tentu saja enak.
"Feb, gue mau cuti nikah!",kata Seto.
"Alhamdulillah, kapan? Emang bapak mu udah lamar Naya?"
"Udah!"
"Owh...!"
Ponsel Febri bergetar.
Amara? Gumam Febri.
[Assalamualaikum, Mara!]
Seto menoleh pada atasannya. Mendengar gumaman nama Amara.
__ADS_1
[Walaikumsalam, Mas]
[Kenapa Ra? Ada masalah?]
[Eum, aku mau main ke rumah. Boleh?]
Febri berpikir sebentar.
[Sekarang?]
[Iya]
[Ya boleh aja sih. Aku kirim nomor Bia deh. Kamu telpon sendiri aja ya?]
[Iya mas. Makasih]
Febri pun mengirim kan nomor Bia pada Amara. Setelah menerima chat dari Febri, Amara langsung menghubungi Bia.
.
.
Aku sudah berada di halaman rumah Bia. Nada yang mengantarkan ku kesini. Setelah itu, dia kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam! Masuk Ra, ngga di kunci!",sahut Bia dari dalam. Aku pun membuka pintu ruang tamunya. Pemandangan yang ku lihat adalah....Bia yang memakai daster batik berlengan panjang tanpa jilbab.
Kesan pertama ku melihat sosok Bia tentu saja cantik. Dia memang cantik! Wajar saja jika Febri, Alby dan dokter Sakti menaruh hati padanya. Selain fisik nya yang memang cantik, dia juga perempuan lembut.
"Maaf , Ra! Belum sempat beberes!", kata Bia.
"Aku udah pake handsanitizer lho, Bia!",kataku sebelum menyentuh Fesha.
"Hahaha iya iya...!", kata Bia. Dia mengikat rambutnya asal. Terlihat di leher nya jajak percintaan antara dia dan Febri.
"Si kembar udah genap sebulan ya Bi?",tanyaku.
"Heum? Udah mau dua bulan Tante!",jawabnya. Aku tersenyum tipis. Pantas!!! Aku mengangguk pelan.
"Kamu ngga pakai jasa babysitter aja?"
"Kayanya belum begitu perlu sih, Ra. Ngga tahu nanti kalo udah repot. Kalo sekarang, Alhamdulillah kami berdua masih bisa kerja sama. Aku jarang masak. Kami lebih sering pesan makanan online. Kadang pesen sama warung nasi belakang sih. Baju anak-anak, mas Febri yang cuci. Baju kami, di laundry. Bebersih rumah, kadang aku kadang mas Febri. Siapa aja sih yang lagi sempet."
Ya Allah, mereka benar-benar partnership!
"Sebenarnya sih aku kasian sama mas Febri, siang nya dia kerja malemnya ikut begadang jagain anak-anak."
"Kalian memang pasangan yang patut di contoh! Boleh ga sih aku iri?",tanyaku pelan.
"Ngga boleh lah hehehhe!", Bia justru menanggapi nya dengan tertawa.
"Kalian benar-benar saling mencintai dan saling melengkapi ya?!",puji ku. Bia terlihat tersenyum tipis.
"Kami tak sesempurna itu kok. Ada kalanya, kami bertengkar juga. Hanya saja, kami berpikir. Selama masih bisa di bicarakan baik-baik, ngapain harus sampe bertengkar. Ya ngga? Intinya...kami belajar dari masa lalu. Tidak ada rahasia-rahasiaan lah pokoknya."
__ADS_1
Aku melihat Bia yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu, tapi Ribi mendadak menangis. Bia pun meraih Ribi dalam dekapan nya, lalu ia susui.
Huft! Lagi-lagi aku harus melihat pemandangan jejak mas Febri. Astaghfirullahaladzim!!!!
Bia mendengar aku bergumam, spontan dia menutup bagian dadanya yang sedang memberikan asi pada Ribi. Sepertinya dia merasa malu. Eh, aku juga malu sih! Bukan karena melihat Bia memberikan asi, tapi...sisa ulah Mas Febri itu lho....
"Maaf, Bi!",kataku. Bia sendiri tampak cengengesan malu. Bahkan dia mengusap tengkuknya yang sebenarnya mungkin tak bermasalah.
Fesha ku timang-timang sampai ia tertidur pulas.
"Oh ya, tumben jam segini kamu udah pulang kantor?",tanya Bia sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul satu siang.
"Heum, habis meeting tadi. Karena lagi bad mood, jadi aku telpon mas Febri. Ijin sama dia biar bisa main sama Si kembar."
Aku mengusap pipi Fesha.
"Oh, gitu! Meeting di mana emang?",tanya Bia. Aku mendongakkan kepala ku sekilas.
"Di HS grup!",jawabku singkat. Bia mengangguk samar. Ribi pun sudah sama terlelap seperti Fesha.
"Oh, apa...ketemu sama Alby yang bikin kamu bad mood?",tanya Bia.
Aku harus jawab apa??? Apa iya aku harus jujur mengatakan semua nya pada mantan istri Alby ini?
"Boleh aku tanya satu hal Bi, tapi maaf mungkin ini cukup sensitif!",kataku. Dia menganggukkan kepalanya.
"Kamu mau tanya apa aku masih punya perasaan sama Alby? Gitu kan?", tebak Bia.
Kok dia tahu????
Dia tersenyum tipis. Senyuman nya saja bikin adem gitu, gimana Febri bisa move on dari cinta monyet nya? Apalagi Alby!
"Kamu...ada hubungan sama Alby?'', tanyanya padaku. Aku spontan menggelengkan kepala ku.
"Tapi...aku ada masalah dengan nya, Bi!"
Bia tak menyahuti ucapan ku barusan.
"Dia masih cinta sama kamu!",kataku. Bia menoleh singkat lalu dia kembali fokus pada Ribi yang masih menyusu.
"Tapi kamu cinta kan sama Alby?",dia justru mengembalikan omongan ku.
"Entah!", jawab ku singkat. Bia hanya mengangguk tipis.
"Kalo kamu mau tanya seperti apa perasaan ku sama Alby sekarang...jawabanku.... mungkin benar aku belum bisa sepenuhnya melupakan Alby. Tapi aku pun sedang belajar untuk sepenuhnya mencintai suamiku, kamu juga liat kan seperti apa mas Febri memperlakukan ku. Betapa jahatnya aku kalo masih memikirkan laki-laki lain sedang suamiku sudah begitu banyak memberikan cinta dan kasih sayang untuk ku dan anak-anak ku!"
Aku menyimak ucapan sosok perempuan yang lebih berpengalaman dalam kehidupan berumah tangga.
"Aku sedang tidak bicara soal balas budi, Ra! Tapi keetisan dalam berumah tangga."
Aku mengangguk mengerti. Jadi, seperti itu! Bia saja butuh waktu untuk melupakan Alby, tapi kan partner nya si Febri yang emang bucin. Intinya mereka pernah saling memiliki rasa. Mungkin tidak sulit untuk membangun rasa itu kembali. Sedang aku???? Aku siapa?
Setelah itu, obrolan kami masih banyak membicarakan tentang anak-anak mereka tentunya. Sambil aku berpikir, apa tidak sebaiknya aku meminta pendapat Bia? Lalu seperti apa perasaan nya nanti????
*****
__ADS_1
Insyaallah up lagi nanti 🙏🙏🙏
Haturnuhun ✌️🙏