
[Hallo? Iya ta?]
Amara menjawab telepon dari mantan rekan kerjanya, Agatha.
[Lo di mana CEO Rhd.co?]
[Hehehe bisa aja Lo. Lagi otewe balik kantor. Kenapa?]
[Gue lagi kumpul sama anak-anak. Gabung dong!]
[Sekarang banget?]
[Ishhh...iya lah! Di restoran Xxx, kira-kira tunggu lho! Sejak Lo resign, kita ga pernah hangout bareng!]
[Eum...gue...ijin suami dulu ya. Nanti gue kabarin]
[What? Suami?]
[Heum, iya. Ntar gue jelasin pas kita ketemu. Tapi kalo gue di bolehin ya?]
[Iya. Kita tunggu penjelasan Lo!]
Agata pun mematikan sambungan teleponnya.
Di saat Amara akan memasukkan ponselnya ke dalam saku blazer , tiba-tiba dadanya merasa nyeri.
Perempuan cantik itu mendesis lirih tapi cukup terdengar oleh dua bodyguard anak buah Billy yang ada di bangku depan.
"Anda tidak apa-apa nyonya?", tanya salah satu bodyguard.
"Eem??? Ngga tau kenapa dada saya tiba-tiba rasanya nyeri sekali!", kata Amara. Ia memejamkan matanya.
"Apa perlu kita ke dokter?", tanya bodyguard itu lagi.
"Ngga. Ngga perlu. Kita ke restoran Xxx ya!", kata Amara sambil terus memegangi dadanya. Ia menarik dan buang nafas teratur. Perlahan rasa nyeri itu memudar dan hilang.
"Baik nyonya!", jawab si supir.
Aku kenapa??? Gumam Amara dalam hatinya. Apakah... terjadi sesuatu pada Alby? Atau siapa? Batin Amara.
Karena penasaran dan sekaligus ingin ijin pada suaminya, Mara pun menghubungi Alby. Sayangnya ponsel Alby tak berdering karena memaksa mode getar sejak rapat tadi.
Akhirnya Amara mengirim pesan pada suaminya. Ia meminta ijin untuk bertemu dengan teman-temannya. Entah kapan Alby akan membaca pesannya. Yang penting Amara sudah meminta ijin.
.
.
Alby dan Azmi pulang dengan mobil masing-masing. Seperti biasa, mobil anak buah Billy mengikuti mobil Alby sampai ke depan rumah seperti biasa.
Alby yang sejak tadi tak melihat ponselnya pun sedikit terkejut saat ada notifikasi misscalled dari istrinya.
Ia membaca pesan dari Amara, ternyata istrinya meminta ijin untuk bertemu dengan teman-temannya di instansi lama nya.
Alby pun turut membalas chat dari Amara, jelas saja ia mengijinkannya. Toh, bodyguard nya selalu mengikuti kemanapun Amara pergi.
Sesampainya di restoran Xxx, Amara langsung menuju ke meja di mana para wanita tangguh berseragam loreng duduk. Yups, mereka mantan rekan dan anak buah amara dulu.
Melihat mantan rekan atasan sekaligus rekan kerjanya Agatha langsung berdiri menyambut Amara dengan antusiasme tinggi. Ada lima orang rekan Agatha yang ada di sana.
"Apa kabar semuanya?", sapa Amara karena terlalu lama menyapa mereka satu per satu.
"Baik Let!", jawab mereka kompak, pun termasuk Agatha.
"Eh, gue bukan atasan kalian lagi ya!", kata Amara. Mereka pun tertawa mendengar Amara yang protes di panggil Let, alias letnan.
__ADS_1
Mereka berenam duduk di meja yang terdiri dari beberapa bangku. Wajar jika mereka jadi pusat perhatian. Selain karena visual mereka yang memang cantik dan menarik, juga karena seragam kebanggaan mereka.
"Lo harus jelasin ke kita! Lo bilang tadi apa? Ijin sama suami Lo kan?", cerca Agatha.
"Iya, gue udah nikah dua mingguan kayanya lah. Tapi baru ijab qobul doang. Resepsi nya mah insyaallah ntar abis lebaran!", jawab Amara.
"Tega Lo ga bilang-bilang!"
"Tahu nih, mentang-mentang sudah jadi CEO!"
"Heum, kita mah apa atuh!"
"Pssttttt....betewe...siapa suami Lo, Ra?", tanya Agatha yang mungkin paling penasaran di antara teman-temannya.
"Namanya Alby!", kata Amara.
"Alby...yang waktu itu sama Lo bukan, pas Kapten Febri pindahan habis nikah?", tanya teman Amara yang lain. Amara pun mengangguk.
"Serius????", tanyanya.
"Heum, serius dua rius tiga rius!", jawab Amara.
"Beneran Ra? Jawab yang bener!"
"Iya memang bener. Alby Gunawan, CEO HS Grup. Mantan suaminya Bia, istrinya Kapten Febri!", jawab Amara lugas dan tenang.
"What?????", pekik mereka kompak. Amara sampai menutup telinga dengan kedua tangannya. Dia tak menyangka reaksi teman-temannya akan seperti itu.
"Udah...kaget nya ntar lagi! Sekarang makan dulu, bentar lagi magrib laki gue keburu pulang!", kata Amara memberikan interupsinya.
Mereka berenam pun menikmati makan sore mereka. Dari sudut ruangan luas itu, seseorang menatap sengit ke arah Amara. Perasaan sakit karena kalah saing sudah mendarah daging. Dia ingin sekali menghancurkan Amara. Siapa lagi jika bukan Bianca???
Obsesinya memiliki Alby sudah terhempas karena kehadiran Amara. Otaknya berjalan cepat, dia ingin membuat kenang-kenangan untuk Amara sebelum besok siang di depak ke negeri kanguru bersama kakek neneknya di sana. Itu pun karena sang papa yang menyuruhnya tanpa persetujuan dari Bianca sendiri!
Otaknya bekerja lebih cepat! Tiba-tiba ide brilian muncul di kepalanya!
Tiba-tiba...
"Permisi...!", seorang waiters mengantar minuman di meja Amara.
"Kami ngga pesan mba?!", kata Agatha.
"Tapi ini free Bu, tidak hanya meja ini. Meja yang lain pun sama. Bartender kami sedang mencoba resep minuman yang baru. Silahkan di nikmati!", kata waiters lalu ia pun meninggalkan meja Amara. Mereka menoleh ke sekeliling. Ternyata meja yang lain pun sama-sama menerima minuman itu. Tanpa curiga, Amara pun turut meminum minuman yang sama dengan rekan lainnya.
.
.
.
Azmi sudah sampai di rumah sebelum Maghrib. Dia sempat bertelepon ria dengan Nur tadi sore. Dan rencananya, besok sore ia akan ke Bandung menemui abahnya Nur untuk membicarakan niatnya yang akan menikah hari itu juga.
Gercep??? Iya, rencananya memang seperti itu. Menikah lebih dulu, walimatul ursy baru setelah lebaran.
Mungkin...biar pas puasa Ramadhan sudah punya istri heheheh.....
Bada' magrib Azmi menyempatkan diri untuk bertilawah. Barulah setelah itu, ia menghubungi ustadzah yang mendampingi Putri. Bagaimana pun, Putri berhak tahu apa yang menjadi rencana abinya.
Beruntung, Putri nya tak keberatan sama sekali. Apalagi dia tahu jika calon umi baru nya adalah adik dari ustadzah Salsabila.
Selesai menghubungi Putri, Azmi berniat membeli makanan. Tapi belum sempat keluar dari kamarnya, Nur kembali menghubunginya.
Tumben video call nih anak??? Gumam Azmi.
[Assalamualaikum, Nur?]
__ADS_1
[Walaikumsalam]
Bukan suara Nur yang terdengar, apalagi suara nya yang berat. Ya, abahnya Nur yang menghubungi Azmi.
[Pak Mirza?]
[Abah saja!]
[Eum, baik Abah!]
[Jadi kapan kamu mau menikahi anak saya Mi?]
[Bismillahirrahmanirrahim, insyaallah besok sore saya ke sana Bah. Minta tolong, lengkapi dokumen pribadi Nur. Karena...saya ingin menikah sore itu juga, sebelum kita solat tarawih. Abah bersedia menikahkan kami?Maaf atas kelancangan dan ketidaksopanan saya, Bah. Karena seharusnya saya bertemu dengan Abah secara langsung, bukan seperti ini. Lewat telepon]
Pak Mirza tersenyum di ujung sana.
[Tidak masalah. Yang penting kamu serius menikahi putri saya]
[Insyaallah saya serius Bah! Maaf bah, ada mahar yang Abah atau Nur inginkan?]
Jujur Azmi harap-harap cemas. Meskipun tabungannya sudah lebih dari cukup, tapi namanya keinginan orang kan tidak tahu.
Terdengar diskusi pelan di seberang sana. Azmi mondar mandir menunggu apa yang akan abahnya Nur katakan padanya. Dan terdengar sedikit, sepertinya Nur tak meminta mahar yang aneh-aneh, jumlah fantastis misalnya.
[Hallo Azmi?]
[Eum...iya Bah. Bagaimana?]
[Nur hanya ingin mahar seperangkat alat sholat dan kalo dari Abah sendiri....]
[Apa bah?]
Hati Azmi mulai deg-degan tak karuan.
[Surat Ar Rahman]
Azmi menghela nafas lega. Insyaallah dia bisa menerima permintaan calon istri dan calon mertuanya.
[Insyaallah saya sanggup bah!]
Jawab Azmi tegas.
[Alhamdulillah! Abah tunggu besok!]
[Iya bah!]
[Ya sudah, assalamualaikum]
[Walaikumsalam]
Huftttt...Azmi merasa lega, sesaat doang sih!!! Karena waktu yang mendebarkan itu akan tiba besok sore.
.
.
Amara sudah kembali ke rumah, Alby sudah menunggunya di depan pintu rumah. Lelaki itu menyambut istrinya dengan senyuman ramah.
"Assalamualaikum, A!"
"Walaikumsalam, sayang!", Alby menggamit pinggang Amara sampai ke kamarnya. Usai Amara membersihkan diri, mereka bersiap mendirikan solat magrib berjamaah.
Karena mereka sudah makan sore masing-masing di luar, Amara di resto dan Alby di rumah Mak. Makanya mereka berdua memilih untuk mengobrol di ruang tengah. Sedang asik mengobrol, tiba-tiba Azmi menghubunginya. Dia meminta Alby dan Amara untuk menemaninya besok sore ke Bandung. Dengan senang hati sepasang suami istri itu menemani sahabat nya menuju ke jenjang pernikahan.
******
__ADS_1
Undangan menyusul 🤗
Kira2 apa sih yang Bianca lakukan pada Amara?????