Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 208


__ADS_3

Amara sudah di pindah ke kamar rawat VVIP seperti yang Azmi siapkan. Jadi, keluarga nya bisa menemani Amara di ruangan yang sama tanpa mengganggu aktivitas dokter yang sewaktu-waktu menangani Amara.


"Lebih baik papi dan mami istirahat di rumah. Biar Alby yang menjaga Amara!", kata Alby pada mertuanya.


Kedua orang tua itu hanya mengangguk tipis. Tubuh tua mereka memang lelah, apalagi usai turun dari pesawat keduanya langsung ke rumah sakit. Usia memang tak bisa bohong. Tapi setidaknya mereka sudah merasa lebih baik karena melihat kondisi Amara yang sudah melewati masa kritisnya.


"Baiklah, titip Amara!", ujar mami. Alby pun mengangguk pelan.


"Kak Nathan dan mba Mayang juga lebih baik istirahat di rumah. Maaf, bukan maksud mengusir. Tapi sepertinya mba Mayang cukup kelelahan!", kata Alby. Nathan pun menoleh pada istrinya.


"Kamu mau pulang sayang?", tanya Nathan. Mayang pun mengangguk.


Dia tahu sepasang suami istri itu butuh waktu berdua. Sedang Azmi dan Nur memang sudah pamit lebih dulu. Mereka akan datang lagi nanti setelah membawa pakaian alby dan mengabari Nabil serta Mak.


Tinggallah Alby dan Amara di ruangan tersebut. Wajah pucat Amara tak mengurangi kadar kecantikan alaminya yang jarang tersentuh make up.


"Sayang!", Alby mengecup punggung tangan Amara. Tangannya terulur mengusap pelipis Amara yang sedikit lebam. Mungkin sebelum kejadian menyakitkan terjadi, Mara sempat melakukan perlawanan.


Di lihatnya tangan serta beberapa anggota badan lain yang terlihat mata, nampak lebam dan membiru.


"Jangan buat aku panik lagi! Sudah, cukup seperti ini saja rasanya sudah mau berakhir hidup ku Amara! Aku mencintaimu sayang, sangat mencintai mu!", Alby mengusap pipi Amara.


Hari sudah cukup malam, Alby pun tertidur pulas di samping Amara. Dia lelah dengan kejadian tadi siang hingga menjelang malam yang sudah menguras emosi serta tenaganya.

__ADS_1


Mungkin, ini ujian di bulan puasa! Batin Alby.


.


.


Amara duduk di sebuah taman bunga yang indah. Ia memejamkan matanya menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus menerpa wajah ayu nya.


"Kamu bahagia bersama Alby?", tanya seorang perempuan berhijab dan berwajah cantik.


Amara membuka matanya lalu menoleh pada seorang perempuan yang duduk di sampingnya.


Mantan kowad itu menatap perempuan cantik di sampingnya.


Perempuan cantik itu menoleh dan tersenyum pada Amara. Wajahnya cantik dan terlihat lebih muda dari Amara.


"Kamu beruntung Amara!", katanya.


"Maaf, kamu siapa?", tanya Amara. Perempuan yang tak lain adalah Silvy tersenyum pada Amara.


"Aku? Aku sebagian kecil dari masa lalu Alby!", jawabnya. Amara menautkan kedua alisnya.


"Bundanya Nabil?", tanya Amara. Silvy tersenyum tipis.

__ADS_1


"Terimakasih sudah menerima Nabil dan tulus menyayanginya!", kata Silvy. Mara mengerjap pelan.


"Dan...aku bahagia, akhirnya Alby bisa menemukan kebahagiaannya. Karena aku...yang sudah membuatnya kehilangan cinta nya. Tapi... sekarang aku yakin, Alby benar-benar sudah memilih mu!", lanjut Silvy. Amara menggeleng pelan.


"Kamu tidak percaya?", tanya Silvy. Amara bergeming.


"Aku sudah tenang sekarang. Menitipkan Nabil dan Alby pada orang yang tepat!", kata Silvy.


Perempuan cantik itu bangkit dari bangku yang ia duduki bersama dengan Amara.


"Kamu mau ke mana?", tanya Amara.


Silvy tak menjawab tapi seorang gadis cantik berusia sekitar tujuh tahun menggendong anak laki-laki seusia Nabil menghampiri Silvy. Gadis itu tersenyum pada Mara. Lalu mendekati Amara.


"Mama Amara, jagain papa sama Nabil. Jangan tinggalkan mereka ya?", Nabila mengusap pipi mulus Amara.


"Mama?", tanya Amara membeo. Lalu matanya beralih pada sosok anak kecil laki-laki yang ada dalam gendongannya.


"Huum. Kami punya papa yang sama tapi mama yang berbeda!", jawab Nabila.


Amara tak paham dengan ucapan Nabila. Dia bahkan tak tahu siapa gadis kecil itu.


Tiba-tiba saja dia perempuan beda usia itu pun menjauh darinya. Amara tak sanggup memanggil namanya hanya mencoba berteriak tapi tak mampu dan akhirnya ia justru terbang dari tidur lelapnya.

__ADS_1


Saat matanya terbuka, suaminya sedang menggenggam tangannya dan tertidur pulas di sampingnya.


__ADS_2