
Amara
Aku tak sengaja bertemu dengan Alby disaat kondisinya seperti itu. Dunia bisnis memang penuh kelicikan. Maka dari itu, aku sebenarnya tak ingin menggeluti dunia bisnis jika bukan karena memandang papi.
Aku sudah terbiasa berkelahi. Apalagi melawan dua preman receh seperti tadi. Boleh aku sombong? Mereka bukan tandingan ku sama sekali!
Kondisi Alby sungguh nampak tersiksa seperti itu. Apa yang bisa ku lakukan? Membawanya ke dokter begitu?
Entah bagaimana bisa otakku berpikir membawa dia ke apartemen ku. Sejak aku tinggal bersama mami dan papi, aku jarang mendatangi apartemen ku ini.
Sayangnya, keputusan ku membawa Alby ke tempat ini adalah kesalahan besar. Hal yang tak seharusnya terjadi justru baru saja kami lakukan.
Mataku sudah ternodai melihat milik Alby. Bahkan dengan begitu jelas dia melakukannya di atas tubuhku. Memalukan!
Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Aku merasa menjadi perempuan yang paling menjijikkan saat ini.
Tadi, sebelum aku bertemu dengan Alby, Frans baru saja menc*** ku meski aku tak menginginkannya dan di siang harinya justru aku bercumbu dengan pria yang berbeda, Alby! Bodohnya, aku justru menikmati sentuhan duda itu! Amara **go!!!!
Perempuan macam apa aku ini???!! Dari mana sisi hijrah ku jika aku begini??? Apa aku sudah gagal menjadi seorang muslimah???
Aku mendudukkan diriku di balik pintu kamar mandi. Aku menangis sejadi-jadinya! Meski Alby tidak melakukan hal itu, tapi ... argggghhhh!!!!
Setelah Alby menuntaskan hasratnya, dia tertidur diatas tubuhku. Dengan perlahan aku menurunkan tubuhnya. Bahkan dia belum menutup penutup tubuh bawahnya. Dengan memejamkan mata, aku menutupinya.
Pakaian ku memang masih utuh, hanya sedikit berantakan karena ulah Alby tadi. Tapi...ada noda kepemilikan Alby sudah mengotori pakaian ku. Menjijikkan!
(Mungkin 'iya' untuk saat ini, Amara!)
Dengan sedikit pelan ku dorong tubuh nya agar turun dari atas tubuhku. Aku bangkit dari sofa. Aku tak ingin membangunkannya. Dan sekarang, disinilah aku. Di kamar mandi kamar tidur ku.
Setelah sekitar setengah jam membersihkan diri, aku pun keluar dari kamarku. Alby masih terlelap dengan posisinya yang sekarang tertelungkup.
__ADS_1
Kebetulan ada pakaikan kak Daniel yang pernah menginap di sini saat rumahnya di renovasi dulu. Aku mengambil pakaian itu untuk Alby kenakan setelah dia bangun nanti, aku pikir ukuran nya pas untuk Alby.
Aku membuat catatan untuk Alby baca. Serta card untuk mengakses pintu apartemen ku. Aku segera pergi dari apart ku sebelum pria tampan yang pernah ku puja itu bangun.
Aku akan kembali ke kantor lagi. Masih banyak hal yang harus aku kerjakan. Mungkin aku akan terlambat untuk berkunjung ke rumah Febri nanti malam.
Sebelum aku keluar dari unitku, aku lebih dulu memesan taksi. Tak lama aku menunggu, taksi yang ku pesan pun datang.
"Gedung Rhd.co ya pak!"
"Siap nona!", jawab supir taksi itu.
Aku tak tahu bagaimana nanti ke depan nya. Kuusap kasar wajahku yang bahkan tanpa riasan sama sekali. Bukan lagi pakaian kantor seperti tadi yang kukenakan sekarang. Hanya blouse dan celana panjang. Beruntung jilbab ku masih bisa ku pakai lagi.
Sesampainya di kantor, aku melanjutkan pekerjaan ku yang tertunda meski sebagian karyawan sudah bersiap untuk pulang.
.
.
Aku memegangi kepala yang masih berdenyut. Posisi tidur ku tertelungkup lalu bangun dan duduk bersandar ke sofa. Aku rapikan pakaian ku seadanya.
Mengingat peristiwa tadi, aku sungguh merasa tak enak hati pada Amara. Aku sudah melecehkan nya bukan???
Aku berkeliling mencari keberadaannya. Tapi sepertinya ruangan ini sepi.
Ada satu set pakaian di atas meja. Dari celana kain pendek, kaos oblong, bahkan dalaman yang sepertinya masih baru. Apa Amara membelikan nya untuk ku? Tapi mana mungkin???
Aku mengambil catatan di atas baju tadi.
[Kamu bisa mandi di kamar mandi dekat dapur. itu pakaian kak Daniel, tapi pakaian dalam itu belum pernah di pakai olehnya. Tinggal saja pakaian kotor mu. Nanti jika sudah bersih, aku ku kembalikan padamu. Itu kartu akses apartemen. Satu hal yang aku minta. Anggap saja peristiwa hari ini tidak pernah terjadi]
__ADS_1
Aku memandangi catatan kecil itu. Setelah nya, ku remas tak berbentuk.
Bagaimana bisa aku menganggap ini tidak pernah terjadi Amara, gumamku. Entah kenapa aku merasa kesal sendiri. Harusnya dia marah, karena aku sudah merugikannya? Melecehkan nya? Tapi kenapa justru dia meminta ku untuk melupakan hal itu?? Tidak!
Apakah Amara benar-benar sudah melupakan bahwa dia pernah punya perasaan terhadap ku?
Apa tindakan ku saat itu sudah sangat melukai nya?
Aku menghirup nafas dalam-dalam. Ponsel ku menunjukan hampir jam empat sore. Aku bergegas mandi untuk membersihkan diri.
Ya Allah!!! Sama saja aku berzinah! Aku melafalkan niat ku untuk mandi wajib.
Betapa besar dosa yang ku lakukan pada Amara tadi. Jika dulu aku melakukannya dengan Silvy dalam posisi sadar meski aku tak benar-benar menginginkannya ,berbeda dengan sekarang. Aku sudah merusak Amara ya Allah!!!
Aku menyiram kepala ku di bawah shower. Memejamkan mataku menikmati tetesan air yang dingin. Seperti apa hancur nya perasaan Amara saat ini ya Allah???
Setelah mandi, aku bersiap untuk sholat ashar. Aku beristighfar sebanyak mungkin. Apa doa ku akan Allah dengar? Apa Dia akan mengampuni perbuatan ku barusan? Berapa banyak lagi orang-orang yang harus ku sakiti? Bia, Silvy dan sekarang.... Amara????
Aku tak menuruti Amara, pakaian kotor ku aku bawa pulang. Ku ambil kunci mobil ku dan kartu akses apart Amara.
Setelah langsung menuju ke basemen, dimana mobil ku terparkir. Dari apart Amara, aku langsung pulang. Berulang kali aku menghubungi Amara, tapi sayangnya nomorku masih di blok. Atau mungkin dia sudah mengganti nomor ponselnya.
Kacau! Kenapa jadi kacau begini! Apa aku seperti ini karena ulah si Leon itu??? Tapi bagaimana bisa aku menuduh nya jika aku tak memiliki bukti apapun?
Argggghhhh!!! Aku memukul stir dengan kasar sehingga tanpa sengaja menekan klakson.
Amara ...maafkan aku!!!
******
Maaf kalo ada yang ga suka bab kek gini 🙏🙏🙏🙏😌😌😌
__ADS_1
Masih berusaha bikin alur yang ga monoton sih, tapi apa daya kemampuan mamak masih di level tiarap. Belum jongkok apalagi berdiri 🤭
Makasih 🙏🙏✌️✌️✌️