Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 185


__ADS_3

Jona berhenti di sebuah toko material yang sangat besar untuk ukuran sebuah toko material. Dia sengaja berhenti tidak tepat di depan pintu masuk toko tersebut. Hal itu pun di ikuti oleh mobil Alby dan yang lain.


Alby yang sudah mendengar selentingan tentang Jona yang tidak di restui oleh Abahnya Nur pun paham. Mungkin hubungan keduanya masih belum membaik meskipun sudah berjalan bertahun-tahun.


"Kenapa berhenti di sini? Tidak masuk ke dalam sana?", tanya Alby memakai kacamata hitamnya.


"Maaf pak Alby, sebaiknya saya hanya mengantar sampai di sini saja", kata Jona.


"Yakin? Pak Ujang bilang, pak haji itu mertua kamu!", kata Alby lagi sambil memasukkan tangan nya ke saku celana bahannya.


"Eum... betul pak, tapi...saya memang lebih baik tidak perlu ke sana."


Alby tak bisa memaksa Jona lagi.


"Baiklah!", Alby pun berterima kasih pada Jona.


"Terimakasih sudah mengantar saya kemari."


"Sama-sama pak. Kalau begitu, saya permisi!", pamit Jona.


"Silahkan!", Alby mempersilahkan dia pergi. Dengan langkah penuh wibawa, Alby memasuki toko material tersebut.


Wajah tampannya menyita perhatian para karyawan toko tersebut, lebih-lebih kaum hawa. Ngeces kali tuh iler wkwkwkw


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?", tanya salah seorang karyawan perempuan.


"Selamat siang. Saya ingin bertemu pak Haji, beliau ada bukan? Saya sudah ada janji!", kata Alby dengan nada juteknya seperti biasa. Tidak tahu saja kalau sedang dalam mode bucin.


"Oh, dengan bapak siapa? Biar saya sampaikan pada beliau?", tanya perempuan itu lagi.


"Bilang saja dari Jakarta!", jawab Alby datar.


"Silahkan duduk pak, saya panggil pak haji sebentar!", pamit perempuan itu. Tak lama kemudian, Pak Haji alias pak Mirza menghampiri sosok Alby yang tampan dan rapi dengan setelan jas nya. Dia bisa menebak siapa yang sudah datang ke toko nya ini.


"Selamat siang?", sapa pak Mirza. Alby menoleh.


"Selamat siang, assalamualaikum pak Haji!", sapa Alby mengulurkan tangannya pada pak Mirza.


"Walaikumsalam, apa anda perwakilan dari Jakarta?", tanya Pak Mirza. Alby tersenyum dan mengangguk pelan.


"Iya, saya Alby. CEO HS grup, yang menaungi penanganan proyek pak Ujang."


Pak Mirza hampir tak percaya jika atasan pak Ujang langsung menemuinya.


"Baiklah pak Alby, saya sudah mendengar hal itu yang pak Ujang sampaikan."


"Jadi, bagaimana pak Haji?"

__ADS_1


"Maaf pak Alby, bagaimana ya? Saya rasa saya keberatan dengan keputusan sepihak dari pihak anda. Dari awal berdirinya proyek, anda mengambil semua bahan bangunan dari saya. Tapi kenapa tiba-tiba anda memutuskan untuk mengambil dari tempat lain. Padahal saya sudah menyediakan berapa pun yang proyek anda butuhkan."


"Apa kami meminta anda untuk menyediakannya di luar dari PO kami?", tanya Alby.


(Maafkan kengawuran ku ya readers! Setahu mamak dari pengalaman yang sudah2, barang indent yang sudah PO tidak bisa di batalkan semaunya 🙏🙏🙏🙏✌️✌️✌️)


"Memang betul pak Alby, tapi pihak saya sudah memesan secara indent pada pabrik. Bagaimana bisa saya membatalkannya, apalagi barang tersebut bukan best seller. Tapi hanya orang-orang tertentu yang menggunakannya. Saya bisa rugi besar pak Alby! Anda seorang bisnisman, anda tahu kalkulasi untung ruginya seperti apa!", kata Pak Mirza menjelaskan alasannya menolak pembatalan kerja samanya.


Memang salahnya sendiri karena terlalu percaya pada perusahaan tersebut tanpa menggunakan bukti hitam di atas putih. Yang ada buktinya ya barang yang memang sudah di pakai proyek tersebut.


"Anda yang memesannya sendiri kan, tanpa po dari kami?",tanya Alby. Pak Mirza tak menyahut. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanya lah kerugian besar di depan matanya.


"Apa ini kesalahan kami?", tanya Alby. Pak Mirza mengaku ini kesalahan dari pihaknya.


"Jadi, apa kami yang harus bertanggung jawab atas apa yang tidak kami lakukan?", tanya Alby lagi.


"Tidak pak Alby, saya akan mengambil resiko atas kesalahan yang saya buat sendiri! Meskipun...saya akan rugi nantinya!"


Alby tersenyum miring.


"Urusan dunia begini, anda bisa berkata demikian. Tapi... untuk masa depan seorang anak, kenapa anda harus mengorbankan orang lain?", tanya Alby.


"Maksudnya?", tanya Pak Mirza.


Alby sedikit memelankan suaranya agar tak terdengar oleh orang lain.


"Kenapa anda tega memaksa seorang laki-laki untuk menikahi putri anda yang sedang hamil karena ulah kekasihnya sendiri? Tapi anda meminta pertanggung jawaban pada laki-laki lain yang sudah menganggap anda malaikat penyelamatnya? Anda menyalahkan dirinya yang membiarkan putri anda menikah dengan pilihannya sendiri? Dan sekarang...anda akan mengulangi hal yang sama pada seseorang yang sama?"


"Tidak penting saya siapa pak Mirza! Jika prinsip anda, anda bertanggung jawab atas kesalahan anda. Kenapa tidak berlaku untuk kehidupan anak-anak anda?", tanya Alby lagi.


"Tolong jangan main teka-teki! Katakan apa yang sebenarnya tujuan anda!", Pak Mirza mulai terpancing.


"Anda mungkin pernah berharap Azmi menjadi bagian dari keluarga anda karena ingin Azmi 'membalas budi' atas kebaikan anda. Dan saat ini, saat dia hadir murni karena memang dia di tuntun untuk bersama putri bungsu anda, kenapa anda menolaknya?", Alby sudah tidak bisa menahan diri.


"Oh, jadi anda suruhan Azmi? Dia pikir dia siapa, menggertak saya dengan ancaman anda?", Pak Mirza tersenyum sinis.


"Saya bukan suruhannya, saya saudaranya. Saya cukup mengenal Nur seperti apa."


"Terserah! Saya tidak takut sekali pun anda menghentikan kerja sama ini. Dari pada putri bungsu saya menikah dengan laki-laki tak tahu diri dan tak tahu balas budi!"


"Saya tidak mengancam pak Mirza. Saya hanya sedang memberikan penawaran terbaik. Untuk anda sendiri, juga untuk masa depan Nur."


"Jika tidak ada lagi yang ingin anda bicarakan, silahkan keluar!",kata Pak Mirza.


Alby mengambil ponselnya. Sebenarnya ponsel nya mati dari tadi tapi tidak ia sadari. Pasti istrinya sedang uring-uringan di kota sana.


Pake acara mati segala lagi nih hp???

__ADS_1


Tapi bagai ketiban durian runtuh, Billy menghampiri Alby.


"Maaf pak Alby, pihak pabrik Xxx meminta berbicara dengan anda untuk akuisisi pabrik atas nama perusahaan anda. Dan setiap yang bersangkutan di sana di harapkan segera menyelesaikan tanggungannya hari ini juga!"


Pak Mirza membelalakkan matanya. Dia memang bukan orang miskin, tapi membayar cash hampir satu M dalam waktu beberapa jam juga hal yang sangat mustahil baginya.


"Baiklah Billy, katakan pada mereka. Kalau...", ucapan Alby menggantung saat Pak Mirza menyela ucapan Alby.


"Baiklah! Demi kelangsungan usaha dan kehidupan keluarga saya dan karyawan saya, saya akan merestui Azmi dan Nur."


Billy tersenyum tipis. Alby pun melakukan hal yang sama seperti Billy, hanya saja wajah juteknya sudah terlanjur menghiasi mimik muka datarnya.


"Kamu dengar kan Bill? Jadi kamu tahu apa yang harus kamu lakukan sekarang!", titah Alby.


"Siap pak! Kalau begitu saya permisi!", Billy menjauh dari Alby dan pak Mirza sambil berpura-pura menghubungi seseorang. Padahal mah...boong!!!


Billy dan Alby memang sudah merencanakan hal ini untuk mengantisipasi seperti yang sudah di bayangkan tadi, Pak Mirza kekeh dan menolaknya. Tapi....ya...tak ada Azmi, Billy pun jadi.


"Kalau begitu, boleh saya bertemu dengan Nur?", tanya Alby. Dengan sedikit kesal, Pak Mirza meminta karyawan nya memanggil Nur. Rumah pak Mirza bersebelahan dengan toko. Ponsel nur masih di sita oleh pak Mirza. Nur sendiri hanya hafal nomor Bina, jadi ya...hanya Bina yang ia hubungi, bukan Azmi.


Lima menit berlalu, Nur pun datang dengan pakaian rumahannya khas anak muda.


"Mas...Alby?", Nur terkejut di buatnya. Matanya berkeliaran mencari sosok aspri Alby.


"Bagaimana kabar kamu Nur?", tanya Alby basa basi.


"Alhamdulillah baik mas Alby. Kok mas Alby di sini?", tanya Nur. Tapi matanya masih mencari sosok pujaan hatinya.


"Azmi tidak ikut sekarang Nur. Tapi... kemungkinan besok atau lusa bisa ke sini, bukan begitu pak Haji?", tanya Alby pada pak Mirza. Nur yang tak tahu apapun menjadi bingung. Belum juga ia mendengar penjelasan Alby yang ada di rumahnya, dia juga mendengar dirinya bertanya pada abahnya soal ijin Azmi kemari.


"Iya. Silahkan! Kabari saja! Kalau begitu saya permisi, kalian mengobrol saja dulu!", kata Pak Mirza lalu ia meninggalkan Alby dan Nur berbicara berdua. Sebenarnya tidak berdua, tapi banyak orang yang ada di sana.


"Maksudnya apa mas Alby?", tanya Nur.


"Maksudnya Abah mu setuju kamu sama Azmi, Nur!", kata Alby santai.


"Hah?!!", Nur cengok mendengarnya.


"Insyaallah, Azmi akan ke sini. Buat menghalal kan kamu!", ledek Alby.


"Emang aku ba** yang haram, perlu di halalkan!", menyahuti candaan Alby untuk menutupi perasaan bahagianya. Dia tak mau tahu apa yang Alby upayakan, yang pasti karena Alby juga pada akhirnya ia dan Azmi di restui Abah.


****


Udah kan??? Udah lah ya...to be continue 🤗


Makasih yang udah mampir

__ADS_1


maapkeun loba typo.


Happy weekend 😆😆😆😆✌️✌️✌️🤗


__ADS_2