Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 190


__ADS_3

Azmi mengantarkan Nur ke restoran Bram meski belum buka. Setidaknya pria itu sudah memastikan jika Nur sudah berada di sana.


"Makasih udan nganterin Nur, A?", kata Nur.


"Iya, maaf! Nanti kamu langsung balik ke Bandung kan? Aku ngga bisa antar, ngga apa-apa kan?", tanya Azmi dengan nada suaranya yang sedikit lembut.


Nur sempat terpana beberapa saat pada sosok lelaki tampan dengan wajah bercahaya tanpa noda sedikitpun. Mungkin...dia pandai merawat diri juga karena wajahnya selalu di basuh dengan air wudhu.


"Iya...ngga apa-apaan A!", kata Nur.


"Insyaallah... beberapa hari yang akan datang, aku ke sana buat nemuin Abah kamu."


Nur menelan ludahnya sedikit kasar. Sedikit tak percaya, tapi ini Azmi! Mungkin lelaki yang tak pernah bercanda dalam hidupnya, belum tahu saja si Nur ini kelakuan absurb Azmi kalau lagi sama-sama gabud dengan bosnya.


"Untuk...?", tanya Nur sambil menatap wajah tampan itu dan harap-harap cemas tentunya. Sedang yang di tatap justru malah tak menoleh sama sekali.


"Pikir saja sendiri!", sahut Azmi ketus. Rahang Nur hampir terjatuh tak percaya. Beberapa detik yang lalu, ia bilang mau menemui abahnya dengan suaranya yang lembut. Lalu detik berikutnya, dia Kem jutek???


"Ya...ya...entah nanti seperti apa kita kalau menikah!", celetuk Nur. Azmi menyimpan senyumnya. Gadis itu memang tak bisa menyembunyikan ekspresinya.


"Ngarep banget ya di nikahin secepatnya?", Azmi menoleh pada gadis muda itu. Dengan spontan Nur pun memalingkan wajahnya ke arah lain, malu?! Bisa-bisanya Azmi mengatakan hal memalukan seperti itu.


Entah karena apa, tiba-tiba tangan Azmi terulur mengusap puncak kepala Nur dengan sayang.


Nur sempat meleleh di buatnya.


"Ada rambut yang rontok di jilbab kamu?!", kata Azmi tanpa dosa. Lagi-lagi Nur merasa dirinya sedang di permainkan oleh duda satu ini. Sebentar-sebentar romantis, sisanya...menyebalkan.


"Udah sana cepat turun. Aku harus ke kantor!", perintah Azmi pada Nur yang masih bergeming di tempat duduknya.


"Heum, iya. Aku turun!", kata Nur. Tapi ternyata pintunya tak bisa terbuka. Tangan azmi pun terulur untuk membantu Nur membukanya. Alhasil, badan keduanya sangat dekat.


Bahkan Nur berusaha menahan nafas. Tapi aroma Azmi yang khas dan memabukkan membuat Nur terbuai hingga memejamkan matanya.


Azmi menyadari hal itu, dengan perlahan ia pun sengaja berhenti di depan wajah Nur yang masih memejamkan matanya. Perlahan, mata Nur terbuka.


Cetak!!!!


"Awssshhh!", Nur mendesis dan mengusap keningnya.


''Kok di sentil?", tanya Nur masih mengusap bekas sentilan dari Azmi. Meski tidak sakit, tapi baginya hal itu sungguh membuat jantung tak aman. Makanya ia berusaha menutupi kegugupannya dengan hal lain.


"Ngapain merem begitu? Ngarep banget ya mau di cium? Ngga usah ngarep!", pinta Azmi.


''Heran deh sama Aa teh! Sebenarnya aa teh sayang apa ngga sama Nur? Dikit-dikit ngeselin dikit-dikit bikin baper. Capek tahu ngga??", Nur mulai merajuk.


Azmi menutup bibir Nur dengan jarinya. Mata keduanya mau tak mau saling bertautan. Untuk beberapa detik, keduanya saling menikmati keindahan yang Tuhan ciptakan begitu sempurna. Tapi...Azmi lebih dulu memutus pandangan itu.


"Udah turun, biar urusan secepatnya selesai sama Pak Bram! Kerjaan aa banyak di kantor yang udah menunggu!", kata Azmi tanpa menoleh pada gadis itu.


Lelaki berparas tampan itu berharap Nur paham jika bisa saja terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan jika dia masih di dalam mobil bersamanya.


"Iya...iya...aku turun!", sebelum turun, Nur mengulurkan tangannya di depan Azmi.


"Apa? Minta uang?", tanya Azmi tanpa dosa.


"Ishhh!", Nur memaksa mencium punggung tangan Azmi. Lelaki itu tampak bergetar saat bibir Nur menyentuh kulit tangannya.


"Simulasi jadi istri Solehah hehheeh!", kata Nur. Setelah itu, ia buru-buru turun dan berlari keluar. Dia tak mau mendapat ceramah yang sama 'belum mahram' judulnya, seperti yang sudah-sudah.


Sepeninggal Nur, Azmi tersenyum sendiri. Dia merasa seperti ABG. Susah payah ia menjaga pandangan dan sentuhan, tapi Nur meruntuhkan pertahanannya.


Beberapa saat sebelum ia melajukan kendaraannya.


[Hallo Bill, tolong sediakan anak buah kamu buat anterin Nur ke Bandung lagi ya. Saya tidak bisa mengantarnya. Dia berada di restoran Xxx]


[Siap pak Azmi. Anak buah saya meluncur ke sana sekarang!]


[Terimakasih Bill]


[Sama-sama pak. Dan selamat... semoga segera official ya pak Azmi]


Azmi menautkan kedua alisnya. Apa maksud Billy? Apa dia juga salah satu orang yang berkontribusi terhadap hubungannya dengan Nur selain Alby...?


[Hah? Oh...iya, makasih Bil]


[Sip pak]

__ADS_1


Azmi memasukkan ponselnya lagi lalu ia pun meluncur ke kantornya.


Di lain sisi, Nur sedang bertemu dengan teman seprofesinya.


"Yakin Lo resign dari sini Nur?", tanya temannya.


"Iya, insyaallah gue mau nikah heheheh", jawab Nur.


"Sumpeh Lo, nikah sama siapa?", tanya temannya yang lain.


"Adalah pokoknya. Yang jelas bukan di jodohkan sama abahku!", kata Nur. Selang beberapa menit kemudian, Bram dan Bianca datang.


"Lho, Nur?", sapa Bram pada mantan anak buahnya.


"Iya pak Bram selamat pagi, maaf mengganggu waktu nya sebentar!", kata Nur sopan.


"Oh, tidak apa-apa Nur. Ayo ke ruangan saya!", pinta Bram. Bianca sendiri lebih dulu masuk ke dalam ruangan Bram.


"Silahkan duduk Nur!", pinta Bram.


"Terimakasih pak!",gadis itu pun menjatuhkan bobotnya di bangku.


"Jadi, bagaimana?", tanya Bram.


"Saya mohon maaf atas ketidaksopanan saya, beberapa waktu lalu resign hanya via telepon pak. Dan sekarang saya ingin mengundurkan diri secara resmi!", kata Nur.


Bram tersenyum tipis.


"Oh, Alby sudah berhasil rupanya?", tanya Bram. Nur sontak mendongak, Bianca pun seketika menatap kakaknya dan mantan pegawainya.


"Mas Alby?", Nur membeo.


"Oh...jadi, mas Alby tahu alamat saya di bandung karena minta sama pak Bram? Bukan karena di suruh A Azmi?", tanya Nur.


Bianca yang kepo karena gadis itu menyebut nama pujaan hatinya sekaligus asprinya itu pun bangkit dari tempat ia duduk lalu berdiri disamping Bram.


"Ngga Nur. Itu inisiatifnya sendiri. Sukses persahabatan kalian ya!", kata Bram.


"Tunggu! Lo...cewek cupu? Lo beneran ada kaitannya sama dua duda ganteng itu?", tanya Bianca.


"Mas Alby bukan duda, dia sudah menikah mba Bian!", kata Nur. Meskipun benar adanya Alby dan Azmi duda, tapi entah kenapa suara sumbang Bianca begitu terdengar tidak enak sama sekali.


"Heran gue sama selera nya Alby. Dia dapat istri perawan tua begitu, dan...siapa? Azmi? Yakin dia mau sama cewek culun kaya Lo?", Bianca menatap hina pada Nur yang bergaya khas seusianya.


"Bianca!", bentak Bram. Di bentak oleh sang kakak, Bianca hanya mengibaskan tangannya lalu berjalan keluar dari ruangan Bram.


"Maafkan Bianca ya Nur! Saya yakin kamu sudah tahu seperti apa tabiatnya!", kata Bram.


"Iya pak Bram. Tidak apa-apa. Saya... mengucapkan banyak terima kasih atas kesempatan saya bekerja selama ini di restoran pak Bram."


"Sama-sama Nur!", balas Bram.


"Saya permisi pak!", Nur mengulurkan tangannya.


"Silahkan!", ujar Bram. Setelah itu Nur keluar dan berpamitan kepada teman-temannya yang sudah mulai bekerja.Saat baru keluar dari pintu kaca resto, beberapa laki-laki berkemeja hitam mendekati Nur.


"Selamat pagi Nona Nur, Pak Azmi meminta kami mengantar anda ke Bandung."


Teman-teman Nur cukup tercengang mendengar laki-laki yang berbadan besar itu memanggil 'nona' pada Nur. Vibes nya seperti di drama-drama romantis. Gadis culun yang mendadak jadi nona karena menikah dengan orang kaya.


Please... kehaluan mereka akut!


"Jika nona tidak percaya, nona bisa menghubungi pak Azmi!", ujar bodyguard itu. Nur pun mengangguk. Gadis itu menghubungi Azmi.


[Assalamualaikum A?]


[Walaikumsalam Nur. Aa ngga bisa antar, anak buah Billy yang akan mengantarkan mu sampai rumah Abah]


[Oh, ya udah. Oke. Makasih! Assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Nur kembali menyimpan ponselnya.


"Mari Nona!", bodyguard itu mempersilahkan Nur masuk. Teman-teman Nur histeris di buatnya.


Tapi ada seseorang yang merasa iri dan dongkol. Siapa lagi jika bukan Bianca???

__ADS_1


Di mata Bian, selera Alby dan Azmi tuh di bawah levelnya. Standar kecantikan yang biasa saja dan ya... penampilan pun biasa! Tapi kenapa bisa meluluhkan dua duda meresahkan itu?????


Bianca hanya punya waktu satu Minggu lagi di negara ini. Karena selebihnya, dia akan di lemparkan ke negeri kanguru untuk tinggal bersamanya kakek neneknya yang super bawel. Apakah dia akan berulah sebelum benar-benar meninggalkan ibukota????


.


.


Azmi dan Alby bertemu di loby. Keduanya pun berjalan beriringan menuju ke lift khusus mereka. Sesekali mereka berpapasan dengan karyawan, jika Azmi mau tersenyum tidak dengan Alby yang masih bertahan dengan imej juteknya. Padahal mah... senyum aja ngga apa-apa kan. Toh dia sudah sold out, tidak ada yang berani menggodanya. Tapi... pernikahannya dengan Amara memang belum di publish. Wajar jika dia masih seperti itu.


"Lo punya utang penjelasan sama gue bro!", kata Azmi mendorong Alby masuk ke ruangannya. Alby sendiri hanya geleng-geleng heran.


"Duduk!", pinta Azmi pada bosnya.


"Eh...selow bro!!!", kata Alby.


"Ga usah belagak deh. Kuliah Lo gagal kan? Kebanyakan mikirin cewek sih!"


"Eh? Ngomong gitu lagi gue gak mau jelasin nih?",ancam Alby.


"Iya iya buru!", pinta Azmi. Alby pun menceritakan tentang idenya dan bahkan Billy turut membantunya.


"Gila kali ndro! Pake acara ancam mengancam begitu?", tanya Azmi terkejut.


"Yang penting kan ngga ngancam beneran. Dan hasilnya baik buat Lo sama Nur juga kan? Abahnya nantangin Lo, kapan ke sana buat lamar yang serius!"


"Enaknya kapan?", tanya Azmi balik.


"Enaknya? Nanti aja abis lebaran. Dua hari lagi kan mo puasa!", kata Alby.


"Ngga ah, gue mau secepatnya. Biar puasa ada yang bangunin gue sahur!", kata Azmi langsung berdiri dan meninggalkan Alby.


"Woy...jangan gila Lo, Mi. Anak orang itu lho!", tapi teriakan Alby di abaikan oleh Aspri resek itu.


Alby mulai serius bekerja. Sebentar lagi acara rapat pemegang saham segera di mulai. Pria itu mencoba untuk bersikap biasa saja jika nanti bertemu lagi dengan sang mantan istri yang... entah masih bertahta di hati nya atau benar-benar telah tergantikan oleh Amara.


Alby mencoba mengenyahkan pikirannya dari sosok perempuan cantik yang sudah ia sakiti.


Move on, Alby!!! Batin Alby.


Pintu ruangan Alby terbuka dua jam kemudian sejak Azmi keluar.


"Bos, rapat di mulai!", ajak Azmi.


"Heum!", Alby pun mengangguk dan mereka berdua berjalan menuju lift untuk pergi ke ruang rapat.


Saat memasuki ruang rapat, Alby tak dapat mengalihkan pandangannya pada sosok yang tadi sempat ia pikirkan tadi.


Perempuan yang sedang hamil dengan perutnya yang sedikit membuncit itu tersenyum tipis menyambut kedatangannya dan Azmi.


Rapat pemegang saham berjalan cukup lamban. Karena ada beberapa masalah yang harus di diskusikan. Tapi akhirnya, menjelang makan siang rapat itu di hentikan untuk beristirahat.


Alby menghampiri Bia yang masih duduk di bangkunya.


"Neng, kamu teh ngga apa-apa?", tanya Alby penuh perhatian. Kenapa?


Wajah bumil itu terlihat pucat. Mungkin karena faktor kehamilannya.


"Ngga apa-apa, By!", kata Bia.


Nyes!!! Nyesek! Bia sudah membiasakan diri memanggilnya tanpa embel-embel 'Aa' lagi.


"Kalau gitu, makan siang dulu yuk! Eum ...ngga cuma berdua kok, ada Azmi!", kata Alby.


Bia menggeleng.


"Tidak By, terimakasih. Sebentar lagi mas Febri juga bawain makan siang kok!", tolak Bia lagi.


Alby hanya mengangguk pelan. Tak ingin memaksa sang mantan istri meski hanya sekedar makan siang. Azmi melipat bibirnya untuk tidak berkomentar. Takut kelepasan berbicara yang tak terkontrol.


"Ya udah, kami keluar dulu?", kata Alby. Bia pun mengangguk pelan tak lupa dengan senyumannya yang cantik.


****


to be continue 🤗🤗🤗


makasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2