
"Selamat siang mba!", sapa Nur pada resepsionis.
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?"
"Saya ingin bertemu dengan pak Azmi, beliau ada kan?", tanya Nur. Resepsionis itu melihat Nur dari atas ke bawah.
Azmi di kenal sebagai sosok laki-laki yang hampir tak mau berdekatan dengan lawan jenis. Meskipun dia tak sejutek bos nya, tapi dia juga tak kalah dinginnya.
"Sudah ada janji sebelumnya Bu...mba?", tanya resepsionis tersebut. Nur pun mengangguk.
"Sebentar saya hubungi dulu, silahkan tunggu! Atas nama siapa?"
"Nur, mba!", jawab Nur. Lalu resepsionis tersebut pun menghubungi Azmi. Dan sepertinya tidak di ruangannya karena ada staf yang mengangkat panggilannya.
"Maaf mba Nur, pak Azmi sedang tidak ada di tempat!", kata resepsionis terus.
"Heuh? Kemana ya?", tanya Nur.
"Maaf mba, kurang tahu!",jawab resepsionis. Tapi ternyata Alby yang akan keluar dari gedung pun melihat keberadaan Nur.
"Nur? Kamu ke sini?", sapa Alby. Resepsionis itu terkejut melihat Alby seramah itu selain pada Amara dan Bia, yang sudah jadi rahasia umum di gedung HS grup.
"Iya mas Alby, Aa teh ke mana ya?", tanya Nur.
"Ada, bentar lagi juga ke sini. Tadi dia ke toilet dulu!", jawab Alby. Selang beberapa menit kemudian, Azmi bergabung.
"Lho, udah sampai Nur? Ngga telpon aa?", sapa Azmi. Dua resepsionis saling lirik memberi kode.
"Takutnya teh Aa sibuk!", jawab Nur.
"Ceritanya bosen nih di kostan, jadi nyusul ke sini?", tanya Alby. Nur mengangguk.
"Iya mas Alby, bolak-balik seribu kali di situ-situ aja!", jawab Nur sambil manyun. Azmi meraih bahu Nur.
"Sabar atuh, nanti kalo rumah udah siap, kita bakal tetanggaan sama pak bos dan Bu bos! Siap-siap aja dua puluh empat jam jadi asisten dadakan Nur!", kata Azmi.
"Astaghfirullah, aku tidak setega itu Azmi...!", kata Alby. Nur pun hanya terkekeh.
Tiba-tiba ponsel Alby berdering.
"Amara? Tumben panggilan biasa? Tadi mah udah vc?", kata Alby.
"Cuma mau denger suaranya aja kali, angkat aja napa!", kata Azmi. Alby pun menarik tombol hijau.
[Assalamualaikum Neng?]
[Kamu milikku Amara!]
Mata Alby membulat melihat ulang nomor yang menghubunginya. Benar-benar nomor milik Amara.
Dan suara laki-laki berdialek kebule-bulean itu cukup Alby kenal.
"Frans??"
"Ada apa By?", tanya Azmi.
__ADS_1
"Frans ada sama Amara, memang kemana bodyguard Amara?", tanya Alby.
"Lo telpon Billy sekarang! Tanya kemana anak buahnya kenapa Amara bisa sama Frans!", perintah Alby dengan panik. Alby sendiri masih mendengar percakapan Amara dengan Frans yang meyakinkan dirinya sudah menikah dengan Alby. Tapi sepertinya Frans tak peduli. Ia masih terobsesi dengan Amara.
"Ada dua bodyguard yang mengantarkan Amara, mereka di apartemen. Amara menolak di temani sampai ke unitnya. Mungkin...itu lah kenapa Frans bisa masuk ke unit Amara!", jelas Azmi.
"Bang***!", Alby menggeram marah. Hampir semua yang ada di sana tak percaya jika kata kotor itu keluar dari mulut Alby.
"Istighfar By!", Azmi menepuk bahu Alby.
"Astaghfirullah ya Allah! Lindungi istri ku!", Alby mengusap kasar wajahnya.
"Mba Mara kenapa A? Frans siapa?", cerca Nur.
"Nanti aa jelaskan. Kamu tunggu di ruangan Aa ya! Ranti tolong ajak istri ku ke ruangan ku!", kata Azmi.
"Baik pak Azmi. Mari Bu Nur!", ajak Ranti. Nur pun mengekor pada Ranti.
Setelah itu, Alby dan Azmi melesat menuju ke apartemen di ikuti oleh beberapa mobil dan pasukan Billy.
"Maaf Bu Nur, saya boleh kepo?", tanya Ranti. Nur menautkan alisnya.
"Kepo apa ya mba Ranti?"
"Jadi...pak Alby dan pak Azmi sudah menikah?", tanya Ranti takut-takut. Nur tersenyum lalu mengangguk.
"Iya, mas Alby menikah lebih dulu dengan mba Amara. Kalau saya baru beberapa hari yang lalu!", jawab Nur.
Ranti hanya membulatkan mulutnya hingga berbentuk 'o'.
"Bisa lebih cepat lagi ngga?", teriak Alby pada supir. Azmi yang meminta agar supir Billy yang membawa mobil. Jika dia atau Alby yang mengendarai takut malah gegabah dan berakibat fatal.
"Baik pak!", sahut si supir mencari aman dari amukan bos besarnya.
Di apartemen Amara....
Untuk ketiga kalinya Frans di hampiri timah panas yang kali ini tepat mendarat di punggung.
Posisi Amara yang jatuh terlentang dan kakinya di tarik oleh Frans tak memungkinkan untuk melawan hingga akhirnya...
"Kalau pun aku harus mati hari ini, setidaknya kita akan mati bersama baby! Tidak akan ku ijinkan siapa pun memiliki mu yang hanya untuk ku baby!", dengan cepat pisau lipat tanya ada di tangan Frans tertancap tepat di atas perut Amara.
Amara terpekik kuat menahan sakitnya yang luar biasa. Belum selesai ia merasakan sakit di awal, Frans kembali menancapkan pisaunya dan akhirnya tembakan keempat benar-benar melumpuhkan Frans.
Kenapa bodyguard nya diam saja dari tadi????? Kesel ngga????🤔🤔🤔🤔
Nafas Amara memburu, kedua polisi menarik tubuh jangkung Frans yang terkena empat timah panas.
Ibarat puasa, nafas Amara sudah Senin Kamis. Terjeda-jeda!
Dengan sigap salah satu bodyguard mengangkat tubuh langsing Amara. Suasana yang tadi sepi, kini ramai karena suara letusan peluru menarik perhatian penghuni apartemen.
Bodyguard itu akan memasukkan Amara ke mobil tapi ternyata Alby lebih dulu turun dari mobil.
"Amara!!!!", teriak Alby. Bak adegan sinetron, Alby menarik tubuh Amara dari bodyguard tersebut.
__ADS_1
"Sayang, kamu dengar aa kan?!", Alby menepuk-nepuk pipi Amara yang sudah terpejam.
"Sudah By, sekarang kita bawa Amara ke rumah sakit! Cepat!", Azmi jadi membentak Alby.
Amara pun di pangku oleh Alby. Karena darurat, pasukan billy pun mengawal mobil Amara agar secepatnya sampai di rumah sakit.
"Sayang, bertahan ya! Kamu pasti baik-baik saja !", Alby mengusap kepala Amara dan sesekali menciumi wajah Amara yang kian memucat.
"Jalan kan mobilnya cepat!!!!", bentak Alby. Supir itu pun hanya mengangguk, tak ingin ikut panik seperti bosnya.
Ponsel Azmi berdering.
[Hallo?]
[Tersangka tewas pak Azmi!]
[Innalilahi wa innailaihi Raji'un! Baiklah terimakasih atas informasinya, sudah ada aparat yang menanganinya kan?]
[Sudah pak!]
[Baiklah, terimakasih]
Azmi menatap iba sahabat nya yang sedang merapalkan doa sambil memangku istrinya. Bayangan kehilangan istri yang sangat di cintai melintas di pelupuk mata Azmi.
Semoga kamu baik-baik saja Amara! Batin Azmi.
Kendaraan roda empat yang berjumlah empat itu pun masuk ke area rumah sakit. Azmi membantu membukakan pintu untuk Alby yang membopong tubuh Amara yang memucat.
Dengan langkah tergesa-gesa ia membawa Amara ke UGD dan dibantu petugas.
"Dok, selamatkan istri saya dok!", kata Alby dengan suara bergetar.
"Kami akan usahakan pak, silahkan anda tunggu di luar!", perintah petugas kesehatan tersebut.
Alby pun mondar-mandir di depan pintu UGD. Azmi jadi tak tega melihat sahabatnya seperti itu.
"Duduk dulu, By!", ujar Azmi lirih.
"Gue ngga tenang Mi sebelum gue tahu keadaan Mara!", kata Alby frustasi. Ia menjambak rambutnya sendiri.
"Sabar by!", Azmi mencoba menenangkan Alby.
"Lo bisa ngomong sabar karena Lo ngga ngerti rasanya jadi gue sekarang!", bentak Alby. Azmi hanya menghela nafas. Dia tahu sahabatnya sedang mencemaskan istrinya. Jika dirinya ikut emosi, yang ada malah semakin tak terkendali.
Karena tak mendengar suara apapun dari Azmi, akhirnya Alby pun menoleh.
"Maaf?", kata Alby. Azmi hanya mengangguk pelan.
"Duduk dulu, dan banyakin istighfar!", kata Azmi. Akhirnya Alby pun mau duduk. Lalu ia pun memejamkan matanya dan mulut nya tak berhenti berdoa.
"Alby ? Azmi? Kenapa di sini? Siapa yang sakit?", tanya seseorang. Alby yang hafal dengan suara itu pun menoleh pada sumber suara tersebut.
*****
Udah ngga deg2n dong ah....
__ADS_1