Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 21


__ADS_3

POV Amara


Sejak Alby mengantar ku kerumah, aku sama sekali belum menghubunginya. Kenapa?


Aku sedang memastikan bahwa apa yang aku rasakan itu salah.


Mana mungkin aku bisa dengan mudahnya menjatuhkan hati ku pada lelaki yang baru saja ku kenal.


Oke, dia memang tampan. Aku aku akui wajah nya sempurna. Dan aku rasa dia juga seorang muslim yang baik.


Tapi kenapa dia seolah membuat benteng tinggi untuk di dekati? Apakah karena dia begitu mencintai Bia?


Tapi...bukankah istri nya meninggal setelah melahirkan Nabil?


Otak ku tak berpikir sampai sejauh itu. Aku masih bersikeras untuk menolak perasaan yang ada di dadaku.


Mungkin...ini hanya sebatas rasa kagum pada seorang pria. Perasaan nya juga berbeda, tidak seperti aku yang mati-matian mengejar cinta seorang Febri.


Hari itu, Febri memperkenalkan Bia sebagai istri nya saat ada acara resmi di kantor. Banyak yang menatap ku iba, tapi aku hanya menunjukkan senyum sebisa ku.


Toh, aku bukan kekasih Febri! Dari dulu Febri tak pernah bisa menerima perasaan ku. Dan bodoh nya aku masih setia menunggu dan menunggu.


Sampai akhirnya... penantian ku usai saat Bia hadir dalam kehidupan Febri. Aku tak akan menyalahkan Bia. Mungkin ini semua sudah di takdir kan seperti ini.


Siang itu, aku baru tahu jika Dimas baru saja kembali ke kantor ini setelah berdinas di Tuban. Bahkan SK pun kembali turun untuk ku.


Aku di pindah tugaskan di batalyon xxxx bersama Febri, Seto dan Dimas. Entah, ketiga cowok itu ibarat upil, ipil, dan Ipul. Selalu saja kebetulan mereka tugas di tempat yang sama. Hanya saja, Febri yang notabene berpangkat lebih tinggi dari kami, tentu saja menjadi atasan kami.


"Lettu Dimas!", sapaku.


"Lettu Amara? Apa kabar?", dia menyalami ku. Tiga cowok itu memang gagah. Dalam artian, tampan secara visual. Wajah dan body yang mendukungnya juga salah satu titik kelebihan mereka bertiga.


Jangan lupa, sudah jadi rahasia umum jika mereka bersahabat.


"Baik. Baru sampai hari ini?"

__ADS_1


"Ngga. Datang kemarin, tapi mampir dulu ke rumah Febri. Pinjem mobil Febri di tuker motor. Soalnya semalam aku mengantar cewek ku ke rumah."


"Oh...iya! Betewe...keren ya bisa macarin anaknya pak Jend!"


Dimas tersenyum kaku. Antara malu mengakui atau malah minder kali.


"Bisa aja!"


"Ya udah, udah jam makan siang nih. Mau makan bareng?"


Dimas menimang-nimang nimang sebentar. Lalu setelah itu ia menjawab.


"Ayo deh! Lagian Febri sudah sama Bia. Ga bakal mau gue ajak makan bareng. Seto juga masih ada urusan sama admin."


"Mau makan di mana ini?"


"Di jalan depan aja deh Ra!"


Aku pun berjalan beriringan bersama Dimas menuju ke tukang pedagang kaki lima.


(Ketoprak dua. Banyakin tauge!)


"Siap lah mas!", sahut kang ketoprak.


"Doyan kan?",tanya Dimas padaku. Aku mengangguk. Kebetulan aku bukan pemilih makanan. Aku bebas makan apa pun. Dulu saat pelatihan saja aku pernah makan ular. Wleeekkk ....kalo lagi ada makanannya enak kaya gini, ga mau bayangin saat makan makanan itu.


Dimas yang kali ini mentraktir ku makan. Dia cerita lagi senang karena baru sampai ke Jakarta malah kekasihnya sedang berada di rumah Febri.


"Jadi, kakaknya pacar ku tuh dulu suka sama Bia. Malah hampir rebutan sama Febri."


"Oh ya? Kakaknya cewe Lo berati anaknya Jend Galang dong?"


"Iya, dokter Sakti. Tapi Alhamdulillah dia sudah menikah, dengan mantan ku hehhehe!"


Aku membulatkan mataku tak percaya jika mengatakan seperti itu dengan santai dan terlihat tenang.

__ADS_1


"Mantan Lo yang kerja di resto itu?"


"Heum!"


"Gila ini mah. Lo bakal iparan sama mantan Lo?"


"Ya gimana!", tanya Dimas mengedikan bahu.


"Kalo gitu...Lo tahu Alby juga dong?"


Dimas menoleh padaku sambil mengernyitkan alisnya.


"Lo tahu Alby?"


"Tahu aja. Bokap ada kerja sama dengan perusahaan dia. Itu aja sih!'


Dimas menghela nafasnya.


"Alby itu, mantan suami Bia. Alby tuh nikah lagi sama almarhumah istri nya pas masih jadi suami Bia."


"Apa? Dia poligami?", tanyaku makin penasaran.


"Ada hal yang ga bisa gue ceritain ke Lo. Pokoknya, Alby juga terpaksa menikah dengan almarhumah istrinya."


"Maksudnya?", tanyaku lagi. Dimas menatap ku lekat.


"Lo suka sama Alby?", tembak Dimas.


"Hah? Ga lah. Kenal banget juga kagak. Lagian dia itu jutek banget. Apalagi sama cewek. Kalo sama klien cowok mah ramah."


Dimas terdiam beberapa saat.


"Banyak hal yang Alby alami, mungkin hal itu yang bikin dia jadi jutek. Setahuku, dia biasa ramah."


Oke, aku percaya padamu Dimas! Makan siang kami pun usai, Dimas menuju ke mushola sedang aku bersiap kembali ke ruangan ku.

__ADS_1


__ADS_2