Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 213


__ADS_3

Para tamu Febri sudah kembali ke rumah masing-masing. Termasuk Amara dan Alby tentunya. Saat ini keduanya tengah berbaring di ranjang mereka. Sudah kebiasaan mereka akan pillow talk sebelum beranjak tidur.


"A!"


"Heum?"


"Aku minta maaf!", kata Amara pelan.


"Minta maaf untuk apa?", tanya Alby.


"Aku...belum bisa memberi nafkah batin buat Aa!", kata Mara lesu. Alby tersenyum simpul.


"Kenapa memikirkan hal seperti itu sayang! Kan Abang juga tahu kamu masih belum bisa di jenguk. Tenang aja, Aa sabar kok. Masih bisa nahan diri sampai bulan depan!"


Amara menoleh pada Alby yang kembali fokus dengan majalah bisnisnya.


"Tapi...aku takut kalau...?"


"Kalau apa? Aa ngga bisa nahan diri? Tenang aja sayang, hampir tiga tahun bisa kok. Masa gara-gara istri nifas jadi ga bisa?"


Sekarang Amara yang tersenyum. Dia memeluk lengan suaminya. Alby pun menurunkan majalah yang ada di tangannya lalu membalas pelukan istrinya.


"Oh iya sayang!"


"Apa?", tanya Amara.


"Kita resepsi kapan?", tanya Alby. Amara mendongak menatap wajah suaminya.


"Harus ya?", tanya Amara. Justru sekarang Alby yang menautkan kedua alisnya.


"Kok malah tanya seperti itu?"


"Ya... maksud ku tuh A, emang harus gitu resepsi ya?"


"Ngga harus sih, Aa juga terserah kamu aja sayang. Cuma....kamu kan pebisnis, belum lagi kamu tuh anak bungsu papi mami. Aa cuma takut kalau nanti mereka berpikir yang bukan-bukan karena kita tidak membuat resepsi pernikahan kita. Aa masih mampu kok sayang!", Alby memeluk erat istrinya.


"Kalo boleh sih A. Kita bikin resepsi yang tidak terlalu besar, mengundang keluarga inti saja dan sahabat-sahabat kita. Ngga harus di gedung mewah juga."


"Kamu lagi ga mikirin aa ngga mampu buat bikin pesta kan sayang?", tanya Alby menunduk. Amara menggeleng cepat.


"Ya ngga lah A. Mana ada aku mikir begitu. Aku... pengen yang sederhana aja gitu A. Atau.... mungkin kalau setuju sih ...misal ...ini misalkan, kita bisa doble gitu sama Azmi dan Nur. Kayanya seru deh!"


"Hah????!", Alby cengok di buatnya. Ini resepsi pernikahan kan? Bukan cuma nge-date....?????

__ADS_1


.


.


.


Nur heran melihat suaminya yang lahap memakan masakannya saat tiba di rumah. Bukankah tadi dia juga buka puasa di rumah Bia??? Memang belum kenyang?


"Aa!"


"Heum?", Azmi mendongak.


"Aa teh laper lagi gitu? Pan tadi teh tos tuang di rumah mba Bia?", tanya Nur. Azmi tersenyum lalu menelan makanan yang ada dalam mulutnya. Setelah itu, ia meneguk air putih yang sudah di siapkan oleh Nur.


"Iya, Aa sengaja ngga makan banyak di sana nanti. Biar Aa bisa makan ini sebelum buat sahur nanti!", kata Azmi.


Nur menarik salah satu alisnya.


"Jadi...Aa teh cuma merasa ngga enak gitu sama Nur? Ya Allah A....!", Nur menurunkan bahunya lemah.


"Kenapa sih sayang? Ya udah sih. Aa juga doyan, mana masakan istri Aa paling enak!"


"Bohong! Masakan mba Bia tadi lebih enak kali?", kata Nur.


"Ish.... gombal!", kata Nur tersenyum. Azmi kembali melanjutkan makan malam keduanya. Setelah makan malam, Azmi memilih untuk keluar sebentar dari kamar karena merasa gerah.


Azmi bukan perokok, jadi dia keluar kamar benar-benar ingin mendinginkan tubuhnya yang kepanasan karena pedas.


Nur pun merapikan bekas makan suaminya tadi. Ia mencucinya di wastafel. Tak lupa sisa makanan nya di masukan ke dalam lemari untuk di hangatkan nanti sahur.


Lebih dari lima belas menit Azmi di luar saling berbalas pesan dengan bosnya. Dia sempat ternganga dengan apa yang Alby sampaikan tentang keinginan Amara untuk mengadakan resepsi bersama-sama.


Azmi masuk ke dalam kamar kostnya setelah itu tak lupa ia mengunci pintu lebih dulu. Di lihatnya sang istri yang sedang bermain ponsel di atas kasurnya yang memang tak memakai dipan.


Perlahan Azmi mendekati Nur yang sudah memangku bantal di atas pahanya. Tanpa meminta persetujuan dari si empunya, Azmi menjatuhkan diri ke pangkuan Nur hingga membuat Mie terkejut.


"Astaghfirullah, Aa! Bikin kaget aja deh!", kata Nur. Azmi tersenyum lalu memeluk perut istrinya.


''Sayang!", panggil Azmi. Jejak juteknya mana??? Ngga ada sekarang mah!


"Apa A?", tanya Nur sambil meletakkan ponselnya di nakas. Lalu tangannya mengusap rambut Azmi.


"Habis lebaran, mau bikin resepsi di mana? Di sini apa di bandung?", tanya Azmi. Nur menunduk tepat di depan wajah Azmi.

__ADS_1


"Apa resepsi sebuah keharusan?", tanya Nur.


"Ngga sih. Tapi... walimatul ursy itu ibarat syukuran dan juga salah satu cara memberi tahu bahwa kita sudah menikah agar kedepannya tak menjadi fitnah."


"Eum...aku udah bilang sama Abah sih A!"


"Bilang apa?"


"Aku ngga mau pesta besar-besaran pakai adat kita yang banyak banget prosesi nya. Aku mau syukuran aja, kerabat dekat kita, sahabat-sahabat kita. Itu saja A! Dan Abah ngga keberatan sama sekali."


"Beneran? Tapi....nanti di kiranya Aa ngga mampu buat bahagiain istri Aa!"


"Siapa bilang? Mungkin Abah jauh lebih kenal Aa di banding aku, istri Aa sendiri!"


Senyum Azmi merekah memandangi wajah cantik dan muda istrinya itu.


"Ada satu lagi yang mau Nur bilang ke Aa."


"Apa?"


"Eum...nur pengen pakai niqob A, boleh?", tanya Nur. Azmi bangkit dari paha Nur lalu duduk di sampingnya.


"Sayang, kamu yakin? Memakai niqob itu ngga mudah tinggal pasang. Gitu aja, kaya pakai masker. Tapi untuk ke depannya, ngga semudah yang kamu bayangkan sayang!", kata Azmi pelan.


"Jadi Aa ngga ngijinin? Masih mau wajah ku di lihat orang lain?", tanya Nur. Azmi tersenyum dan menakupkan kedua tangannya di pipi Nur.


"Kalau kamu memakainya karena Aa, suatu saat nanti aa bikin kamu kecewa, kamu bisa saja mudah melepaskannya. Tapi jika karena Allah, kamu akan menemukan kenyamanan di balik pilihan mu itu. Aa tidak akan memaksa kamu untuk seperti uminya Putri. Ngga sayang! Aa suka apa adanya kamu, yang penting kamu masih menutupi aurat kamu dengan baik. Itu sudah cukup buat Aa."


"Jadi, Aa benar-benar ngga ngijinin aku memakai niqob?", ulang Nur.


"Apa niat kamu sudah bulat karena Allah? bukan karena melihat foto mendiang umi nya Putri?", tanya Azmi. Nur pun terdiam.


Azmi merengkuh bahu Nur ke dalam pelukannya.


"Sudah, ngga usah diperpanjang. Kamu bisa sholat istikharah untuk menentukan pilihan kamu nanti seperti apa. Minta petunjuk sama yang kuasa! Heum?"


Nur pun mengangguk pelan di dalam pelukan suaminya.


*****


Udah mau end ya ✌️😉


Makasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2