Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 87


__ADS_3

Amara


Amara di sibukkan dengan pekerjaannya. Gadis itu sampai tak sempat menghubungi sang pujaan hati yang jelas-jelas tak ada hubungan yang pasti. Pacar misalnya! Tidak, Alby hanya mengatakan ingin berjalan apa adanya. Tak ingin putus nyambung jika berstatus sebagai pacar. Entah lah! Mungkin bibirnya bisa berkata bahwa dia sudah melupakan masa lalunya. Tapi matanya berbicara jika perasaan itu masih tetap ada.


Nada kembali memberikan pekerjaan baru untuk ku. Ya Allah, sebenarnya aku ini kerja apa di kerjain sih???


"Nad, banyak banget sih kerjaan ku?",kataku mengeluh.


"Ya gimana Non, kenyataannya memang sebanyak ini yang harus di selesaikan!",kata Nada.


Aku menghela nafas berat. Saking sibuknya, Nada sampai memesankan makan siang untuk ku dan aku pun makan di ruangan ku. Jangan bayangkan seperti apa sibuknya lah!


Ku lihat jam tangan masih menunjukan pukul setengah dua. Aku menyempatkan diri solat Dhuhur di ruangan ku karena tidak memungkinkan untuk ke lantai bawah. Lagi pula ini kewajiban bukan????


Usai solat,aku melanjutkan lagi pekerjaan ku. Sepertinya aku akan lembur!


.


.


.


Alby


Aku sudah beli beberapa burger bahkan makanan dan camilan untuk Nabil. Setelah membeli semua nya, aku pun melesat menuju ke rumah. Aku membayangkan Nabil yang senang saat aku pulang cepat dan membawa apa yang Nabil inginkan.


Saat akan memasuki gerbang, ku lihat ada sebuah mobil asing parkir di dekat gerbang ku. Biasanya tidak akan ada tetangga yang parkir di sembarang tempat.


Aku membunyikan klakson, tak lama kemudian Mang Sapto membuka pintu gerbang dengan tergopoh-gopoh.


"Mobil siapa mang, parkir di situ?",tanyaku saat aku turun dari mobil yang ku kendarai.


"Itu siapa ya namanya, em...non Bianca Jang!", jawab mang Sapto.


"Bianca?"

__ADS_1


"Iya, lagi main sama Nabil kayanya." Setelah mang Sapto mengatakan hal itu, aku bergegas ke dalam. Tak nampak Nabil di ruang tengah. Tapi aku mendengar tawa Nabil di taman samping dekat kolam renang.


Kaki ku pun melangkah menghampiri suara anakku. Saat aku ingin menegur Bianca yang entah apa tujuan nya kemari, aku justru di suguhkan dengan pemandangan Nabil yang tertawa begitu lebar hanya karena bermain kejar-kejaran dengan Bianca. Mak juga sepertinya bahagia melihat cucunya bisa tertawa riang seperti itu.


Bianca yang kulihat selama ini menyebalkan di depan mataku, sekarang tampak menjadi sosok yang berbeda. Gadis itu terlihat sangat menikmati bermain dengan Nabil tanpa kepura-puraan.


Nabil kebetulan menoleh ke arah ku. Senyum nya melebar saat melihat aku yang berdiri di pintu sambungan membawa kantong berisi makanan.


"Papa!",pekik Nabil sambil berlari menghampiri ku.


Aku meletakkan kantong itu di meja yang dekat dengan Mak. Ku gendong putra semata wayangku ini.


"Anak papa udah mandi kok main lari-lari? Nanti bau acem lagi dong?",kataku.


"Hehehe Nabil nanti mandi lagi, sama papa!"


"Kebiasaannya deh!",aku mencolek hidung Nabil. Sekarang mata ku beralih pada Bianca yang memasang wajah imutnya. Liurnya hampir ngeces melihat ku, wajah mupeng gimana sih???


"Nabil sama Nenek dulu yuk, itu papa udah bawa burger pesenan Nabil! Biar papa ngobrol dulu sama teh Bian!",ajak Mak.


"Papa, makasih ya udah bawain Bugel Nabil!", kata Nabil.


"Iya sayang!", jawab ku sambil tersenyum. Setelah itu, Mak membawa Nabil serta kantongnya ke meja makan.


"Ngapain kamu ke sini?",tanyaku dengan wajah dingin seperti biasa.


"Pengen main aja sama Nabil. Bisa ngga sih mas Alby bersikap baik dan lembut padaku seperti pada Nabil?",tanya Bianca.


''Nggak!",jawabku singkat.


"Apa kurang ku di mata kamu mas Alby? Apa aku tak lebih cantik dari bunda nya Nabil?",tanya nya lagi.


"Itu bukan urusan kamu!",kataku penuh penekanan.


"Kamu bisa bersikap ramah pada Amara. Bisa bersikap hangat pada anak dan keluarga mu, kenapa kamu Jutek banget sama aku, sama gadis-gadis yang berusia mencari perhatian kamu?", Bianca berdiam di hadapan ku.

__ADS_1


Aku memundurkan tubuhku agar tak terlalu dekat dengan nya.


"Jaga sikap kamu!",tuding ku.


"Beri aku alasan kenapa aku tak boleh mendekat kamu mas?",tanya Bianca dengan wajah serius.


"Karena aku tidak suka gadis bar-bar dan agresif seperti mu!"


"Oh...kalo aku berubah jadi cewek kalem, mas Alby masih mau 'melihat' ku, begitu?",cerca Bianca lagi.


"Silahkan pulang dengan baik-baik! Aku tidak mengusir mu Nona Bianca, tapi aku harap kamu mengerti apa maksud ucapan ku! Pintu keluar masih di tempat yang sama!",kataku.


Wajah Bianca memerah menahan emosinya. Andai dia punya muka cadangan, dia akan memasang nya saat ini juga.


"Aku tidak akan menyerah Mas!",kata Bianca sambil menghentakkan kakinya menuju ke ruang keluarga untuk selanjutnya keluar dari rumah ku.


Astaghfirullah! Aku mengusap kasar wajahku!Ku longgar kan dasi ku sambil berjalan menuju ke kamar.


Nabil terlihat senang menikmati makanan yang ku bawa. Aku tak ikut bergabung dengan Nabil, Mak, teh Mila, teh Ani dan mang Sapto yang duduk di meja makan.


Aku langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sambil menunggu magrib, aku memainkan ponsel ku. Lagi-lagi aku berharap, Amara memberi kabar hari ini.


Saat azan berkumandang, ada notifikasi chat dari seseorang yang ku tunggu kabarnya dari pagi.


[Aku lembur By! Maaf seharian aku sibuk]


Aku merasa lega ternyata Amara baik-baik saja.


[Kira-kira pulang jam berapa?]


[Jam sembilan kayanya]


[Oke, pulang kuliah aku jemput ya?]


[Oke]

__ADS_1


Setelah menyimpan ponsel ku, aku pun mendirikan tiga rakaat ku. Nanti pulang kuliah aku akan menjemput Amara.


__ADS_2