
Suara klakson mobil bersahutan. Matahari juga sudah mulai berubah warna. Tapi suasana hiruk pikuk ibukota masih saja mendominasi.
Sepasang kekasih yang sedang berencana menuju ke jenjang serius pun kini sedang membicarakan masa depan mereka.
"Oh iya A."
"Heum?", Alby menoleh.
"Tadi, aku ketemuan sama papa Bianca."
Lelaki tampan itu mengernyitkan alisnya.
"Dalam rangka apa? Kerja sama?", tanya Alby masih dengan tangan yang ada di atas kemudi.
"Salah satunya ya itu! Yang jelas gara-gara fans fanatik kamu!"
"Fans ku?"
"Iya, siapa lagi kalo bukan Bianca. Please deh, ngga usah pura-pura ngga tahu!"
Alby terkekeh pelan melihat kekasihnya di landa cemburu.
"Iya...iya...emang dia bikin ulah apa?", tanya Alby pada akhirnya.
Amara pun menceritakan kronologisnya kenapa dia sampai nekat bertemu dengan papa Bianca.
"Oh, gitu?!", hanya itu yang keluar dari bibir Alby.
"Kok, reaksinya gitu doang sih A?"
"Hehehe atuh kudu gimana neng?", tanya Alby balik. Amara melipat kedua tangannya di dada sambil menatap arah lain. Alby yang paham kekasihnya sedang merajuk pun meraih tangan Amara.
"Udah, ngga usah manyun."
"Au ah!", sahut Amara ketus.
"Kok gitu?", Alby bertanya masih dengan nada meledek.
"Ishhh...kamu mah!"
Luluh juga akhirnya kan, emang kalo udah bucin mah beda aja. Keduanya pun tertawa bersama.
"Aa mau ngomong apa sama papi?", tanya Amara.
"Nanti juga tahu!", jawabnya.
"Tuh kan, mulai lagi. Males ah!", Amara kembali merajuk. Tapi Alby justru abai dan menanggapinya dengan senyum tipis.
.
.
.
__ADS_1
Bianca baru saja pulang ke rumah orang tuanya karena selama ini ia ikut tinggal di rumah Bram dan Naura.
Gadis cantik itu tak tahu saja jika dirinya akan disidang oleh sang papa. Karena dia datang ke sana dengan sangat santai, tanpa beban. Apalagi, dia sudah merasa di atas angin dengan apa yang dia lakukan dengan kerja sama proyek antara kantor nya dengan perusahaan Amara. Bianca tersenyum sendiri saat ia memasuki rumahnya.
"Bian!", panggil Dipta. Bianca pun cukup tersentak karena tiba-tiba papanya memanggil namanya. Di tambah lagi ada mamanya, Bram dan juga Naura yang duduk bersama papanya.
"Eh, hai ma, pa, mas ,mba!", sapa Bianca berjanji menghampiri anggota keluarganya yang sedang duduk.
"Duduk!", titah Dipta. Bianca yang belum tahu apa-apa duduk di hadapan orang tuanya.
"Tumben kumpul, ada apa?", tanya Bianca santai tanpa beban.
"Ada apa kamu bilang?", tanya Dipta. Bianca yang tak tahu menahu masalahnya apa pun hanya sanggup menggeleng.
Brakkk!
Dipta melempar sebuah map yang cukup Bianca kenali. Kok????
Gadis itu pun memungutnya. Lalu membaca isi map tersebut yang jelas ia tahu isinya apa.
"Pa...ini...?!", ucapan Bianca tersendat karena Dipta sudah lebih dulu menyela.
"Papa ngga nyangka kamu bisa sebodoh ini Bi!", kata Dipta penuh penekanan.
"Pa, jangan ngatain Bian bodoh dong!", protes Bian. Mama dan kedua kakaknya hanya jadi penonton, membiarkan papa nya menegur Bianca dengan caranya. Terserah papa nya saja!!!
"Kamu memang bodoh Bian! Kalo kamu ngga bodoh, kamu ngga akan mempermalukan papa dan kakak mu! Kamu mencampur adukkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan! Dan papa benar-benar malu dengan kelakuanmu. Papa pikir, teguran kemarin sudah cukup membuka hati kamu. Tapi apa??? Ini jauh lebih mempermalukan papa!", kata Dipta panjang lebar.
Bianca paham, pasti papanya sudah bertemu dengan Amara. Padahal, dia ingin Amara bertemu dengannya.
Plakkkk!!
"Papa!", pekik tiga orang yang ada di sana.
Bianca tak percaya jika papanya akan menamparnya sekeras itu.
"Cukup pa, jangan main tangan!", Risa mencoba untuk menenangkan suaminya. Lalu perempuan setengah baya itu pun memeluk tubuh putri bungsunya. Bian sendiri masih terpaku di buatnya. Ia tak percaya jika papanya akan melakukan hal itu padanya.
"Papa tidak pernah mengajarkan mu untuk tidak sopan dengan orang yang lebih tua dari kamu. Kamu orang berpendidikan Bian! Jangan mempermalukan diri kamu apalagi keluarga kamu! Berhenti mengganggu Amara dan Alby. Jika kamu masih berusaha mengganggu mereka....."
Semua mata tertuju pada Dipta.
"Papa akan kirim kamu ke Sydney, lebih baik kamu di sana dengan kakek mu!"
Bianca menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tidak, dia tidak mau berurusan dengan kakeknya yang galak dan arogan. Apalagi jika tahu alasan papanya mengirim ke sana, sudah di pastikan ia akan berakhir mengenaskan.
"Ngga pa, bian ngga mau sama kakek!", bian menggeleng cepat.
"Kalo kamu tidak menggangu mereka, papa pastikan kamu akan aman di sini. Tapi selagi papa masih mendengar kamu bikin ulah, siap-siap saja kamu hidup dengan kakekmu!"
Setelah mengucapkan itu, Dipta pun meninggalkan ruangan.
"Sayang, dengerin papa ya nak. Jangan berulah lagi. Kamu tahu, ancaman-ancaman papa tak pernah main-main."
__ADS_1
Bianca tak mengucapkan apapun. Dia hanya diam lalu bangkit menuju ke kamarnya. Kedua kakaknya hanya menatap miris pada nasib adik perempuannya itu.
.
.
Azmi menghentikan mobilnya di halaman rumah kost nya. Hari sudah petang saat ia sampai di tempat ia tinggal selama ini.
Lampu-lampu kamar tetangga sudah hampir menyala semuanya. Hanya terlihat kamar Nur yang masih gelap. Mungkin gadis itu belum pulang kerja, pikir Azmi.
Tapi belum sempat ia selesai menaiki tangga lantai atas, suara ramai di lantai bawah menyita perhatiannya.
Tiba-tiba ada keributan di bawah. Mau tak mau Azmi yang penasaran pun turut ke sana. Ternyata ada orang yang pingsan di dapur lantai satu dan orang itu ternyata adalah Nur.
Azmi yang merasa sedikit mengenal nur pun menghampiri kerumunan.
"Nur kenapa?", tanya Azmi. Semua menoleh pada sosok tampan yang terlihat kerja kantoran.
"Pingsan di dapur mas!"
"Badannya demam ini mas, bawa ke rumah sakit aja. Cari taksi sana!", pinta yang lain.
"Eh, ngga usah. Bawa ke mobil saya saja", pinta Azmi. Lagi-lagi semua menatapnya heran. Kenapa? Laki-laki itu tak pernah berinteraksi sebelumnya dengan penghuni kosan.
Karena kesal dengan reaksi penghuni kost , Azmi pun membopong Nur menuju ke mobilnya.
Ada seseorang yang mendahuluinya untuk membukakan pintu Azmi dan Nur. Ada salah satu tetangga kamar Nur menyerahkan tas kecil yang berisi dompet dan ponsel Nur.
"Ini mas, maaf aku lancang. Tapi tadi aku periksa di tas ada dompet sama hape nya. Dan ini kunci kamarnya."
Perempuan itu menyerahkan tas Nur. Sedikit ragu, tapi Azmi pun menerimanya juga. Tak kebanyakan basa basi, Azmi langsung membawa Nur ke rumah sakit terdekat yang hanya berjarak sekitar dua puluh menit.
Sesekali Azmi menengok ke jok belakang, ia berharap Nur segera siuman. Tapi sampai ke rumah sakit, dia masih belum sadarkan diri.
Azmi memanggil petugas untuk membawa Nur dengan brankar. Nur langsung di tangani oleh petugas.
Azmi menunggu Nur di bangku depan ruangan di mana Nur di periksa.
"Dengan wali pasien?", tanya seorang perawat.
"Saya sus!", kata Azmi. Perawat cukup tercengang melihat sosok tampan yang ada di hadapannya.
"Bagaimana kon...."
"Kondisi istri bapak tidak terlalu parah. Hanya saja untuk beberapa hari kedepan, istri bapak harus di rawat lebih dulu."
"Dia buk...", lagi-lagi pertanyaan Azmi terputus. Kenapa? So perawat ingin berlama-lama memandang sosok itu.
"Asam lambungnya naik pak, jadi setidaknya menunggu beliau pulih lebih dulu barulah bisa rawat jalan."
Azmi merasa lega, tapi sedikit kesal karena perawat itu mengatakan hal yang tidak sesuai dengan realitanya.
"Bapak bisa urus administrasinya pak? Mau pakai kelas berapanya, nanti kami siapkan untuk istri bapak. Permisi!", pamit perawat itu.
__ADS_1
Azmi menghela nafas. Ini bukan masalah biayanya, tapi...kenapa perawat itu harus menyangka jika dirinya suami Nur?????