Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 47


__ADS_3

Alby


Azmi mengantarkan seorang bule tampan yang tinggi tegap proporsional. Selain body nya yang memang bagus, wajahnya juga menarik. Di tambah kacamata minus nya memperlihatkan jika dia orang pandai, iya lah. Dia seorang dokter! Tentu saja pandai.


(Anggap saja bahasa Inggris campur indo lah 🤭)


"Selamat siang, Alby!"


Aku mengangguk dan tersenyum tipis.


"Selamat siang!"


"Senang bertemu lagi denganmu ya? Aku tidak menyangka jika pertemuan kita yang tidak sengaja kemarin, mempertemukan kita lagi."


"Hem, ya. Bagaimana dokter Frans mengenal saya bahkan tahu di mana saya bekerja?", wajar jika aku penasaran kan.


Bukannya menjawab, dia justru tersenyum.


"Bukan hal sulit bagi ku. Apalagi untuk sekedar mencari tahu tentang laki-laki yang sedang mendekati kekasih ku."


Aku menautkan kedua alisku. Apa dia kekasih Amara?


"Maksud anda apa?", tanyaku ingin memastikan.


"Aku dan Amara pernah menjalin kasih saat di medan perang dulu. Sayang nya, dia harus kembali ke negara ini. Meninggalkan ku. Dan sekarang, aku ingin memperjuangkan Amara kembali."

__ADS_1


Aku berusaha bersikap santai dan tenang.


"Kenapa anda harus mengatakan hal ini pada saya?"


"Pada siapa lagi? Sejauh ini, anda satu-satunya pria yang dekat dengan Amara."


"Maaf, aku tidak paham dokter Frans. Tapi sepertinya anda salah alamat jika mengatakan hal ini pada saya."


"Kamu mau bilang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Amara? Kalau seperti itu, jauh lebih baik."


Aku jadi bingung sendiri. Memang aku punya hubungan apa dengan Amara?


"Kenapa anda yakin jika harus mengatakan semua itu pada saya?", ulang ku lagi.


"Apa?"


"Tapi kalau kalian memang tak ada hubungan apa pun, itu berita yang sangat baik untuk ku. Asal kamu tahu, selama kami di luar sana bersama, kami sering menghabiskan waktu bersama."


Menghabiskan waktu bersama?


"Aku rasa, kamu sudah tahu apa yang ku maksud. Kita pria dewasa bukan? Aku yakin kamu paham maksud dari kata menghabiskannya waktu bersama."


Benarkah? Tapi itu tidak mungkin. Tidak mungkin Amara seperti itu! Apalagi saat itu, dia sebagai prajurit negara. Itu tidak mungkinlah! Dengan melakukan hal seperti itu, bukankah ia merusak diri sendiri dan juga citra instansi! Apa karena hal ini juga ia memilih untuk mengundurkan diri dari instansi pemerintah itu??? Persyaratan untuk nya menikah bukankah harus ....


Astaghfirullah! Kenapa aku bisa su'uzon begini! Dia perempuan baik-baik. Tidak mungkin seperti itu!

__ADS_1


Tapi kemarin dia pernah mengatakan jika dia bukan perempuan baik-baik. Ciuman hal yang wajar. Melihat ku seperti itu juga katanya sudah biasa?


"Saya akui, saya belum terlalu lama mengenal Amara. Tapi maaf, saya rasa ucapan anda berlebihan. Jangan memfitnah Amara.Saya percaya, jika Amara tak seperti yang anda katakan. Kami memang tidak memiliki hubungan apapun, untuk saat ini! Tapi tidak tahu kedepannya nanti."


Frans tersenyum sinis.


"Aku sudah menemui orang tua Amara dan aku rasa...kedua orang tua Amara tak keberatan jika kami kembali bersama nanti."


Frans sudah menemui pak Rahardi dan beliau merestuinya?


"Aku sempat ke kantor nya kemarin pagi. Sebenarnya, aku ingin mengajaknya bicara baik-baik. Meminta nya untuk kembali padaku. Tapi...dia bilang, dia punya kekasih. Maka nya ya...aku cari tahu siapa pria itu. Dan...kamu yang ku temukan. Jika dia menganggap mu kekasih nya, berarti cinta nya bertepuk sebelah tangan kan? Kamu sendiri yang bilang gak ada hubungan apa pun dengan Amara bukan? Itu artinya...kamu tak menginginkannya. Jadi, biarkan Amara kembali padaku!", Frans berdiri dari bangku nya.


"Amara bukan piala bergilir yang dengan mudah berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Jika dia memang tak ingin kembali bersama mu, jangan paksa dia!"


Frans tersenyum sinis.


"Apa hak mu melarangku?", dia menatap ku dengan matanya yang jernih di balik kacamata.


"Aku tidak melarang mu, hanya mengingatkan mu agar tak memaksa kehendak mu pada Amara!"


Frans mendekati ku. Dia menopang kedua tangannya di meja menghadap ku.


"Aku akan mendapatkan Amara kembali, apa pun caranya. Jadi, jika ternyata kamu memang ada keinginan bersaing dengan ku, mari kita lakukan! Lihat saja, siapa yang akan Amara inginkan. Aku atau kamu! Permisi!"


Frans meninggalkan ruangan ku begitu saja. Benarkah apa yang dia katakan? Tidak mungkin Amara seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2