
Alby
"Hai, Mas Azmi!", kini gadis itu juga menyapa Azmi tidak hanya aku.
Gadis muda dengan pastan dan blouse pink duduk di hadapan ku dan Azmi.
Azmi menoleh sekilas padaku, lalu melanjutkan makannya setelah ia sedikit menyunggingkan senyumnya pada gadis itu.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?", tanya ku. Gadis itu menopang dagunya dengan kedua tangannya di hadapan ku. Dia menatap ku dengan tersenyum.
Sekilas...aku melihat sosok Silvy saat dia masih menyebalkan! Tapi di akhir-akhir hidupnya, ibu kandung dari anakku berubah jadi perempuan yang jauh lebih baik.
"Mau makan lah, sambil liat mas Alby!", jawabnya masih dengan tersenyum.
Aku meletakkan sendok di piring ku. Cukup keras mungkin sampai karyawan yang sedang makan menoleh padaku dan Azmi.
"Memang tidak ada tempat makan lain, selain di gedung ini?"
"Banyak! Tapi aku pengen liat kamu, ngga boleh!?",jawab Bianca.
"Ngga!",jawabku dingin. Entah kenapa aku selalu seperti ini jika menghadapi perempuan yang getol mendekati ku. Berbeda jika aku bersama Amara atau pun Marsha.
Aku bangkit dari bangkuku. Begitu pula dengan Azmi.
"Mas Alby?!", Bianca menarik pergelangan tangan ku. Aku memandangi tangan nya yang mencengkram erat pergelangan tangan ku. Ingin ku hempaskan sekuat tenaga tapi aku masih sadar jika yang ku hadapi adalah perempuan.
Dia sekarang berdiri di hadapan ku. Tubuh nya yang memang lebih pendek dari ku membuat nya sedikit mendongak menatap wajah ku.
"Apa karena Amara sikap mu seperti ini padaku mas Alby?"
Aku menatap tajam gadis yang ku taksir usianya tak beda jauh dengan almarhumah silvy.
"Lepas!",kataku dingin.
"Tidak! Sebelum kamu jawab, apa alasan mu selalu menolak ku karena Amara?"
"Ya!", jawabku singkat padat dan jelas.
"Aku yang lebih dulu mengenal mu mas Alby! Bahkan sebelum dia menjadi Dirut Rhd.co! Tapi kenapa kamu justru menganggap keberadaannya?! Apa hebatnya Amara? Dia sudah tua! Aku bahkan lebih cantik dan muda darinya!", kata Bianca penuh percaya diri.
__ADS_1
Oke, aku akui jika Bianca memang lebih muda bahkan lebih cantik dari Amara. Tapi Amara memiliki kecantikan alami seperti Bia, yang cantik tanpa polesan meskipun mereka mampu membeli skincare semahal apa pun! Sedang Bianca, make up nya justru membuat dia lebih tua dari usianya.
Astaghfirullah! Kenapa aku jadi membandingkan mereka semua????
"Berhenti mengganggu ku!", kali ini aku benar-benar menghempaskan tangan ku dari jeratannya.
"Aku masih bersikap 'baik' padamu karena aku masih menghormati mas Bram! Jadi mulai sekarang, stop! Ganggu aku! Bukan urusan kamu, aku berhubungan dengan siapa! Kamu masih paham bahasa manusia kan?", telunjuk ku tepat di depan hidungnya.
Aku mendengar Azmi bergumam istighfar. Setelah itu, dengan kode memiringkan kepala ku ajak Azmi kembali ke ruangan.
"Mas Alby, asal mas Alby tahu. Aku akan tetap berusaha menarik perhatian mas Alby sampai mas Alby mau sama aku!", teriak Bianca yang tentu saja menjadi tontonan karyawan ku yang ada di kantin.
Aku menghentikan langkahku, lalu sedikit menoleh padanya.
"Hargai diri kamu sendiri, agar orang lain juga bisa menghargai mu! Jangan mempermalukan diri mu yang masih keras kepala mengejar laki-laki yang tidak pernah mau berdamai dengan mu!", setelah itu aku dan Azmi benar-benar meninggalkan kantin.
Bianca meremas kedua tangannya menahan emosi plus menahan malu menjadi tontonan pengunjung kantin. Bisik-bisik kasak kusuk pun terdengar. Banyak yang menilai jika Bianca benar-benar tebal muka. Tapi ada juga yang mendukung Bianca untuk meluluhkan bos perusahaan ini. Dari sekian banyak yang berkomentar pun, sebagian juga ada yang menganggap sikap Alby terlalu arogan meladeni seorang gadis.
.
.
"Selamat pagi!",sapa dokter Sakti yang akan mengecek kondisi papaku.
"Pagi dok!",sahutku, kak Daniel dan juga mami.
"Saya periksa tuan Rahardi sebentar ya?!", ucap dokter Sakti.
Setelah beberapa saat, dokter Sakti selesai mengecek kondisi papi dia pun menulisnya laporannya yang ada di tangan perawat yang datang bersamanya.
"Bagaimana kondisi suami saya dok? Kenapa sejak kemarin belum juga siuman?",tanya mami.
Dokter Sakti menjelaskan panjang lebar pada Mami sampai mami memahami apa yang membuat papi seperti ini.
"Kalo begitu, saya permisi nyonya!",pamit dokter Sakti pada mami.
Kak Daniel sudah lebih dulu ke luar ruangan sebelum dokter Sakti memeriksakan kondisi papi.
"Mi, Mara mau keluar sebentar ya?"
__ADS_1
Mami hanya mengangguk.
Aku pun menyusul dokter Sakti yang baru saja keluar dari ruangan papi. Di luar, dokter Sakti tengah berbicara dengan kak Daniel.
"Jadi gimana dok?",tanya kak Daniel. Aku yang tidak tahu awal mulanya, hanya memilih jadi pendengar di antara obrolan kak Daniel dan dokter Sakti.
"Jika memang ada persetujuan dari pihak keluarga, tentunya saya bisa melakukan hal itu", kata Sakti.
Sekarang aku paham, ini pasti tentang pemeriksaan papi yang lebih akurat.
"Ya udah dok, saya dan Amara setuju. Lakukan yang terbaik untuk papi kami!",kata kak Daniel lagi.
"Eum...apa Alby sudah mengatakan hal ini sebelum nya?",tanya sakti.
Kak Daniel menatapku lalu setelah itu ia mengangguk. Dokter Sakti pun mengangguk samar.
"Baiklah, saya akan membuat surat persetujuan lebih dulu!",kata dokter Sakti.
"Tapi dok!"
"Iya, kenapa nona Amara?", tanya Sakti.
"Mara saja Dok!",kataku.
"Dok, bisa kan hal ini dirahasiakan? Dari mami, kak Nathan terlebih... dokter Frans?", kataku pelan. Takut jika dokter gila itu mendengar obrolan kami.
Sakti sedikit berpikir sampai akhirnya dia mengatakan setuju untuk merahasiakan hal tersebut.
"Terimakasih dok!", kata Kak Daniel. Begitu pula dengan ku.
"Sama-sama. Kalo begitu, saya permisi!",kata Sakti.
Kami berdua pun mengangguk.
"Semoga segala sesuatu di beri kemenangan ya Ra. Kasian papi kalo begini terus!",kata kak Daniel.
"Aamiin. Iya kak, semoga apa yang kita khawatirkan tidak terjadi. Dan semoga juga, Allah memberi kesembuhan buat papi."
Aku dan kak Daniel kembali ke ruangan papi. Niatnya, kami akan ke kantor setelah mba Mayang ke sini untuk menemani mami dan membawa Dhea.
__ADS_1