Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 81


__ADS_3

Alby


Aku sudah berada di rumah sekitar jam delapan malam. Jika biasanya jam segini Nabil masih bermain di depan televisi yang ada di ruang keluarga, sekarang situasi nampak lengang.


"Jang, udah pulang?",sapa Mak yang keluar dari dapur.


"Assalamualaikum! Iya Mak!"


"Walaikumsalam. Ngga kuliah?"


Aku menggeleng. Ya, hari ini aku bolos lagi. Pasti bakal di ceramahin sama Azmi besok nih!


"Nabil mana Mak? kok sepi?"


"Udah bobo!",kata Mak pelan.


"Tumben bobo jam segini? Ngga bobo siang?"


"Bobo tadi jam dua belas. Tapi mungkin kecapekan main sama si teteh!",kata Mak Titin.


"Main apa sama teh Ani sampai kecapekan?",aku duduk di sofa.


"Bukan teh Ani. Teteh Bianca!", jawab Mak.


Aku sampai tersedak liurku sendiri. Dengan cepat aku menoleh pada Mak.


"Bianca?",tanyaku. Mak pun mengiyakan.


"Dia udah nunggu kamu dari sore Jang. Kamu nya ngga pulang-pulang. Katanya ada kerjaan yang harus di selesaikan sama kamu. Jadi ya, sambil nunggu kamu Nabil main sama teh Bian."


Hufttt! Anak itu benar-benar! Maunya apa sih? Ngapain sampe dateng segala ke rumah.

__ADS_1


"Lain kali jangan bolehin dia main lagi sama Nabil Mak."


"Kenapa? Nabil suka banget lho main sama Bian. Dan Mak lihat, Bian memang menyukai anak kecil seperti Nabil."


"Tapi Alby yakin dia seperti itu karena ada maunya Mak."


"Dia salah satu gadis yang ngejar-ngejar kamu?",tanya mak. Aku hanya mengedikkan bahuku.


"Alby tidak suka cewek yang agresif seperti itu Mak. Sudah jelas-jelas Alby nolak dia, masih aja cari celah apalagi dekatin Nabil!''


Mak menghela nafas.


"Jangan judes-judes Jang. Apalagi sama perempuan. Pamali! Kalo dia sakit hati terus berdoa yang buruk-buruk buat kamu gimana?"


"Mak ngga tahu seperti apa Bianca itu. Pokoknya mah, urat malunya tos pegat mereunan."(Sudah putus)


"Astaghfirullah Jang!",Mak hanya menggeleng.


"Ngga makan?"


"Ngga Mak!",lanjutku. Setelah itu aku masuk ke kamar. Nabil sudah telentang di box nya.


Usai mandi dan sholat isya, aku memindahkan Nabil ke ranjang ku agar kami bisa tidur bersama. Setidaknya saat tidur, aku bisa memeluk putra ku. Karena sejak pagi aku di sibukkan dengan urusan lain yang menyita waktu ku dan tak sempat bercengkrama dengan Nabil.


Masih jam sembilan kurang. Sepertinya ini terlalu sore bagi ku untuk merebahkan diri. Ku raih ponsel ku. Jika tadi aku tak bisa menghubungi Amara, barangkali sekarang sudah bisa.


Tapi sayangnya, chat nya masih centang satu. Itu artinya ponsel Amara belum aktif. Beruntungnya, kak Daniel mengirimkan pesan jika Amara berada di kamar rawat papinya.


Setidaknya aku lega dia berada di sana bersama kak Daniel. Usai mendengar jawaban jika Amara baik-baik saja, perlahan aku pun mencoba memejamkan mataku. Ku peluk putra semata wayangku yang sudah terbuai dalam mimpi. Dan entah jam berapa tepatnya aku bisa tertidur.


.

__ADS_1


.


"Malam Tante!",sapa Frans pada mami.


"Selamat malam Frans. Hari ini praktek lagi?",tanya mami saat baru menyadari jika Frans tadi pagi sudah bertugas.


"Tidak Mi. Frans mengantar Amara. Kami makan di luar tadi!", jawab Frans.


Makan di luar apaan?


"Kak Nathan!",sapa Frans. Nathan hanya tersenyum. Sedang Mba Mayang menggendong Dhea.


"Kamu sudah datang Ra, kakak sama mba mu pulang ya?", ujar kak Nathan.


"Iya kak!", jawabku.


Sepeninggal Kak Nathan dan istrinya aku memilih duduk di samping papi tanpa menggubris keberadaan Frans.


"Aku temani kamu ya?",ujar Frans menawarkan diri.


"tidak perlu, trima kasih!", sahutku ketus. Karena aku tahu setiap kebaikannya pasti aka di hitung. Dia akan meminta timbal baliknya. Maka ha aku memilih diam.


Tapi sepertinya Frans tak perduli. Dia sengaja berdiri di belakang ku. Menyandarkan dagunya ke kepala ku.


"Lepas Frans!", bisik ku tegas.


"Please, biarkan seperti ini!",ujar Frans. Detik berikutnya, kak Daniel datang. Dia hanya berdehem agar Frans tak melewati batasan.


Aku menyapa kak Daniel. Tapi sepertinya dia tak terlalu fokus pada ponselnya. Di situ lah, Daniel melapor jika Amara ada di rumah sakit.


Frans pun terlihat biasa saja tanpa beban melepaskan pelukannya dari ku.

__ADS_1


__ADS_2