
Amara terlihat gelisah di ruangannya. Gadis itu mondar mandir uring-uringan karena sejak kekasihnya mengirim makan malam kemarin, Alby sama sekali tak bisa di hubungi. Tapi dia juga tak bisa ke kantor Alby untuk sekedar menemui kekasihnya.
Pekerjaannya begitu banyak dan harus segera ia selesaikan sebelum weekend. Karena Sabtu nanti sang pujaan hati akan melamar dan meresmikan hubungan mereka berdua.
Alby susah di hubungi bahkan Azmi pun juga sama. Saat ia menghubungi kantor, selalu di jawab Alby atau Azmi sedang sibuk atau meeting. Tumben sekali bukan mereka berdua sesibuk itu??
Gadis itu mencoba abai dan berpikir positif. Dia berharap Alby tidak merubah niatnya untuk tetap meresmikan hubungan mereka berdua. Amara hanya takut, jika ia akan kembali gagal. Dia tak mau di kecewakan lagi. Hingga malam hari, Amara masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Nona, sudah lewat jam tujuh malam. Anda belum pulang?", tanya Nada sang sekretaris.
"Kamu kenapa belum pulang Nad?", justru Amara balik bertanya.
"Kan nona Amara saja belum pulang, masa saya pulang duluan."
"Kalo mau pulang dulu ngga apa-apa Nad selama kerjaan kamu sudah selesai!", Amara melipat laptopnya. Mungkin akan ia selesaikan di rumah nanti pekerjaannya yang belum terselesaikan.
"Saya menunggu non Amara saja!", kata Nada. Amara pun menghela nafas berat.
"Ya udah, kita pulang. Kamu bawa mobil?", tanya Amara pada Nada.
"Kebetulan mobil saya di bengkel nona. Nanti saya bisa naik taksi."
"Eh, ngga usah! Bareng aku saja!", kata Amara.
"Jangan nona, nanti ngerepotin non Amara!", jawab Nada.
"Ngga lah, aku juga di antar sama supir dan bodyguard. Atau kamu mau di antar bodyguard aja?", tawar Amara. Nada pun menggeleng.
"Jangan nona, saya ngga enak!", jawab Nada gugup.
"Ngga enak Mulu, ayok!", ajak Amara. Akhirnya mereka berdua pun menuruni lantai kantor mereka menuju ke basemen. Amara sudah lebih dulu menghubungi supirnya.
"Selamat malam nona Amara!", sapa Billy.
"Malam. Kamu yang mau nyetirin saya?", tanya Amara.
"Iya nona!", jawab Billy. Amara pun mengangguk.
Amara duduk di bangku belakang, sedang Nada di depan dengan Billy.
"Pulang ke rumah utama atau ke apartemen nona?", tanya Billy.
"Eum...ke rumah papi deh!", jawab Amara. Billy pun mengangguk paham. Lalu ia melajukan kendaraannya.
"Eh, tapi antar nada dulu ya!", pinta Amara.
"Baik Nona?", jawab Billy. Sesekali pria itu saling lirik dengan Nada. Dan Amara pun menyadari hal itu.
Ia tak mengatakan alamat Nada, tapi rupanya Billy tahu dimana sekretarisnya tinggal.
"Terimakasih nona, saya sudah lebih dulu di antar!", kata Nada.
"Kok makasih nya sama saya? Sama bang Billy dong. Iya kan?", tanya Amara pada Billy. Billy menjawabnya dengan anggukan. Lalu dua pasang mata yang ada bangku depan pun saling beradu pandang. Ada senyum tipis di masingmasing bibir mereka.
"Udah, besok lagi senyum-senyum nya!", sindir Amara. Nada dan Billy pun jadi salah tingkah. Setelah itu, Nada pun turun dari mobil Billy.
Sekitar satu jam, Amara sampai ke rumah papinya. Billy pun langsung berpamitan. Tapi ia meninggalkan beberapa anak buahnya yang berjaga di sekitar kediaman Rahadi.
Amara memasuki halaman rumahnya yang sudah di dekorasi dengan nuansa putih, warna favoritnya.
Ia tersenyum, membayangkan sekilas acara lamaran besok. Semoga apa yang ada dalam bayangannya benar-benar terealisasikan.
Sudah jam setengah sepuluh malam, ternyata keluarga besarnya masih berkumpul. Seperti biasa, ada mami papi, kak Daniel, Kak Nathan dan mba Mayang. Tak lupa si kecil Dhea yang masih belum tidur.
"Assalamualaikum!"
__ADS_1
"Walaikumsalam!", jawab Nathan, Mayang dan Daniel.
"Baru pulang jam segini Ra?", tanya Nathan.
"Iya kak. Mau lemburin kerjaan, tapi udah ga mood. Ya udah kerjaan bawa ke rumah."
"Kamu kerja apa di kerjain sih Ra? Kamu yang pegang kendali lho!", kata Daniel.
"Ishhh...kak Daniel mah kaya sendirinya ngga, jangan sok nyindir!", kata Amara julid.
Keakraban seperti ini sudah lama sekali tak terjadi sejak anak-anak Rahadi dewasa. Terlebih Amara yang sejak lulus SMA memilih untuk melanjutkan di pendidikan Akmil. Berbanding terbalik dengan kedua kakak nya yang langsung kuliah dan terjun di dunia bisnis.
Obrolan panjang pun berlangsung lama, hingga satu persatu dari mereka pun kembali ke kamar mereka masih.
.
.
Di lain waktu, lain tempat, dan lain-lain sebagainya pokok nya mah....
Alby sudah mengatakan pada Titin, untuk sementara Alby dan Amara akan tinggal di dekat rumah yang ada di area perumahan mereka tinggal. Tentu saja Mak Titin sangat bahagia menyambut hal itu. Dia tak perlu jauh-jauh dari anak dan juga cucunya.
Saat ini Alby sedang duduk di balkon, di kamar Silvy. Dia menatap langit malam. Sebenarnya dia sudah tidak tahan untuk segera menghubungi Amara. Tapi ia menghormati permintaan calon mertuanya untuk memberikan kejutan pada Amara.
Alby merenung sambil menatap kelamnya langit malam yang sepertinya akan turun hujan.
Bayangan wajah Silvy sekelebat melintas di pelupuk matanya. Perempuan ya h terpaksa ia nikahi hingga memberikan seorang Nabil padanya.
Ada rasa bersalah yang bercokol dalam dadanya karena sampai akhir hayat Silvy, dia belum bisa juga memberikan cinta dan kebahagiaan untuk Silvy. Meskipun dia memberikan hak Silvy, tapi tidak dengan cintanya.
Ia merenungi kehidupannya. Pernikahannya dengan Bia sempat meninggalkan rasa trauma yang sampai sekarang masih cukup menjadi momok dalam hidupnya.
Rasa takut mengecewakan dan menyakiti, itu hal utama yang paling mendasar.
Ia sadari, ia sudah menyakiti kedua perempuan dalam hidupnya sekaligus dengan begitu dalam. Bia, perempuan yang sangat penting dalam hidupnya setelah ia merasakan menjadi sosok lelaki dewasa. Kebaikannya, kelembutannya dan sikap yang selalu menerima apa pun keputusan Alby adalah hal yang sama sekali tak bisa ia lupakan dari sosok Bia. Cinta! Bohong kalau mereka berdua benar-benar sudah saling melupakan! Bohong jika Alby dan Bia sudah tak memiliki rasa sedikit pun karena pada dasarnya perpisahan mereka karena rasa cinta yang sesungguhnya. Melepaskan demi kebaikan bersama!
Andai aku tidak datang ke rumah ini ya Bi!
Alby mencengkram erat kedua tangannya di pagar balkon. Mengingat Bia, tentu saja mengingat betapa ia menjadi sosok lelaki yang tak tegas. Tapi... mengingat Silvy pun, dia jadi lelaki pengecut yang tak bisa menjadi suami yang baik selama hidup Silvy.
Dan kini, nama Raden Ayu Amara Dewi Legini sudah mulai memenuhi rongga hatinya. Gadis enerjik dan selalu apa adanya sukses membuat hatinya mulai terbuka.
Bahwasanya, kehidupan akan terus berjalan hingga akhirnya nanti sang pemilik kehidupan akan membawa kembali padanya.
Ia meraih ponsel dari saku celana pendeknya. Menyimak notifikasi aplikasi hijau yang meninggalkan jejak missed called dari Amara.
Alby tersenyum tipis. Kekasihnya pasti sangat khawatir pada dirinya yang seolah mengabaikan dan cuek pada Amara.
Tapi setelah itu, ia pun menscrol layar ponselnya. Tiba-tiba saja jemarinya berhenti di kontak mama Febri.
Febri? Gumam Alby. Sekitar lima menit kemudian, Alby memutuskan untuk mengirim chat pada Febri, padahal sudah jam sepuluh malam.
[Sibuk Feb?]
Begitu isi chat Alby pada Febri. Tak ada balasan hingga sepuluh menit berlalu. Alby pun memilih untuk kembali ke kamarnya. Karena Nabil sudah tidur di lantai bawah, kamar Alby.
Baru masuk ke dalam kamar, Febri membalas chatnya.
[ Ada apa By? Mau ngobrol?]
Alby tersenyum membaca balasan dari Febri.
[Assalamualaikum Febri!]
Alby mengawali percakapan mereka.
__ADS_1
[Walaikumsalam, iya Bi?]
.
.
Sepasang suami istri baru saja menyelesaikan hak dan kewajiban mereka. Sedang sang suami sendiri sedang berada di kamar mandi untuk membersihkan diri.
Bia sudah merebahkan diri di ranjangnya setelah memastikan si kembar yang tertidur pulas di box mereka berdua. Tapi belum juga terlelap, Bia melihat ponsel suaminya berdenting.
Ia pun mengambil benda pipih tersebut, lalu membaca pesan tanpa membuka aplikasi lebih dulu.
Alby? Tumben? Gumam Bia. Tak lama kemudian, Febri keluar dari kamar mandi sudah dengan pakaian santai yang nyaman untuk istirahat.
"apa nduk?", hanya Febri.
"Wa dari Alby mas!", jawab Bia. Febri pun membaca chat dari Alby, lalu membalasnya.
"Mas keluar dulu ya, mau telpon Alby." Bia hanya mengangguk.
Setelah keluar dari kamar, barulah Febri menerima panggilan dari Alby.
[Assalamualaikum Febri]
[Walaikumsalam, By]
[Udah tidur ya? Maaf gue ganggu.]
[Gak kok. Ada apa ,tumben?]
[Eum, besok Lo sibuk ga ?Ada waktu ngga?]
[Besok ya? Ada apa emangnya?]
[Eum, kalo sempet tolong datang ke rumah Amara ya]
[Ke rumah Amara? Oh...kalian ada acara ya? Boleh deh, jam berapa?]
[Iya, awalnya kami cuma mau tunangan. Tapi rencana di awal berubah, kami mau menikah.]
[Oh ya???]
Hening, keduanya tampak terdiam.
[Jam berapa, gue usahain datang sama istri]
Hati Alby mencelos saat Febri menyebut istri yang tentu saja adalah mantan istrinya Alby sendiri.
[Bada isya Feb]
[Ok, insya Allah kami datang]
[Makasih Feb]
[Iya]
[Ya udah gue tutup ya. Maaf udah ganggu dan ga ada undangan fisik karena memang acara ini kejutan untuk Amara]
[Ngga masalah By]
[Oke, met malam. Assalamualaikum]
[Walaikumsalam]
Febri membawa kembali dirinya ke kamar. Dia cukup terkejut ternyata istrinya belum tidur. Apa dia mendengar percakapan antara dirinya dan Alby?????
__ADS_1
********
Masih belum ya....sabar ðŸ¤ðŸ¤—🤗🤗