
Amara
Alby dan dokter Sakti sudah berlalu. Saat ini tersisa aku, kak Daniel, kak Nathan, Mba Mayang dan Frans.
Kak Daniel menarik ku lalu mendudukkan ku di bangku. Mba Mayang dan kak Daniel mengikuti kami berdua.
"Dek! Kakak tahu, kamu berhak menentukan masa depan mu. Tapi memang nya kamu ngga bisa lihat sedikit saja apa yang Frans lakukan sampe sejauh ini?", tanya Kak Nathan.
"Kak!", rengek ku. Frans duduk di bangku yang ada di hadapan ku. Lumayan jauh sih!
"Kak Nathan, jangan memaksa Amara seperti itu Kak. Aku akan berusaha untuk mendapatkan Amara lagi, dengan caraku. Mungkin saat ini dia hanya sedang bimbang dengan perasaannya. Tapi aku yakin, suatu saat nanti Amara akan menerima ku lagi Kak!",kata Frans penuh keyakinan.
Percaya diri sekali kamu Frans!!!
"Kakak harap juga begitu Frans! Semoga kamu bisa kembali meluluhkan hati Amara."
"Terimakasih atas dukungannya kak!", kata Frans pada Nathan. Mayang sendiri hanya diam mendengar obrolan suami dan juga teman Amara.
"Cukup Frans!", suara ku sedikit meninggi karena aku kesal. Dia berbicara di depan kak Nathan seperti itu, tapi tidak saat bersama ku. Aku tak mau di intimidasi dan terkekang karena tindakan Frans.
Kak Daniel justru hanya berdiri nyaman menyandarkan tubuhnya ke dinding mendengar dua saudara saling berpendapat.
"Jaga sikap mu Mara!",kata Nathan.
''Kak! Frans itu tak sebaik yang kalian kira tahu ngga! Dia itu bermuka dua kak!"
"Astaghfirullah Amara, jaga bicaramu dek!",kak Nathan kembali mengingatkan.
"Tidak apa-apa kak, mungkin Amara masih terpengaruh oleh Alby tadi", sela Frans.
"Jangan bawa-bawa Alby ,Frans! Dia tidak ada hubungannya di sini!", kataku.
''Kenapa Amara? Apa karena kehadiran Alby kamu berpaling dari ku semudah itu?", tanya Frans.
Kak Nathan menoleh padaku. Matanya menghunus tajam.
"Sebenarnya...siapa laki-laki yang dekat sama kamu Dek? Ya Allah!!!", ucap Nathan sambil berdiri dari bangkunya lalu menarik mba Mayang menjauh. Mungkin mengajak nya pulang tanpa berpamitan padaku dan kak Daniel.
Sekarang aku menoleh pada kak Daniel. Tapi tak lama kemudian, kak Daniel pun meninggalkan ku tanpa mengucapkan sepatah kata.
__ADS_1
Tinggallah aku dan Frans di lorong itu, belum aku bicara Mami keluar dari dalam kamar.
"Mami!",aku bangkit.
"Mami mau pulang dulu sebentar ambil baju ganti", kata Mami.
"Mara aja yang pulang Mi. Papi di jagain mami aja."
"Mami sudah minta Daniel anterin mami. Nanti dia anterin mami lagi ke sini",ujar mami.
Jadi, kak Daniel sudah menerima pesan dari mami makanya dia pergi gitu aja ninggalin aku dan Frans.
"Frans, titip papi dan Mara sebentar ya!",kata mami tersenyum ramah pada Frans.
Ya Allah, sebenarnya mami papi dan kakak ku kenapa sih? Kenapa mereka seperti tak terpengaruh dengan apa yang ku katakan? Harapan ku hanya kak Daniel, tapi sepertinya dia juga tidak terlalu berpihak padaku.
Huffft ...ya Allah. Ada aja masalah yang harus ku hadapi.
"Hati-hati Mami!",kata Frans. Usai mami menjauh, aku masuk ke dalam ruangan papi. Frans pun membuntuti ku.
Papi masih belum sadarkan diri. Matanya masih terpejam. Bahkan beliau masih di bantu alat pernapasan.
Aku memilih duduk di samping papi ku. Frans pun melakukan hal yang sama. Tiba-tiba saja tangan nya terulur akan menyentuh botol infus.
Frans tak jadi menyentuhnya justru tersenyum devil.
"Aku belum melakukan apa-apa lagi sayang!", katanya sambil berdiri di samping ku. Mataku menatap nya tajam. Jika selama ini aku tak pernah takut melawan musuh. Aku ingat saat musuh menembaki Febri saat itu, tanpa pikir apa pun aku menghajar musuh sampai tak berdaya.
Dia mengusap bahuku pelan seolah sedang menguatkan ku. Tapi aku malah merasa jika di memiliki maksud lain.
"Kembali lah padaku sayang!",bisik Frans di samping telinga ku. Tapi aku langsung bangun dan mendorongnya.
Setelah aku mendorong nya justru dia menarik ku dalam pelukannya. Wajah kami saling berhadapan.
"Cukup Frans! Hentikan semua omong kosong ini!", kataku dengan nada pelan tapi penuh penekanan. Dan aku berusaha melepaskan tangan nya dari pinggang ku. Sayangnya semakin aku berusaha melepaskan, jeratannya semakin kuat.
"Ini bukan omong kosong Amara. Aku mencintaimu, percaya lah!"
"Frans!"
__ADS_1
"Jangan berteriak sayang, nanti papi bangun."
Frans kembali tersenyum devil, menyeramkan!
Mata kami saling mengunci aku merasa dia akan melakukan hal lebih. Benar saja, dia mulai mendekatkan bibirnya ke bibirku. Tapi Alhamdulillah, aku berhasrat menghindar. Tapi dia tak mau kalah, dia sedikit menggigit daguku membuat ku tersentak dan ya.... terjadi lagi! Sebuah pemaksaan!!!!
Frans mendorong ku menjauh dari brankar papi tampa melepaskan tautannya. Apa kabar aku??? Semurah ini kah seorang Amara! Aku tidak membalas apa yang di lakukan. Aku cukup jijik dengan diriku sendiri!!!!
Usai puas dengan apa yang Frans inginkan, dia mengusap lembut bibir ku sambil tersenyum.
"Aku harap, ini hanya milikku. Dan hanya aku yang pernah menyentuh mu!", kata nya.
"Sayangnya tidak! Aku sering melakukan nya dengan Alby! Bahkan lebih dari ini!", kataku dengan menatap nya tajam.
Mendengar pengakuan ku, pelukannya mengendur. Dengan gerakan pelan, dia melepaskan tangan nya dari pinggang ku. Ada yang berbeda di wajah bule nya. Apa dia kecewa mendengar nya???
"Aku tahu kamu Amara! Tidak mungkin kamu melakukan hal lebih selain ciu***!", kata nya sedikit membentakku meski suaranya tak kencang.
Aku memalingkan wajah ku ke arah lain. Kini dia justru mengungkungku ke dinding.
"Terserah percaya atau tidak! Tapi kenyataannya seperti itu!",aku seolah memiliki keberanian.
Wajah nya yang tadi kecewa, sekarang berubah perlahan jadi tersenyum sinis.
"Selama kamu tak hamil anaknya, aku tak masalah! Yang pasti, hanya aku yang akan memiliki mu! Dan mari....kita buktikan! Apakah kamu benar-benar sudah pernah melakukannya dengan Alby? Atau aku menjadi yang pertama?",tanyanya sambil menunjukkan seringai jahat.
Mataku membulat! Dengan sekuat tenaga aku mendorong tubuh jangkung nya itu. Frans mundur beberapa langkah di hadapan ku.
"Jaga bicara mu!", hardikku.
Frans memasukkan tangannya ke kedua sakunya.
"Kenapa ? Kamu takut jika ternyata kamu ketahuan berbohong? Aku memang berharap aku lah yang pertama dan satu-satunya yang pernah menyentuh mu. Tapi jika memang dia yang sudah lebih dulu mendapatkan nya dari mu, aku tak masalah ! Yang penting, kamu menjadi milik ku?!"
Aku sudah tak sanggup berbicara apa lagi pada nya. Sekuat tenaga aku mendorong nya agar keluar dari kamar papi. Dan Alhamdulillah, aku berhasil mengeluarkan dokter gila itu!
Aku bersandar di belakang pintu. Mengusap dadaku yang masih terasa sesak! Ku pejamkan mataku, menghirup nafas dalam-dalam untuk sekedar menenangkan batinku yang kacau.
****
__ADS_1
Alhamdulillah bisa up lagi, semalam ketiduran 🤭. Semoga bisa diterima ya. Maaf kalau masih banyak typo dan ya....kurang sesuai dengan apa yang reader's kesayangan inginkan!
Makasih ✌️✌️✌️🙏🙏