Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 22


__ADS_3

Alby


Aku kembali ke ruangan ku. Azmi sendiri masih berkutat dengan pekerjaannya. Setelah menyalakan laptop ku lagi, aku memulai pekerjaan ku.


Beberapa saat kemudian, Azmi mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan ku.


"Maaf pak!"


"Iya, kenapa?"


"Ternyata rapat pemegang saham di percepat, karena beberapa di antara mereka ada yang ke luar negeri dan ada pula yang umroh. Bagaimana pak?"


"Gitu ya? Kayanya di rak Marsha ada daftar nama pemegang saham HS grup, kamu coba hubungi mereka. Jadwalkan ulang pertemuan ini!"


"Siap pak!", jawab Azmi.


Azmi bersiap keluar dari ruangan ku. Tapi setelah itu, dia berbalik.


"Maaf pak. Boleh saya tanya sesuatu?"


Aku mendongakkan kepala ku.


"Silahkan!", ujar ku. Azmi pun duduk di depanku. Kebetulan pekerjaan ku tak terlalu banyak.


"Maaf sebelumnya, tadi... kekasih bapak?"


Aku terkekeh pelan.


"Bukan lah! Kenapa, kamu naksir?"


Azmi menggeleng.


"Sepertinya saya lihat dia pakai gelang tanda nonis, benar?"


Aku menghela nafas ku dalam-dalam. Bahkan Azmi yang biasa tak pernah memperhatikan kaum hawa, dia bisa melihat gelang yang Amara pakai. Aku saja tak tahu.


"Kamu melihatnya?", tanyaku.


"Tanpa sengaja iya pak, saat beliau bertanya apakan boleh menemui anda. Dan kebetulan saya berada di bawah saat dia meletakkan kotak makanan di meja resepsionis."


"Oh...! Tapi...aku tak ada hubungan apa pun dengannya."


"Menurut saya, dia menyukai bapak!"


Aku tersenyum kecil. Bukan sombong, banyak yang berusaha mendekati ku bahkan banyak pengusaha yang mencoba menjodohkan putrinya untuk ku. Alasannya? Aku tampan dan mapan. Mereka tidak tahu saja kebenarannya seperti apa. Aku sama saja seperti para pekerjanya pada umumnya. Bedanya, jika gaji mereka kisaran tujuh sampai delapan juta aku bisa lima sampe enam kali lipatnya.


Itu untuk gaji ku sebagai pemimpin HS grup. Belum lagi fasilitas yang ku terima, untuk mengurus Nabil juga nafkah dari papa untuk Mak. Itu beda lagi. Dan ternyata itu sudah di atur oleh papa sebelumnya.

__ADS_1


Aku heran, dulu papa begitu ngotot ingin menghancurkan ku. Dia sudah berhasil memporak-porandakan pernikahan ku dengan Bia. Tapi di sisa hidup nya, dia berubah. Dan aku masih tetap tak percaya padanya begitu saja.


"Itu hak dia, Azmi. Sejauh ini aku belum tertarik untuk memikirkan ke arah sana."


"Apa anda sangat mencintai almarhumah istri anda, seperti saya mencintai almarhumah istri saya?", tanya Azmi lagi.


"Bisa kan Lo bersikap sebagai teman di saat kita berdua seperti ini? Jangan pakai bahasa formal, kecuali di depan orang lain. Misal staf atau klien. Gue udah terbiasa seperti itu dengan Marsha."


"Akan saya ...aku usahakan!", kata Azmi.


"Ga biasa ngomong Lo gue? Apa abdi jeng maneh?", tanyaku. Kami yang notabene sesama orang Sunda tentu saja tahu. Meski sama-sama Sunda, tapi ada beberapa kosakata yang berbeda tentunya.


"Era urang mah rek make Lo gue! Masih keneh daang lauk asin!", kata Azmi mulai mengeluarkan jokesnya. Aku tersenyum, ternyata dia tak sekaku itu.


(Malu saya kalo pakai Lo gue! Masih makan lauk asin juga)


"Piraku teh teu tiasa basa Sunda deui tos lila di Jakarta!",kataku.


(Kirain ga bisa basa Sunda lagi udah lama di Jakarta)


"Moal waka atuh pak!"


"Kayanya Lo lebih tua dua tahun dari gue?"


"Ya, tapi kan gue...gue asisten bapak!"


"Jangan atuh pak. Karunya si othor lamun loba damel terjemahan deui".


(Jangan dong pak. Kasian si othor kalo banyak bikin terjemahan lagi)


"Gue pikir, Lo tipe orang sangat serius Mi!", kataku.


"saya pikir bapak juga begitu. Apalagi selama ini, saya melihat bapak selalu ketus dan judes kalo menghadapi perempuan yang sebelumnya berusaha mendekati bapak."


"Gue juga sering dengar sendiri kok. Merasa sering bilang, ganteng-ganteng kok jutek. Apa gue ambil pusing? Ngga sama sekali?! Biar mereka menilai sendiri. Toh, mereka hanya sebatas kagum. Tak lebih dari itu."


"Tapi tidak semua di samaratakan kan pak? Buktinya Nona Amara bisa mendapatkan senyum dari anda. Beda dengan staf-staf anda yang perempuan."


"Mereka cuma caper. Kalo amara...gue ga enak sama bokapnya. Toh selama ini Amara baik-baik aja ke gue. Ga yang agresif mendekati gue seperti cewek-cewek aneh itu."


"Jadi karena...bapaknya nona Amara?", tanya Azmi.


"Heum, sejauh ini ya itu alasannya!"


''Yakin? Bukan karena ada sesuatu di antara kalian?"


"Gue ga ada hubungan apapun. Lo tahu, dia nonis. Gue ga mau menjadi penyebab dia

__ADS_1


pindah keyakinan. Kalo pun pindah keyakinan, gue harap itu karena keyakinannya sendiri."


@


"Ya, gimana juga kalo beda agama itu tidak baik pak. Sebelum perasaan itu beneran semakin dalam, lebih baik jangan di lanjutkan."


"Siapa juga yang mau ada hubungan dengan nya Mi? Ngga!"


"Sekarang mungkin belum pak, ga tahu waktu yang akan datang."


"Gue masih cinta sama Bia, Mi!"


Aku menceritakan semua yang sudah ku alami dari pernikahan ku dengan Bia sampai meninggalnya Silvy.


Azmi pikir, Alby masih sangat mencintai ibu dari anaknya. Ternyata justru ada wanita lain yang lebih dulu menguasai hatinya. Hati kecil Azmi cukup merasakan sedikit nyeri mendengar cerita apa yang Alby alami. Siapapun yang berada di posisi itu pasti akan merasa serba salah. Tapi... setidaknya Alby mengambil keputusan yang tepat. Andai dia mempertahankan Bia, pada akhirnya semua akan tersakiti.


"Lalu, dimana nyonya Bia sekarang?"


"Dia sudah menikah dengan abdi negara, yang tak lain adalah mantan kekasihnya sebelumnya dengan ku."


Azmi mengangguk paham.


"Udah kelamaan curhat, balik kerja gih! Makasih udah jadi teman curhat gue!"


"Sama-sama pak. Ternyata hari ini mata saya terbuka, anda tak sejutek yang anak-anak bilang selama ini."


"Hahaha itu terserah mereka, yang jelas saya masih membatasi diri untuk tidak terlalu dekat dengan lawan jenis."


"Iya pak, itu ga salah juga."


"Lo juga kenapa masih sendiri?"


"Sama, belum kepikiran juga pak."


Kami bertiga sama-sama melempar senyum. Satu, aku punya satu teman baru yang bisa ku ajak bicara.


"Oh iya, mulai besok Lo pakai mobil inventaris kantor aja!"


"Ngga usah pak. Saya punya motor kok!"


"Ga apa-apa. Nanti gue bilang sama anak HRD sama maintenance juga."


Azmi pun mengangguk.


"Baik pak, terimakasih. Saya akan menggunakan fasilitas itu besok. Karena hari ini saya pakai motor."


"Ya sudah, atur saja!"

__ADS_1


Azmi mengangguk. Setelah itu, kami sama-sama kembali sibuk bekerja.


__ADS_2