
Seto menerima ss dari Dimas. Dia pun segera membuat laporan tertulis untuk di ajukan ke instansi mertuanya. Beruntung mertuanya langsung menanggapi kasus itu karena sudah ada bukti yang kuat.
"Tapi kalian harus hati-hati ya To!",ucap mertuanya saat Seto berpamitan pada mertuanya yang sedang berdinas di polres.
"Insyaallah Yah!",jawab Seto. Barulah setelah itu ia menghubungi dua rekannya. Juga dokter Sakti yang sedikit banyak justru lebih tahu kondisi kesehatan korban dari kejahatan Frans.
Seto mencoba menghubungi Dimas untuk melakukan langkah selanjutnya. Karena mengirim berkas perkara ke negara luar membutuhkan waktu yang cukup lama. Frans WNA yang sebenarnya bisa saja sah menjadi warga negara ini meskipun status nya hanya sebagai pekerja di bidang medis atau perjalanan bisnis. Tapi sayangnya, banyak hal yang sudah Frans lakukan. Tindakan nya sudah merugikan banyak orang.
[Gue ke apartemen Mara deh kalo gitu To. Dari pagi Mara ga bisa di hubungi]
[Yakin Lo ke sana? Emang gak apa-apa?]
[Emang kenapa?]
[Dim, apa Anika ga cemburu kalo Lo deket-deket sama Mara?]
[Wes ah, ga penting bahas itu. Yang penting sekarang gue mau tahu kondisi Mara.Udah ya]
[Hem, iya. Kalo ada apa-apa hubungi gue sama yang lain!]
[Iya To!]
Dimas pun menjalankan kendaraan roda duanya menuju ke apartemen Amara. Tak lupa kali ini dia lebih safety. Jaket kulit, sarung tangan dan senpi yang memang di peruntukan baginya. Tapi ya, tentu saja di pakai secara bijak bukan untuk ajang pameran.
Berpindah ke si Aa ganteng. Sejak semalam dia resah memikirkan pujaan hatinya karena tak memberi kabar padanya. Di tambah dia juga tak membalas pesannya yang ia kirim tadi pagi. Niat hati ingin menjemput Amara untuk berangkat ke kantor bersama, tapi kenyataannya?
Alby pun tanpa pikir panjang langsung melesat menuju ke unit apartemen kekasihnya. Tak lupa orang-orang yang di suruh untuk mengawalnya pun sudah standby.
Beruntung jalanan tak terlalu macet, jadi kendaraannya bisa menyalip tanpa hambatan.
Ternyata mobil Alby sampai ke basemen bersamaan dengan motor Dimas yang Dimas naiki.
Kedua lelaki beda profesi itu sama-sama bertanya-tanya.
"Lo ngapain ke sini?",tanya Alby.
"Lo kok kesini?",tanya Dimas. Kebetulan keduanya bertanya di detik yang sama.
"Gue mau jemput Amara!", jawab Alby.
"Gue...gue juga mau mastiin keadaan Amara sih. Kalo emang dia mau berangkat sama Lo, ya gak apa-apa. Yang penting gue udah mastiin kondisi dia."
"Heum, terserah deh!",kata Alby sambil mengunci mobilnya. Keduanya pun berjalan menuju ke lift. Saat keduanya baru akan masuk lift, tanpa sengaja keduanya seperti melihat beberapa laki-laki yang berseragam hitam tergeletak berjejer di area parkir yang cukup tertutup.
"Hei? Mereka kenapa?",tanya Dimas. Dia langsung ingin mendekat, tapi Alby melarangnya.
"Jangan Dim, siapa tahu mereka itu....!",ucapan Alby terhenti saat tiba-tiba Dimas menutup mulutnya lalu menariknya untuk bersembunyi.
__ADS_1
"Buweeeh...tangan Lo bau banget Dim!", umpat Alby.
"Heheh maap, tadi sarapan sambel terasi! Udah diam, kita liat mereka siapa!",ujar Dimas.
Mereka berdua pun menguping pembicaraan orang-orang yang mencurigakan itu.
"Tuh bos bule ngasih apaan ke mereka ya? Kenapa mereka bisa tepar gitu aja? Padahal cuma kena goresan doang!",kata salah satu orang berpakaian hitam itu.
Hal itu cukup mengejutkan Dimas dan Alby. Cara yang Frans gunakan sama seperti yang ia gunakan pada papi nya Amara.
"Gue rasa, semacam racun apa gitu. Gila aja, itungan detik langsung tumbang. Ga bisa bayangin kalo itu terjadi sama kita!",sahut yang satunya.
Dimas bersiap untuk berdiri, tapi Alby mencegahnya.
"Jangan sekarang Dim! Tunggu dulu!"
"Lo ga mikirin Amara ya? Mereka bilang kaya gitu, itu artinya Amara berada dalam bahaya. Frans udah di sini!",sahut Dimas geregetan.
"Bukannya Lo udah bikin dia di blacklist ke sini? Kok dia bisa datang lagi?", tanya Alby bingung.
"Iya gue emang udah jegal dia, tapi dia itu banyak duit. Bisa aja masuk ke sini ilegal kan! Mending sekarang gue hubungi mas Sakti. Ada bagusnya juga Prof Surya menemukan penawaran nya!",kata Dimas.
"Beneran? Alhamdulillah kalo gitu!",kata Alby. Keduanya kembali diam saat orang berpakaian hitam itu membawa seseorang lagi. Jadi total laki-laki yang tergeletak di sana sekitar tujuh orang. Dan orang yang terakhir di turunkan di sana memakai tanda seperti yang Billy pakai.
"Tunggu! Kayanya gue kenal tanda pengenal itu!",kata Alby. Dimas mengernyitkan alisnya. Sedang Alby membidik objek yang di maksud lalu mengirim pada Billy yang sebenarnya standby di depan gedung apartemen.
Tak butuh waktu lama, Billy langsung merespon. Dia mengatakan jika orang yang di foto adalah anggotanya. Mereka berasal dari organisasi yang sama, organisasi yang menaungi para bodyguard sewaan macam mereka tentunya.
Begitu chat yang Billy kirim. Tanpa Alby tahu, Billy mengerahkan semua anak buahnya menuju ke tempat yang di maksud.
"Mau sampai kapan kita di sini?",tanya Dimas.
"Tunggu orang-orang gue datang Dim. Sabar!",kata Alby dengan suara berbisik.
"Gue ga sabar **go! Gimana kalo terjadi apa-apa sama Mara. Sebenarnya Lo cinta ngga sih sama dia? Atau mungkin jangan-jangan Lo cuma main-main sama Mara? Iya?''
"Ngga Dimas. Gue serius! Tapi beneran, tunggu anak-anak datang. Gue tahu Lo anggota, Lo hebat. Tapi kita cuma berdua. Gimanapun kita kalah jumlah. Mereka aja yang biasa jadi bodyguard bisa tumbang dengan mudah. Gimana kita?", kata Alby. Dimas melototkan matanya.
"Maksudnya gue Dim!", kata Alby. Dimas tak lagi merespon. Tiba-tiba saja sekelompok pria berbadan sangar menghampiri para lelaki yang tergeletak. Di saat yang sama, dua lelaki yang dari tadi mengangkut para korbannya pun terkejut. Mereka dilumpuhkan hanya dengan sekejap mata. Entah berapa puluh orang yang Billy bawa.
"Lo telpon Sakti deh! Bilang ke dia kalo ada orang yang udah kena dampak penemuan Frans. Dan bilang, bawa ambulans ke sini!",pinta Alby pada Dimas.
Dimas pun gercep. Tidak hanya Sakti, dia juga menghubungi Febri serta Seto. Dimas meminta Seto untuk membawa pihak berwajib. Karena meski sama-sama abdi negara, kedua instansi itu memiliki kewenangan yang berbeda.
Alby menghampiri Billy.
"Pak Alby, bagaimana keadaan anda, baik-baik saja bukan?",tanya Billy.
__ADS_1
"Saya baik-baik saja. Tapi apa yang akan kita lakukan. Aku rasa Mara dalam bahaya!",kata Alby.
"Biarkan kami menyisir para pengawal musuh pak!",kata Billy. Dia pun mengerahkan anak buahnya untuk segera menuju ke tempat yang di maksud.
Suasana apartemen mendadak ramai oleh sekelompok orang-orang berbadan kekar dan berwajah bengis itu. Penghuni yang awalnya akan keluar dari unit yang berlantai sama dengan unit Amara pun memilih untuk kembali ke dalam.
"Demi keselamatan kalian, silahkan masuk ke dalam unit kalian masing-masing! Jika semua sudah kondusif, kami akan mengirim informasi untuk kalian!",titah Billy. Mereka semua pun menuruti apa yang Billy katakan.
"Lo pake bodyguard?",tanya Dimas.
"Aspri gue yang nyuruh. Ternyata agen bodyguard gue dan Amara satu menejemen."
Dimas hanya mengangguk. Orang-orang Frans sudah berhasil di lumpuhkan. Tersisa Mario dan seorang rekannya yang berdiri di depan pintu unit Amara.
"Menyerah lah!", Billy menodongkan pistol di kepala Mario.
Alby meneguk ludahnya kasar. Dia pikir, adegan seperti ini hanya ada dalam film action. Tapi saat ini ia melihat di depan matanya. Dia tak menyangka jika agensi bodyguard itu nyata!
Dimas melihat ketakutan di wajah Alby. Iseng nya pun muncul di saat yang tidak tepat.
"Ngapa Lo? Takut?",bisik Dimas. Alby langsung menoleh.
"Ga! Heran aja! Kenapa suasana jadi mencekam begini, bukannya ini genre romantis?",tanya Alby.
"Udah, nurut aja apa yang dia tulis! Ngga usah repot mikir By!"
"Heum, iya. Gue rasa Amara di dalam. Semoga Frans tidak melakukan hal buruk pada Amara!", kata Alby.
"Jatuhkan senjata Lo sekarang, atau timah panas ini bakal nembus jantung Lo!", ancam Billy. Tapi bukannya menyerah, Mario justru memberi perlawanan pada Billy. Alhasil ketua bodyguard itu saling baku hantam. Ternyata Mario tak mudah di tumbangkan seperti anak buahnya.
Saat anak buah Billy akan membantu, Billy melarangnya. Tapi akhirnya, Mario pun kalah telak oleh Billy.
Sekarang semua mata tertuju pada pintu apartemen. Tiba-tiba terdengar suara letusan senjata api dari dalam unit Amara.
Dooorrr!!!!
Dimas dan Alby membulatkan matanya. Keduanya berhamburan menuju pintu. Alby yang tau kode akses pintu ruangan Amara pun langsung menekan kode tersebut.
Pintu langsung terbuka, Alby dan Dimas pun terkejut dengan apa yang di lihatnya.
"Amara!!!!",teriak Dimas dan Alby bersamaan.
******
🤭🤭🤭🤭 sabar pemirsahhh... ternyata nulis action ada rasa manis-manisnya gitu ya 🤣
Mon maap kalo ada yang ga berkenan di bagian ini. Sabar....semua ada waktunya untuk happy kok heheheh....
__ADS_1
Makasih ya...🙏🙏🙏🙏
Semoga masih ada yang penasaran dengan kelanjutannya 🤗🤗🤗