Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 157


__ADS_3

Dua pria tampan yang bergelar duda beranak satu kini sedang menemui kliennya di sebuah ruang pertemuan hotel bintang lima.


Alby dan Azmi cukup dikenal kalangan pebisnis muda. Kenapa? Karena kejutekan mereka jika ada perempuan yang mencoba menggoda dua tampan itu. Tapi itu hanya salah satunya, yang jelas dua pria tampan yang beretnis Sunda itu memang cukup di perhitungkan dalam mengelola bisnis.


Alby yang tak berpendidikan tinggi, akhirnya bisa melanjutkan perusahaan milik mantan mertuanya. Awalnya banyak yang menganggap jika dirinya tak mampu, tapi ia sudah membuktikannya. Apalagi sejak ia di dampingi aspri semacam Azmi. Sebelas dua belas sikap dan tingkahnya dan juga....heum...wajah tampannya.


"Gue... trauma sebenarnya kalo ada meeting di hotel begini!", bisik Alby pada Azmi. Azmi memicingkan matanya.


"Trauma apaan? Bukannya gara-gara tempat begini, situ jadi berlanjut sama Amara?", sahut Azmi tanpa di ayak. Alby langsung melengos.


Yups, berawal dari jebakan rekan bisnisnya Alby harus berakhir 'menyalurkan' dengan Amara meski tak sampai kelepasan. Tapi kan...mata gadis itu sudah ternodai oleh sesuatu yang tak boleh ia lihat sebelum sah.


"Lo kalo ngomong bisa ngga sih jaga perasaan gue dikit Mi!", sahut Alby ketus.


"Gue ngomong kenyataan kali!", Azmi tak mau kalah.


Obrolan absurb mereka berakhir saat kliennya datang menyapa. Seperti biasa, mereka memasang wajah cool nya.


Keduanya pun sibuk dan fokus dengan meetingnya. Berbeda dengan kedua pria tampan yang masih bicara soal pekerjaan, gadis tinggi semampai yang tak lain adalah Amara sudah berada di kantor sang pujaan hati.


Dia tak bertanya lebih dulu pada Alby apakah dia ada di kantor atau tidak. Tahu-tahu gadis itu sudah berada di sana.


"Maaf nona Amara, pak Alby dan pak Azmi sedang keluar!", kata resepsionis.


"Oh, begitu ya. Sudah lama perginya?"

__ADS_1


"Menjelang siang tadi Nona!"


Amara pun mengangguk pelan. Dia mencoba menghubungi Alby.


[Assalamualaikum A]


[Walaikumsalam, aku lagi ada meeting di hotel Xxx. Ada apa?]


[Masih lama ngga? Aku udah di kantor mu, bawa makan siang]


Amara mengangkat kantong makanannya sedikit lebih tinggi.


[Astaghfirullah, Aa lupa. Kamu udah janji mau bawa makan siang ya? Aduh, gimana ya? Aa ngga tahu beres meeting jam berapa]


[Maaf ya sayang???]


[Iya A. Ya udah aku balik deh kalo gitu, assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Amara memasukkan kembali ponselnya lalu berpamitan pada resepsionis Alby yang ramah.


Saat menuruni tangga loby, tiba-tiba bahunya di tabrak seseorang. Alhasil, makanan yang ada di kantong makanan pun terjatuh.


"Norak banget sih? Hari gini masih bawa rantang ke kantor elit begini!", sindir si penabrak yang tak lain Bianca.

__ADS_1


Amara menghela nafas pelan. Rasanya enggan sekali berurusan dengan bocah tebal muka ini.


Amara pun berjongkok hendak membersihkannya, tapi ada sekuriti dan cleaning servis menghampiri Amara.


"Biar saya saja nona!", kata cleaning servis.


''Makasih ya mas?!", kata Amara pada cleaning servis.


Bianca kesal karena merasa di cuekin oleh Amara. Gadis yang belum genap dua puluh tiga tahun itu melipat kedua tangannya di dada.


"Alby tuh kelewat ganteng kalo di sandingkan sama Lo, perawa* tua!"


"Astaghfirullah, mulut kamu benar-benar seperti seorang gadis yang tak pernah merasakan bangku sekolah ya!", ucap Amara pada akhirnya.


Dia tahu, dia itu perawa* tua. Tapi ngga perlu di tegaskan juga kan???? Memang siapa yang mau menyendiri terus.


"Enak aja! Mba Amara, gini deh aku kasih tahu. Mantan istri pertamanya mas Alby aca cantik, imut-imut, almarhumah istri nya juga ngga kalah cantik. Beda sama situ! Udah badan otot semua, ckkkk....", Bianca menggelengkan kepalanya sambil tersenyum mengejek.


Amara memperhatikan bentuk badannya. Apa yang salah? Perasaan hampir semua wanita ingin postur tubuhnya seperti dia. Tidak kurus, tidak gembul, tapi cukup tinggi untuk standar rata-rata wanita Indonesia.


"Kamu tahu, ucapan mu termasuk bullying, bodyshaming? Saksinya banyak?!", Amara menepuk bahu Bianca yang mencebik bibirnya.


Amara pun kembali ke kantornya. Di hadapan Bianca tadi, dia bisa seolah tak peduli. Tapi di saat sendiri???


Benar kah dia tak pantas bersanding dengan sosok Alby? Atau Bianca hanya ingin membuat dirinya terpancing emosi????

__ADS_1


__ADS_2