
Amara
"Apa-apaan ini Mara?", papi membentakku cukup keras.
"Pi...!", Mami mencoba mengingatkan papi agar tak terlalu marah.
"Cukup Mi! Jangan belain anak bungsu mu ini! Sudah cukup kesabaran papi menghadapi anakmu ini!"
"Papi, tapi bagaimana pun juga itu pilihan Mara ,Pi!"
"Mami! Kurang ya papi kasih kebebasan buat Amara? Buat apa di harus ikut ke perbatasan. Itu bukan tugas yang harus dia tangani. Dia mengajukan diri, Mi. Bukan karena di tunjuk seperti sebelum sebelumnya!"
Aku menjadi penyebab pertengkaran kedua orang tua ku, lagi! Tapi...ini sudah cita-cita ku sejak kecil. Menjadi abdi negara adalah keinginan ku, harusnya mereka sudah tahu itu!
"Mara!", bentak papi. Aku sudah biasa menghadapi situasi seperti ini. Bukan pertama kalinya. Bagaimana pun juga, aku masih jadi tanggung jawab mereka karena aku memang belum menikah. Tapi aku merasa kemarahan papi kali ini sungguh lebih dari biasanya.
"Papi...Mara hanya...."
"Hanya apa? Apa kamu bertengkar dengan Alby, kamu memilih untuk menjauh dari laki-laki itu? Begitu?"
"Papi, kami ngga ada hubungan apa-apa!"
"Kalo kalian tidak ada hubungan apa-apa, untuk apa dia sampai ke sini buat mencari kamu? Dia bilang ada yang ingin dia jelaskan ke kamu? Itu artinya kalian sedang bermasalah, ya kan?"
Alby ke sini? Kapan? Dia senekat itu!???
"Alby ke sini, Pi?"
"Ya!", jawab papi singkat.
"Dia... dia bilang apa, Pi, Mi?", tanyaku pada kedua orang tua ku.
"Dia tidak menjelaskan apa pun, dia hanya ingin menjelaskan padamu!", suara papi mulai melunak.
Aku tertegun beberapa saat! Harusnya aku bahagia bukan, Alby mencari ku bahkan sampai ke rumah orang tuaku? Tapi, otakku masih waras. Untuk apa dia mencari ku jika nantinya hanya menjelaskan bahwa dia tak pernah bisa menerima perasaan ku????
"Papi tidak akan memaksa mu lagi untuk ikut keyakinan papi, seperti kakak-kakak mu. Itu hak pribadi kamu! Kepercayaan kamu! Tapi satu hal yang papi harus egois dan papi harap kamu menuruti keinginan papi untuk melanjutkan bisnis papi!"
Keinginan papi tidak muluk-muluk. Dia hanya ingin ada penerus bisnis keluarga kami. Bukan tidak pernah papi berusaha menjodohkan ku dengan anak rekan bisnisnya. Tapi aku yang selalu menolak karena saat itu hati ku sudah terpaku pada Febri. Dan sekarang? Sekarang perasaan ku terombang-ambing tak jelas oleh sesosok duda bernama Alby.
Papi sepertinya mendukung ku dengan Alby, apa dia tahu bagaimana masa lalu Alby? Bagaimana jika papi tahu jika Alby pernah gagal berumah tangga sebelum menikah dengan almarhumah istri nya? Bahkan mantan istrinya adalah istri dari laki-laki yang selama ini ku kejar??
"Bukan soal keyakinan kok Pi. Ini murni ada hal yang tidak bisa Mara cerita kan!"
"Jadi benar, kalian bermasalah? Kenapa harus menghindar? Kenapa tidak di selesaikan?", kali ini Mami yang bertanya.
"Ngga perlu Mi."
Sepasang suami istri itu hanya menghela nafas panjang menghadapi keras kepala putrinya itu.
"Mara janji, ini misi terakhir Mara, Mi...Pi! Setelah dari sana, Mara akan mengundurkan diri!", kataku.
Mungkin, dengan begitu kedua orang tua ku akan merasa bahagia. Perjalanan menjadikan anggota militer, harus segera berakhir.
"Benarkah? Setelah mengundurkan diri, kamu mau gantiin Papi?"
Aku mengangguk."Iya , pa. Apa pun itu asal mami dan papi bahagia. Tapi tolong....kali ini saja, ijinkan Amara pergi!"
"Tapi nak, disana bahaya sayang!", kata Mami.
"Ini bukan yang pertama, Mi. Mami tenang saja. Mara akan jaga diri baik-baik, Mara akan kembali buat Mami dan Papi!"
Rahardi dan Kirana tak bisa melarang apa yang putri nya inginkan. Yang penting, saat ini putri bungsu nya itu sudah bersedia mengganti kan posisi Rahardi.
"Ya udah, lanjut besok lagi saja packing nya. Papi sama mami istirahat dulu."
__ADS_1
"Iya , Pi, Mi!"
Mami dan papi sudah keluar dari kamar ku. Aku kembali mengisi koper ku. Enam bulan lamanya aku akan berada di sana. Semoga saja dengan kurun waktu itu, aku perlahan bisa membuang jauh perasaan ku pada Alby. Aku pernah sakit dan patah hati karena Febri dan Frans. Tapi entah kenapa sekarang rasanya lebih sakit! Apa karena aku terlalu berharap????
Koper dan ransel ku sudah siap. Besok siang keberangkatan kami menuju ke perbatasan via bandara Halim Perdanakusuma.
Semoga saja kali ini aku tak lagi salah mengambil keputusan.
.
.
Alby
Aku sedang bermain dengan Nabil yang sudah mulai lancar berjalan bahkan bermain dengan semua mainannya. Sengaja ku buat sebuah tempat yang aman untuk dia bebas bermain apa pun tanpa takut membuatnya terluka. Tapi bukan berarti membiarkan nya begitu saja, teh Ani masih terus mengawasi Nabil.
Dan sekarang ini, aku berada di dalam ruang bermain Nabil. Bayiku sudah mulai tumbuh besar.
"Papapapp!", mungkin Nabil sedang memanggil ku. Aku tersenyum dan menerima mainan yang dia bawakan.
"Nabil!", gantian aku yang memanggilnya. Dia yang sedang bermain pun menoleh padaku. Dia kembali menghampiri ku. Aku memeluk dan mengecup pipi chubby nya.
Rasa penat dan lelah karena bekerja seolah sirna jika aku sedang bersama Nabil. Beruntung Nabil anak yang kuat. Dia jarang sekali sakit, Alhamdulillah. Mungkin dia paham, dia cuma punya papa yang sok sibuk dengan urusannya sendiri. Atau juga...teh Ani, Mak dan teh Mila mengurus Nabil dengan baik.
"Mak perhatikan, maneh teh mukanya suntuk terus sejak seminggu ini? Aya naon Jang?", tanya Mak sambil memberikan botol susu Nabil. Nabil dengan riang menerima botol susunya.
Mak begitu peka dengan kondisi ku. Mungkin karena dia yang sudah mengurus ku sejak dulu.
Aku menghela nafas ku sambil memangku Nabil yang sedang minum susu dengan botolnya. Nabil memegang sendiri botolnya, tapi matanya tak lepas menatap ku.
"Kalo ada apa-apa cerita atuh Jang! Jangan di pendam sendiri. Sudah banyak hal yang maneh pikirin. Jangan menyimpan masalah sendiri! Cerita atuh ke Mak!"
"Alby ga apa-apa Mak!"
"Benar ngga mau cerita sama Mak?", tanya Mak lagi.
"Bingung kenapa? Cerita sama Mak, barang kali Mak bisa bantu?"
"Ada perempuan yang awalnya cukup dekat sama Alby Mak. Dari sikap nya, Alby tau dia suka sama Alby. Waktu itu, Alby langsung tembak pertanyaan sama perempuan itu soal perasaan nya ke Alby!"
Aku mengambil jeda nafas sebentar.
"Dia justru menjawab dia suka sama Alby, Mak. Padahal, Alby mah udah nyaman berteman sama dia."
"Lalu?", tanya Mak. Aku menoleh ke Mak. Saat ku lihat ke pangkuan, ternyata Nabil sudah terlelap padahal baru bada Isya.
"Mak! Mak tahu kan, Alby teh duda. Bahkan duda dua kali yang gagal menjadi suami yang baik. Buat Bia dan buat Silvy juga. Alby tidak mau menyakiti perempuan lagi, termasuk...Amara!"
"Jadi, perempuan itu namanya teh Amara?"
Aku mengangguk.
"Gareulis mereun? Namina ge geulis!"
(Cantik ya? Namanya aja cantik)
"Cantik mak. Dia... seprofesi sama Febri. Bahkan...dia dulu sempat mengejar Febri. Tapi setelah Febri nikah sama Bia, dia udah menyerah."
"Tapi maneh yang masih berharap neng Bia mau kembali sama neng? Memangnya teh maneh ngga belajar dari kesalahan sebelumnya? Pasti sudah kan? Tidak mungkin maneh akan mengulangi kesalahan yang sama."
Aku diam.
"Jang, Bia sudah bahagia sama Febri. Maneh juga harus bahagia melihat Bia bahagia. Semua sudah berubah Jang. Beri kesempatan hati maneh buat membuka lembaran baru! Jangan pernah berharap Bia mau kembali sama maneh lagi jang. Mak tahu, ini semua berawal dari mak. Andai dulu Mak ngga harus di operasi pasti....!"
"Ngga mak. Itu bukan salah Mak. Alby yang salah. Tidak jujur dari awal. Tidak mau menerima bantuan Bia. Mak jangan salahnya diri mak. Bagaimana pun juga semua yang terjadi adalah kesalahan Alby sendiri. Makanya...Alby takut, Alby trauma Mak kalo harus membuka hati untuk perempuan lain, termasuk Amara."
__ADS_1
"Tapi...maneh kepikiran sama Amara kan?",tanya Mak.
"Mak...!"
"Jangan bohongi perasaan sendiri Jang."
"Tapi kami berbeda Mak!"
"Beri tahu Mak? Apa yang membuat maneh seperti sekarang?"
"Dia masih gadis, dia juga non muslim Mak. Alby tidak ingin mengambil dia dari Tuhan nya hanya karena Alby. Dia juga berasal dari keluarga terpandang. Sedang Alby? Alby duda dua kali. Mana sepadan Mak?"
Mak Titin mengusap wajahnya sesaat.
"Tidak ada istilah orang mengambil seseorang dari Tuhannya Jang. Kalau memang dia memutuskan untuk ikut dengan mu atas kemauannya sendiri, itu tidak salah. Yang salah adalah kamu memaksa nya mengikuti mu sebagai syarat untuk bersama mu. Itulah yang salah."
"Tapi kami terlalu berbeda Mak!"
"Ya sudah, pikir kan baik-baik. Apa pun keputusan maneh, Mak akan dukung. Mungkin maneh masih butuh waktu untuk melupakan Bia. Tapi, jangan pernah berharap Bia akan kembali padamu jang. Biar kan dia bahagia, jangan ganggu lagi!"
Mak pun meninggalkan ku dengan Nabil. Ponsel yang ku letakkan di samping ku berdering.
Azmi calling
Tumben nih bocah telpon jam segini? Perasaan kerjaan udah beres semua.
[Assalamualaikum Bos]
[Walaikumsalam]
Aku menjawab lirih karena ada Nabil di pangkuan ku.
[Mau dengar kabar terbaru ngga?]
[Apaan sih? Ngga usah basa-basi!]
Azmi terkekeh mendengar ku yang mulai sewot tapi sedikit berbisik. Dia tahu jika aku sedang bersama Nabil.
[Besok siang, Amara berangkat ke perbatasan. Via Halim Perdanakusuma! Mau usahain biar dia gagal berangkat kagak? Kemaren-kemaren di samperin ke rumah, ga ketemu kan?]
[Dapat info dari mana Lo?]
[Dari orang yang gue percaya lah. Ga penting Lo tahu siapa orangnya]
[Ckkk?!]
[Hahaha udah, ngga usah sok ga peduli. Besok kerjaan gue yang handel. Sebelum ke pangkalan, dia bakal apel dulu di kantor nya. Temuin gih! Dari pada telat, yang ada Lo nyesel sampe ke ubun-ubun!]
[Gue...nemuin dia di sana gitu?]
[Heum! Kenapa tidak?]
[Gak ah! Malu kali!!!]
[Terserah sih! Gue udah berbaik hati lho kasih infonya. Apalagi handel kerjaan!]
[Malu gue, Azmi! Di sana pasti banyak orang. Gimana kalo Amara nyuekin gue?]
[Hahahaha!!! Lo??? Takut di cuekin? Ga sadar selama ini nyuekin orang? Kemana aja bos? Pernah mikirin ga, mereka yan Lo cuekin, bahkan Lo ocehin pake kata-kata judes Lo? Hallo??? Karma is real, Bos!!! Dah lah, Assalamualaikum!]
Azmi memilih untuk menyudahi panggilan telepon nya dari pada menerima umpatan dari atasannya itu.
Si***n nih bocah! Untung temen!
Aku menghela nafas. Apa sebaiknya memang aku temui Amara besok? Urusan dia mau dengerin penjelasan ku atau tidak, yang penting aku sudah menyampaikannya.
__ADS_1
Jika memang dia tetap akan berangkat, itu keputusan yang dia ambil. Aku tidak akan memaksa nya untuk memahami posisi ku.Kami tak pernah ada hubungan apa pun sebelumnya. Hanya saja, harus ada yang di luruskan di sini. Tentang kenyataan, tentang perasaan dan ke-sem-pat-an!