Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 77


__ADS_3

Amara


Alby masih diam, tak kunjung menjawab pertanyaan ku sampai aku lelah sendiri. Ku hela nafas perlahan dan setelah itu melipat laptop ku.


"Lupakan! Anggap saja aku tak pernah bertanya!"


Tapi Alby menarik tanganku. Dia membuat ku berhadapan dengannya. Bahkan kedua tangannya sudah mengunci tubuhku di kanan kiri yang bersandar di meja.


"Kenapa kamu selalu seperti itu? Selalu memutuskan untuk 'lupakan' sesuatu?", tanya Alby tepat di depan wajahku. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Semakin ku lihat wajahnya, kenapa dia semakin tampan.


Ya Allah, kenapa engkau ciptakan lelaki setampan ini? Bagaimanapun bisa seorang Bia melupakan sosok tampan ini? Astaghfirullah....


Aku langsung memalingkan wajah ku agar tak berhadapan langsung dengan nya, tapi dia menarik daguku untuk kembali menatapnya.


"Mungkin kamu sudah mendengar dari Bia. Aku bukan lelaki yang peka. Jadi, bicara lah pada ku apa yang kamu mau dan apa yang kamu rasakan!", bisik Alby pelan sambil menatap mataku.


"Bisa tidak, posisi kita tak seintim ini?", tanyaku. Aku merasa tubuhnya terlalu menempel padaku. Perlahan, ia menjauhkan tubuhnya dari ku.


Aku menarik nafas lega. Bukan aku tak ingin menatap lekat lelaki tampan ini, aku hanya takut khilaf menyentuh nya sembarangan.


"Jadi, mau kamu kita bagaimana?",tanya Alby lagi. Aku menautkan kedua alisku.


Dia selalu begini! Dulu, dia langsung menembak ku dengan pertanyaan apakah aku menyukainya. Dan sekarang dia melakukan hal yang sama hanya berbeda pertanyaan!!!


Aku mendengus kesal karena pertanyaan itu. Dengan sedikit kasar aku menyimpan laptop ku. Tapi tangannya meraih tangan ku lagi.


"Kamu mau, kita pacaran begitu?",tanya Alby.


Hiiiihhhh...nih laki kok gini amat? Dulu gimana dia nembak Bia sih? Padahal aku sering mendengar mulut nya berbicara tentang dirinya yang masih memiliki rasa pada Bia, beberapa waktu yang lalu tentunya.


"Apa sih! Udah lah, lupain!",aku merapikan ransel laptop ku. Setelah itu aku menghubungi Nada.


[Nada, nanti ambil ransel laptop di ruang meeting ya!]


[Siap Nona!]


Aku memasukan ponsel ku ke dalam blazer. Tapi sedetik kemudian, Alby meraih tangan ku.


"Aku tidak ingin kita berpacaran Amara!",kata Alby. Kecewa? Tentu aku kecewa dengan pernyataan itu. Benar kan? Aku gampang baperan dan kegeeran??!!!


Dia memegang kedua bahuku. Menatapku dengan pandangan yang teduh.


"Aku tak ingin ada istilah berpacaran di antara kita. Karena apa? Kita bisa putus sewaktu-waktu. Dan aku tak mau itu!", kata Alby masih dengan menatap ku.


Aku membalas tatapan itu.


"Aku menginginkan hubungan kita yang sah. Bukan seperti para remaja yang bisa putus nyambung semaunya. Lagi pula...memang kamu siap kalau...Azmi bakal terus menceramahi kita?", tanya nya sambil tersenyum.

__ADS_1


Aku masih tak paham dengan ucapannya. Jadi, maunya gimana?


"Mungkin ini terlalu cepat, tapi...bisa kah kita menikah saja?",tanya Alby.


Aku ternganga tak percaya. Apa dia sedang melamar ku? Oh ya Allah...apa aku mimpi?????


Puk...puk...puk...


"Amara...Mara!", panggilan Alby menyadarkan ku.


"Heuh?", aku sedikit terkejut.


"Kenapa?"


"Ngga!"


"Oh, ya udah kita jalan!",ajak Alby menggandeng tangan ku.


"Tunggu By!", aku menghentikan langkahku.


"Iya?", tanyanya.


"Soal tadi...???", tanyaku menggantung.


Alby mengusap kepala ku.


Aku terkejut mendengar kalimat nya. Jadi....dari tadi hanya khayalan ku??? Astaghfirullah!!!?


"Langsung ke rumah sakit?",tanya Alby.


Aku mengangguk pelan. Sungguh aku bingung! Tak bisa membedakan mana yang khayalan dan nyata tadi????


Tok...tok... pintu di ketuk masuk lah Nada yang akan mengambil ransel laptop ku.


Kalau aku hanya menghayal, lalu bagaimana bisa tiba-tiba Nada di sini??


"Kamu kenapa?",tanya Alby saat kami menuju ke lift.


"Heuh? Nggak!", jawabku.


Otak...oh otak...ini kenapa??? Aku memukul kepala ku pelan. Tapi Alby meraih tangan ku agar aku tak memukul nya lagi.


"Ini kepala di fitrahin, jangan di pukul sembarangan!",kata Alby.


Oh ya Allah, aku malu sekali sudah berkhayal sejauh itu!


Alby menatap ku dengan senyuman khasnya. Apa dia tahu yang aku pikirkan!!!

__ADS_1


Thor? Jadi kejadian yang real yang mana? Tanya Amara pada mamak'e???


😆😆😆😆😆


Di lain sisi...


Sakti sedang sibuk dengan penelitiannya. Tentu tanpa sepengetahuan dokter Frans. Tapi tetap saja ia merasa was-was. Sakti merasa sedang dalam situasi seperti di cerita-cerita novel yang sering ia dengar dari Bina, istrinya. Tentang penelitian, mafia, psikopat, dan hal random lainnya yang sering Bina katakan saat pillow talk.


Tapi saat ini, dia benar-benar sedang menghadapi tantangan barunya. Dia sedang meneliti tentang 'sesuatu' yang baginya dan juga bagi klien merupakan sesuatu yang ganjil.


Sakti tidak melakukan penelitian di lab rumah sakit. Ingat, dia spesialis jantung. Bukan analis kesehatan atau Laboran. Dia tetap membutuhkan rekannya yang tentu saja harus menjaga kerahasian pasien nya, dan....bisa dia percaya.


"Bagaimana Prof?",tanya Sakti pada rekannya yang sudah bergelar profesor itu.


"Ini... belum pernah saya temukan dok!",kata profesor Surya. Sakti menautkan kedua alisnya.


"Maksudnya?"


Prof. Surya menjelaskan secara rinci bagaimana bisa sebuah atom atau bagian terkecil pada sebuah unsur bio, bisa masuk ke dalam darah pasien. Dan bagaimana proses masuk ke dalam tubuh si pasien yang jika di teliti justru tidak dari unsur makanan????


Penjelasan profesor yang bagi sakti saja sulit untuk di cerna, bagaimana bisa ia sampai kan pada keluarga Amara?


"Perlahan, atom itu bisa merusak jaringan syaraf pasien. Tapi, saya sendiri tidak tahu bagaimana cara mencegah nya!",ujar Prof. Surya.


Atomnya itu....apa? Sejenis virus atau apa????


"Apa...ada kemungkinan ini... penemuan dari luar negeri Prof?",tanya Sakti. Prof Surya menoleh.


"Dari luar negeri?", tanya nya. Aku mengangguk.


"Tapi saya juga tidak punya bukti untuk menunjuk seseorang tersebut. Hanya saja, saya mencurigainya", kata Sakti.


"Saya akan membuat eskperimen dengan sampel yang sudah kita teliti tadi. Jika ada hasil nya nanti, saya akan hubungi dokter Sakti!", prof. Surya menepuk bahu Sakti.


"Terimakasih, Prof! Kalau begitu, saya permisi. Tolong kabari apa hasilnya ya Prof!"


"Pasti?!",kata Prof. Surya.


Sakti pun meninggalkan lab milik prof. Surya. Dia masih belum bisa menyimpulkan hasil dari penelitian nya dengan prof. Surya pada keluarga Amara.


Sakti hanya berharap, jika pasiennya akan membaik. Sekali pun itu bukan orang tua Amara. Dan Sakti berharap, tidak akan ada kasus seperti ini lagi.


****


Maapkeun yak...mamak kurang begitu paham kalo soal sains dan sejenisnya 🙈 semoga bisa di pahami 🙏🙏🙏


Bacaan mamak jaman esde paling banter majalah bobo & semua judul Lima Seka*** by Enid Blyton. Ketara kan umur mamak berapa sekarang???? 😆😆😆😆 Bahkan mungkin sebagian reader's belum lahir 🤭 judul nya mah sudah 30++++

__ADS_1


__ADS_2