Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 192


__ADS_3

"Mi, Lo yakin sama yang Lo omongin barusan?", tanya Alby.


"Yakin lah!", jawabnya santai.


"Ini menikah Lo Azmi!", kata Amara turut meyakinkan seperti suaminya.


"Iya gue tahu. Emang kenapa sih? Ga dukung gue banget buat menjalani hubungan yang halal?", tanya Azmi.


''Bukan gitu Azmi Abdullah bin Abdulaziz!", sanggah Alby.


"Gini maksudnya Mi, Lo baru dapat restu dari abahnya Nur. Terus... tiba-tiba Lo mau nikahin dia gitu aja?", tanya Amara lagi.


"Kaya Lo sendiri nikahnya ngga tiba-tiba aja sih?!", sindir Azmi balik.


"Ya...tapi kan gue....!", kalimat Amara menggantung setelah Azmi menyela nya.


"Maaf-maaf kata ya! Gue nikah, murni karena pengen ibadah. Ga muna gue. Gue lelaki normal, gue masih muda. Wajar jika gue masih punya hasrat sama lawan jenis. Dari pada gue berbuat yang 'iya-iya' kaya Lo berdua kenapa ga cari jalan yang halal aja? Ya kan? Toh selama gue sendiri lebih dari dua tahun ini, gue bisa jaga diri!", papar Azmi panjang lebar.


Amara dan Alby di buat terperangah karena ucapan frontal Azmi barusan. Azmi menyindir mereka tanpa tendeng aling-aling. Ga peduli apa kah sepasang suami istri itu tersinggung atau tidak.


"Kok diam? Apa yang gue bilang, fakta kan?", tanya Azmi.


Plukkk! Alby melempar tisu yang sudah dia remas menjadi bulatan kecil.


"Omongan Lo emang benar, tapi ngga seharusnya lo buka aib kita juga!", tukas Alby.


"Hahaha... astaghfirullahaladzim, maafkan saya pak bos. Kalau sudah membahas kejujuran saya mah suka khilaf! Hampura atuh!", ledek Azmi.


Beruntung mereka bertiga berada di pinggir yang agak jauh dari pengunjung lain. Meskipun begitu, mereka bertiga jadi perhatian orang-orang yang tengah makan di sana.

__ADS_1


Ketiga orang dewasa dengan visual yang sempurna. Ganteng-ganteng dan cantik!


"Tunggu Mi! Gue mau kepo dikit!", kata Amara. Yups, sejak hubungannya dekat dengan Alby, Amara dan Azmi semak dekat menjadi teman tentunya. Tapi ya...namanya azmi, masih ogah jika menatap lawan jenisnya yang bukan mahram. Dan Amara pun memakluminya.


"Kepo apaan?", tanya nya tanpa menatap Amara.


"Sikap Lo kaya gini kalo ke kita, giliran ke Nur...Lo ketusnya minta ampun! Gue ga bisa bayangin, gimana caranya tuh cinta menyusup ke hari kalian berdua? Apalagi... maaf-maaf kata, Lo berdua jarang berinteraksi. Kok bisa-bisanya Lo langsung dengan penuh percaya diri mengatakan niat Lo buat serius sama Nur?? Gimana konsepnya Lo menjalani pernikahan coba?? Kalo gue berdua ketahuan...!"


"Pssssttttt....Lo pernah denger ngga istilah berbisik di bumi tapi terdengar di langit?", tanya Azmi.


Amara menggeleng. Wajar ya? Dia masih harus banyak belajar mendalami kepercayaan barunya. Beruntung ia bertemu Alby dan Azmi yang pelan-pelan membantunya tanpa membuat ia merasa bodoh.


"Owh...belum pernah ya? Jadi gini, kalo Lo nanya konsep pernikahan yang...tanpa pacaran kaya gue nanti nih, insyaallah tapi karena Allah maha berkehidupan. Gue...mau pacaran setelah halal. Kita mau ngapain aja udah halal kan?"


"Ngga usah nyindir Mulu deh ah elah!", kata Alby.


"Sttt... dengerin Azmi dulu sayang!", kata Amara.


"Gini, gue punya cara tersendiri untuk menumpahkan segala beban gue pada yang kuasa. Kalo Alby lebih terbuka sama gue, gue ga begitu terbuka sama dia. Bukan gue ga percaya. Tapi gue tahu sahabat gue yang satu ini pasti akan memikirkan bergabung cara buat bantu gue. Padahal gue tahu sendiri kalo dia juga punya masalah lain yang perlu ia urusi."


Alby dan Amara mendengar kalimat demi kalimat yang Azmi lontarkan.


"Gue ga perlu cerita kan kalo tiap malam gue solat sunah atau tilawah atau puasa sunah?", tanya Azmi pada sepasang suami istri itu.


"Pamer!", kata Amara dan Alby kompak. Dan lagi-lagi Azmi tertawa puas.


"Gak! gak! Gue serius! Jujur, gue kesepian. Bukan dalam artian gue amat sangat butuh sentuhan lawan jenis. Bukan yang seperti itu!"


Amara dan Alby mengangguk.

__ADS_1


"Sejak gue nolongin Nur waktu itu, ga tahu kenapa setiap selesai solat malam gue selalu mimpi bocah tengil itu. Gue juga ga tahu. Sampai akhirnya...gue mulai menyadari bahwa apa yang gue rasain ga boleh berlarut-larut! Dosa gue udah banyak. Gue mau cari jalan yang halal, dan Alhamdulillah ternyata Nur punya perasaan yang sama. Jadi... begitu konsep yang berlaku buat gue sama Nur. Cinta akan menemukan jalannya!", kata Azmi.


"Sumpah! Gue ngga nyangka Lo bisa gini Azmi?", kata Alby tepuk tangan. Amara yang tak paham ucapan suaminya pun hanya menaikkan salah satu alisnya.


"Lo...nolak Nayla, teteh pertama nya Nur, Lo naksir ustadzah Salsabila tapi keduluan sama ustadz Hanafi, padahal tetehnya Nur juga. Eh...yang mau di peristeri justru si bungsunya! Sahabat gue emang ga ada lawan!", kata Alby masih tepuk tangan.


"Serius???", tanya Amara menatap dua lelaki itu bergantian.


"Ehem...ya gimana, namanya juga takdir!", kata Azmi mengangkat kedua bahunya.


"Udah belom, balik ke kantor!", pinta Azmi. Alby baru akan mengucap kalimat jargonnya.


"Gue emang bukan bosnya tapi gue ga mau makan gaji buta!", kata Azmi. Dia beranjak ke kasir untuk membayar tagihan makanan mereka.


"Tadi aja berasa dengan ceramah dari ustadz kondang, eh.... sekarang... berasa dengar Abg labil!", kata Amara.


"Nyonya bos...mah bebas mau speak up!", kata Azmi. Alby hanya menahan senyumnya.


Alby menahan diri sejak tadi dan banyak berpikir. Solat sunah tahajud, entah sudah berapa lama ia tak melakukannya. Jika dulu dia dan Bia sering melakukannya bersama-sama, ia belum pernah melakukannya dengan Amara.


Kehidupan masa lalunya dengan Bia begitu melekat di pelupuk matanya. Solat sunah jamaah, puasa sunah...hanya karena ingin hemat agar obat Mak Titin bisa terbeli. Padahal Bia pun bisa memberikannya, tapi gengsi nya sebagai suami membuat nya justru menyakiti Bia. Jika mengingat momen itu, Azmi merasa dirinya lah yang paling jahat!!!


"Sayang? Kok melamun?", tanya Amara pada suaminya.


"Hah? Ngga kok sayang. Cuma kekenyangan aja tadi?", kata Alby. Amara pun hanya mengangguk tipis tak mau membahas lagi.


****


Makasih 🙏

__ADS_1


happy weekend 🤗


__ADS_2