
Amara
"Terimakasih sudah bersedia menerima lamaran ku baby!",ujar Frans padaku di hadapan keluarga kami. Aku tak mengangguk tak juga meresponnya.
Kubiarkan jemariku di sentuh oleh nya hingga tersemat cincin bermata berlian yang memang terlihat sangat elegan.
Dia mengecup kening ku cukup lama. Aku hanya sanggup memejamkan mataku.
Usai Frans melepaskan kecupannya, aku melihat kedua orang tua ku yang nampak sangat bahagia.
Terutama papi, dia sangat bersemangat melihat ku yang kini sudah bertunangan dengan Frans.
Lalu bagaimana kedua orang tua Frans? Mereka pun sama bahagianya dengan mami papi. Hanya saja...
"Baiklah, sekarang kita makan malam dulu!",ajak kak Nathan.
Kami semua pun berpindah ke meja makan keluarga yang memang cukup untuk menampung sekitar dua puluh orang. Tapi kami tak sebanyak itu.
Frans memilih duduk di samping ku. Tanganku selalu ia genggam seolah aku akan kabur darinya. Tapi....memang iya sih!
"Jadi, kapan rencana kalian akan menikah?",tanya papi setelah kami selesai makan malam.
Frans menoleh dan menatapku.
"Nanti Pi, setelah semua urusan ku selesai. Besok, Frans juga akan mengantarkan Mom dan Dad ke London."
"Lalu bagaimana pekerjaan mu di sini?",tanya papi.
"Frans hanya investor Pi. Dan menjadi dokter di rumah sakit, juga hanya sistem kontrak."
"Jadi, kamu mau kembali ke London dulu?",tanya Mami. Frans mengangguk.
"Iya Mi. Ada hal yang harus Frans urus lebih dulu! Nggak apa-apa kan sayang?",Frans mengusap punggung tangan ku. Aku pun mengangguk. Justru aku berharap jika kamu tak perlu kembali ke sini Frans.
"Kira-kira kapan Frans? Papi ingin sekali melihat kalian menikah!",kata papi lagi. Nathan dan istrinya saling berpandangan. Begitu pula Sakti dan Sabrina yang memang tahu rencana Dimas dkk.
"Mungkin satu sampai tiga bulan pi. Kalau memang bisa lebih cepat, ya...Frans usahakan!",katanya lagi.
"Heum, begitu rupanya!",kata papi.
Basa basi pun selesai, semua tamu pun berpamitan tapi tidak dengan Frans. Dia pulang belakangan katanya ingin berbicara dengan ku sebelum besok malam bertolak ke London.
"Pi, baru jam setengah sepuluh. Boleh Frans ajak Amara keluar?",tanya Frans pada papi.
Nathan membulatkan matanya.
"Sudah malam Frans. Lagi pula, kalian baru bertunangan bukan menikah. Jika ada yang ingin kalian bicarakan, bisa di sini saja!",kata Nathan tegas.
Frans menoleh pada kakak sulung ku. Lalu setelah itu ia tersenyum.
"Baiklah kak!", kata Frans.
__ADS_1
"Bisa kita bicara berdua baby?",tanya nya padaku. Mau tak mau aku pun mengangguk.
"Kita bisa bicara di gazebo belakang!", kataku.
Frans pun mengucapkan permisi pada orang tua dan kakakku.
"Kenapa kamu tak mengijinkan Frans pergi berdua dengan Mara, Nath? Mereka sudah bertunangan lho. Bukan hanya pacaran!",kata papi pada Nathan.
"Baru tunangan Pi. Bukan nikah!",kata Nathan. Papi juga tak bisa banyak bicara jika si sulung sudah berkata demikian. Mereka pun beristirahat di kamar mereka.
Tapi tidak dengan Nathan. Dia mengawasi Frans dan Amara dari jauh. Setidaknya, jika Frans bersikap kasar pada si bungsu, dia bisa mendengarnya.
Kembali ke sepasang tunangan yang kini duduk di gazebo.
"Baby!",Frans meraih kedua tangan ku lalu di kecup nya dengan mesra. Aku pun perlahan melepaskan tangan ku dari genggamannya.
"Sudah puas kan kamu sekarang Frans?",tanyaku. Frans duduk di samping ku. Dia meraih bahu ku lalu mengalungkan tangannya.
"Belum! Bagaimana bisa aku puas, kamu belum menikah dengan ku baby!",ia mengusap pipiku. Aku menoleh ke arah lain. Tapi secepat itu pula ia meraih daguku. Mata kami saling beradu.
"Sebenarnya aku ingin menghabiskan malam ini dengan mu sebelum aku benar-benar pulang ke London. Tapi sepertinya kak Nathan sekarang posesif, melebihi kak Daniel!",katanya lirih di samping telinga ku.
"Jangan berpikir yang macam-macam!",kataku sambil menjauhkan kepala ku dari nya.
"Aku hanya ingin membuktikan kalo kamu memang sudah menyerahkan diri mu padaku!"
"Aku memang mau bertunangan dengan mu Frans. Tapi bukan berarti kamu bisa menyentuh ku semaumu! Kita tidak ada ikatan yang sah!",kataku mulai memberanikan diri. Bodo amat lah sama rencana Dimas, bisa-bisa Frans 'makan' aku!
Usai puas, dia pun melepaskan ku. Dia mengusap bibirku.
"Bibir ini hanya milikku baby! Tak akan ku biarkan Alby atau siapa pun mengambil nya dariku! Paham?!",dia mencengkram daguku.
Nafas ku memburu, rasanya sudah tak tahan untuk berada di situasi ini.
"Sudah malam! Pulang lah!", pintaku. Frans tersenyum tipis.
"Aku akan pulang, tapi....!"
Dia mengusap bibirnya sendiri sambil melihat ku. Lalu ia menaik turunkan alisnya. Apa maksudnya coba??
"Kamu tak paham baby? Ya sudah, itu artinya kamu ingin aku menginap di sini!"
Aku memejamkan mataku sambil meremas kedua tangan ku karena amat sangat emosi. Tapi aku berusaha untuk 'waras'. Karena menghadapi orang gila semacam Frans, aku tak boleh ikut gila. Aku tahu maksud Frans. Mau tak mau, aku menuruti kemauannya. Dengan sedikit berjinjit, aku memenuhi apa yang dia minta.
Meski dalam hatiku, aku merasa menjadi perempuan yang amat sangat murahan! Bagaimana bisa aku merasa pantas untuk Alby, sosok lelaki yang sudah terlanjur menguasai hatiku?
Frans tersenyum puas.
''Aku suka kamu begini baby! Rasanya aku tak ingin kembali ke London."
Aku tak menanggapinya. Tapi setelah itu ia menggamit pinggang ku.
__ADS_1
"Bisa antar aku ke depan, kakak mu mengawasi kita dari tadi!", katanya.
Kak Nathan mengawasi ku? Itu artinya dia melihat...
"Kak!",sapa Frans pada Kak Nathan. Kak Nathan hanya mengangguk.
"Pulang kan?", tanya kak Nathan. Frans mengangguk.
"Aku pulang dulu baby!",pamit Frans padaku. Aku mengangguk pelan. Frans pun keluar dari halaman rumah papi. Setelah Frans benar-benar sudah pergi, kak Nathan menarikku ke kamar ku.
"Kak! Pelan-pelan!",kataku sedikit berontak. Mayang yang melihat suaminya seperti emosi pun menyusul ke kamar Amara. Niatnya untuk mengambil minum pun ia urungkan.
Kak Nathan mendorong ku masuk ke dalam kamar.
"Apa-apaan kamu Dek!", bentak Nathan. Jika kakak-kakak ku sudah menggunakan kata dek, itu artinya aku harus sadar dan bisa menempatkan diri jika aku anak bungsu di keluarga ini. Dan aku hanya perlu menurut pada mereka.
Kak Nathan siap melayangkan tangannya ke pipiku, tapi mba Mayang menahannya. Aku sendiri sudah pasrah saat kak Nathan akan menampar ku.
"Jangan main tangan seperti itu mas!",mba Mayang menahan tangan kak Nathan.
"Kamu ngga tahu May apa yang sudah dia lakukan tadi. Apa-apaan seorang gadis mencium laki-laki yang baru jadi tunangannya!"
Mayang menatapku.
"Benar dek?",tanya Mayang. Aku tak bisa mengelak, hanya bisa mengangguk.
Mereka semarah dan sekecewa ini melihat ku mencium Frans. Bagaimana reaksi mereka saat tahu kalau aku pernah 'begitu' dengan Alby? Beruntung kak Daniel yang tahu.
"Sudah mas!",Mba Mayang kembali menahan tangan suaminya. Kak Nathan mengupas kasar wajahnya.
"Kamu bilang ngga cinta kan sama dia? Kenapa kamu mau melakukan itu?",tanya kak Nathan.
"Aku terpaksa kak!",kataku menunduk.
Dada Nathan masih naik turun. Memikirkan langkah selanjutnya seperti apa jika Amara saja bersikap pasrah seperti tadi.
"Besok, setelah Frans berangkat ke London. Kami akan membawa mami dan papi ke Padang!",kata Mba Mayang.
Aku menautkan kedua alisku.
"Ke kampung mba Mayang?",tanyaku. Mba Mayang mengangguk. Kedua orang tua mba Mayang orang Jawa tapi sudah menetap di sana karena memang mendirikan ponpes di sana.
"Apa mami dan papi mau?",tanyaku.
"Insyaallah mau. Mba pengen mengajak mereka berekreasi sekalian silaturahmi sama Abi dan Ummi mbak!", kata mba Mayang.
"Ini juga salah satu cara untuk melindungi mereka berdua dari ancaman Frans. Karena sekali pun nanti Frans ke London, kakak yakin kalo mami dan papi butuh perlindungan. Kakak tidak mau terjadi hal buruk lagi menimpa mereka!",kata kak Nathan.
Mataku berkaca-kaca. Aku mendengar sendiri penuturan kak Nathan yang sedang mendukung ku.
"Makasih kak!", aku memeluk kak Nathan. Diapun membalas pelukan ku.
__ADS_1