
Mohon maaf 🙏 jika ada yang tak suka bab ini, skip aja gpp 🤗🙏🙏🙏 🤭🤭🤭✌️✌️✌️✌️ ga berbobot soalnya. Semoga sih ada aja yang sedia mampir. Makasih sebelumnya ✌️✌️✌️🙂
*******
Alby sudah bersiap untuk pergi ke acara nikahan Dimas dan Anika. Awalnya, ia ingin berangkat dengan Amara. Tapi dia bilang, dia jadi Bridesmaids di sana. Makanya, sudah lebih dulu berada di hotel dimana acara pernikahan itu di langsungkan.
Pria tampan itu gagal mengerjai asprinya untuk menjemputnya Nur, karena ternyata Nur mengatakan bahwa dirinya juga sudah ada di sana.
"Kenapa?",tanya Azmi pada bos nya.
"Pasti...di sana ada Febri dkk. Gue minder!", celetuk Alby.
"Minder kenapa? Situ ganteng kali!",kata Azmi tanpa mengurangi fokusnya mengemudi.
"Gue geli tiap Lo muji gue ganteng tahu ngga!",Alby menggeleng.
"Astaghfirullah, gue juga sadar diri kali. Gue ga kalah ganteng. Banyak yang bilang kok, dan gue masih lempeng kagak belok!"
"Heum, ya sih. Mantan santri gitu lho?!",ledek Alby.
"Tuh tahu?",sahut Azmi.
"Lo ga cari umi baru buat Putri?",tanya Alby menoleh pada sahabatnya itu.
"Belum kepikiran! Lagian, gue ga mau pacaran. Yang ada gue makin banyak dosa!", sahutnya.
"Ga usah nyindir gue Mulu kenapa sih? Iya, gue emang belum sealim Lo Azmi Abdullah!"
"Gue belum alim bos, emang mungkin keliatannya gue lebih bersahaja di banding Lo?"
"Astaghfirullah, riya' itu namanya Mi?!"
Azmi tertawa lepas mendengar sahutan bos sekaligus sahabatnya. Ada saatnya dia konyol seperti sekarang, ada juga saat nya serius. Mereka bercerita banyak hal sampai tak terasa sudah tiba di halaman parkir hotel itu.
"Kok gue ragu mau turun ya?", kata Azmi.
"Kenapa?"
"Gue ga di undang. Dalam ajaran Islam..."
"Lo ke sini sama gue. Undangan gue berlaku dua orang. Ya sah-sah aja dong! Kecuali Lo datang sendiri, cuma mau numpang makan!", kata Alby.
"Terus, gue 'ngamplop' gak? Berapa? Cepe gocap?", tanya Azmi bingung.
"Terserah Lo!",ujar Alby langsung turun dari mobilnya. Azmi pun cepat-cepat menyusul bos nya dan sebelumnya, ia memasukkan uang ke dalam amplop.
Terlihat banyak orang berlalu lalang masuk ke dalam hotel tersebut. Kebanyakan dari mereka berpasangan. Sontak, Alby dan Azmi yang tampan paripurna datang berdua membuat mereka berpikir kalau....
Ya, you know lah????!!!
"Selamat datang!", sapa penjaga pintu masuk.
"Ini undangan nya pak!",Alby menyerahkan undangan itu pada penjaga. Setelah di terima, Alby dan Azmi menulis buku tamu.
Kedua pria tampan itu menjadi perhatian orang-orang yang datang ke sana. Terutama kaum hawa. Mereka terpesona dengan dua tampan yang ....biasalah, mode datar. Setelan pabrik nya seperti itu kali. Jika sedang gendeng, keduanya bak anak kecil. Tapi jika jutek dan judes nya kumat, wleeh ngga usah di tanya.
Mata Alby dan Azmi beredar ke segala penjuru. Berharap akan ada yang mereka kenal.
Lalu, mata Alby tertuju pada sosok yang berdiri tak jauh dari kerumunan orang. Tapi dia justru terlihat sendirian saja. Perempuan cantik yang tak terlalu tinggi itu tersenyum melihat seseorang berseragam hijau yang menjadi leader tim pelaksana upacara pedang pora.
Sosok itu adalah Bia, perempuan cantik yang pernah Alby sakiti begitu dalam. Dimata Alby, kini Bia semakin cantik. Pipi nya chuby, badannya sedikit berisi. Mungkin karena efek hamil atau mungkin juga sekarang kehidupannya benar-benar bahagia. Tapi pandangannya ke Bia teralihkan pada seorang gadis yang menghampiri Bia, gadis pujaan sekarang alias Amara. Gadis cantik itu menyapa Bia yang di balas ramah tamah pula oleh mantan istrinya.
Tampak keduanya saling tertawa. Pakaian mereka pun sama. Jika Bia mungil, Amara tinggi semampai seperti model.
"Cantik ya istri orang?", tiba-tiba Azmi berbisik. Alby sempat terkejut.
"Apa sih?"
"Liatin yang pendek apa yang tinggi?",ledek Azmi karena dia melihat Alby menatap dua perempuan di tempat yang sama.
Alby tak menyahuti, justru dia menatap tajam sahabatnya. Sayangnya, Azmi kembali ke mode cool saat kembali jadi perhatian.
Setelah beberapa saat, Amara menyadari kehadiran sang kekasih. Gadis itu menengok kekasihnya yang sedang melihat dirinya mengobrol dengan Bia.
"Bi, aku...ke A Alby dulu ya!",pamit Amara pada Bia. Bia pun menoleh pada Amara, lalu mata nya beradu pandang dengan mantan suaminya yang terlihat semakin tampan dengan kemeja batiknya. Apalagi salah satu tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya, pose seperti menambah daya tarik tersendiri bagi sosok berwajah tampan tersebut.
Bia hanya mengangguk tipis dan tersenyum tanda menyapa, begitu pula dengan Alby. Kesannya kok??? Aneh! Dua orang yang pernah menyatu, sekarang kagok! Ya begitulah!
Amara melangkah mendekat Alby dan Azmi. Gadis itu mengulurkan tangannya pada Alby dan di sambut hangat oleh Alby. Azmi hanya tersenyum menyapa Amara.
"Udah lama A, Azmi?", tanya Amara.
"Belum!",jawab keduanya kompak.
Tak lama kemudian terdengar MC yang memberitahukan upacara pedang pora akan segera di langsungkan.
"A, Aa ikut aku ke sana yuk!",ajak Amara meminta Alby bergabung dengan yang lain.
"Ngga Ra, bukan circle Aa!",tolak Alby secara halus. Amara pun menoleh pada Azmi.
__ADS_1
"Aku? Aku di sini saja!",sahut Azmi tanpa di tanya.
"Tapi, nanti kalo upacara selesai kita bareng ya A!",kata Amara. Alby mengangguk.
"Iya!", jawabnya sambil tersenyum.
"Ganteng banget sih!", puji Amara.
Uhuk-uhuk-uhuk,
Alby yang di puji, Azmi yang terbatuk-batuk. Sepasang kekasih itu kompak mentertawakan Azmi.
"Aku tinggal kesana dulu ya A!",pamit Amara lagi. Setelah menjauh dari Alby, Amara bergabung dengan teman-teman di instansi lamanya. Gadis itu nampak selalu menunjukkan senyum manis dan ramahnya.
Upacara sedang berlangsung. Semua mengikuti prosesi tersebut dengan decakan kagum. Terlebih, Kapten Febri yang menjadi leader pasukannya sebagai bentuk penghormatan pada sahabatnya. Tak tertinggal pula Seto dan rekan lainnya. Persahabatan mereka memang pantas di acungi jempol. Tak jauh dari sana, sepasang pengantin yang di apit oleh anggota keluarganya.
Sekilas, mata Alby menangkap wajah Bia yang tersenyum bangga menatap suaminya. Ya, bangga! Lelaki pilihan nya tampak sangat gagah dalam balutan seragamnya. Jika semua mengatakan Alby tampan, Febri sempurna. Wajah tampan, manis, rahang tegas dan postur tubuhnya yang bagus. Di tambah pekerjaan dan seragam yang menunjang penampilannya semakin memukau.
Usai menatap Bia, kini pandangannya beraliran pada Amara yang justru kebalikannya. Wajah gadis itu tampak sedikit murung. Gadis itu menatap prosesi upacara tadi.
Apa kira-kira yang Amara pikirkan? Memikirkan Febri kah? Atau... sedang menyesali dirinya mengundurkan diri dari instansi tersebut??? Hanya Amara yang tahu.
Aku pernah memimpikan pernikahan seperti ini! Tapi....ku pastikan, tidak akan mungkin terjadi! Batin Amara. Seorang temannya menyenggol lengan Amara hingga ia bebas dari lamunannya.
Azmi dan Alby memilih untuk menikmati hidangan. Mereka sibuk berbicara berdua. Keduanya memilih cuek saat di tatap lapar oleh mata-mata para perempuan.
Beberapa saat kemudian, acara dilanjutkan dengan salam-salaman antara tamu dan pengantin. Febri sendiri sudah bergabung dengan istrinya. Termasuk yang lain.
Azmi hendak meminum minumannya, tapi tanpa sengaja seseorang menyenggol nya hingga air nya hampir masuk ke hidung.
Uhuk-uhuk-uhuk, Azmi benar-benar tersedak. Memalukan sekali ya..??
"Maaf!", spontan yang menabraknya. Azmi menoleh bersamaan dengan si penabrak yang tak lain adalah Nur.
"Meneh deui?",gumam Azmi tapi masih cukup terdengar oleh Nur. Bahkan Alby yang berada di samping Azmi turut mendengarnya, dia pun tersenyum meledek.
"Mungkin sekali lagi nabrak, kalian jodoh!",kata Alby iseng.
"Embung!",sahut Azmi dan Nur bersamaan dan tentu saja menarik atensi orang yang ada di acara tersebut.
"Masyaallah, kompak sekali!",ujar Alby, entah itu meledek atau pujian.
"Punten mas Alby!",kata Nur permisi meninggalkan kedua pria tampan itu. Sepeninggal Nur, azmi masih memanyunkan bibirnya.
"Ya udah sih, kalo nanti othor mau nya Nur jodoh maneh, kumaha?",Alby menyenggol bahu Azmi.
"Kumaha sia wae!",kata Azmi sedikit kasar.
"Sarua jeng maneh!",Azmi masih kesal. Alby hanya menggeleng pelan. Suara MC kembali menggema. Dia memberi tahu jika akan membuat flashmob ala-ala generasi tuk-tuk.
Jaman dulu mana ada hehehe 🤭
Amara terburu-buru menghampiri Alby dan Azmi.
"Ayo A, ikutan!",ajak Amara. Alby menolaknya.
"Ngga neng. Aa ngga suka begituan. Aa tunggu disini aja. Lo mau Mi?",tanya Alby pada azmi.
"Apalagi gue, gak!",tolak Azmi. Amara mengerucutkan bibirnya.
"Maaf sayang, kami lihat aja dari sini. Ya?",Alby mengusap kepala Amara. Akhirnya Amara pun kembali ke teman-temannya.
Jika amara antusias ikut flashmob, tidak dengan Bia yang melipat tangannya di dada. Dia pun sama dengan Alby, hanya menonton suaminya yang ikut dalam acara rame tersebut.
Bia tersenyum menatap suaminya yang seperti remaja lagi. Lantas tanpa sengaja ia menoleh ke arah Alby yang sedang memperhatikannya. Merasa di perhatikan, Bia kembali fokus dengan tontonan di depannya.
Alby tahu, mantan istrinya tidak suka acara seperti itu. Makanya ia memilih berdiam di sana. Atau mungkin juga karena ia sedang hamil muda, tapi....acara di sana tidak terlalu menguras tenaga dan aktivitas berlebihan. Tapi...ya... mungkin benar, Bia lebih suka berdiam seperti itu. Cukup puas menjadi penonton.
Acara demi acara pun usai, saatnya bersalaman antara tamu dan keluarga pengantin pastinya.
Amara menggamit lengan kekasih posesif. Mungkin karena bawaan sedang dapat tamu bulanan, gadis itu tampak sensitif.
"Kenapa?",tanya Alby yang melihat gelagat posesif kekasihnya.
''Banyak yang liatin kamu A!", jawab Amara. Alby tersenyum simpul.
"Ya biarin atuh. Ngga mengganggu ini!",sahut Alby sekenanya. Amara melotot tajam. Gadis yang hampir tak pernah bermake up tebal itu terlihat manglingi.
"Aku ngga rela!", katanya sambil sedikit berbisnis mendekatkan bibirnya ke telinga Alby. Alby hanya menggeleng menyikapi sifat posesif kekasihnya yang masih tahap wajar itu.
"Iya iya, mau kaya apa pun yang liatin aa tetep kan aa ngga berpaling dari neng!",bisik Alby balik.
"Mulai gombal lagi kan!",cebik Amara.
"Ehem.... Ehemmm!", deheman Azmi membuat sepasang kekasih itu sedikit menjauh dari tubuh pasangannya.
"Gini doang Mi!",ujar Alby. Azmi tak ambil pusing. Lalu mereka sudah dapat giliran untuk menyalami pengantin.
"Selamat ya Dim, dek Ika!",kata Alby.
__ADS_1
"Makasih By!",kata Dimas.
"Makasih mas Alby!",kata Anika sambil tersenyum tipis. Dalam hati Anika, ia sedikit kesal. Kenapa Alby mudah sekali berpaling dari Mba Bia dan almarhum Silvy, buktinya ia sudah menggandeng Amara mantan rekan seprofesi suaminya!
"Selamat ya Lettu Dimas, Anika! Semoga bahagia selalu, samawa dan cepat di beri momongan!", ucap Amara mendoakan.
"Aamiin, makasih Mar. Oh ya, mantan Lo katanya itu ya eum...!", ucapan Dimas terhenti saat amara memberi kode dengan matanya agar Dimas tak melanjutkan ucapannya. Laki-laki gagah itu pun paham seraya melirik Alby yang memasang wajah datarnya membalas lirikan Dimas.
"Masih lama ngga sih ngerumpinya? Di belakang antre tuh!",celetuk Azmi. Mereka semua pun tersenyum lalu berjalan sambil menyalami keluarga kedua mempelai.
Di samping pelaminan, Alby dan Amara bertemu dengan beberapa pasangan.
Sakti Bina, Seto Naya, dan tentu saja pak kapten Febri dan Bia. Mereka memang selalu kompak.
Ada sedikit kecanggungan yang tercipta antara Alby dan Bia. Meski sekarang sudah menikah pasangan masing-masing, tapi perasaan tak enak masih tetap ada.
Saatnya acara lempar bunga, Amara yang paling semangat. Ia menarik Alby agar ikut dengannya. Pemandangan itu mencuri perhatian seorang Bia dan perempuan hamil itu pun tersenyum.
"Kamu senang liat Alby bisa tertawa seperti itu bersama Amara?",tanya Febri. Bia menengok sekilas.
"Huum. Setidaknya, dia juga berhak mendapatkan kebahagiaan Mas. Seperti aku yang sudah bahagia sama kamu!",jawab Bia. Febri pun merangkul bahu istri cantiknya itu.
Kembali ke acara lempar bunga. Azmi yang tidak ingin ikutan pun akhirnya terseret Alby. Alhasil, ketiganya kini berada di belakang orang-orang yang bersiap menerima bunga tersebut.
Dimas memperhatikan sasarannya lebih dulu. Ahli strategi di divisinya itu pun tersenyum melihat sahabatnya berada di paling belakang.
"Dek, biar kakak aja yang lempar bunganya!",bisik Dimas pada anika.
"Kenapa kak?",tanya Anika bingung karena suami nya yang ingin melempar bunga pengantin itu.
"Mitos nya yang bisa nangkap nih kembang, dia bakal cepet nyusul nikah. Kakak mau lemparin ke Amara!",kata Dimas. Anika menggeleng sambil tersenyum. Suaminya memang setia kawan.
"Ya udah, atur kak Dim aja!", sahut Anika. MC mulai menghitung mundur sebelum bunga itu benar-benar di lempar. Sampai hitungan akhir, bunga itu di lemparkan sekuat tenaga oleh Dimas. Dan bunga itu melewati Amara begitu saja. Tapi justru sosok seorang gadis yang tak sengaja melintas di belakang kerumunan.
Gadis itu yang terkejut menerus lemparan bunga pun mendadak limbung dan lagi-lagi harus bersinggungan dengan makhluk jutek sahabat Alby.
Tepuk tangan riuh mewarnai acara lempar bunga pengantin itu.
"Gagal dek!",keluh Dimas pada Anika.
"Udah kak, toh cuma mitos. Kalo emang udah ada jodoh mah Kak Amara nikah kok!", kata Anika bijak. Dimas hanya mengangguk.
Sementara itu....
"Yah, ngga dapet A!", kata Amara.
"Kita bisa beli di toko bunga sayang, mau?",tanya Alby.
"Heheh ngga, bercanda A. Maksudnya itu katanya yang nangkep bunga, bakal segera menyusul jadi pengantin." Alby tersenyum tipis sambil mengusap lengan atas Amara.
"Insya Allah, tanpa mendapatkan bunga pengantin itu, kamu juga akan menyusul jadi pengantin ku! Insya Allah!",kata Alby mencoba meyakinkannya. Amara pun mengangguk senang.
Azmi dan Nur masih berdebat. Tepatnya, Nur yang masih mengoceh. Azmi memilih untuk tidak menyahuti.
"Kok malah ribut?",tanya Amara pada dua orang di belakang nya. Nur pun menoleh pada sosok perempuan yang ada di samping Alby.
"Tahu nih!",sahut Azmi kesal.
"Naon si Aa teh ihhh!", Nur tak kalah kesal.
"Tubrukan lagi?",tanya Alby. Keduanya mengangguk.
"Pan urang ge tos ngomong, sakali deui maneh tabrakan, insyaallah jodoh!", celetuk Alby yang membuat dua orang ternganga.
"Mba dapet bunganya?",tanya amara. Nur pun mengangguk pelan. Bukannya marah, Amara malah tersenyum.
"Kayanya kalian emang jodoh deh!",kata Amara memeluk lengan kekasihnya. Azmi dan Nur sama-sama membulatkan matanya.
"Apaan sih Amara. Ngga usah kaya si bos deh!", Azmi memasang mode merajuk.
"Ya ya... lanjutkan lagi berantemnya. Mobil bawa Lo aja Mi. Gue anterin Mara!"
"Ya terserah bos aja!", pasrah Azmi.
"Heum, Nur kamu pulang bareng Azmi aja. Ya!?", entah pertanyaan atau perintah, dia tak tahu.
Azmi menoleh cepat, dia menggelengkan kepalanya. Dasar si bos!!! Umpat nya dalam hati.
"Kan terserah bos, ya udah sana!"
"Ngga inget butuh biaya anak mah..."
"Apa? Mau resign?",potong Alby.
''Ya udah lah!", pasrah Azmi pada akhirnya. Acara pun usai, Amara pulang bersama Alby.
*****
Ga ada yang seru ya?mm.... maapkeun 🙏✌️🙏🤭 ngntuk pake ne polll
__ADS_1
Makasih 🙏🙏🙏