
Alby
"Jadi, kapan kamu ada waktu untuk kita bicara ,Mara?", tanyaku lagi.
"Memang ada hal penting apa ya pak Alby?",tanyanya. Aku sedikit heran dengan perubahan panggilan nya.
"Tolong, sebentar saja!",kataku. Aku mendengar ia menghela nafasnya. Lalu dia minta waktu untuk menyingkir dari hadapan pemimpin panti. Aku pun melakukan hal yang sama. Nabil sudah di ambil alih oleh Azmi.
Sekarang kami berada di teras samping panti. Hanya ada aku dan Amara, berdua.
"Apa hal penting yang ingin pak Alby sampai kan? Saya masih ada pekerjaan di kantor!",kata Amara sambil melihat jam tangannya.
Aku menatap serius wajah perempuan yang seksi berhijab ini.
"Sejak kapan kamu menjadi muslimah? Kapan kamu kembalikan ke sini? Kenapa kamu tidak dinas lagi? Kenapa...."
"Kenapa saya harus menjawab pertanyaannya anda ya pak Alby? 'Kita tidak sedekat itu' !!??",jawab Amara.
Apa dia sedang menyindir ku? Aku pernah beberapa kali mengatakan kalimat itu.
"Dari Lo Gue, aku kamu, sekarang saya dan anda?",tanyaku sambil tersenyum sinis.
"Tidak ada yang penting kan pak? Saya harus kembali ke kantor!", dia memutarkan badannya. Tapi ku hentikan dengan menarik tangannya.
"Aku belum selesai bicara, Ra?"
Amara melepaskan tangan ku dari pergelangan tangannya.
"Untuk apa aku menjawab semua pertanyaan mu? Apa peduli mu? Apa ada efek nya buat kamu? Ngga kan?! Permisi! Assalamualaikum!", dia melangkahkan kakinya meninggalkan ku begitu saja.
Aku masih terpaku di tempat yang sama. Benar kata Amara? Memang setelah aku tahu, kenapa? Apa pentingnya buat ku?
Kenapa aku harus kecewa saat dia mengabaikan ku? Apa seperti ini rasanya di abaikan?
__ADS_1
Aku kembali ke ruangan tadi. Berharap Amara masih ada di sana. Tapi ternyata, dia sudah terlihat memasuki mobilnya.
"Papa!",panggil Nabil.
"Iya sayang? Sudah selesai?"
Nabil mengangguk riang. Mak, mang Sapto dan teh Mila pun mendekati kami berdua.
"Papa masih harus ke kantor, Nabil pulang ya sama nenek. Nanti sore kita main lagi. Ya sayang?"
"Oke papa!", kata Nabil mengacungkan jempolnya.
Sepeninggalan Nabil dan yang lain, aku dan Azmi pun berpamitan pada ibu panti. Kami berdua kembali ke kantor.
"Udah ngobrol sama Amara!?",tanya Azmi.
"Heum, dia ngga jawab semua yang gue tanyain!"
"B aja kali, ngga usah melotot gitu! Nanti ganteng nya luntur hehehhe!"
"Kok gue geli ya Lo bilang gue ganteng???! Ga lucu!"
"Hahahaha"
Aku kembali menoleh padanya. Kali ini tatapan ku lebih tajam.
"Apa Lo udah tahu, Amara bakal ke sini?"
Azmi tak mengangguk tak juga menggeleng. Jemarinya memainkan setirnya.
"Lo dengar gue nanya kan Mi?", teriakku di dekat telinga nya.
"Astaghfirullah! Telinga ini masih normal, ngga usah lah teriak-teriak gitu!"
__ADS_1
"Gue dari tadi nanya ogeb!"
"Ya, gue tahu kalo perusahaan Amara mau kasih donasi rutin ke panti. Tapi gue ga tahu kalo dia yang bakal dateng. Apalagi...dia sekarang pake hijab, makin cantik kayanya."
"Lo bilang jaga pandangan? Tuh Lo masih bisa bedain mana yang cantik mana ya gak!", kataku kesal.
"Liat doang ga sampe tiga detik mah halal, bos!"
"Terus, detik ke empat dan seterusnya dosa? gitu?", tanyaku balik. Azmi semalam tertawa lebar.
"Udah sih ngga usah cemburu gitu? Ntar ga gue kasih info soal Amara lho???"
"Lo ngancem gue?"
"Hahaha iya! Biar aja terus penasarannya kenapa Amara bisa begini begitu!"
"Ckkk aspri gelo!"
"Sarua jeng bos na. Lamun urang gelo, maneh seniornya gelo!"
"Eh... lama-lama ngelunjak Lo ya???!"
"Mau info nya ngga???"
"Ya udah, apaan?"
"Amara jadi mualaf dua sekitar tiga bulan yang lalu, dia keluar dari instansi nya, dan sekarang menjadi CEO perusahaan Rhd.co"
"Dia... keluar dari TNI?"
Azmi mengangguk. Sebenarnya masih banyak yang ku ingin tahu, tapi info yang Azmi katakan cukup membuat ku puas, untuk sekarang sih.
Mobil kami sudah amal di kantor lagi. Kami berdua pun melanjutkan pekerjaan kami lagi yang tadi sempat terjeda acara ulang tahun Nabil.
__ADS_1