
Alby
Aku sudah sampai di rumah sejak setengah jam yang lalu. Pikiran ku masih berkelana dengan kejadian bersama Amara tadi. Bagaimana bisa aku segila itu!
"Jang, magrib! Malah ngelamun!", Mak mengantar Nabil padaku. Aku sendiri berada di ruang kerja Papa Tama.
"Ngga ngelamun kok, Mak! Sini sayang, sama papa!", Nabil mendekat padaku lalu duduk di atas pangkuan ku.
"Mak...!"
"Naon Jang?"
"Febri ngundang kita ke acara aqiqah anaknya. Mau datang ngga Mak?",tanyaku. Misalkan Mak ngga mau, aku bisa datang sendiri ke sana.
"Kapan?"
"Bada magrib sih Mak."
Mak Titin nampak berpikir sejenak.
"Mak belum beli hadiah apa-apa Jang."
"Nanti kita beli di jalan, itu kalo Mak mau ikut."
"Ya udah, Mak ikut aja. Tapi kayanya teh Mila mah nggak. Dia lagi ga enak badan."
"Iya ngga apa-apa Mak."
Azan magrib berkumandang. Kami bersiap untuk sholat magrib berjamaah jarang-jarang aku pulang di jam sesore ini.
Kami semua bersiap-siap. Mang Sapto yang membawa mobil kali ini.
"Mampir ke supermarket itu ya mang!"
"Ya, by!", sahut mang Sapto.
Kami berempat berjalan menuju ke supermarket. Aku dan mang Sapto hanya mengikuti Mak yang berbelanja hadiah untuk anak-anak Febri.
"Mak pilih aja ya, di temenin mang sapto. Nabil mau duduk sama papa di sana, apa ikut nenek?"
"Sama papa aja!", jawab Nabil. Mang Sapto menemani Mak yang berbelanja kebutuhan dapur sekalian. Dia mendorong keranjang belanjaan Mak.
"Papa!"
"Ya sayang?"
"Kita mau ke mana?", tanya Nabil dengan suara cadelnya. Tiba-tiba ada pria bule duduk di samping ku. Dia tampak meminta ijin padaku. Aku hanya mengangguk mempersilahkannya.
__ADS_1
"Mau ke rumah om Febri, liat dedek bayi kembar!"
"Kembar itu apa pa?"
"Kembar itu mirip sayang!"
"Nabil kembar papa?"
Aku bingung menjelaskan pada bocah ku ini. Kalau diiyakan, tentu jawaban ku menyesatkan. Kalau di jawab bukan? Tau ah bingung.
"Eum, Nabil ngga mau beli apa-apa?", aku mengalihkan pembicaraan Nabil.
''Ngga, Pa!", katanya menggeleng. Aku sibuk sendiri dengan Nabil, sebelah ku sibuk dengan ponselnya.
(Anggap aja bahasa Inggris)
[Bagaimana? Kamu sudah mencari tahu siapa laki-laki yang dekat dengan Amara?]
Deg!
Aku langsung menoleh padanya. Meski aku belum faseh bahasa Inggris, tapi aku tahu mereka ngomong apa. Hanya saja aku sedikit kesusahan untuk mengembalikan omongan mereka, menjawab misalnya.
[Kenapa lama sekali mencari informasi seperti itu?]
[.....]
[....]
[Kirim kan alamat itu]
Setelah itu, pria bule itu menutup sambungan teleponnya. Dia menoleh sekilas padaku sambil tersenyum tipis. Aku pun mengangguk pelan. Setelah nya dia berdiri.
"Letnan Seto!", panggil orang itu tiba-tiba. Saat aku menoleh, benar saja itu Seto dan Naya. Bagaimana bisa pria bule ini mengenal Seto?
"Dokter Frans?", sapa Seto. Dia dan Naya menghampiri bangku kami.
"Lho, Alby?", sapa Seto padaku. Aku mengangguk dan tersenyum tipis.
"Eum, dokter Frans di sini?"
"Iya, kamu pakai bahasa Indo saja Seto. Saya sudah mulai tahu!", kata Frans.
"Oh, ya Dok! Dokter Frans sedang liburan ke Indonesia?", tanya Seto mengalami Frans.
"Ya. Bisa jadi seperti itu. Tapi saya ke sini tentu karena ada suatu hal!"
"Ada apa?",tanya Seto.
__ADS_1
"Saya ingin Amara kembali pada saya!", jawab Frans.
Aku langsung menoleh pada Bule ganteng itu. Jadi, Amara yang sama?!!!
"Oh!", Seto hanya ber'oh' saja.
"Saya sudah menemui nya di perusahaan nya tadi siang. Tapi ... dia menolak kehadiran saya . Kamu bisa bantu saya agar di kembali dekat dengan saya?", tanya Frans pada Seto. Seto justru melirik ke arah ku. Apa dia tahu kalau aku dan Amara....
Lalu, apakah Frans mantan kekasih Amara? Kenapa dia bilang ingin Amara kembali padanya?
"Kalo dokter Frans sudah sampai di kantor nya, berati anda tahu kalau Amara sudah tidak bekerja satu kantor lagi dengan saya kan? Terus terang saya jarang bertemu dengan Amara sejak dia keluar dari instansi kami."
"Tapi...kamu tahu Seto, siapa laki-laki yang sekarang sedang dekat dengan nya?"
Seto lagi-lagi melirik ku.
"Tidak. Aku tidak tahu dokter Frans."
Mak memanggil ku karena dia sudah selesai belanja. Aku pun permisi pada Seto dan Naya, serta bule tampan itu yang Seto panggi dokter Frans.
Di perjalanan....
"Nak Seto udah mau nikah sama neng Naya ya Jang?"
"Heum? Insya Allah iya Mak."
"Udah lewat azan isya mak. Kita telat banget deh. Mana macet lagi", keluhku.
"Ngga apa-apa telat. Dari pada tidak datang. Tadi Seto sama Naya masih di sana."
"Kayanya pakai motor Mak, paling mereka juga sudah sampai."
Sekitar jam delapan, mobil kami sudah berada di halaman rumah Febri. Suasana sudah tak terlalu ramai.
Di teras, ada bapak nya Febri dan lek Sarman yang sedang berbincang-bincang.
"Assalamualaikum!", aku dan Mak memberi salam.
"Walaikumsalam!", jawab mereka berdua. Jika bapaknya Febri nampak tanah, berbanding terbalik dengan lek Sarman. Pria itu masih menyimpan kebencian padaku?
"Pak Sarman!", sapa Mak pada mantan besannya. Lek Sarman hanya tersenyum terpaksa.
"Silahkan masuk saja Bu, nak Alby!", kata pak Bambang.
"Terimakasih, pak!", kata ku. Aku dan Mak serta Nabil kembali mengucap salam saat memasuki rumah.
Orang-orang yang ada di dalam menjawab salamku, tak terkecuali Amara yang duduk di dekat Bia.
__ADS_1
Dia di sini???? Gumamku.