Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 115


__ADS_3

"Aku...balik ke kantor ya?",kata Alby sambil mengusap kepala Amara.


"Heum!",sahut Amara tanpa melepaskan pelukannya.


"Nanti kita bisa ketemu lagi kok!",Alby tahu Amara enggan melepaskan pelukannya.


"By!"


''Heum?"


"Aku belom bisa jadi muslimah yang baik."


Amara mendongakan wajahnya menatap sang kekasih hati.


"Aku juga sama!",sahut Alby."Tapi setelah ini kita akan berusaha menjadi lebih baik!"


"Setelah apa?",Amara sedang mengetes Alby.


"Setelah kita sah dimata hukum dan agama!",jawab Alby.


"Tapi..."


"Tapi apa?", Alby menatap mata lentik Amara yang selalu tampil alami tanpa polesan.


"Bagaimana dengan mami papi ku? Mereka sangat menyukai Frans. Dan juga...ibu sama Nabil, apa mereka mau menerima ku?"


"Insyaallah Mak sama Nabil ngga keberatan Ra. Tapi soal mami papi mu mungkin perlahan kak Nathan akan memberi tahu mereka."


"Apa kita akan kawin lari? Mami dan papi tidak merestui kita!",tanya Amara pelan.


"Bukan tidak merestui, lebih tepatnya belum Ra!",kata Alby meyakinkan.


(Opo iyo Alby wes move on dari Bia??? Percaya diri sekali dia ya...? πŸ€”)


"Lalu bagaimana aku menikah dengan mu? Kak Nathan atau kak Daniel yang menjadi wali nikah ku?",tanya Amara.


Alby menggeleng pelan sambil tersenyum.


"Kita beneran ngomongin pernikahan Ra?",tanya Alby lagi masih dengan senyuman tampannya yang bikin meleleh.


Cuma Bia mungkin yang rela melepaskan cowok setampan Alby!


"Tau ah!",Amara mendorong dada Alby sehingga membuat mereka melepaskan pelukan. Alby terkekeh pelan saat kekasih hatinya pundung.


"Sini!",Alby menarik Amara duduk kembali ke sofa. Tapi saat ini mereka duduk bersebelahan.


"Maaf sebelumnya!",Alby berdehem.


"Pernikahan mami dan papi bukan secara muslim. Dan itu dalam agama kita, papi tetap tidak bisa jadi wali kamu. Begitu pula dengan kak Nathan dan Kak Daniel."


(Maaf kalo Mak othor salahπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™)


"Jadi? Aku pakai wali hakim?",tanya Amara. Alby mengangguk.


"Sekarang, kita perlu berjuang untuk ke depannya. Aku yakin, Frans tidak akan membiarkan kita begitu saja. Mario pasti sudah melaporkan kejadian tadi pada bosnya!"

__ADS_1


Amara mengangguk setuju.


"Iya, itu pasti!",kata Amara.


"Bodyguard kamu, bilangin ya! Jangan jauh-jauh dari kamu!",titah Alby.


"Mulai posesif!", celetuk Amara.


"Oh, jadi maunya aku kaya dulu gitu? Jutek, ketus, ga peduli..."


"Ssstttt!",Amara menutup bibir Alby dengan telunjuknya.


"Ngga, aku suka kamu kaya gini. Tapi cuma sama aku. Kalo di luar sana silahkan mah jutek judes atau nyebelin. Terutama sama cewek-cewek yang suka tebar pesona sama kamu!"


Alby terkekeh sambil mencubit hidung Amara yang sekarang berada dalam mode cemburu.


"Mulai sekarang, senyuman kaya gini cuma buat kamu!",kata Alby sambil memasang senyuman termanisnya. Mustahil Amara tak meleleh.


Amara mencebikkan bibirnya.


"Aku udah pamit dari tadi lho, udah boleh balik ke kantor Nabil kan?",tanya Alby.


"Kantor Nabil?",Amara mengerutkan keningnya.


"Iya, karena itu memang hak Nabil. Aku bukan siapa-siapa Ra. Apa kamu masih mau sama aku?",tanya Alby dengan tatapan serius. Amara mengulas senyum.


"Kenapa tidak!",jawab Amara semangat. Senyum Alby mengembang. Mungkin benar, saat ini dia sudah perlahan bisa menghapus nama Bia dari hatinya meski sampai kapanpun kenangan itu tak akan pernah bisa di lupakan.


Tiba-tiba Amara menc*** kekasihnya itu. Alby yang awalnya terkejut pun kini ikut membalasnya. Keduanya larut dalam napsyu entah luapan kebahagiaan yang salah.


Saat Amara menyudahi ci*** nya, instingnya menuntun untuk menyentuh jakun Alby yang naik turun. Ia mengecup nya sekilas. Lalu berpindah ke lehernya.


"Ra....!",suara Alby mulai berat. Amara yang terbawa suasana pun langsung menghentikannya. Malu! Itu yang Amara rasakan. Bagaimana bisa ia seagresif itu? Memalukan kaum hawa!


Amara memalingkan wajahnya, malu sudah berbuat seperti itu pada Alby.


"Hei?",Alby menarik dagu Amara. Tapi Amara enggan menurutinya.


"Kamu malu heum?",tanya Alby. Di tanya seperti itu, otomatis malu dong By??!!!


Alby merengkuh tubuh perempuan cantik itu.


"Nanti, kalo sudah saatnya!",bisik Alby. Amara yang merasa malu justru mencubit pinggang Alby.


"Awssshhh... sakit Ra!",keluh Alby.


"Kapok! Suruh siapa ngeledek mulu. Udah tahu aku malu By!"


"Hehehe iya, maaf!"


Cup! Alby mengecup pelipis Amara. Lalu setelah itu ia melepaskan rengkuhannya.


"Aku beneran balik ke kantor ya? Udah siang!", kata Alby. Amara hanya mengangguk tipis.


"Jangan lupa!",kata Alby.

__ADS_1


"Apa?",tanya Amara.


"Bilang sama para reader's, adegan tadi tidak untuk di tiru sama yang belom punya pasangan sah. Karena dosa juga bisa di akumulasi!",canda Alby.


"By!",Amara melotot tajam pada kekasihnya. Setelah drama sok kiyut mereka berakhir, Alby pun kembali ke kantornya. Dan ya ...Amara menyewa bodyguard untuk mengawal Alby.


The Real Sultan! Kenapa ngga dari kemarin-kemarin coba????


Beralih ke negara Lady Di.


John dan Elizabeth sedang duduk di sebuah ruangan bersama dengan Frans, sang putra sulung.


Frans menggendong seekor kucing yang cantik dengan bulu lembut berwarna putih. Tangannya mengusap lembut bulu-bulu halus itu.


"Sayang!", Elizabeth membuka percakapan. Frans mendongak menatap wajah ibunya yang sudah tua.


"Sudah ya, jangan membuat ulah lagi. Kasian Amara!",kata Elizabeth pelan. Frans hanya menatap singkat mata sang ibu.


"Frans, dengarkan Daddy. Kamu tampan,kamu punya segalanya, kamu bisa mendapatkan perempuan manapun yang kamu mau yang pasti jauh lebih baik dari gadis Indonesia itu", John pun turut berbicara.


Usapan Frans di tubuh kucing putih itu berubah menjadi kasar.


"Jadi Mom dan Dad ikut andil di sini? Aku di jegal masuk ke Indonesia juga karena campur tangan Dad!?",tanya Frans dengan mata menghunus.


"Frans, kamu jenius. Kamu bisa manfaatkan penemuan kamu untuk kepentingan medis. Bukan untuk menyakiti orang lain. Cukup adik dan istri mu saja yang kamu korbankan nak!",suara John melunak.


Frans tersenyum sinis.


"Apa Dad sedang melobi ku? Apa Dad pernah bangga padaku saat aku menjadi seorang dokter di usia mudaku? Bukan kah hanya Mark putra kebanggaan Dad yang akan mengurus perusahaan Dad?"


"Frans, mom dan Dad bangga sama kamu sayang", Elizabeth membujuk Frans lagi.


"Mark dan Jassy sudah mengkhianati ku, Mom. Dan balasan untuk mereka adalah mati!",mata Frans menyorot tajam pada sepasang suami istri yang sudah tidak muda lagi.


"Dan...kalian mom Dad, kalian juga mengkhianati ku!",kata Frans dingin. Sepasang suami istri itu meneguk ludahnya kasar. Takut? Tentu mereka takut dengan sang putra seperti itu.


Tiba-tiba saja Frans meraih sesuatu di saku jas nya, lalu menancapkan di punggung kucing yang ada di pangkuannya. Sontak kucing itu melompat lalu meraung-raung mengeong-ngeong.(Entah lah! Pokokna mah gitu!)


John dan Elizabeth terkesiap. Tapi Frans justru tertawa puas.


"Coba lihat, hitung berapa detik kucing itu bisa bertahan!",kata Frans menyeringai. Tak sampai satu menit, kucing itu benar-benar mati. Tega sekali kau Frans!


Kedua orang tua Frans menatap tak percaya sang putra melakukan hal sekejam itu.


"Aku sayang mommy! Tapi mom sudah mengkhianati ku! Apa tidak cukup buat mommy, aku menuruti keinginan Mom selama ini??", tanya Frans menatap sang ibu.


Elizabeth sendiri memeluk John, keduanya merasa ketakutan dengan tindakan Frans barusan.


"Frans, jangan pernah sakiti Mommy!",pinta John.


"Aku tidak akan menyakiti mom dan Dad! Tapi jangan pernah coba-coba khianati aku lagi. Kalian paham?",ancam Frans. Keduanya hanya mengangguk patuh. Setelah itu ,Frans pun meninggalkan ruangan yang penuh dengan adegan mencekam.


****


Segini dulu yak! Gimana-gimana??? Masih kurang seru ya? πŸ€”

__ADS_1


Insyaallah nanti aplot lagi 2-3 bab lah. Soalnya besok para bocil minta halan-halan ke pantai 😁😁😁 mumpung libur gitu lho. Semoga ga hujan hehehe


Makasih βœŒοΈπŸ™πŸ€­πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2