
Alby
Jam makan siang tiba. Aku keluar dari ruangan ku menemui Azmi yang masih berada di meja dengan wajah serius menatap pekerjaannya.
"Mi, udah jam makan siang. Makan dulu yuk!", ajakku. Aku jadi de Javu! Vibes nya kaya jaman masih bocil ngajak main kelereng.
Azmi pun menghentikan pekerjaannya. Lalu setelah itu, dia meletakkan kotak makanannya. Seperti biasa! Satu porsi untuk ku, satu porsi untuk Azmi.
Lauk rumahan sederhana tapi justru aku menyukainya. Jadi kangen masakan Bia....
Astaghfirullah! Gumamku.
"Kalau mau makan itu bismillah, bukan astaghfirullah!",tegur Azmi.
"Ya Allah, Mi. Lo itu lagi kenapa sih? Kenapa kesannya Lo jutek banget sama gue. Kan gue yang jadi peran utama duda Jutek?!!!!"
"Heum?!", sahut Azmi.
"What? Cuma heum?",tanyaku.
Azmi meletakkan sendoknya.
"Lo cuma di jutekin sama gue, Lo udah baper. Gimana mereka yang selalu cuekin dan sikap Lo yang menyebalkan itu?", tanya Azmi pelan tapi menekan.
"Ya Allah,Mi. Itu beda konsepnya. Gue jutek juga pilih-pilih kali!"
"Huem, ya! Kebanyakan sama kaum hawa dan bapak-bapak yang berusaha jodohin anak-anak sama Lo!", kata Azmi.
Aku sudah menyelesaikan makan siangku.
"Lo ga penasaran, gue jadi ke rumah Amara apa kagak?",tanyaku pada Azmi.
"Gak. Gue yakin Lo ga seberani itu buat nemuin ortu Mara. Tapi buat melakukan yang 'iya-iya' sama anak mereka, Lo gercep!"
"Astaghfirullah, Azmi. Lo kalo ngomong....??"
"Suka bener! Ya kan?"
Aku geregetan sendiri mengahadapi duda satu ini.
"Denger gue ngomong dulu kenapa!"
Azmi menyandarkan punggungnya ke kursinya.
"Ya udah, mau cerita apa?", tanya nya pada akhirnya.
__ADS_1
"Gue...kerumah Mara semalam."
Azmi mengangguk. Meletakkan kedua tangan nya di dagu. "Lalu?"
"Pas gue sampe sana, Frans juga baru sampe. Tapi ternyata, Mara justru baru datang di antar sama Febri."
"Febri?",tanya Azmi.
"Febri yang suaminya Bia ?"
Aku mengangguk.
"Kok bisa sama Febri?",tanya Azmi yang terlihat mulai penasaran.
"Heum, jadi Amara bilang dia langsung ke rumah Febri usai meeting tadi siang. Dan ya...Bia minta Febri mengantar Mara pulang."
"Yang harus Lo tahu, Amara udah lama banget suka sama Febri dari jaman mereka masih masa pendidikan."
"Owhh....eh, tapi...kok bisa gitu akrab sama Bia? Dia ga cemburu gitu suaminya mengantarkan perempuan yang jelas-jelas pernah menyukai suaminya?"
Aku mengedikan bahu ku.
"Bia telpon Febri, bilang kalo ponsel Mara ketinggalan di rumahnya."
"Habis Febri balik, tinggal aku dan Frans yang menemani Amara. Tapi, aku memutuskan untuk pulang dan membiarkan Frans bertemu dengan ortu Mara."
"Sudah ku duga! Gue sih udah yakin Lo bakal Cemen!"
"Mulut Lo sumpah Mi! Ga mencerminkan pernah jadi santri pondok!"
"Heh!??? Jangan bawa-bawa santri dong! Gue ya gue, kalo gue belom jadi orang baik jangan salahin tempat gue di gedein tapi liat gue gaulnya sama siapa!"
Aku hanya mendengarkannya sampai akhirnya aku ngeuh kalo dia sedang menyalahkan ku yang mengajak dia jadi seperti sekarang? Hah? Gara-gara aku gitu maksudnya????
"Maksudnya Lo mau bilang ,gua yang udah ngajak Lo dalam kesesatan??? "
Azmi hanya mengangkat bahunya cuek.
"Sialan Lo ,Mi!",aku melempar tisu ke muka nya. Dia terkekeh pelan.
"Habis itu apa?",tanyanya mulai kembali ke topik.
"Gue ambil hp mara di rumah Febri. Di sana , gue malah di ceramahin sama Febri. Gue rasa, setelah Bia dan Febri nikah, hubungan Mara sama Febri Bia semakin dekat. Terlihat dari omongannya Febri padaku."
Azmi mengangguk.
__ADS_1
"Akhirnya, gue anterin tuh hape malem juga. Paginya, Mara chat! Jadi, gue jemput dia tadi pagi. Makanya gue telat, dan Lo manyun kaya onyet?!"
"Sialan Lo, gue di bilang onyet!",gantian Azmi yang melempar tisu padaku.
"Tadi, pas jalan ke kantor. Gue tanya dong, dia maunya gimana. Gue cerita semuanya dari gue sama Bia, Silvy dan sampai gue kenal Mara. Dan ya... akhirnya dia luluh juga!"
Azmi tersenyum meledek.
"Jadi?"
Aku menautkan kedua alisku.
"Jadi apa?",tanyaku bingung.
"Ciiih.... kelanjutan hubungan kalian gimana? Kalo Mara emang udah luluh?Gitu aja ga paham!"
"Hah?"
"Hah heh hoh!", sahut Azmi kesal.
"Mara cuma bilang, Jadi kita gimana? Gitu sih!"
Hidung Azmi kembang kempis menghadapi bos nya itu.
"Ogeb! Itu artinya Mara tuh lagi nanya kejelasan hubungan kalian. Kamu mau serius jalan sama dia apa gimana ? Sebagai perempuan, wajar dia nunggu kepastian!"
"Lo ngatain bos Lo ogeb??? Aspri apaan Lo!"
"Au ah, ga usah curhat! Dah lah gue mau sholat. Pusing gue nanggepin cowok ga peka."
"Azmi, maksud Lo apa sih???"
"Ya Lo pikir dong, kalo Mara udah kasih lampu hijau gitu artinya dia mau kalian lebih serius. Bukan malah nanya gimana-gimana!"
Aku terdiam. Membenarkan ucapan Azmi.
"Gue... pedekate sama ortu nya gitu ya, baru lamar Amara? Gitu?", tanyaku.
"Kumaha sia wae!",katanya meninggalkan ku di mejanya.(Terserah kamu)
****
Mon maaf 🙏 segini dulu. Makasih 🙏
Insyaallah kalo sempet up lagi, mungkin siang atau malem banget up nya.
__ADS_1