
"Buruan habiskan makan siang kalian! Ini makan siang terakhir, besok sudah puasa!", perintah Febri pada dua sahabatnya.
"Siap kapt!", sahut Dimas dan Seto.
Jika squad gendeng menikmati makan siangnya, Frans memilih untuk menyudahi makannya lalu berniat meminta untuk take A way. Percakapan antara Febri dan rekannya masih cukup terngiang di telinga Frans. Bagaimana pun juga, ia harus bisa menemui Amara.
Amara kembali bersamanya atau tidak boleh ada satu pun yang boleh memiliki nya!!!
Setelah tiga hari sejak ia mendengar obrolan Febri, Frans mencari tahu keberadaan Amara. Mulai dari rumah Alby, tapi ternyata penjagaan semakin ketat saat akan memasuki perumahan tersebut.
Frans pun tidak mau gegabah untuk menemui Amara andai mereka memang tinggal bersama di rumah Alby.
Frans memiliki banyak uang tapi dia juga tidak bisa bertransaksi di gerai ATM atau supermarket. Jika sampai itu terjadi, itu artinya dia bunuh diri. Bisa saja polisi mengecek keberadaannya lewat transaksi yang di lakukannya.
Frans mulai berpikir untuk menemui Amara di kantornya. Tapi...hal itu pasti sangat sulit. Tingkat keamanan di perusahaan Amara pasti lebih baik sekarang di banding sebelumnya pun termasuk bodyguard yang bertebaran di sekitar Amara.
Siang hari, Frans tampak mengawasi kantor Amara. Keberuntungan sedang berpihak pada nya. Dia melihat pujaan hatinya keluar dari kantor mengendarai mobil sendiri. Meskipun di belakang ada mobil yang mengikutinya. Mungkin itu bodyguard Amara.
Frans berpikir cepat. Dia harus bisa membuat mobil bodyguard itu tak mengikuti Amara, setidaknya menjauh dari mobil Amara.
Dengan seksama ia mengikuti kedua mobilnya. Instingnya sebagai seorang dokter yang genius tentu saja tidak akan gegabah. Semua keputusan yang akan dia ambil harus memikirkan akibatnya.
Saat dua mobil itu berjalan kearah apartemen Amara, Frans mencari celah agar dirinya bisa masuk tanpa harus di ketahui oleh para bodyguardnya.
Benar saja, Amara turun sendiri menuju unitnya. Bodyguardnya memang mengikuti Amara tapi tidak sampai ke unit apartemen Amara.
Frans memilih naik ke lantai dimana unit Amara berada melewati lift basement.
Karena selisih kurang lebih dua menit, Frans tertinggal beberapa lantai. Hingga saat Frans keluar dari lift, Amara sudah berada di depan pintu unitnya.
Perempuan itu akan mengambil berkas yang sedang ia butuhkan. Kebetulan berkas tersebut ada di ruang kerja apartemennya dan karena itu, dia tidak bisa menyuruh orang lain untuk mengambilkannya.
Saat Amara akan membuka handel pintu unitnya, dari belakang Frans mendorongnya masuk tanpa perlawanan.
Sontak Amara terkejut tapi saat itu juga Frans mengunci pintu unit Amara.
"Frans!", Amara memundurkan tubuhnya ke belakang.
"I Miss you baby!", Frans semakin mendekat padanya.
__ADS_1
"Stop Frans!", pinta Amara. Frans pun berhenti. Penampilan dokter bule itu sudah sangat berubah drastis. Amara hampir tak mengenalnya.
"Why? Aku sangat merindukanmu baby! Sangat!"
"Cukup Frans! Hubungan kita sudah selesai. Kamu tahu itu! Jadi tolong terima kenyataan kita tidak bisa bersama!", kata Amara mencoba mengajak Frans diskusi.
"Stttt ...aku tidak pernah bisa melihat mu bersama orang lain baby! Tidak bisa!"
"Tapi...aku sudah menikah Frans, aku istri Alby sekarang!"
Frans menyeringai dengan nada suaranya yang membuat bulu kuduknya merinding. Amara mencoba menghubungi Alby karena ia tak tau nomor ponsel bodyguard yang bersamanya tadi. Dia hanya memiliki nomor Billy. Tapi panggilan terakhir tadi adalah nomor Alby.
"Kamu milikku Amara!", desis Frans. Di saat yang sama, sambungan telepon Alby terhubung.
Diseberang sana, Alby terkejut mendengar suara asing dari telpon istrinya.
Alby meminta Azmi menghubungi Billy atau anak buahnya. Mencari tahu keberadaan Amara. Karena Alby yakin jika suara itu adalah milik Frans.
Sebagai suami, Alby merasa dirinya tidak becus menjaga Amara hingga ia kecolongan seperti sekarang.
Setelah Azmi mendapatkan jawaban jika Amara ada di apartemen, Alby langsung meluncur ke sana. Sedang bodyguard yang ada di loby pun langsung berlari ke unit Amara setelah mendapat informasi dari atasannya.
Entah kebetulan atau apa, ada polisi yang sedang berada di apartemen tersebut.
Dua bodyguard itu serta dua polisi menyambangi unit Amara.
Sedang di dalam unit Amara ...
Frans mengeluarkan sebuah suntikan yang sudah ia isi dengan penemuan barunya. Dengan senyum yang menyeramkan ia semakin mendekat pada Amara.
Perempuan itu berusaha untuk tenang. Jika dia langsung berontak, bisa saja cairan yang ada dalam suntikan yang Frans bawa bisa langsung tertuju padanya.
"Frans!", panggil Amara lirih. Bersamaan pula dengan pintu yang di gedor kasar. Amara dan Frans cukup terkejut.
"Owh...kamu memanggil mereka?", tanya Frans. Amara meneguk ludahnya kasar.
"Frans, please! Dengarkan aku, kita bisa memulai kehidupan baru kita. Jangan seperti ini Frans?!", kata Amara.
"Sure! But, you and me. Not with him!", kata Frans dengan mata memerah.
__ADS_1
"Frans, aku sudah menikah Frans. Tolong kamu pahami itu...?", kata Amara dengan suara sedikit menghiba.
Suara gedoran pintu semakin membuat Frans emosi. Dengan cepat ia meraih lengan Amara, hingga Amara terjerembab di depan wajahnya.
Nafas Amara mulai memburu, dia sudah bertekad untuk tidak takut pada Frans. Dia harus melawan.
Amara pun menginjak kaki Frans membuat ia sedikit oleng. Saat Frans akan mengarahkan suntikan itu ke arah Amara, Amara menghindari dan terjadi sedikit perkelahian.
Kedua mantan pasangan itu terengah-engah karena perkelahian. Siapa yang menyangka jika dulu keduanya adalah mantan sepasang kekasih yang saling mencintai.
"Cukup Frans!", pinta Amara hingga akhirnya pintu terbuka dan tiba-tiba bodyguard Amara menyeruak masuk ke dalam ruangan tersebut bersama dua orang polisi.
Frans yang melihat Amara fokus melihat siapa yang datang akhirnya meraih Amara dalam pelukannya lagi.
Karena perkelahian tadi, suntikan itu terpental entah kemana. Tapi Frans sudah mengalungkan pisau di leher Amara.
"Stop, atau dia akan mati!", ancam Frans. Keempat orang itu berhenti untuk melakukan gerakan untuk menyerang Frans.
Sedikit saja Amara melawan, pisau itu pasti mendarat di urat lehernya meski memakai jilbab.
Dengan menyeret Amara, Frans keluar dari unit Amara. Amara hanya bisa mengikuti gerakan Frans yang menyeretnya.
"Baby, seandainya aku harus mati sekarang, setidaknya aku mati bersama mu! Mungkin goresan dari pisau ini tak seberapa, tapi zat yang terkandung dari luka goresan itu ... perlahan akan mematikan syaraf. Dan jauh lebih menyakitkan di banding apa yang kuberikan pada papi mu! Jadi ... bersiap lah mati bersama ku baby!", bisik Frans sambil sesekali membelai dan mencium pipi Amara.
Takut??? Tentu saja ia takut! Amara membayangkan jika ia meninggalkan orang-orang yang ia sayangi, dia tak sanggup.
"Frans!", suara Amara tersendat karena ketakutannya.
Dari arah belakang tiba-tiba polisi menembakkan peluru ke kaki Frans untuk melumpuhkannya.
Karena terkejut Frans otomatis melepaskan jeratan tangannya dari leher Amara. Kesempatan itu Amara gunakan untuk menjauhi Frans. Tapi naas, saat kaki amara melangkah justru salah satu kakinya di raih oleh Frans.
Dengan gerakan cepat Amara mencoba menghindar tapi malah membuat nya terjatuh dan dengan gerakan cepat pisau itu mengarah ke Amara.
"Jika aku tak bisa memilikimu di dunia ini, maka orang lain pun tidak Amara! Kita akan mati bersama-sama! I love you baby!"
Dooorrr!!!
*****
__ADS_1
Habis ini gimana hayooo??? 🤭
tengkyu 🙏🙏🙏✌️