
Alby sudah sampai di kantor nya. Sesampainya di kantor, dia langsung menuju ke ruangan. Azmi tidak ada mejanya. Mungkin sedang istirahat makan siang atau urusan lain.
Lelaki tampan itu mendudukkan dirinya di kursi kebesaran peninggalan almarhum mertuanya. Pekerjaan sudah menantinya entah sejak kapan.
Azmi benar, Alby memang terlalu disibukkan dengan urusan hati nya selama ini. Pekerjaan terbengkalai dan lagi-lagi Azmi yang harus menangani. Padahal dia sudah berjanji bahwa Nabil dan perusahaan ini akan jadi prioritas utama untuknya. Sayang, kenyataannya sekarang jauh berbeda.
Alby yang workaholic dan terbia-bia kini sudah move on dari hal itu. Nilai plusnya, dia tak lagi mengingat kisah cinta nya dengan Bia. Dan sisi negatifnya, ya ...Alby kurang perhatian anak dan pekerjaannya. Justru sekarang perhatiannya tertuju pada pujaan hatinya yang baru, heuuum... baru! Siapa lagi kalau bukan Amara.
Urusan hati tak bisa di tunda mungkin 🤔ya By...?!
Alby mulai berkutat dengan pekerjaannya di kantor. Hingga bada ashar, Alby tak menjumpai Aspri sekaligus sahabatnya itu.
Dia pun menghubungi asprinya tersebut.
[Assalamualaikum Mi]
[Walaikumsalam, kenapa bos?]
[Lo di mana sih?]
[Saya? kerja lah]
[Dih, iya kerja di mana? Gue dari siang di ruangan, ga liat Lo!]
[Saya di restoran Xxx, meeting sama klien yang mau kerjasama sama kita, buat proyek ABC!]
[Ya Allah, ngga usah ngegas Azmi!]
[Saya ngga ngegas pak bos, tapi ini meeting baru selesai]
[Oh...ya udah makasih!]
[Iya!]
[Ya udah. Assalamualaikum]
__ADS_1
[Walaikumsalam]
Alby kembali menyimpan ponselnya. Ternyata ada chat dari sang kekasih hati.
[By, maaf ketemu Nabil nya di tunda dulu gak apa-apa ya? Ada kak Daniel mau ketemuan]
Alby pun membalas chat Amara.
[Iya ga apa-apa. Lain kali aja. Tapi kamu udah ngga apa-apa kan?]
[Aku tak apa-apa. Jangan cemas]
Diikuti emoticon senyum dengan love-love berwarna merah.
Alby tersenyum membaca balasan dari Amara. Dia tak menyangka jika seorang Alby bisa jatuh cinta lagi setelah menjalani seperti apa rasanya patah hati dan berpisah dengan Bia.
Segalanya menjadi rumit karena ulah Alby sendiri bukan? Andai...andai...andai...
Terlalu banyak berandai-andai tak menjadikan dirinya seperti sekarang. Semua sudah berubah. Mungkin benar, waktu yang akan menyembuhkan semuanya.
Hampir setengah enam sore, pria tampan itu sampai di garasi mobil. Nabil yang sedang di suapi teh Ani pun langsung menghampirinya.
"Papa!",pekik Nabil langsung meminta gendong.
"Assalamualaikum sayang!",sapa Alby pada anak tunggalnya.
"Papa, Nabil pinter makan nya lho, pakai sayur. Iya kan amih Ani?",kata Nabil. Teh Ani hanya mengangguk tipis sambil tersenyum.
"Iya dong anak papa kan pinter!",Alby mencubit hidung Nabil dengan gemas.
"Papa, tadi teh Bian ke sini. Tapi ngga lama, katanya takut di marahin papa. Emang iya? Papa suka marah-marah sama teh Bian gara-gara Tante Tua?",tanya Nabil dengan lugunya.
Alby mengernyitkan alisnya. Gara-gara siapa?
"Bianca ngomong apa Teh?",tanya Alby pada teh Ani.
__ADS_1
"Heum? Itu mas. Katanya Tante tua itu pasti yang bikin bapak suka marah-marah sama non Bian. Tapi saya ngga tahu, yang di maksud tante tua itu siapa pak. Non Bian cuma ngomong kaya begitu",jawab teh Ani.
Tante Tua? Maksudnya Amara gitu? Bianca emang keterlaluan! Bisa-bisanya dia mencuci otak Nabil. Batin Alby.
"Teh, lain kali ngga usah bolehin Bian deketin Nabil lagi. Saya ngga mau kalo Bian cuma mempengaruhi Nabil yang nggak-nggak. Tolong ya teh!",kata Alby pada teh Ani. Alby menurunkan Nabil.
Nabil yang merasa di abaikan pun terlihat begitu sedih saat Alby meninggalkannya bersama pengasuhnya.
Nabil menangis tak bersuara. Teh Ani buru-buru menggendong Nabil.
"Sayang nya amih, kenapa menangis?",tanya teh Ani menghapus air mata di pipi Nabil yang bahkan tak terdengar isakan sama sekali.
"Papa udah ngga sayang Nabil ya amih? Benar kan? Jadi yang teh Bian bener kan?",tanya Nabil pada Teh Ani.
Teh Ani menggeleng pelan.
"Ngga. Papa tetep sayang sama Nabil sampai kapanpun."
"Tapi tadi Nabil di cuekin sama papa!", akhirnya tangis Nabil pun pecah.
"Papa ngga cuekin kok. Papa cuma capek, kan baru pulang dari kantor. Ya kan?",kata teh Ani mencoba menghibur Nabil.
"Papa ngga marah sama Nabil?",Nabil kembali menghapus air matanya.
"Ngga lah. Papa cuma capek. Percaya deh sama Amih!",teh Ani meyakinkan Nabil lagi.
Anak lelaki itu pun mengangguk pelan.
"Masuk yuk, udah mau magrib."
"Iya amih!",jawab Nabil. Dia pun meminta perawatnya menggendong sampai ke dalam.l rumah.
*****
Kemarin sibuk ngekor si bungsu outing class, jadi ga sempet menghalu ðŸ¤
__ADS_1
Betewe makasih yang udah bersedia mampir di sini....🤗