
Aku dan Sakti menuju ke parkiran. Entah kebetulan atau apa, ternyata mobil kami terparkir berdampingan.
"Sak?"
"Apa?",sahut Sakti.
"Gue ga bermaksud ngeremehin kemampuan Lo. Tapi...Lo yakin kalo papi Amara murni serangan jantung?"
"Gue ga tersinggung By. Cuma kenapa gitu, Lo berpikir ada hal lain yang bikin papi Amara seperti sekarang selain karena serangan jantung? Seperti Amara yang bertanya soal keracunan itu?"
Aku mengangguk.
"Bukan gue nuduh, tapi sebelum ini Frans juga pernah mengancam gue agar tak mendekati Amara lagi. Dia akan melakukan cara apapun untuk mendapatkan Mara lagi."
Sakti terdiam beberapa saat.
"Lo mau gue melakukan pemeriksaan lebih pada pak Rahadi?"
Aku mengangguk cepat. Tapi sakti menggeleng pelan.
"Tidak semudah itu By. Semua memerlukan prosedur. Minimal ada persetujuan dari pihak keluarga. Jadi gue ga bisa serta merta melakukannya."
"Bukan kah ada pemeriksaan medis yang lebih intensif?", tanyaku.
"Benar, tapi misalnya gue mengambil sampel dari pak Rahadi, lalu maaf... terjadi sesuatu pada beliau, pasti gue di salahkan! Itu juga menyalahi peraturan dan sumpah kedokteran."
Aku terdiam beberapa saat. Sakti benar, tapi aku rasa Amara satu pemikiran dengan ku.
__ADS_1
"Coba aja Lo diskusikan sama Amara. Kali aja dia sependapat sama Lo!"
Aku menoleh padanya. Mungkin ada benarnya juga jika aku berdiskusi dengan Amara. Karena tidak mungkin aku melibatkan Daniel apalagi Nathan!
"Iya, coba nanti gue tanya Amara dulu. Tapi, gue sadar diri gue emang bukan anggota keluarga mereka."
"Emang Lo ada hubungan apa sama Amara?",tanya Sakti dengan pandangan menelisik.
"Lo ...udah move on dari Bia?",tanya Sakti lagi.
"Ngga tahu Sak. Yang gue tahu, hati gue masih suka nyeri lihat kemesraan Febri dan Bia. Tapi gue juga kaya ga rela jika Amara harus kembali sama Frans yang sepertinya terlalu berambisi memiliki Amara. Bukan cinta yang kaya gue liat!"
"Lo bisa bilang kalo Frans hanya berambisi memiliki Amara, kalo perasaan Lo sendiri aja ga bisa Lo jelasin, kenapa Lo bisa menilai kalo Frans hanya berambisi?", tanya Sakti begitu menohok.
"Eum...ga tahu Sak!"
Sakti tersenyum miring.
Hah! Aku lupa! Sakti pernah hampir baku hantam sama aku gara-gara dia jelas-jelas berupaya mendekati Bia saat hubungan ku dan Bia di ambang kehancuran. Tidak hanya Sakti, Febri pun tak kalah bersaing dengan Sakti. Dan ya ... Febri lah pemenangnya. Dia sudah memenangkan hati Bia dan 'kompetisi' mendapatkan Bia. Mengenaskan sekali sebutan itu meski aku sendiri yang menyebutkannya.
"Heum, masih butuh waktu banyak gue buat lupain semua kenangan gue sama Bia Sak. Banyak hal yang udah kami lewati apalagi...gue benar-benar udah nyakitin dia. Apa yang Febri lakukan buat meluluhkan hati Bia ya? Apa dia begitu perhatian sama Bia? Atau ...?"
"Alby! Itu bukan urusan Lo lagi. Mau seperti apapun mereka, Lo udah ga berhak lagi."
"Iya, gue tahu. Tapi asal Lo tahu, Amara juga cukup dekat dengan Bia Febri."
Sakti menautkan alisnya.
__ADS_1
"Benarkah? Kapan mereka kenalan?",tanya Sakti heran.
"Tepatnya gue ga tahu. Tapi Amara cerita kalo dia pernah mengejar-ngejar Febri dari jaman mereka masih pendidikan. Tapi saat itu Amara Nonis, mungkin itu alasan Febri tak mau dekat secara 'lebih' dengan Amara."
"Owh....tapi dia pakai jilbab dan kakak iparnya juga pakai cadar?",tanya Sakti heran.
"Amara baru mualaf beberapa bulan yang lalu saat tugas di perbatasan Sak. Dan dari sana, dia memutuskan untuk keluar dari instansi lalu meneruskan perusahaan papinya."
Sakti mengangguk paham.
"Apa Amara mualaf karena Lo?"
Aku menggeleng.
"Ngga lah."
"Owh... kirain! Betewe, gue balik deh. Bina kasian jagain Shasa sendirian."
"Heum, makasih udah mau dengerin gue."
"Iya, By! Gue kan temen Lo!",sakti menepuk bahuku pelan.
"Duluan ya, Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam!", jawabku. Kami pun melesat menuju ke rumah masing-masing.
****
__ADS_1
Mungkin sampe hari besok tulisannya ga berbobot 🙈🙈🙈 lagi sibuk di hajatan tetangga. Ini ge di usaha kan nulis sambil buka lapak prasmanan 😆😆😆 namanya ge hirup di kampung heheheh ✌️🙏🤭 yang penting gak absen 🤭
Makasih ✌️🙏