Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 59


__ADS_3

Alby


Aku memarkirkan mobilku di pinggir jalan dekat halaman rumah Febri. Tapi sepertinya mobil Febri belum sampai. Dengan sedikit ragu-ragu aku melangkahkan kaki ku menuju ke teras rumah bergaya minimalis itu.


Tok...tok...


Aku mengetuk pintu perlahan, takut membangunkan si kembar. Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki mendekati pintu.


"Maaf mas, tadi aku tinggal sholat jadi aku...kun...ci!", kata Bia setelah membuka pintu.


Pasti Bia pikir jika Febri yang pulang. Mata kami saling bertemu. Kupandangi sosok cantik yang mungil itu. Bia... sedikit berisi dan justru semakin terlihat cantik.


"Aa? Sebentar!", kata Bia. Dia langsung menutup pintu lagi. Mungkin...malu karena tak memakai jilbab. Padahal...aku bahkan tahu dan hafal bahkan setiap jengkal tubuhnya tak terlewati. Dan sayangnya....aku sudah tak berhak lagi.


Astaghfirullahaladzim????!!! Ingat By, Bia sudah bukan istri mu lagi! Kenapa aku masih merasa sesesak ini! Dia istri orang lain! Hapuskan semua perasaan dan kenangan kamu sama Bia, Alby!!! Astaghfirullah!!! Aku mengusap wajah ku kasar.


Ya Allah, bagaimana bisa aku meminta Amara untuk bersama ku sedang perasaan ku saja masih terpaut pada sosok Bia?


Selang beberapa saat kemudian, mobil Febri datang. Lelaki tampan itu turun dari mobilnya sambil menenteng diaper. Pantas aku lebih dulu sampe ke rumah nya. Ternyata dia mampir belanja dulu.


"Assalamualaikum!", Febri memberi salam.


"Walaikumsalam."


"Ada apa By? Lo ga ketuk pintu? Kenapa malah di luar?"


Febri mendorong pintu ruang tamu bersamaan pula dengan Bia yang mengarah ke pintu. Dia sudah memakai jilbabnya.


"Assalamualaikum,nduk?", Febri mengulurkan tangannya untuk di cium Bia. Pemandangan ini sungguh menyiksaku ya Allah...sakit tapi tak...


"Walaikumsalam. Eeum tadi aku ambil jilbab dulu, makanya aku ga mempersilahkan A Alby masuk. Lagian, kan ngga ada kamu. Ngga etis mas!",kata Bia.


Benar kan? Dia memang tak berubah dari dulu. Hanya perasaan nya yang sudah berubah tak lagi ada namaku lagi mungkin!


"Iya, ngga apa-apa!", Febri mengusap kepala Bia dengan pelan. Terlihat romantis tapi juga tak lebay.


Hal yang sama yang pernah aku lakukan pada Bia, dulu! Dulu sekali!


"Masuk By!",ajak Febri. Aku pun mengikutinya hingga kami duduk di sofa.


"Maaf ganggu!", kataku.


"Ada apa? Kalo ngga ada yang penting banget, ngga mungkin Lo sampe ke sini kan? Gue pikir, Lo masih di rumah Amara!"


Aku menghela nafas pelan. Bia membawa dua buah cangkir. Kopi untuk suaminya...heh! Iya, untuk suaminya! Febri! Bukan aku lagi! Sedang satu lagi secangkir teh yang pasti untuk ku. Dia tahu aku tak suka kopi. Aku yakin Bia belum sepenuhnya melupakan aku!


Huffft! Kenapa aku terlalu percaya diri sekali???


"Mas, aku ke kamar lagi ya. Ngantuk! Oh iya, ini hape nya Amara!",Bia memberikan ponselnya pada Febri.


"Ya udah, kamu istirahat aja dulu."


Febri mengusap punggung Bia. Bia pun mengangguk pelan.


"Hampura A Alby. Tapi...aku mau istirahat dulu, kalian ngobrol aja!"


"Iya, neng!", sahutku. Aku masih susah menanggalkan panggilan itu dari Bia. Febri saja dulu masih memanggil nya Nduk kan meski dia berstatus istri ku? Padahal itu panggilan kesayangan nya saat mereka pacaran dulu. Jadi, aku ngga salah juga kan?


Sepeninggal Bia, aku duduk berdua dengan Febri.


"Gue... sebenarnya cuma mau ambil hp Amara, Feb!"


"Oh ya? Lo udah bilang dia?",tanya Febri.


"Udah. Besok pagi gue anterin ke Amara sekalian ke kantor."


Febri mengangguk kecil, lalu menyerahkan ponsel Amara padaku.


"Ga mau Lo jual kan hp nya Mara?",ledek Febri.


''Sialan Lo! ya gak lah!",jawabku. Febri terkekeh pelan.

__ADS_1


"Jadi, judulnya sekarang...Amara?",tanya Febri.


"Maksud Lo?", tanyaku.


"Lo paham maksud gue, By! Tapi...gue cuma mau bilang sama Lo."


"Apa?"


"Jangan mainin perasaan cewek. Kalo Lo emang ga mau, jangan kasih dia harapan palsu."


Aku diam. Apakah Amara menceritakan masalah kami pada Febri atau bahkan Bia?


"Gue ga tahu apa yang terjadi di antara kalian, tapi dari siang Amara di sini. Cerita banyak hal sama istri ku!"


"Ga usah negesin, gue tahu si neng istri Lo!"


Bukan nya kesal, Febri malah tertawa pelan. Mungkin takut mengganggu anak-anak dan istrinya.


"By, gue tahu banyak hal sulit yang udah Lo lalui. Gue paham semua kesakitan dan kesulitan Lo."


Aku menatap arah lain di mana foto pernikahan Febri dan Bia yang di bingkai dengan frame mewah berwarna gold berukuran 20R.


"Feb, jujur gue masih bingung!"


"Soal perasaan Lo sama Mara?"


Aku mengangguk. Lha, kok malah curhat gue???


"Gue ga tahu masalah kalian berdua apa. Lagian gue ga berhak ikut campur. Mungkin Bia udah denger juga curhatan Amara. Tapi gue juga ga mau tanya-tanya sih! Itu urusan dalam negeri mereka!"


Aku meremas kedua tangan ku.


"Gue liat, Frans pantang mundur buat deketin Mara lagi. Lo sendiri? Apa yang udah Lo lakuin? Gue pikir, Lo tadi bakal gontok-gontokan sama Frans di rumah Amara!"


"Ckkk..ga lah! Gue ga mau bersikap sebodoh itu?!",sahutku. Febri terkekeh pelan.


"So...Lo juga harus ada usaha!"


Aku menoleh lalu menatap Febri. Apa dia tahu kejadian di apartemen? Apa dia tahu kejadian di kantor tadi? Mungkin Bia sudah menceritakannya apa yang Amara cerita kan?


"Trauma? Karena pernah gagal dalam berumah tangga?", tanya Febri.


"Mungkin!"


"Lo takut mengulang kesalahan yang sama?"


Aku bergeming.


"Justru Lo harus nya belajar dari masa lalu By!"


"Gue takut menyakiti cewek lain Feb. Terlebih itu Amara! Gue pernah nyakitin Bia dan Silvy dalam waktu yang sama."


"Tapi sekarang situasinya sudah berubah. Dan emang Lo akan mengulangi nya lagi? ngga kan?"


"Gue cuma takut!"


Febri menggaruk pelipisnya. Mungkin bingung karena kalimat ku terdengar memutar itu-itu saja.


"Kan Lo yang udah bikin Amara patah hati bertahun-tahun Feb!"


"Kenapa jadi gue sih?"


''Kenyataannya begitu!", sahutku.


"Ngga usah mengalihkan kesalahan ke gue. Mara bilang sendiri ke gue. Dia sering patah hati karena gue, cuma ga sesakit dia patah hati karena Lo!"


Aku langsung menoleh pada Febri.


''Dia bilang gitu?"


''Heeum!"

__ADS_1


"Kalian sedekat itu?",tanyaku. Dia memundurkan kepalanya. Mungkin heran dengan pertanyaan ku.


"Iya, sejak aku menikah dengan Bia. Hubungan gue cukup lebih dekat di banding dulu yang masih jadi rekan kerja."


"Apa yang dia bilang lagi ke Lo? Soal kejadian di apartemen?",tanyaku.


"Kejadian di apartemen?", Febri justru membeo.


Ya Allah! Jangan bilang kalo aku justru kelepasan!


"Ngga!",kataku cepat.


"Apartemen? Kejadian apa di apartemen? Jangan bilang Lo udah....!"


"Ngga! Ga sampe ke arah sana Feb. Udah ah, gue balik!"


"By!"


Aku menghela nafas ku.


"Masalah nya Amara ga mau pertanggungjawaban gue, Feb!",kataku pada akhirnya.


"Hah?! Tanggung jawab? Lo apain Mara?", Febri bangkit dari sofanya.


"Lo jangan salah paham Febri!", aku menarik nya agar dia duduk lagi.


"Lo bilang soal tanggung jawab, apa coba kalo ga karena 'hal' begitu?"


Aku mengusap leher ku yang kaku.


''Ga sampe kaya yang Lo bayangin Feb! demi Allah?!"


Aku mendengar Febri menghela nafasnya.


"Kenapa Mara ga mau Lo tanggung jawab? Apa karena ada Frans, atau karena Lo cuma mau sekedar tanggung jawab atas apa yang terjadi? Padahal perasaan Lo ga jelas?"


Nah, itu Lo tahu Kapten!!!


"Kalo Lo cuma mau bertanggung jawab atas kesalahan Lo, jelas dia ga mau. Dia tahu, Lo pernah menikahi Silvy. Dan Lo ga pernah kasih cinta Lo buat Silvy yang jelas-jelas istri sah Lo, bahkan ibu kandung Nabil. Nah sekarang? Lo mau menawarkan diri bertanggung jawab ke Mara, sekedar tanggung jawab??? Mara juga punya perasaan By!"


Kenapa Febri mendadak mirip sama si Azmi sih???


"Gue ga mau ikut campur By! Itu urusan Lo. Tapi gue harap, Lo bisa mikir jernih! Pernikahan bukan permainan! Yang dengan mudah bisa Lo hentikan saat Lo mulai bosan!!!",kata Febri.


.


.


.


Jam dua belas malam aku sudah sampai di rumah. Kondisi sudah gelap. Pasti semua sudah tidur.


Aku lewat pintu belakang. Ada mang sapto yang sedang menonton bola.


"Assalamualaikum! Belum tidur mang!"


"Walaikumsalam. Iya nih, pengen nonton Messi!"


Aku mengangguk. Meletakkan tasku di atas meja.


"Lembur?",tanya mang Sapto.


"Ngga mang."


Usai dari rumah Febri tadi, aku ke rumah Amara mengantarkan ponselnya yang ku titipkan ke satpam nya.


"Aku istirahat dulu ya mang!"


"Iya, Jang!"


Aku sudah membersih diri dan sholat isya. Nabil sudah tidur di box nya. Pintu kamar ku di biarkan terbuka. Tadi Mak menjaga Nabil sambil tiduran di ruang tv.

__ADS_1


Bukannya terlelap, aku justru kepikiran nasehat Febri tadi. Makanya, aku menyerahkan ponsel Bia pada satpam. Sebelum aku tahu bagaimana hasil pertemuan Amara dan Frans, ada baiknya aku tidak mendekat dulu pada Amara.


Meski aku janji aku yang akan menikahi nya, tapi bagaimana jika ternyata Amara berubah pikiran untuk menerima Frans????


__ADS_2