Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 52


__ADS_3

Alby


Sore ini aku dan Azmi pulang bersama. Putri sudah kembali ke pondok pesantren yang ada di Bogor. Karena aku sedang tidak mood bawa mobil sendiri, alhasil aku nebeng Azmi.


"Gue yakin Lo masih bingung sama perasaan Lo sendiri!",kata Azmi membuka obrolan.


"Iya."


"Jadi, sebenarnya Lo itu ada rasa apa kagak sama Mara?"


"Ga tahu, Mi!",aku memejamkan mataku sambil bersandar.


"Jangan bilang, Lo belum bisa lupain Bia tapi juga Lo ada hati sama Amara?"


"Ckkk...paan sih Lo!"


"Jangan maruk jadi laki Lo, satu aja kagak abis-abis."


"Eta biwir jeding sok teu di ayak lamun ngajeplak!",kataku memukul nya tapi tak mengenainya. Azmi terkekeh.


"Jujur, sebagai lelaki normal ya. Kesan pertama gue liat Bia itu ... cantik meski ya mungil sih. Tapi...."


"Heh! Lo selalu bilang jaga pandangan ke gue. Lo nya liatin mantan bini gue!"


"Astaghfirullah, jangan suudzon napa. Namanya orang cantik, di liat sekilas mah tetep membekas di pelupuk mata kalo dia tuh cantik. Apalagi Lo ya???"


"Azmi!"


"Hahahaha iya iya, ya Allah galak amat!"


"Kira-kira kak Daniel mau bantu gue ga ya?",tanyaku.


"Kemungkinan sih iya, tapi gimana. Tergantung Amara nya sih. Percuma kalo kak Daniel bantu begini begitu, eh Amara nya malah ga mau."


"Tapi, Frans udah jauh-jauh ke sini buat perjuangin Mara lho. Langsung ke ortunya lagi. Orang tua mana yang ngga mengapresiasinya coba?"


"Jadi, intinya Lo minder?"


Aku tak menjawabnya. Seandainya menjawab pun, pasti berakhir menyudutkan ku.


"Sebenarnya gini bos!", kata Azmi. Aku melirik nya sebentar.


"Kalo emang dia mau menerima Frans, sudah pasti dia langsung mengiyakan. Seperti yang Lo bilang, dia udah jauh-jauh ke sini. Masa iya mau nyerah gitu aja? Gue yakin, Frans bakal cari banyak cara buat dapetin Mara lagi."


Aku tidak menyahuti Azmi. Pokoknya yang Azmi bilang, bener deh!


Mobil kami sudah sampai didepan gerbang.


"Mau ikut turun?"


"Ngga deh."


"Oh...ya udah. Makasih!"


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam."


Aku pun masuk ke dalam rumah. Sepi! Tak terdengar suara Nabil sama sekali.

__ADS_1


"Assalamualaikum!", aku memberi salam. Tak ada sahutan dari siapapun.


Pada kemana sih? Gumamku.


Karena tak menemukan siapa pun, aku memutuskan untuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, aku mendirikan empat rakaat ku yang sudah terlalu sore.


Hampir magrib, barulah aku mendengar suara Mak dan yang lain.


"Kalian dari mana?",tanyaku. Sedikit kesal sebenarnya, kenapa mereka tak bilang dulu padaku.


"Jang, udah pulang ternyata. Ini, kami dari makam papi dan Silvy",kata Mak.


"Oh!",sahutku. Aku langsung mengambil Nabil dari teh Ani. Anak lelaki ku itu tertidur pulas digendongan Teh Ani.


Tanpa mengatakan apapun, teh Ani menyerahkan Nabil padaku.


"Nabil sama aku aja!",kataku meninggalkan mereka.


Mak dan teh Mila serta teh Ani memandangi Alby yang menjauh memasuki kamarnya.


"Bu, Alby marah kali ya kita ngga pamit?",tanya teh Mila.


"Sepertinya begitu Mil. Tapi ya udah nanti juga baik lagi kok. Kamu sama Ani istirahat aja. Sebentar lagi mau Maghrib nih!",kata Mak Titin.


"Ya Bu!", sahut teh Ani dan teh Mila bersama-sama.


Titin sendiri juga masuk ke dalam kamar nya yang tak jauh dari kamar Alby dan Nabil.


.


.


Ku tuntun Nabil berjalan menuju ke meja makan. Mak sedang membereskan meja makan.


"Baru mau Nenek panggil, udah sampe ke sini!", kata Mak tersenyum.


"Nabil mau maem Nek!",kata Nabil. Aku pun meletakkan Nabil di bangku khusus miliknya. Aku memang membiasakan dia makan sendiri agar tak bergantung bantuan orang lain meski itu aku atau pun Mak.


"Jang?!"


Aku mendongakkan kepala ku.


"Naon Mak?"


"Maneh marah sama Mak, ngga ijin pergi ke pemakaman ya?", tanya Mak ragu-ragu.


"Ngga Mak!",jawabku singkat.


Mak hanya menghela nafasnya. Dia mungkin merasa bersalah karena memang tak ijin padaku. Sebenarnya aku pasti mengijinkan, tapi setidaknya bisa bicara baik-baik padaku. Aku hanya khawatir terhadap mereka, itu saja. Tapi sepertinya Mak tidak memikirkan hal tersebut. Terlalu menggampangkannya.


"Pa!"


"Apa sayang?"


"Nabil mau beli!",katanya. Aku mengernyitkan aksiku.


"Nabil mau papa beliin apa? Robot apa mobil-mobilan?"


Nabil menggeleng.

__ADS_1


"Nabil mau beli mama. Kaya dede Fesha! Dede Fesha punya mama! Nabil udah ngga punya bunda!", katanya masih dengan suara cadelnya.


Ya Allah, kenapa anak ini bisa bicara seperti itu? Dapat kosakata dari mana? Bahkan aku baru sekali ini mempertemukan Nabil dengan anak-anak Bia.


"Nabil kata siapa, beli...mama?",tanya ku. Aku memandangi Mak, dia hanya menggeleng.


"Kata Nabil!", jawab nya.


"Mak, Nabil sama Alby ke dalam dulu ya!", pamit ku pada Mak. Mak hanya mengangguk. Aku menggendong Nabil menuju ke kamar kami. Karena Nabil sudah besar, kami terbiasa tidur dalam ranjang yang sama. Aku menurunkan Nabil ke ranjang, setelah itu aku pun turut duduk di hadapan anak semata wayangku.


"Sayang, dengar papa!", aku meletakkan kedua tangan ku di bahu Nabil.


"Nabil tolong dengarkan papa. Yang namanya mama itu, ngga bisa beli. Nabil jangan bilang ngga punya bunda. Bunda Nabil sudah ada di surga. Liatin Nabil dari sana. Nabil kan anak baik, anak Soleh suka doain bunda. Ya kan? Jadi, Nabil jangan bilang kalo Nabil ngga punya bunda."


"Tapi Nabil mau punya mama, kaya mama nya dek Fesha. Cantik?!",katanya memuji Bia dengan suara cadelnya.


"Cantik? Siapa yang ngajarin Nabil kata itu?",tanyaku lagi. Dia menggeleng sambil tersenyum.


"Nabil sendiri!", jawab nya dengan tetap mengeluarkan suara cadelnya.


Aku bingung, anak seusianya bisa menilai seseorang cantik?


"Jadi, kapan kita beli Mama?", celetuk Nabil.


"Hah? Eum...sayang, mama itu ngga bisa di beli nak."


Nabil tampak berpikir. Lalu dia turun dari ranjang perlahan-lahan menuju ke lemari bajunya.


Dia membawa sebuah celengan berbentuk kodok. Bahkan aku tidak tahu kalo dia memiliki itu.


"Apa ini sayang?",tanya ku.


"Buat beli mama!",katanya. Aku terperangah tak percaya.


Tok...


tok...


Pintu kamar ku di ketuk setelah itu masuk lah Mak Titin.


"Mak yang beliin celengan buat Nabil. Kalo ada sisa belanja, dia suka banget masukin ke situ."


Aku mengangguk tipis, ngga salah juga sih ajaran Mak. Meski masa depan Nabil insyaallah terjamin ngga akan kekurangan uang.


"Mungkin Mak salah!",kata Mak. Aku menoleh padanya.


"Nabil hanya anak dua tahunan. Mak yang salah memberikan pengertian sama Nabil. Mak bilang sama Nabil, nabung biar bisa beli apa aja yang Nabil mau."


Nabil tersenyum menunjukkan gigi putih nya.


"Mak ngga nyangka aja kalo...kalo Nabil sampe berpikir buat beli....Mama!", kata Mak.


Ya Allah!!! Kenapa putra ku secepat ini dewasanya????


******


Only Nabil anu kos kieu ! Kalo dalam dunia nyata, umur segitu masih minta Mimi susu 🤗🤗🤗🤗😆😆😆


Maaf ya kalo gaJe 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


Makasih ✌️


__ADS_2