
Alby
Aku sudah mengurus Nabil dari mandi sampai sarapan. Karena Azmi bilang dia akan menghandle semuanya. Niatku setelah Nabil siap, aku akan menemui Amara, sebelum dia benar-benar berangkat.
Aku menggendong Nabil keluar dari kamar ku. Ternyata sepi! Tumben???
Aku merogoh kantong ku. Ada chat dari teh Ani. Dia mendalami ijin karena suaminya sakit. Tentu saja aku mengijinkan nya bukan?
Aku dan Nabil ke dapur, mencari keberadaan Mak atau teh Mila atau juga mang Sapto. Tapi tak ada satupun salah satu dari mereka.
Aku menghampiri kamar Mak. Ternyata juga kosong.
"Lha? Pada kemana mereka?", aku bermonolog.
"Sebentar ya sayang!", aku berbisik pada Nabil. Ku hubungi nomor Mak.
[Assalamualaikum Jang?]
[Walaikumsalam, Mak teh kamana? Teh Mila jeng mang sapto ge euweh?]
[Hampura Jang. Mak tadi teh buru-buru. Temen Mak ada yang meninggal, jadi teh Mila nemenin Mak melayat. Di anterin sama si sapto. Tadi Mak mau bangunin maneh, tapi karunya. Masih tidur]
[Emang kamana?]
[Sentul Jang]
[Oh, ya udah atuh. Teh Ani ijin, suaminya sakit]
[Aduh, terus Nabil jeng saha?]
[Ya udah lah Mak, Alby bawa aja. Masa mau di tinggal sendiri di rumah]
[Maap atuh jang. Kirain teh si Ani berangkat]
[Ngga apa-apa mak. Ya udah bilang mang Sapto, bawa mobilnya hati-hati gitu]
[Iya jang. Ya udah atuh, assalamualaikum]
[Walaikumsalam]
Aku memasukan ponsel ku. Lalu tersenyum pada Nabil ku yang mirip sekali dengan ku.
"Nabil ikut papa ya? Nemuin Tante Amara. Habis itu, kita ke kantor Nabil? Oke?", kataku. Seperti mengerti saja, Nabil mengangguk riang.
Ternyata mang Sapto membawa mobil yang biasa aku pakai. Ya...tidak salah sih memang. Akhirnya aku memakai mobil yang dulu ku pakai untuk antar jemput almarhumah Silvy.
Ku siap kan dulu baby seat car. Setidaknya, ini akan jauh lebih aman dari pada di geletakin begitu saja mengingat Nabil sedang rusuh-rusuhnya.
"Nabil, denger papa. Nabil duduk di sini, diam ya? Soalnya papa kan nyetir. Ngga bisa pegangin Nabil. Nabil nurut sama papa ya?"
__ADS_1
Lagi dan lagi, Alhamdulillah Nabil menurut. Kunyalakan lagu-lagu muslim anak populer. Dan ya....Nabil tampak mendengarkan lagu itu di depan layar.
Perjalanan menuju ke kantor cukup ramai lancar. Mungkin juga, jam segini apel pagi nya sudah selesai. Jadi, setidaknya aku bisa bicara lebih dulu padanya.
Setelah memarkirkan mobil, aku menemui petugas jaga.
"Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?", sapanya ramah tapi tetap tegas.
"Selamat pagi, saya mau bertemu dengan Lettu Amara atau kalau tidak Kapten Febri."
"Mohon tunggu sebentar!", katanya. Setelah beberapa saat, petugas itu mempersilahkan aku masuk.
Bukan Amara yang ku temui, melainkan Febri yang sepertinya baru saja selesai memimpin apel.
"By? Tumben? Ada apa?", tanya nya sambil menyalami ku dengan ramah. Nabil yang heboh, bereaksi minta di gendong Febri. Aku cukup malu, beruntung Febri tak keberatan bahkan dengan senang hati menerima uluran tangan Nabil.
"Maaf!", kataku. Febri tersenyum tipis.
"Ngga apa-apa. Biar terbiasa. Latihan jadi bapak. Apalagi nanti anakku kembar."
Aku menanggapi nya dengan tersenyum. Kali ini, tulus! Serius!!!
"Tapi, ada apa ke sini By? Amara lagi?", tanya Febri. Aku mengangguk.
Febri menoleh ke arah lapangan. Posisi mereka tertutup jika di lihat dari arah lapangan. Tapi sebaliknya, dari posisi itu merasa bisa melihat kondisi lapangan.
Di lapangan, sudah berkumpul beberapa prajurit. Aku tak bisa membedakan, yang mana Amara. Dari jauh kelihatan sama semua!
"Iya. Sebentar lagi kami akan berangkat ke bandara."
"Lo ikut?", mendadak aku khawatir jika Febri ikut, lalu Bia yang sedang hamil bagaimana? Aku pernah melakukan kesalahan saat itu. Jangan sampai Febri mengulang kesalahan ku.
"Gue ikut ke bandara doang. Lagian, itu tugas bukan SK langsung dari atas yang di tunjuk nama, tapi itu atas kemauan sendiri."
"Jadi, Amara ikut pasukan itu?"
"Iya. Kenapa? Apa ada yang bisa gue bantu?", tanya Febri. Aku menatap nya sekilas.
"Bisa ijinin gue buat ngobrol sama Amara, bentar aja Feb!"
"Ya, silahkan sih. Mumpung dia belum jalan!"
"Bisa Lo panggil ke sini? Atau ruangan Lo? Gue mau ngomong serius sama Amara."
Febri nampak berpikir sejenak. Setelah itu, ia memanggil salah satu anak buahnya untuk memanggil Amara ke ruangan Febri.
Aku, Nabil dan Febri lebih dulu masuk ke ruangannya. Selang beberapa saat kemudian ada yang mengetuk pintu ruangan Febri. Saat dipersilahkan masuk, benar saja Amara yang masuk.
"Selamat pagi Kapt! Anda memanggil saya?", sapa Amara.
__ADS_1
"Selamat pagi Lettu Amara. Ada yang ingin bertemu anda. Silahkan jika ingin bicara. Masih ada waktu satu jam sebelum kita berangkat. Ayo Nabil, ikut ayah Feb. Biarkan papa mu bicara serius dulu!", Febri mengambilnya Nabil dari ku. Kini, hanya ada aku dan Amara di ruangan ini.
Beruntung, ini bukan jam sibuk karena sebagian banyak yang ikut dalam misi yang sama dengan Amara.
"Mara!", aku memulai bicara padanya. Lebih dari sebulan aku tak bertemu dengan nya. Dia masih saja sama, cantik! Astaghfirullah....
"Ada apa?", tanya Amara datar. Apa mungkin Amara masih marah padaku?
"Bisa aku meminta satu hal darimu!"
Amara menoleh padaku. Dia memang memasang wajah datar, tapi entah kenapa bagiku dia sedang menahan emosi.
"Apa kita sedekat itu? Sampai kamu berhak meminta sesuatu?"
Jleb! Kok sakit ya di gituin doang?
"Aku...aku tahu. Aku salah!"
Amara tersenyum sinis.
"Atas dasar apa kamu merasa bersalah?"
"Aku tidak...."
"Maaf, aku tidak butuh di kasihani! Jadi,lebih baik tidak perlu berusaha menemui ku."
"Mara! Aku tahu aku salah. Aku terlambat menyadari kalo...aku nyaman sama kamu Mara. Oke! Aku egois! Aku gengsi untuk...!"
Aku menghentikan ucapan ku saat Amara menatap jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
Aku tak peduli lagi apakah Amara mendengar ku atau tidak. Ku katakan masa lalu ku yang kelam. Yang sudah menyakiti Bia dengan menikahi Silvy. Sampai harus berpisah dengan Bia dan semuanya nya hingga aku berada di posisi sekarang ini.
"Kamu sudah tahu, betapa buruknya aku Mara!"
Aku melihat mata Amara berkaca-kaca. Dia bahkan tak berani membalas tatapan mataku. Aku mendekat padanya, kini kami saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.
"Aku masih takut dengan masa laluku Amara. Aku hanya tidak ingin menyakiti mu, tapi justru aku tersiksa sendiri seperti ini!"
Aku memaksa Amara untuk menatap ku. Mata kami saling bertemu.
"Terimakasih sudah menjelaskan semuanya. Tapi...maaf! Aku harus tetap berangkat! Dan aku yakin, selama aku pergi...kamu bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih semangat di banding aku, By!"
"Mara! Berapa lama pun kamu pergi, aku akan menunggu mu!", kataku dengan penuh percaya diri. Ini bukan soal gombal atau cinta-cintaan. Amara tersenyum tipis.
"Jangan terlalu banyak berharap, jika tidak sesuai dengan keinginan mu, kecewa mu jauh lebih menyakitkan dari pada hanya sekedar menunggu!", kata Amara. Dengan langkah tegas, dia meninggalkan ku begitu saja.
Dia... benar-benar memilih untuk mundur??? Dia tetap berangkat??? Aku kembali terduduk di sofa ruang Febri.
*****
__ADS_1
Sakit ngga bang di gitu in??? 🤔🤔🤔