Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 201


__ADS_3

Alby meraba samping kasurnya yang tak merasakan keberadaan istrinya. Lelaki itu pun bangun dan duduk sambil mencari Amara. Di lihatnya pintu kamar mandi yang terbuka itu artinya Amara tidak ada di sana.


Akhirnya ia menyibak selimut yang tadi menutupinya. Dengan sesekali menguap ia keluar dari kamarnya. Matanya langsung beralih ke dapur. Dilihatnya sang istri yang sedang meracik masakan. Tapi Alby menyempatkan diri untuk melihat jam dinding yang ternyata masih menunjukkan pukul satu dini hari. Itu artinya mereka baru tidur beberapa jam yang lalu.


"Neng?", sapa Alby. Amara menoleh karena terkejut.


"Aa? Kok udah bangun?", tanya Amara sambil mencuci tangannya lalu duduk di samping Alby.


Alby menarik kursi Amara agar lebih dekat.


"Harusnya Aa yang tanya, kenapa kamu udah bangun? Ini masih jam satu pagi! Di sini imsyak aja paling ngga hampir setengah lima sayang."


"Eum...aku ngga bisa tidur lagi habis Seto telpon A"


"Seto? Ngapain?", tanya Alby sambil merengkuh pinggang ramping istrinya.


"Seto bilang, Frans melarikan diri saat akan di bawa ke London!", kata Amara.


"Kok bisa? Bagaimana mungkin? Pengamanannya kurang apa gimana?", mendadak Alby merasa cemas terhadap keselamatan istrinya.


"Aku ngga tahu A. Seto cuma ngasih tahu kaya gitu aja."


Alby merangkul bahu istrinya.


"Kamu ngga boleh sendirian ke mana-mana selama Frans belum ketangkap!", kata Alby.


"Aku kan emang selalu di temani sama bodyguard A!"


"Iya, tapi....!"


"Pssttttt....lagi pula dia tidak tahu kita sudah menikah dan tinggal di sini!", Amara mencoba menenangkan.


"Sayang, dengar kan aa! Aa tidak ingin terjadi hal buruk lagi seperti dulu. Aa sudah cukup tahu seperti apa nekatnya Frans. Dan Aa tidak mau hal itu sampai terulang!"


"Heum, iya sayang! Iya!"


"Masih jam satu lewat Neng!", bisik Alby.

__ADS_1


"Iya, masih terlalu malam buat sahur. Makanya bentar lagi aku masaknya."


"Ngapain?", tanya Alby sambil meletakkan dagunya di atas bahu Amara.


"Ya... meracik bahan yang mau di masak buat sahur lah A!", jawab Alby.


''Emang mau masak apa?"


"Sayur sop buat Nabil. Dia mau ikut sahur kan, tapi juga aku siapin buat Nabil makan siang. Anak kita belum genap empat tahun, ngga harus puasa full A!"


Alby tersenyum senang. Amara benar-benar menganggap Nabil seperti anak kandungnya.


"Gimana kalo kita bikin adik buat Nabil! Masih lama ini waktu buat masak!", ajak Alby.


"Kirain mau absen!", ledek Amara.


"Ayolah...!", ajak Alby. Sebagai istri yang baik, Amara pun menuruti permintaan suaminya.


.


.


.


Frans, badannya yang sekarang sudah tidak lagi sixpack seperti dulu sejak ia masuk tahanan.


Laki-laki dengan tinggi seratus sembilan puluh sentimeter itu menyandarkan tubuhnya ke dinding berlumut. Tak ada siapa pun disana. Bahkan mungkin para binatang dan hantu penghuni gedung kosong itu lebih takut pada sosok psikopat tampan itu.


Lelaki bule itu terengah-engah setelah beberapa kali berlari dan bersembunyi saat ia melarikan diri dari petugas. Tapi karena kelihaiannya, Frans bisa keluar dari bandara tanpa bisa terdeteksi cctv bandara.


Yang ada dalam pikirannya adalah segera menemui Amara, pujaan hatinya. Jika selama ini ia berpura-pura diam dan menjadi pria lemah saat di sel tahanan, tidak untuk sekarang.


"Baby, jika aku tidak bisa memiliki mu maka siapa pun tidak berhak atas dirimu! Kamu hanya milikku, Amara!", monolog Frans dengan seringai yang menyeramkan.


Frans berdiri lalu berjalan perlahan menuju sebuah ruang rahasia yang mungkin hanya dia yang tahu keberadaan tempat itu.


Ya, Frans masih memiliki sebuah laboratorium rahasia. Dia punya segalanya untuk bisa membuat lab di mana pun dia mau.

__ADS_1


Ruangan itu tidak akan tampak dari luar. Siapapun akan segan memasuki gedung tua itu, tapi tidak dengan Frans.


Rumah itu memang sudah tua dan lama kosong tapi pemilik lamanya masih memberi akses listrik, mungkin agar tak terlihat terlalu seram di malam hari. Tapi...lampu di depan rumah kosong itu memang tak pernah padam. Lalu dari mana Frans tahu info tentang rumah itu???


Perlu di ingat, mata-mata Frans banyak dan ia mampu membayar siapapun yang mau uang dan bekerja sama dengannya.


Lampu di lab pun menyala. Ia mengaktifkan beberapa peralatan penelitian miliknya. Jika dulu dia hanya memberi cairan untuk melumpuhkan syaraf sekian persen pada papi Amara, kali ini Frans akan membuat penemuan baru.


So...lihat saja apa yang akan di lakukan oleh dokter yang salah jalan tersebut.


.


.


Di pesawat yang menuju ke Australia....


"Kenapa papa harus mengantarku segala!", monolog Bianca yang sedang berada di toilet pesawat. Dia kesal bukan main.


Hampir setengah jam Bianca di dalam toilet. Dia hanya bercermin sambil mengungkapkan unek-uneknya yang kesal terhadap papanya. Apalagi...dia tak bisa lagi melihat si duda tampan pujaan hatinya, Alby!


Seseorang mondar mandir di depan pintu toilet hingga salah seorang pramugari menghampirinya.


"Permisi pak , ada yang bisa kami bantu?", tanya pramugari itu ramah.


"Iya, saya mau ke toilet. Tapi sudah setengah jam saya menunggu penghuni toilet tidak keluar-keluar!", jawabnya.


Pramugari itu pun mengecek sebentar, memang ia juga sempat melihat seseorang masuk ke dalam toilet saat ia memeriksa tadi.


Ceklek!


Tak lama kemudian, seorang perempuan yang tak lain Bianca keluar dari toilet.


"Silahkan pak, sudah kosong!", ujar pramugari. Ia pun mengangguk pelan.


Lelaki yang bernama Daniel itu menatap sengit terhadap Bianca. Dia kesal harus menunggu selama setengah jam di depan toilet.


"Biasa aja dong liat nya om! Ngga pernah lihat cewek cantik ya!", sindir Bianca.

__ADS_1


Daniel yang sedang menahan panggilan alamnya pun memilih langsung masuk toilet tanpa menjawab sindiran Bianca.


Setelah buang hajat, Daniel kembali ke kursinya lagi. Masih ada waktu dua jam lagi sebelum pesawat landing. Tapi rasa kesalnya pada gadis penunggu toilet tadi masih tersisa hingga ia duduk kembali.


__ADS_2