
Alby, Azmi dan Nabil sudah sampai di restoran cepat saji yang tak terlalu jauh dari kantor. Anak lelaki tampan itu berjalan ruang di kawal dua pria tampan tanpa cacat.
Wajah tampan Alby dan Azmi menjadi pusat perhatian di restoran tersebut. Apalagi, wajah tampan dan menggemaskan milik Nabil membuat orang ingin sekali menyentuh bapaknya, eh... menyentuh Nabil tentunya.
"Jalan nya pelan-pelan Bil!",pinta Alby pada putranya.
"Siap papa!",kata Nabil. Restoran cepat saji itu berada di kawasan mall Xxx. Karena jam makan siang, otomatis kondisi resto cukup ramai.
"Om aja yang pesan, Nabil mau pesan apa?",tanya Azmi menunjukkan gambar menu makanan pada Nabil.
"Ini om sama kentang goreng, minumnya...", kata Nabil terpotong.
"Teh botol yang suhu ruang, jangan yang dingin. Kamu gampang batuk Bil!", titah Alby. Nabil pun memanyunkan bibirnya.
"Benar kata papa, kita nanti samaan kok Bil. Ngga ada yang minum dingin. Oke?", kata Azmi.
"Siap om! Makasih?!",kata Nabil. Azmi Iantas menuju ke layar di dinding untuk memesan makanan yang Nabil ingin, begitu pula dengan Alby dan dirinya yang satu selera. Tak lupa ia memasukkan kartu ATM nya untuk membayar makanan tersebut. Setelah mesin mencetak pesanannya, ia pun menuju ke tempat di mana ia bisa mengambil makanannya.
Tak sampai lima menit, pesanannya sudah ada di tangan Azmi. Lelaki ganteng itu melangkah menuju ke meja bos dan anak bosnya.
Saat melewati beberapa meja, tak sengaja ia bertabrakan dengan seorang perempuan.
"Awsss!", pekiknya pelan. Beruntung makanan yang Azmi bawa tidak tumpah.
"Maaf!",ujar Azmi datar. Memang dia sebelas dua belas seperti bosnya jika sedang berada di luar, cuek tapi tapi tidak jutek seperti bos nya.
"Lain kali hati-hati dong mas!",kata perempuan tadi.
"Iya mba, saya kan sudah minta maaf!",kata Azmi lagi. Perempuan itu mendengus kesal meninggalkan Azmi begitu saja. Azmi hanya menggeleng heran, dia yang salah dia yang marah. Dasar perempuan!!!
Azmi meletakkan pesanan untuk Nabil lebih dulu. Anak itu benar-benar antusias di ajak makan di restoran cepat saji yang berlogo embah-embah berjenggot dan berkacamata itu.
"Silahkan bos!",Azmi menyerahkan bagiannya pada Alby.
"Makasih Mi!",kata Alby menerima makanannya.
Mereka bertiga menikmati makanannya dengan santai tanpa terburu-buru. Kenapa? Ya iya lah, mereka berada di puncak tertinggi pemerintah perusahaan 🤣🤣🤣
Saat sedang makan, tanpa sengaja mata Alby menangkap sosok gadis yang ia kenal sedang kebingungan mencari tempat duduk.
"Nur!",Alby melambaikan tangannya pada Nur, teman dari Sabrina istri dokter Sakti.
Nur pun menoleh lalu mendekati meja Alby dan yang lain. Ia tersenyum tipis dan mengangguk. Gadis berjilbab biru tua itu menyapa Alby.
"Mas Alby!",sapa Nur.
"Ngga kebagian tempat duduk, duduk sini aja! Geser Mi!",pinta Alby pada Azmi.
Mata Azmi dan Nur saling berpandangan beberapa saat, lalu setelah itu Azmi yang memutuskan pandangan lebih dulu. Dilarang lebih dari tiga detik katanya ...
"Mas yang tadi nabrak aku kan?",tanya Nur sambil duduk di samping Azmi, yang sudah menggeser kursinya. Azmi pun mengangguk.
Nur hanya membulatkan mulutnya.
"Sendiri aja Nur?",tanya Alby ramah.
"Iya mas Alby, kan Bina mah udah ngga bisa ke mana-mana. Mana besok kan nikahannya mba Anika sama mas Dimas. Udah sibuk banget pastinya",jelas Nur. Mereka berdua memang belum pernah ngobrol sebanyak sekarang.
"Kamu di undang?",tanya Alby. Nur mengangguk.
"Iya, kebetulan kan aku juga udah lama kenal sama Mas Dimas, mas!",kata Nur. Alby mengangguk.
"Ini, anaknya mas Alby? Ganteng banget ya mas!",puji Nur. Nabil tersenyum riang.
"Iya Nur, namanya Nabil. Kalo yang ini, Azmi. Sekretaris sekaligus Aspri ku!",jelas Alby memperkenalkan Azmi pada Nur. Azmi sendiri masih fokus dengan makanannya.
"Aku makan dulu ya mas!",kata Nur.
__ADS_1
"Iya silahkan!",Alby pun mempersilahkan Nur memakan makanan yang ada di hadapannya. Azmi selesai lebih dulu dan gak lama kemudian, ponselnya berdering. Kembali dari Billy.
[Hallo, Bil?]
[......]
[Oke, makasih Bil]
Azmi memasukkan ponsel nya lagi ke dalam saku kemejanya.
"Amara sudah on the way kantor nya lagi!",Azmi memberitahu bos nya.
"Alhamdulillah, tapi Billy dan yang lain masih ikutin kan?",tanya Alby. Azmi hanya mengangguk, karena tadi Billy memang mengatakan dia mengikuti Amara.
Makan siang mereka pun selesai, begitu pula dengan nur. Gadis itu pun sudah menyelesaikan makannya.
"Langsung balik kantor bos, ada berkas yang harus di serahkan besok pagi. Malam mau ke undangan mas Dimas kan?"
"Iya Mi!",sahut Alby.
''Bil, kita kembali ke kantor yuk. Papa masih ada kerjaan."
"Oke papa!",kata Nabil sambil mengacungkan jempolnya.
"Nur, besok ada teman buat ke undangan Dimas?",tanya Alby pada Nur. Nur menautkan kedua alisnya.
"Teman? Ngga, aku datang sendiri. Kenapa mas Alby?",tanya Nur bingung.
"Kalo ngga ada temen, nih sama Azmi. Aku ngajak dia tapi bilangnya ngga ada pasangannya, ga di undang. Nah, kamu mah kan punya undangan yang bisa di pake dua orang kan? Gimana kalo kalian datengin bareng aja. Soalnya aku sama Amara, nanti kamu sama Azmi aja!",pinta Alby.
Azmi melebarkan matanya menatap bos nya yang overrrr....
"Hah? Sama mas Azmi? Yang bener aja, aku kan ngga kenal mas!",kata Nur lagi.
"Makanya kenalan, kasih nomor wa kamu sama alamat kos kamu. Biar besok dia jemput kamu, terus kita berangkat bareng!", ujar Alby. Mulut Azmi menganga lebar. Tidak percaya bos nya bisa bertingkah menyebalkan seperti itu.
"Mana Nur! Saya mau balik ke kantor!",paksa Alby.
"Nanti kabarin lewat wa , alamat kos kamu ya!", pinta Alby pada Nur.
"Iya mas!", sahut Nur. Entah kenapa dia mah hanya bisa mengiyakan saja duda ganteng beranak satu itu.
"Ari maneh mah kitu. Bebejaan heula ka urang atuh!", kata Azmi kesal.(Kamu mah gitu. Bilang dulu ke aku dong)
"Ish....!",desis Alby.
"Meuni teuing si Aa teh. Urang sorangan ka ondangan ge teu nanaon. Moal ngarep di baturan, apalagi baturna teh kos si Aa. Judes teuing!", umpat Nur pada Azmi.
(Gitu amat si Aa. Aku sendiri ke undangan juga ngga apa-apa. Ngga ngarep di temenin, apalagi temennya kaya si Aa. Judes banget!)
"Eh, Nur teh neng Sunda!",kata Alby tak enak.
"Muhun A, urang ti Bandung!",kata Nur dengan nada yang masih terdengar kesal.
"Sarua atuh jeng si Aa Azmi, Mi...mojang bandung Mi!",kata Alby menyikut lengan sahabatnya. Untuk saat ini, dia benar-benar sedang merasa jika dirinya bernostalgia karena berbicara dengan bahasa daerahnya.
Azmi mengedikan bahunya lalu meraih Nabil untuk di gendong.
"Ayo Bil!",ajak Azmi. Nabil pun tak menolak ajakan gendong Azmi.
"Tungguan atuh Mi!",kata Alby sedikit berteriak memanggil asprinya. Wajah tampan keduanya menyita perhatian pengunjung restoran tersebut.
"Nur, jangan lupa share loc kosan kamu ya. Besok beneran di jemput sama Azmi. Oke? Duluan ya! Assalamualaikum!",pamit Alby.
"Walaikumsalam!",kata Nur lemas. Dia tak percaya jika Alby bisa 'sehangat' itu. Karena selama ia tahu Alby, meski tak pernah banyak mengobrol yang dia lihat Alby itu Jutek nya sebelas dua belas dengan Azmi tadi. Ternyata Alby tak seburuk yang orang lihat!
Nur pun keluar dari restoran tersebut dan jalan-jalan sendiri berkeliling mall. Sedang Alby sendiri sibuk mengejar Aspri juga anak yang di gendongnya.
__ADS_1
"Azmi, ya elah Mi. Gitu aja ngambek!", ledek Alby.
"Maneh mah...ihhh...belegug!", kata Azmi lirih tapi masih sempat terdengar oleh Alby apalagi Nabil.
"Dih, gue pecat Lo manggil gue 'maneh' kaya yang di sana itu! Mau Lo? Sopan dong sama bos!",ledek Alby lagi.
"Heum, hampura atuh bos!",kata Azmi dengan wajah datarnya. Nabil yang bingung dengan obrolan dua orang dewasa itu hanya menoleh ke Alby dan Azmi bergantian.
"Papa, belegug!",celetuk Nabil tiba-tiba. Mata Alby membulat sempurna, tapi Azmi menahan tawanya.
"Nabil ngga boleh bilang kaya gitu, ngga sopan!",kata Alby.
"Ngga sopan Pa? Tadi om Ami bilang gitu, papa juga suka bilang gitu sama om Ami. Ya kan Om?",Nabil minta persetujuan Aspri papanya. Azmi hanya mengangguk.
"Wah, Lo bener-bener udah bikin otak anak gue terkontaminasi."
"Kok nyalahin saya Bos?!",kata Azmi dalam mode formal.
"Udah pokoknya Nabil jangan ngomong kaya gitu lagi. Oke? Papa sama om Ami juga ngga bakal ngomong kaya gitu, kalo ada Nabil."
Nabil kecil itu hanya mengangguk paham.
.
.
"Dari mana kamu?", tanya Daniel saat Amara memasuki ruangannya.
"Kak Dan, udah lama di sini?",tanya Amara sedikit terkejut karena Nada tak bilang kalau Daniel ada di ruangannya.
"Belum, dari mana kamu?", ulang nya lagi.
"Dari...dari... jenguk Frans kak!",jawab Amara.
"Jenguk Frans? Buat apa?"
Amara menghela nafas berat. Dia menatap kakaknya sekilas.
"Kakak liat sendiri kemarin dia kaya apa kan di persidangan? Kakak tahu ngga...?"
"Ngga tahu!",sahut Daniel sekenanya.
"Makanya aku kasih tahu kak. Frans beberapa kali percobaan bunuh diri. Kemarin dia mengulangnya lagi. Beruntung masih di gagalkan sama sesama napi. Dia... kaya orang depresi berat kak."
"Kamu masih punya rasa kasihan sama orang yang udah mau hancurin kamu? Mau bunuh papi? Ckkk....!"
"Kak, nurani ku sebagai sesama manusia tentu tidak tega melihat dia seperti sekarang kak."
"Kamu masih memiliki perasaan sama Frans?",tebak Daniel.
"Ngga kak. Aku cuma merasa kasian aja. Di saat dia terpuruk seperti ini, dia cuma sendirian. Dia ngga mau ketemu orang tuanya, pengacara apalagi. Dia sudah pasrah Kak!"
"Kamu yakin cuma iba?",tanya Daniel lagi. Amara mengangguk.
"Hati-hati Ra! Kakak cuma mau ngingetin. Sikap kamu yang gampang luluh, bisa jadi buat Boomerang hubungan kamu sama Alby. Kamu bilang sama dia, kalo kamu nemuin Frans?"
Amara terhenyak. Ya, dia tahu dia salah. Tidak meminta ijin lebih dulu pada Alby, meski belum jadi suaminya sih. Tapi...dia sudah menolak ajakan makan siang bersama Alby, justru memilih menjenguk mantan di penjara. Apa yang akan Alby pikirkan????
"Lain kali, pikir sebelum bertindak!",ujar Daniel keluar begitu saja dari ruangan Amara.
Amara terpekur, menyadari kesalahannya. Gadis itu memijat pelipisnya yang berdenyut.
Ting! Ada notifikasi chat masuk.
[Sudah selesai menjenguk mantan?]
Chat itu dari Alby. Amara tak bisa menebak apa yang akan terjadi nanti.
__ADS_1
******
Selamat berbuka puasa 🙏🙏🙏🙏