Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 147


__ADS_3

Alby meminta anak buahnya mengantarkan mobil Amara yang ia pakai semalam. Dia memiliki jadwal cukup padat di mana ia harus meeting dengan beberapa klien dan tentu saja di temani asprinya.


"Jam berapa meeting dengan DWP grup?",tanya Alby pada Azmi saat keduanya menuju ke lift utama.


"Jam sebelas!",jawab Azmi singkat. Alby yang biasa melihat aspri nya berbeda pun sedikit heran.


"Lo kenapa?",tanya Alby setelah mereka berada di dalam kotak besi tersebut.


"Gue kenapa emangnya?",tanya Azmi balik.


"Beda aja sih! Oh iya, semalam Nur beneran Lo anterin ke rumah kos nya kan?",tanya Alby. Azmi menoleh pada bosnya dengan tatapan tajam. Alby memicingkan matanya melihat reaksi Azmi yang sepertinya sedikit marah.


"Santai bro? Kenapa?"


"Lo sengaja kan?",tanya Azmi. Lagi-lagi Alby di buat heran.


"Sengaja apaan?", Alby sok merasa tak berdosa.


"Lo tahu alamat kost Nur di mana? Tahu, Jalan Xxx no.29 kan? Apa ada yang salah?",tanya Alby lagi. Azmi tak menjawab. Sedetik dua detik kemudian, dia membulatkan matanya dengan lebar.


Ting! Pintu lift terbuka.


Setelah pintu terbuka, Alby justru tiba-tiba tertawa lebar. Dan Azmi sendiri sudah bersiap akan meninju bosnya itu, ngga seriusan tapi ya. Gimana juga sama bos mah harus sopan. Azmi di buat semakin kesal. Tanpa Alby dan azmi sadari, keduanya menjadi pusat perhatian orang-orang. Terutama Alby, laki-laki tampan yang di kenal dingin dan judes di kalangan kantor nampak tertawa lebar hingga matanya menyipit.


Laki-laki tampan yang jarang tersenyum itu pun semua membuat mata-mata lapar menatapnya ingin.


"Kondisikan ketawa Lo! Lo jadi pusat perhatian!",bisik Azmi. Alby perlahan menghentikan tawanya. Lalu ia pun menatap ke sekelilingnya. Alby berdehem pelan sambil memperbaiki dasinya. Imej juteknya mungkin perlahan akan luntur.


Azmi berjalan beriringan dengan Alby menuju ke mobil, setelah di dalam mobil Alby kembali tertawa.


"Ckkk...apa sih yang lucu?", Azmi mulai melajukan kendaraannya.


"Gue ngga ngeh kalo kalian kost di tempat yang sama. Sumpah Mi! Harusnya Lo bersyukur dong, jadi Lo nganterin nya ngga dua kali jalan?", ledek Alby pada aspri gantengnya itu.


"Maksud Lo????", sahut Azmi kesal sambil memutar kedua bola matanya.


"Ya...sapa tahu emang kalian berjodoh kan? Siapa tahu...!!"


"Gak lah!",sahut Azmi ketus. Alby pun sudah lelah meledek sahabat nya itu, ia memilih memainkan ponselnya. Jemari tangan itu lincah mengetik di benda canggih tersebut.


Seperti biasa, ia ngechat kekasihnya yang ternyata sudah berada di kantor dan dia juga sudah menerima mobilnya. Sebenarnya, Amara juga tidak terlalu membutuhkan Alby buru-buru mengembalikan mobilnya. Hanya saja, Alby sendiri juga banyak kendaraan di kantor.


Di restoran CYZ, kedua pria tampan itu siap bertemu dengan kliennya dari DWP Grup. Ini untuk pertama kalinya mereka akan bekerja sama dengan perusahaan besar tersebut. Yang mereka dengar, perusahaan itu di pimpinan oleh seorang perempuan yang di dampingi suaminya. Jika kebanyakan sang suami memegang perusahaan, sang istri mengurus butik berbeda dengan keduanya. Si istri pemilik perusahaan, si suami pemilik butik. Heheheh jangan heran! Namanya juga dunia halu yekannnn....?!


Alby dan Azmi menghampiri table yang sudah di booking oleh perusahaan DWP Grup. Mereka berdua menunggu pihak yang mewakilinya.


"Assalamualaikum!", sapa seorang laki-laki dan perempuan.


"Walaikumsalam?",jawab Alby dan Azmi berdiri dari bangkunya. Alby dan Azmi menyalami laki-laki yang ada di hadapan mereka, sedang si perempuan hanya menakupkan kedua tangannya. Alby dan Azmi pun melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Maaf, kami terlambat!"


"Tidak apa-apa pak!",kata Alby tersenyum begitu pula dengan Azmi yang tak berbeda jauh seperti Alby, bersikap ramah.


"Oh iya, perkenalkan saya Aziz dan ini istri saya Diandra!"


"Iya pak Aziz, Bu Dian. Saya Alby dan ini rekan saya Azmi!", Alby pun memperkenalkan diri. Meskipun ia sudah cukup banyak mencari tahu seperti apa DWP Grup, tapi baru kali ini ia bertemu langsung dengan pemimpin nya yang memang benar seorang perempuan cantik, sekilas mirip dengan Bia karena ia mungil.


"Jadi, pak Alby yang menggantikan almarhum tuan Hartama?",tanya Diandra.


"Betul Bu, karena memang belum ada lagi yang akan melanjutkannya. Insyaallah nanti jika putra saya sudah besar."


"Oh begitu!",ucap Diandra.


Lalu keempatnya pun mulai melakukan pembicaraan kerja samanya.


Di meja yang berbeda namun di restoran yang sama, rupanya Amara pun sedang melakukan meeting dengan kliennya.


"Terimakasih pak Fai sudah bersedia bekerja sama dengan perusahaan kami!",kata Amara.


"Sama-sama nona Amara. Dan saya sebenarnya juga belum terlalu lama menggeluti bidang ini. Saya biasa mengajar di salah satu madrasah ya kadang-kadang mengurus dealer dan showroom mobil saja. Tapi karena Abah saya sudah sepuh begitu pula perusahaan mertua saya tidak ada yang melanjutkan, jadi ya...saya yang mau tidak mau melanjutkannya."


Amara mengangguk pelan. Ada sedikit rasa kagum dengan kliennya tersebut.


"Oh, anda tenaga pendidik di madrasah?",tanya Amara.


"Iya, yayasan Abah saya!",kata Fai sambil tersenyum. Amara pun menceritakan jika dirinya seorang mualaf yang belum lama ini memeluk Islam.


"Aamiin, terimakasih pak Fai!", ujar Amara. Tak lama kemudian, datang seorang perempuan menghampiri Fa'i yang tak lain istrinya.


"Udah sayang?", tanya Fa'i pada Mika.


"Huum, udah mas. Kalian sudah beres ngomongin kerjaan?",tanya Mika.


"Sudah Bu!",jawab Amara yang tak di temani Nada. Mila pun tersenyum manis.


"Mas, ternyata Dian sama mas Aziz di sini! Tuh mereka?!", tunjuk Mika. Otomatis Fa'i menoleh ke arah sana. Entah kenapa Amara pun reflek ikut menoleh.


"A alby?",gumam Amara yang di dengar oleh sepasang suami istri itu.


"Anda mengenal klien meeting teman kami nona Amara?",tanya Fa'i.


"Ah, iya pak Fai. Mereka dari HS grup."


"Oh, iya betul. Bagaimana jika kita bergabung ke sana. Kerja sama kita sudah di sepakati bukan?",tanya Fa'i pada Amara. Amara pun mengangguk dan tersenyum.


Mereka bertiga menghampiri meja di mana Alby berada.


"Assalamualaikum!",sapa Fai sedikit keras.

__ADS_1


"Walaikumsalam!", jawab keempat orang di meja tersebut.


"Lho Neng?", Alby berdiri meraih Amara yang tersenyum ramah.


"Iya A, kebetulan aku ada meeting dengan pak Fai", jawab Amara. Fai pun menyalami Alby dan Azmi.


"Hai mantan, ketemu kita di sini!",sapa Fai pada Dian. Aziz yang sudah kebal dengan tingkah sahabat nya pun hanya memutar bola matanya malas.


"Mulai deh! Reader's tuh ngga tahu cerita kita. Ngga usah bahas!",kata Mika mencubit pinggang suaminya.


"Ya sudah, kalau begitu kami permisi duluan. Semoga kerjaan sama kita bisa berjalan dengan baik!", kata Diandra pada Alby.


"Terimakasih Bu Dian, pak Aziz."


Keempat orang tadi pun meninggalkan meja Alby.


"Kalian masih mau di sini?aku balik ke kantor deh!",kata Azmi.


"Iya, ya sudah kamu balik aja!",pinta Alby. Azmi pun meninggalkan bosnya dengan kekasihnya.


"Sudah makan neng?",tanya Alby. Amara mengangguk.


"Sudah tadi, beres meeting terus sekalian makan."


"Oh, sukur atuh!",sahut Alby.


"Oh iya, gimana kalo nanti malam kita temui mami papi kamu. Kamu setuju?"


"Nanti malam?",tanya Amara. Alby pun mengangguk.


"Kamu sudah siap?"


"Insyaallah dan aku bawa Nabil!", jawabnya. Amara terdiam. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa....


"Mau bagaimana pun juga, mami papi kamu kan sudah tahu kalau aku punya anak. Dan aku harap, mereka memahami posisi ku."


Amara menoleh pada kekasihnya.


"Tapi....!"


"Sudah, jangan terlalu negatif thinking. Kita coba dulu ya?".Amara pun mengangguk.


****


Bari nungguin AlMara boleh dong mampir ke sini juga JANGAN REMEHKAN AKU. Yang aplotnya gantian sama Aa alby 🤭🤭🤭


Yang mau tahu cerita nya Aziz, Dian, Fai , Mila bisa mampir yak 🤭🤭✌️ hehehe promosi cerita jadul 🤣🤣🤣


Makasih 🙏🙏🙏😘😘

__ADS_1



__ADS_2