Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 130


__ADS_3

"Assalamualaikum!",sapa Alby dan yang lain saat bertatap muka dengan keluarga Febri dan Bia.


"Walaikumsalam, sini By!",sapa Febri ramah. Bia pun tak kalah ramah menyambut kedatangan keluarga mantan suaminya. Sedikit banyak, Febri sudah menceritakan tentang apa yang terjadi dengan Amara dan juga hubungan Amara dengan Febri.


Kira-kira apa tanggapan Bia? Perempuan cantik itu tak banyak berkomentar tentang mantan suaminya dan juga perempuan yang pernah mati-matian mengejar Febri.


"Makasih ya Mak udah mau datang!",Bia menyalami mantan mertuanya dengan takzim. Mak menatap Bia dengan pandangan seperti orang yang sangat merindukan. Mereka pernah begitu dekat siang dan malam bersama. Tapi keadaan sudah berubah. Perempuan cantik itu sudah tak lagi jadi menantunya.


Mak Titin mengusap pipi Bia.


"Mak yang harusnya terima kasih sama neng. Neng masih anggap Mak, meskipun Mak cuma orang lain sekarang!"


"Mak jangan bilang begitu atuh Mak. Mak cicipi dulu menu masakan rumah makan Bia deh Mak. Bia sendiri yang masak hehehe!"


"Iya, Mak kangen masakan neng!",kata Mak sambil mengusap lengan atas Bia.


"Heum, lain kali kalo Mak kangen masakan Bia ,suruh aja mang Sapto beli ke sini hehehe!",sahut Bia.


Mak Titin tersenyum dan mengangguk lalu berjalan menuju ke tempat makan. Di sana dia bertegur sapa dengan keluarga lain.


"Hai, Bi!",sapa Amara.


"Makasih sudah sempetin ke sini ya!",kata Bia ramah.


"Iya, sama-sama!",Amara membenarkan posisi gendongan Nabil.


"Mama Bia, kok Nabil sama papa ngga di sapa?",tanya Nabil protes. Amara menautkan kedua alisnya lalu beralih menatap Alby. Tapi Alby menatap arah lain. Mungkin belum saatnya menjelaskan masalah panggilan pada Bia.


Bia tersenyum mendengar celetukan anak tampan itu. Sepandai-pandai nya seorang Bia menutup masa lalunya, tetap saja Nabil pernah menjadi bagian menyakitkan saat itu bukan? Tapi Bia berusaha untuk bersikap sebaik mungkin, toh Nabil memang tidak bersalah. Terlebih... Nabil merindukan sosok ibu, hingga memanggil dirinya Mama.


"Maaf Nabil, Tante belum nyapa Nabil!",kata Bia. Nabil mengulurkan tangannya pada Bia. Bia pun menyambutnya.


"Dek Fesha Ribi di mana Ma?",tanya Nabil sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Oh, si kembar lagi main sama nenek-neneknya di rumah Bil!",jawab Bia. Jarinya menggaruk sudut alisnya. Mungkin merasa kurang nyaman atas panggilan Nabil pada nya, atau merasa tak enak pada Amara.


"Tante Am, mau kan nemenin Nabil main ke rumah Fesha Ribi?",Nabil menoleh pada Amara.


"Heum? Oh...ya...ya...Tante mau, tanya sama em...mama Bia, boleh ngga Nabil main ke rumah."


Amara jadi ikut-ikutan memanggil Bia dengan sebutan Mama. Bia terbelalak mendengar Amara menyebut seperti itu.


"Boleh ya Ma?",rengek Nabil.


Ternyata Alby memilih mengobrol dengan Febri dan yang lain. Dia sengaja membuat Amara lebih dekat dengan Nabil, tak tahu saja jika anaknya akan berulah.


"Boleh kok, tapi Nabil sama Tante Amara makan dulu ya. Tuh kaya yang lain!",ujar Bia. Amara pun menuruti Bia untuk sekedar makan lebih dulu. Amara benar-benar telaten mengurus Nabil. Dia lebih mengutamakan lauk untuk Nabil, barulah ia makan sendiri. Acara sambutan dan pembukaan belum selesai, Nabil sudah merengek minta ke rumah Si kembar.

__ADS_1


Amara pun minta ijin pada Bia untuk membawanya kerumah. Dia juga meminta ijin pada papanya Nabil dan Mak. Sepertinya mereka tak keberatan sama sekali.


Itung-itung belajar jadi ibu sungguhan Amara! Batin Amara.


Sekarang Nabil sudah tak lagi di gendongan, melainkan berjalan menuju ke rumah yang hanya berjarak beberapa meter saja dari pintu samping rumah makan.


"Tante Am!"


"Iya Bil? Kenapa?"


"Kata kak Nabila, Tante Am, baik dan cantik!",ujar Nabil sambil tetap berjalan menuju ke teras rumah Febri.


"Kak Nabila? Siapa?",tanya Amara bingung.


"Kakaknya Nabil lah Tan. Anak nya mama Bia sama Papa."


"Hah???",hanya reaksi bingung yang Amara tunjukkan.


"Emang di mana kakak Nabila?",tanya Amara. Setahu Amara, sejak datang keduanya selalu bersama. Lantas, kapan ia bertemu dengan anak yang bernama Nabila? Lagi pula, setahu Amara Bia dan Alby belum memiliki anak.


"Heheh ada deh!",sahut Nabil. Tangan mungil itu menggandeng tangan Amara. Terlihat jika Fesha dan Ribi sedang bermain dengan dua neneknya.


"Assalamualaikum!",sapa Mara dan Nabil bersamaan.


"Walaikumsalam",jawab Bu Sri dan lek Dar.


"Lho, anaknya Alby toh Iki?", tanya Bu Sri.


"Iya Bu. Saya amara. Bu Sri, Tante Dar apa kabar?"


"Alhamdulillah baik, nak Amara!",jawab Lek Dar. Bu Sri memicingkan salah satu alisnya.


"Kamu, lagi deket sama bapaknya Nabil?",tanya Bu Sri. Amara meneguk salivanya mendengar pertanyaan Bu Sri yang mengintimidasi. Lek Dar menggeleng pelan agar besannya tak macam-macam. Besannya itu suka ngga di rem kalo sudah mengoceh.


"Heum, iya Bu Sri!",jawab Amara.


"Kawin lagi dong si Alby? Hati-hati lho, laki kalo udah pernah selingkuh bisa-bisa dia selingkuh lagi!", celetuk Bu Sri.


"Astaghfirullah, Bu besan jangan bicara seperti itu!",nasehat Lek Dar.


"Alby kan ngga selingkuh bu, itu bukan kemauannya",Amara berkata sedikit pelan agar ibu dari laki-laki yang pernah ia cintai menjelek-jelekkan sosok lelaki yang akan jadi masa depannya.


"Apa bedanya, toh judulnya dia nikah diam-diam dari istrinya. Apa namanya kalo bukan selingkuh! Kasian kamu nya !", ujar Bu Sri.


"Ya Allah Bu Sri, jangan bicara seperti itu. Seandainya dulu Alby sama Bia ngga pisah belum tentu kan Bia jadi menantu Bu Sri sekarang? Ya kan?",kata Lek Dar. Nabil kecil itu tak menggubris obrolan para orang tua. Dia fokus bermain dengan adik-adiknya yang cantik.


Untung ga jadi mertuaku! Batin Mara.

__ADS_1


"Jeng Dar mah begitu! Saya kan ngomong apa adanya!",kata Bu Sri meninggalkan cucu-cucunya.


"Maaf ya Nak Amara! Ucapan bu Sri jangan di ambil hati!",kata Lek Dar.


"Iya Tante, ngga apa-apa!",jawab Amara pelan. Meski dalam hatinya, dia ikut dongkol karena ucapan mertua Bia.


Tiba-tiba saja Bu Sri keluar lagi dari dalam ruang tamu.


"Saya ngomong kaya begitu bukan karena benci sama kamu Nak Amara, cuma ngasih peringatan aja. Kasian kamunya. Takut di sia-siakan! Mana kamu masih muda lagi."


Lek Dar dan Amara saling berpandangan lalu menghela nafas panjang bersamaan.


Acara grand opening sudah beres. Nabil pun sudah kelelahan dan tertidur dalam gendongan Amara. Usai berpamitan pada Bu Sri dan lek Dar, Amara pun berpamitan pada Bia.


Perempuan itu menyerahkan Nabil pada papanya. Dasar papa ngga bertanggungjawab! Baru mau jadi calon istri udah di suruh momong bocil 🤭🤭🤭😆


"Makasih ya udah jagain Nabil."


"Iya sama-sama. Kan kita emang pengen deketin aku sama Nabil",ujar Amara.


"Maaf aku ngga nganter kamu pulang deh!",sesal Alby.


"Ngga apa-apa. Lagian nanti di belakang mobil ku ada bodyguard kok. Insyaallah aman. Oke?"


Mak lebih dulu masuk ke dalam mobil, Nabil di letakkan di bangku belakang dengan kepala di pangkuan Mak.


"Ya udah kamu hati-hati. Udah sampai kabarin ya?",ujar Alby mengusap kepala Amara. Mara tersenyum dan mengangguk tipis. Alby menyempatkan mengecup pelipis Amara sebelum gadis itu menuju mobilnya. Dan mereka pun berpisah setelah masuk ke dalam mobil masing-masing.


Di sudut ruangan, Bia sedang menatap kedua sejoli yang tampak mesra tadi.


"Jangan bilang kamu cemburu?",tanya Febri sambil memeluk Bia dari belakang. Bia mencebikkan bibirnya.


"Lha po kudu cemburu?",tanyanya pada Febri.


"Nah itu, ngintip mereka hayo?",ledek Febri.


"Masa iya aku suruh liatin di samping mereka. Yang ada mereka malu kali mas."


"Beneran kan ngga lagi cemburu, Alby udah move on dari kamu?",tanya Febri lagi pada istrinya.


"Nggak. Biasa aja. Justru bagus dong kalo dia udah move on!",sahut Bia. Sambil berusaha melepaskan pelukan Febri.


"Yakin?",tanya Febri lagi. Sekarang Bia yang melotot tajam pada suaminya.


"Meledek kaya gitu lagi, jangan harap ada jatah satu Minggu ke depan!", Bia menghentakkan tangan Febri dari sisinya. Febri terperangah tak percaya.


"Bercanda nduk, ya Allah."

__ADS_1


Febri pun mengejar istri kesayangannya itu.


__ADS_2