Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 33


__ADS_3

Amara


Aku cukup tercengang mendekati semua yang Alby ceritakan. Sungguh aku tak bisa membayangkan seperti apa menjadi seorang Bia saat itu. Dan ya...pada akhirnya Bia menemukan lelaki yang tepat.


Lalu aku? Apakah aku akan tetap mempertahankan perasaan ku pada duda itu? Sekarang, dia terang-terangan mengatakan nyaman dengan ku ? Padahal saat itu dengan tegas dia bilang masih trauma dengan apa yang sudah terjadi sebelumnya? Dia takut menyakiti ku katanya???


Aku meninggalkan Alby begitu saja dari ruangan Febri. Ternyata Febri berada di depan ruangan nya, agak jauh sih dari pintu.


Anak Alby... sangat mirip dengan Alby. Tapi...kok Febri sedekat itu?


Febri menoleh padaku setelah melihat aku keluar dari ruangan nya. Dia berjalan mendekati ku dengan menggendong Nabil.


"Hai Tante, namaku Nabil!", kata Febri menirukan suara anak kecil. Melihat Nabil, hatiku mencelos sendiri. Mendadak aku teringat Bia, bagaimana perasaan nya jika melihat Nabil???


Aku tersenyum mendengarnya. Aku menyentuh jari nabil lalu memainkan nya sebentar.


"Sudah selesai?", tanya Febri. Aku mengangguk.


"Apa kamu berubah pikiran? Barang kali, batal ikut misi kali ini!"

__ADS_1


Aku menggeleng.


"Saya akan tetap berangkat bersama rekan yang lain Kapt!"


"Baiklah, jika itu keputusan mu Amara. Semoga...tidak ada penyesalan setelah nya!", kata Febri. Aku berusaha tersenyum, walaupun jujur hatiku ingin menangis.


"Tidak Kapt. Karena anggap saja ini misi terakhir saya!"


Febri menautkan kedua alisnya.


"Bicara apa kamu?", tanya Febri.


"Tidak Kapt!", tidak mungkin ku katakan jika aku akan resign setelah pulang dari perbatasan nanti.


Akhirnya, aku memasuki bus. Kulihat dari kaca, Alby sudah menggendong Nabil. Febri sendiri mengikuti mobil kamu dengan mobilnya. Sebagai atasan yang baik, dia kan juga harus mengantarkan pasukannya.


Alby menatapku, aku tahu itu. Tapi aku pura-pura tak melihatnya setelah tadi sempat saling menatap.


Biar lah....jika nanti dia benar-benar menunggu ku, dia akan datang padaku saat aku kembali ke sini. Untuk saat ini, biarlah ku nikmati rasa yang masih abu-abu.

__ADS_1


.


.


Alby


Aku sudah berjanji menunggu Amara kembali. Apa pun hasilnya nanti! Aku harap tidak akan menyakiti hati Mara lagi.


Jika beberapa waktu lalu, aku takut menyakiti nya, memilih untuk jaga jarak dengan nya. Tapi justru ketakutan ku yang membuat Amara semakin sakit hati.


Mungkin benar, karma itu ada. Apa yang ku rasakan saat ini belum seberapa dibandingkan dengan rasa sakit Bia yang di khianati, dan rasa sakit Silvy yang tak pernah ku anggap.


Di usia ku sekarang, seharusnya aku bisa berpikir lebih baik lebih dewasa. Nyatanya, aku masih tak bisa.


Aku melajukan kendaraan ku menuju ke kantor. Aku yakin, kehadiran Nabil akan jadi pusat perhatian. Ini untuk pertama kalinya aku menunjukkan Nabil ke publik. Benar tebakan ku. Sampai di lobi, aku menggendong Nabil. Setelah itu, aku menurunkan babystroler milik Nabil. Karena tidak mungkin aku menggendong Nabil terus.


Tatapan dan ucapan kagum terlontar dari bibir mereka. Mungkin banyak yang ingin menyentuh Nabil, tapi entah kenapa jika sudah sampai ke kantor, keinginan untuk sekedar tersenyum saja susah.


Saat akan memasuki pintu lift, ternyata Azmi berada di belakang ku.

__ADS_1


"Gagal ya? Keliatan dari mukanya?", tanya Azmi sambil menekan tombol angka lantai dua puluh.


Tak ingat dia sudah berjasa, sudah ku .... euuuugghhh!!!


__ADS_2