Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 148


__ADS_3

"Memangnya kita mau bertemu siapa pa?",tanya Nabil saat mereka baru saja memasuki mobil bada Magrib tadi.


"Kita ke rumah mama papanya Tante Amara, tapi kita jemput Tante Amara dulu di apartemen!",jawab Alby sambil tersenyum.


Nabil sempat berpikir sebentar lalu kembali ke mode kepo nya.


"Emang tante Amara ngga tinggal sama mama papanya? Kaya Nabil tinggal sama papa?"


"Iya...Tante Amara kan sudah dewasa sayang, mungkin ingin mandiri. Jadi ngga tinggal mama papanya."


"Oh, begitu. Jadi kalo orang dewasa itu harus tinggal sendiri?", tanya Nabil lagi


"Ngga harus sih sayang, kalo mau tinggal bareng orang tua juga boleh. Papa udah dewasa kan, tinggal sama Nenek juga." Nabil mengangguk paham.


Mobil Alby sudah berada di basemen. Ia menuruni mobil sambil menggendong Nabil menuju lift untuk menemui Amara di unitnya.


Tak butuh waktu lama, dua tampan beda usia itu sudah sampai di depan pintu. Nabil menekan bel dari gendongan papanya. Iya lah, bel nya kan tinggi.


Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Muncullah sosok Amara yang sudah mengenakan pakaian rapi.


"Assalamualaikum!",sapa Alby dan Nabil bersamaan.


"Walaikumsalam! Hai Nabil sayang?",Amara mencubit pipi gembul Nabil.


Mereka bertiga pun masuk ke dalam ruang tamu. Nabil menatap ke sekeliling ruangan tersebut.


"Sebentar ya, Tante beresin make up dulu. Ngga lama kok. Kalo Nabil mau minum, minta sama papa dulu ya."


"Siap Tante!",sahut Nabil.


"Perasaan Nabil Mulu yang di tanya?", sindir Alby saat Amara melangkah ke kamar. Sindiran itu menghentikan langkahnya, lalu ia pun menoleh pada kekasih dan calon anak sambungnya.


"Masa cemburu sama anak sendiri sih A?", ledek Amara sambil tersenyum. Alby melengos pura-pura tak mendengar ucapan Amara.


Hanya beberapa menit, Amara sudah keluar dari kamarnya.


"Berangkat sekarang?", tanya Amara. Alby pun mengiyakan dengan anggukan.


"Ayok!",sahut Alby.


.

__ADS_1


.


.


"Tante!", panggil Nabil.


"Kenapa sayang?", tanya Amara yang tampak begitu ringan memanggil Nabil seperti itu. Anak tampan itu duduk di pangkuan Amara yang duduk disamping Alby.


"Tante sudah dewasa, jadi tinggal sendiri ya? Ngga sama mama papanya?",tanya Nabil. Terdengar Alby menghela nafasnya, Amara pun menoleh pada kekasihnya yang sedang mengusap wajahnya.


Sepertinya Amara paham, Nabil pasti sudah menanyakan hal tersebut pada Alby. Hanya saja, mungkin jawaban Alby tak memuaskan Nabil.


"Huum, bisa di bilang seperti itu!", kata Amara.


"Kenapa bisa seperti itu?",tanya Nabil lagi. Amara tampak berpikir memberikan jawaban yang tepat untuk calon anak sambungnya yang kelewat pintar di usianya yang baru tiga tahunan.


"Dulu, sebelum Tante kenal sama papa, Tante kerjanya kaya...om Febri!", kata Amara pelan. Alby menoleh sekilas, hanya sekilas.


"Ayah Febri nya dedek Kembar?",tanya Nabil sambil mendongakkan kepalanya agar melihat wajah cantik Amara.


"Iya."


"Memang kenapa kalo kerjanya kaya ayah Febri?",tanya nya lagi.


Amara berusaha tersenyum sebelum menjawab keingintahuan Nabil.


"Dulu, Tante kan tentara kaya eum...ayah nya Fesha. Tante sering pulang malam juga, kadang-kadang pergi ke luar kota malah keluar negeri. Kalo tinggal di rumah mama papa nya Tante, takut mereka keganggu. Soalnya Tante pulangnya ngga tentu. Kadang malem menjelang pagi malahan. Gitu Bil!", jelas Amara.


Nabil tampak berpikir, terlihat dari raut wajahnya yang sedikit mengerut.


"Tapi papa kerja nya ngga kaya Ayah Febri juga sering pulang malem. Malah kemarin-kemarin ya Tante, leher papa kaya di gigit serangga banyak banget."


Uhuk-uhuk-uhuk


Amara tersedak air liur nya sendiri. Alby dan Nabil sempat panik. Beruntung ada air mineral di samping Alby.


"Minum dulu neng?!", Alby memberikan botol minuman tersebut pada Amara. Setelah sedikit mereda, Amara meletakkan kembali botol minuman nya.


Alby cukup mengerti kenapa kekasihnya tiba-tiba tersedak, jelas itu karena celetukan sang putra yang memang kemampuannya di atas rata-rata.


"Tante , ngga apa-apa?",tanya Nabil. Amara menggeleng pelan sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ngga apa-apa sayang."


Nabil mengangguk paham. Lalu di otaknya kembali muncul pertanyaan lagi. Sayangnya sebelum pertanyaannya meluncur, mobil yang mereka kendarai sudah masuk kedalam halaman rumah mewah milik keluarga Rahadi.


"Kita sudah sampai Bil!",kata Amara. Nabil pun mengangguk. Alby lebih dulu turun untuk membukakan pintu.


Nabil diturunkan lebih dulu barulah Amara turun.


"Nabil mau jalan aja ya pa!",kata Nabil menolak di gendong papanya.


Alby pun menurutinya. Nabil berada di tengah-tengah antara Amara dan Alby. Mereka bertiga menuju pintu utama kediaman Rahadi.


Jantung Alby berdetak cepat. Meskipun ini bukan pertama kalinya ia datang ke rumah ini, tapi niatan dalam hatinya yang membuat jantungnya jedag jedug. Amara memahami wajah tegang kekasihnya.


"Are you okay A?",tanya Amara. Alby menoleh sekilas lalu mengangguk.


"Sudah ada kak Nathan dan kak Daniel!",kata Amara. Dia melihat dua mobil kakaknya di sana.


"Ra!", Alby menahan tangan Amara dengan tangan satunya karena tangan yang lain ia gunakan untuk menggandeng Nabil.


"Kenapa?"


"Aa takut kalau...!"


"Kita sudah sepakat untuk mencobanya lebih dulu A. Kamu sering meyakinkan ku seperti itu. Dan sekarang, kita sudah di sini."


Genggaman tangan Alby pun terlepas dari Nabil. Nabil membiarkan dua orang dewasa itu mengobrol.


Nabil memilih berjalan lebih dulu ke dalam karena ia melihat sosok anak kecil perempuan yang seusia dengannya. Anak tampan itu tertarik untuk segera berkenalan dan bermain dengan anak perempuan kecil itu yang bersembunyi di balik pintu.


Setelah obrolan sepasang kekasih itu selesai, mereka baru menyadari jika anaknya tak ada di sana.


"Nabil?", panggil Amara dan Alby bersamaan. Mata mereka berkeliling mencari si kecil yang entah ada di mana. Padahal mereka berdua hanya mengobrol sebentar. Tapi Nabil tahu-tahu sudah tak ada di dekat mereka. Tidak mungkin keluar juga, karena pintu gerbang sudah di tutup sejak mobil mereka masuk.


"Jangan bilang, Nabil sudah masuk duluan!", kata Alby pada Amara. Keduanya pun kompak melebarkan matanya.


"Astaghfirullahaladzim!",pekik keduanya lalu tergesa-gesa menuju ke pintu utama.


"Assalamualaikum!", Amara dan Alby memberi salam.


"Walaikumsalam!", jawab kedua kakaknya dan juga kakak iparnya. Alby dan Amara membeku di tempat mereka berdiri hanya karena tatapan seseorang. Siapakah itu????

__ADS_1


*****


Selamat berpuasa....🙏🙏🙏🙏


__ADS_2