Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 174


__ADS_3

Suara gedoran pintu membangunkan sepasang suami istri yang masih terlelap ketika matahari sudah menyingsing.


"Papa!", Nabil menggedor pintu kamar Amara.


Alby yang belum sepenuhnya sadar pun mengucek matanya. Sinar matahari yang masuk dari celah gorden pun mengusik pandangannya.


"Papa! Bangun papa!", teriak Nabil. Alby hafal sekali suara anak semata wayangnya.


Alby menyempatkan menoleh pada sang istri yang masih tertidur pulas. Mungkin efek kelelahan semalam.


Lelaki tampan itu pun beranjak menuju ke pintu untuk segera membukanya.


Ceklek...


Nabil langsung menghampiri Alby lalu memeluknya.


"Sayangnya papa? Wangi banget, udah mandi?", tanya Alby. Nabil mengangguk cepat.


''Udah mandi. Dhea juga udah. Nabil sama Dhea juga udah makan. Papa sih ngga bangun-bangun udah siang!", Nabil mulai cemberut.


"Iya sayang, maafin papa ya?"


''Heum! Tapi... Tante eh...mama Amara mana, belum bangun juga ya?", tanya Nabil. Alby menoleh ke ranjang. Amara masih terlelap dengan memeluk bantal guling.


"Heum, mungkin masih ngantuk Bil."


"Emang semalam papa sama mama Amara bobo jam berapa? Kok udah siang begini masih ngantuk?'


''Hah??? Jam berapa ya? Papa lupa ngga liatin jam sih."


"Habis ini pulang kan pa. Kasian nenek!", Nabil protes pada papanya.


"Iya Bil, tunggu mama bangun dulu ya?"


Nabil menggeleng lemah.


"Nabil aja yang bangunin mama!", Nabil merosot dari gendongan Alby. Sedang Alby sendiri membiarkan sang putra berulah.


Anak lelaki tampan itu langsung menaiki ranjang lalu menowel-nowel pipi Amara.

__ADS_1


Amara mulai terusik hanya mengelus suara gumam tak jelas.


"Dhea, jangan ganggu Tante dong. Masih ngantuk nih?!", suara serak khas bangun tidur pun keluar begitu saja. Tapi Nabil masih tetep usil hingga Amara terbangun.


"Ya Allah,Dhea. Tante ngantuk banget!", kata Amara mulai membuka matanya. Ternyata bukan Dhea yang ada perutnya melainkan Nabil, anak sambungnya.


"Maaf mama baru bangun. Nabil udah sarapan belum?"


"Udah sarapan sama nasi goreng buatan bibik"


"Ya udah, Nabil tinggu di bawah. Papa sama mama mau. mandi dulu."


"Iya ma,pa!", Nabil pun langsung menuju lantai bawah.


Amara menuruni ranjang untuk mengambil handuk. Tapi belum sepenuhnya bangun, Alby justru menariknya ke dalam kamar mandi.


"A???"


"Ssst...kita lanjutkan yang semalam. Nanti baru kita mandi."


Wajah Amara tersipu malu. Ia masih ingat betul seperti apa kegiatan mereka semalaman hingga membuat mereka bangun siang dan melewatkan waktu subuh. Parah????!!!!


.


.


[Nuju naon dek?]


[Ngga ngapa-ngapain teh. Beres minum kopi susu aja]


Nur meletakkan gelasnya lagi ke lantai.


[Oh, telpon teteh pasti ada yang penting nih?]


[Hehehe teteh mah sok ngarti wae]


[Heum, sudah teteh duga! Sok atuh arek cerita naon?]


[Itu teh, A azmi pengen nemuin Abah sama ibu di kampung. Tapi sebelumnya, A Azmi teh pengen ketemu teteh sama Aa dulu ceunah!]

__ADS_1


[Oya? Kayanya ada kabar baik ini?]


Goda Ustadzah Salsabila.


[Apa sih teh???]


[Itu, abinya Putri mau minta ketemu sama kita!]


[Heummm aku ngga tahu ah teh]


[Apanya yang ngga tahu. Nur?]


[ya itu kabar baik. Jadi, sekarang udah mau menikah kan Nur? Udah ada laku kan? Jadi kamu teh ngga usah kabur-kaburan lagi. Abah juga ngga akan jodohin kamu sama lelaki pilihannya]


[Teh...]


[....]


Nur menceritakan semua yang perlu ia beritahu pada kakaknya. Biar lah , karena Salsa pastilah lebih bijak.


[Jadi... feeling teteh mah, dia mah udah lama suka sama kamu. Tapi teteh lihat dia bukan penganut faham pacaran juga kali?!]


[Iya sih!]


[Ya udah, ajak pak Azmi ke pondok. Sekalian jenguk Putri. Teteh sama Aa di pondok kok]


[Ye...nur mah kudu nanya dulu ke si Aa nya, sempet atau ngga]


[Oh, ya gimana lagi]


[Ya udah teh, nanti nur kabarin lagi]


[Iya Nur!]


[Assalamu'alaikum]


[Walaikumsalam]


Usai menghubungi tetehnya, Nur pun beranak berganti pakaian karena dia shift pagi.

__ADS_1


__ADS_2